Pemahaman Alkitab (PA) April 2023 (I)
Masa Paskah
Bacaan: Yosua 3 : 1 – 17
Tema Liturgis: GKJW Bangkit Bersama Kristus
Tema PA: Bangkit Atas Dasar Taat Dan Selaras Dengan-Nya
Pengantar:
Ada kalanya, kita diperhadapkan pada permasalahan hidup yang sangat sulit dan seakan mustahil untuk dilalui. Bekal pengetahuan dan pengalaman hidup biasanya menjadi hal pertama yang digunakan untuk mengurai akar permasalahan. Tiap detilnya diperhatikan, lalu perlahan mencari jawab dengan memunculkan opsi-opsi penyelesaian. Tiap detil langkah penyelesaian pun tentu diperhatikan sedemikian rupa. Sikap ini biasanya muncul atas kesadaran bahwa selain percaya dan mengandalkan Tuhan, kita juga harus berupaya selaku manusia untuk menyelesaikan maslah kita tersebut selaras dengan petunjuk-Nya.
Bekal selanjutnya tentulah pengenalan akan Tuhan. Pengenalan ini biasa tumbuh dari refleksi terhadap penyertaan-Nya ketika menghadapi pergumulan hidup yang terdahulu. Pengenalan ini lalu menumbuhkan keyakinan, bahwa di setiap upaya yang kita lakukan senantiasa dalam kerangka rancangan kebaikan serta keselamatan. Selalu ada pengharapan akan pemulihan di balik setiap permasalahan hidup yang terjadi. Setiap pemulihan pastilah menimbulkan hidup yang lebih baik, bahkan lebih baik dari kehidupan kita sebelum diperhadapkan pada suatu pergumulan. Ini adalah sikap iman yang menghantarkan setiap orang percaya menuju pada kebangkitan hidup.
Kita pun meyakini bahwa tak akan ada mukjizat tanpa sebuah permasalahan hidup. Pengalaman hidup beriman kita mengajarkan bahwa mukjizat Tuhan dinyatakan melalui berbagai cara. Dan apapun cara yang dipakai-Nya, tetap memerlukan kerelaan diri kita untuk berupaya, sekecil apa pun upaya itu. Setiap upaya yang kita lakukan ialah wujud ketaatan kita terhadap petunjuk-Nya. Sebab, taat bukan berarti diam. Melainkan tindakan yang selaras dengan rancangan-Nya. Sinergitas mutlak diperlukan, agar permasalahan terlewati, pemulihan didapati, dan kebangkitan ternyatakan.
Penjelasan Teks:
Kisah menyeberangi sungai Yordan adalah perjalanan tahap pertama bagi Yosua dalam memimpin umat Israel menuju tanah perjanjian selepas Musa wafat. Yosua menjadi besar di mata umat Israel layaknya Musa, karena keberhasilannya memimpin penyeberangan yang sulit, penuh resiko, dan nyaris mustahil ini. Penyertaan Allah bagi Yosua dan umat Israel, dinyatakan-Nya sama seperti ketika laut Teberau terbelah dalam pelarian keluar dari perbudakan Mesir yang dipimpin oleh Musa. Target pertama setelah penyeberangan yang dipimpin Yosua kali ini adalah penaklukan Yerikho. Dan benar saja, tembok Yerikho berhasil dirobohkan beberapa hari setelah penyeberangan.
Sungai Yordan sangatlah lebar. Dalam konteks waktu bacaan kita saat ini, bentangan air dari tepi ke tepi bisa mencapai sekitar 800 meter. Luapan air