Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2023 (I)
Masa Undhuh-undhuh
Bacaan: Kejadian 8 : 13 – 22
Tema Liturgis: Undhuh-Undhuh Sebagai Ungkapan Syukur Atas Keterlibatan Allah Dalam Keseharian
Tema PA: Seiring Sejalannya Ketaatan Dan Persembahan yang Dihaturkan Kepada TUHAN
Pengantar:
Banyak kesaksian memberikan kesan bahwa hidup orang percaya itu mudah. Kalau punya masalah tinggal berdoa dan dalam sekejap Tuhan akan menyelesaikan masalah itu. Misalnya, seorang Kristen menceritakan betapa Tuhan menolongnya ketika sedang sulit mencari tempat parkir di salah satu kawasan wisata yang ramai pada waktu musim liburan. Ia kemudian berdoa dan tiba-tiba ada tempat kosong untuk memarkir mobilnya. Kesaksian-kesaksian semacam itu, barangkali memang menyatakan pengalaman yang otentik, tetapi seringkali memberi kesan keliru seolah-olah hidup beriman adalah hidup dalam kemanjaan, tanpa persoalan dan tanpa perjuangan. Hidup semacam itu tentu bukan pengalaman banyak orang Kristen.
Memang Alkitab memuat pernyataan-pernyataan iman yang mengakui Allah sebagai penolong yang sejati, antara lain melalui gambaran-gambaran: “Gembala yang baik”, “Bapa Penuh Kasih”, “Penolong Yang Sejati”, “Raja Maha Kuasa”, dlsb. Bagi kita barangkali mudah saja menyebutkan gambaran-gambaran tentang Allah itu. Seringkali bahkan kita lakukan tanpa penghayatan lagi, karena sudah menjadi dogma yang kita hafalkan sejak di Sekolah Minggu dan kelas katekisasi. Namun sebenarnya, untuk sampai pada pernyataan-pernyataan iman seperti itu, proses yang dilalui oleh umat – secara khusus yang ada di dalam Alkitab – tidaklah selalu sederhana.
PenjelasanTeks:
Nuh dalam bacaan kita saat ini, diperlihatkan telah melewati masa-masa yang sulit, namun penuh dengan ketaatan. Ia telah berhasil hidup taat dan mengekang diri untuk hidup seturut dengan kehendak Allah, ketika manusia di zamannya begitu mudah melakukan kejahatan. Nuh pun juga telah berhasil taat, sekalipun harus bersusah payah membangun bahtera (mengorbankan waktu, tenaga, pikiran) dan mengumpulkan berbagai jenis hewan berpasang-pasangan, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Nuh pun dengan setia berada di dalam bahtera, sembari merawat keluarga dan berbagai jenis hewan, yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Nuh membuktikan daya juangnya yang tinggi, kesetiaan dan ketaatannya yang mumpuni. Nuh turut menunjukkan bahwa orang beriman bukanlah orang yang manja, yang gampang kehilangan semangat dan keyakinan ketika menghadapi “gelombang air bah yang dahsyat.”
Pada bagian bacaan kita saat ini, dikisahkan kalau air bah mulai surut dan bahtera telah kandas di gunung Ararat (Kej. 8:3-4). Nuh kemudian melepaskan burung gagak dan disusul melepaskan juga burung merpati sebanyak tiga kali, untuk melihat apakah air bah sudah benar-benar surut (Kej. 8:6-12). Namun yang menarik pada kisah ini adalah Nuh tetap tidak mau keluar dari bahtera sebelum Allah sendiri yang memerintahkannya (Kej. 8:15-17). Setelah Nuh keluar dari bahtera, hal pertama yang dilakukannya bukanlah mulai bercocok tanam, berkebun, mendirikan rumah atau sesegera mungkin kembali menata kehidupannya. Namun hal pertama yang dilakukannya adalah justru mendirikan mezbah bagi Allah dan memberikan kurban bakaran.
Pada saat ini, Nuh menunjukkan kepada kita, tentang siapa yang harus diprioritaskan di dalam kehidupan ini. Bahwa kurban bakaran yang Nuh haturkan, bukanlah pertama-tama sebagai bentuk suap kepada Allah, agar Ia berkenan memberkati kehidupan Nuh selanjutnya. Namun kurban bakaran itu ia haturkan, justru sebagai ucapan syukur atas keselamatan yang sudah ia terima. Singkat kata, persembahan tersebut ia haturkan bukan atas niat “investasi” transaksional: ‘saya memberi, supaya diselamatkan atau supaya diberkati berlipat kali ganda’, namun justru ‘karena memang saya sudah diberkati dan sudah diselamatkan’.
Dari bacaan kita saat ini, kita pun dapat melihat bahwa persembahan syukur yang dihaturkan oleh Nuh, benar-benar menyenangkan hati Allah. Alasannya adalah karena: Pertama persembahan tersebut benar-benar berasal dari ketulusan hati Nuh, sebagai bentuk ucapan syukur atas segala karya agung Allah dalam hidupnya. Tidak ada niat “investasi” transaksional sedikitpun. Kedua, persembahan tersebut bukanlah hasil “sisa” dari berkat Allah yang sudah dinikmati Nuh. Namun persembahan tersebut, benar-benar dikhususkan oleh Nuh untuk dipersembahkan kepada Allah.
Berkat ketaatan, kesetiaan, dan memprioritaskan Allah melalui persembahan syukur dalam hidupnya itulah, Allah kemudian menyatakan janji-Nya kepada Nuh. Bahwa Allah tidak akan lagi mengutuk dunia dan membinasakannya, pun Ia akan memelihara bumi dengan berbagai hal baik. Misalnya melalui musim tanam dan menuai, serta berbagai musim yang akan dilewati oleh manusia. Dari pemeliharaan Allah itulah, diharapkan manusia akan terus menyadari langkah mana yang harus ia pilih selanjutnya.
Pertanyaan untuk Didiskusikan:
- Di Eropa dan bahkan di Indonesia sendiri, mulai merebak pemahaman bahwa, ”tidak perlu aktif ke Gereja, tidak perlu menjadi seorang Kristen yang taat dekat dengan Tuhan, yang penting banyak berbuat baik dan banyak memberi persembahan ke Gereja atau ke orang lain.” Menurut saudara apakah pemahaman tersebut tepat, berdasarkan pengalaman Nuh di atas?
- Seberapa pentingkah ketaatan itu bagi kita orang Kristen di masa sekarang ini, terlebih khusus ketika kita hendak mempersembahkan persembahan di hari raya Undhuh-undhuh?
- Menurut saudara, bagaimana caranya memunculkan militansi, daya juang yang tinggi, kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan, bagi generasi yang hidup di zaman milenial seperti sekarang ini (terkhusus bagi kaum muda dan dewasa muda) yang notabene, tengah hidup di zaman serba canggih, mudah dan maju dengan segala teknologi yang ada? [YAH].
Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2023 (II)
Masa Undhuh-undhuh
Bacaan: 1 Petrus 3 : 8 – 12
Tema Liturgis: Undhuh-Undhuh Sebagai Ungkapan Syukur Atas Keterlibatan Allah Dalam Keseharian
Tema PA: Berjuang Mewujudkan Kebenaran Dalam Pekerjaan
Pengantar:
Dari laporan media dan analisis para pengamat hukum, mafia peradilan rupanya telah begitu mencengkeram sistem peradilan kita. Petugas pajak yang seharusnya memeriksa setoran wajib pajak disogok sampai puluhan milyar oleh perusahaan wajib pajak bermasalah. Para anggota dewan melakukan mark-up anggaran, supaya kelebihan anggaran bisa digunakan secara pribadi maupun untuk kepentingan kemenangan partainya. Ketika kasusnya ketahuan, maka yang terjadi adalah bagi-bagi uang sogokan: polisi, jaksa, hakim, pengacara, lalu kasusnya dinyatakan ditutup atau paling tidak dihukum dengan vonis yang ringan. Tidak mengherankan jika kita kemudian memahaminya dengan istilah KUHP (Karena Uang Habis Perkara). Rupanya istilah KUHP ini pun menjadi filosofi yang banyak dianut oleh orang Indonesia. Bukan hanya petugas yang seharusnya menegakkan hukum, tetapi juga para anggota parlemen dan pejabat pemerintahan.
Jika kita melihat kondisi seperti di atas, maka bisa kita artikan bahwa sikap orang terhadap uang/harta bukan lagi merupakan sikap praktis, namun sudah menjadi semacam iman. Mengapa demikian? Karena orang sudah percaya dengan sepenuh hati kepada uang/harta. Orang sudah menggantungkan hidup sepenuhnya kepada uang dan bahkan membiarkan hidupnya dibentuk oleh uang. Contohnya apa? Orang akan dengan rela hati berbohong hingga melakukan penipuan, untuk memperoleh uang yang lebih pada pekerjaan/bisnis yang dilakukan. Orang dengan sadar melakukan berbagai tindakan jahat, mulai dari hal kecil hingga berbagai kejahatan besar lainnya, asalkan semuanya itu menguntungkan dan mendatangkan uang yang melimpah. Singkat kata, uang/harta menjadi dasar dari segala sesuatu, tujuan dari segala sesuatu dan cita-cita tertinggi yang mau dicapai.
Apakah sikap seperti itu sepenuhnya salah? Memang salah, namun kalau kita mempertimbangkan kenyataan dan berusaha realistis terhadap situasi di sekitar kita, tentu hal tersebut menjadi dapat dimengerti. Karena untuk setiap tahap di hidup kita, memang membutuhkan uang yang cukup banyak. Seperti halnya menikah, mempunyai rumah, kendaraan, mempunyai anak, menyekolahkan anak, mantu, pensiun, bahkan untuk mengurus kematian pun juga ada biayanya. Kalau tidak mempersiapkan uang yang cukup dengan berbagai macam cara yang dilakukan untuk mendapat keuntungan, kita bisa disebut sebagai orang yang tidak bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga yang Tuhan percayakan.
Penjelasan Teks
Surat 1 Petrus adalah sebuah surat yang sangat bernuansa pastoral. Hal ini karena tujuan dari surat ini adalah memang untuk menyemangati dan mendampingi orang-orang Kristen pada masa itu dalam menghadapi masalah dan krisis yang menyerang hidup mereka sehari-hari. Jika kita cermati dalam setiap pesan yang diberikan oleh sang penulis surat ini, maka kita dapat memahami bahwa maksud sang penulis tidaklah supaya orang-orang Kristen hanya bertahan dalam iman mereka saja. Namun penulis surat 1 Petrus ini juga bermaksud supaya setiap orang Kristen dapat secara aktif mewartakan kabar gembira (Kerygma), bahwa Allah telah menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa, yakni melalui karya Kristus di atas kayu salib. Dimana pewartaan itu haruslah terjadi dalam setiap pekerjaan yang dilakukan maupun dalam hidup keseharian.
Penulis surat ini berusaha menunjukkan bahwa karya Yesus selama berada di dunia adalah teladan yang sejati, yang harus dilakukan oleh para pengikut-Nya. Penulis surat ini ingin menekankan bahwa melakukan hal yang baik, yang seturut dengan kehendak Allah memang merupakan hal yang sulit, butuh perjuangan, butuh pengorbanan, mengekang hawa nafsu diri, dlsb. Namun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Bahkan penulis surat ini ingin mengatakan bahwa anugerah keselamatan itu hanya dapat terwujud secara nyata dalam diri orang percaya, jikalau ada respon/usaha manusia untuk meraihnya.
Dalam perikop yang kita baca saat ini, penulis surat 1 Petrus ini secara tegas memberikan beberapa nasihat praktis kepada para pembacanya. Bahwa respon/usaha manusia dalam menyambut anugerah keselamatan itu dilakukan dengan beberapa cara: Seia Sekata (Yun: Homofron, yang makna lainnya adalah satu pikiran). Seperasaan (Yun: Sumpathes, yang makna lainnya adalah simpati/ikut merasakan apa yang orang lain rasakan). Saling Menyayangi (Yun: Filadelfoi, memiliki makna kasih persaudaraan/mengasihi seperti saudara sendiri). Penyayang (Yun: Eusplagkoi, yang berarti ramah, lemah lembut, berbelas kasih, berjiwa penghibur). Rendah Hati (Ay. 8).
Lalu di ayat 9 penulis juga meminta supaya kita membalas kejahatan/ caci maki justru dengan ucapan berkat. Dimana dalam bagian ini tenses dalam bahasa Yunaninya adalah Present – Aktiv – Participle, artinya sikap ini harus dilakukan terus menerus kepada mereka yang menyakiti kita. Kalimat ini sama dengan kalimat imperative atau kalimat perintah. Sehingga kalimat tersebut dapat dimaknai demikian: kita sering merasa kalau tidak membalas kejahatan saja sudah bagus, namun itu pasif, sebaliknya yang harus dilakukan adalah juga secara aktif dan terus menerus, memohon berkat segala yang baik untuk mereka yang menyakiti kita.
Selanjutnya di ayat 10, penulis surat ini meminta para pembacanya untuk dapat menjaga lidah dan bibir dari segala yang jahat serta ucapan-ucapan dusta, menjauhi yang jahat, dan melakukan yang baik (Ay. 11). Jika kita mampu melakukan hal tersebut, maka Tuhan akan memperhatikan hidup kita dan mendengarkan doa-doa kita (Ay. 12).
Nampak sederhana memang, namun nyatanya hal-hal tersebut begitu sulit dilakukan, secara khusus ketika kita berada dalam dunia pekerjaan/dunia bisnis, yang sedang kita geluti pada saat ini. Dunia mengajarkan bahwa kita harus cerdik dalam membaca situasi dan mengambil peluang yang ada, sekalipun peluang tersebut berada di jalan yang salah. Dunia mengajarkan supaya kita harus mampu menjadi seorang yang egois, tidak perlu memikirkan nasib/perasaan orang lain. Bahkan jika perlu menjadi penipu yang ulung, supaya semakin cepat mendapat uang, pangkat, jabatan. Dunia mengajarkan supaya kita harus melu edan, karena jika tidak melu edan, kita tidak akan keduman.
Pertanyaan untuk Didiskusikan
- Menurut saudara, apakah Firman Tuhan ini mustahil untuk dilakukan? Terlebih khusus dalam dunia pekerjaan/dunia bisnis yang saudara geluti saat ini?
- Ceritakan pengalaman saudara, tentang sulitnya menerapkan Firman Tuhan dalam pekerjaan (untuk mencari uang) yang saudara geluti sekarang ini!
- Lalu menurut saudara apa yang harus dilakukan oleh orang Kristen ketika menghadapi realita jahatnya dunia kerja/dunia bisnis seperti itu? Mengikuti arus dunia dengan segala cara untuk menghasilkan uang atau justru melawan arus?
- Menurut saudara, apakah Allah turut berkarya dalam pekerjaan/bisnis yang saudara geluti saat ini? Jika iya, maka ceritakanlah pengalaman saudara tentang karya Allah tersebut! [YAH].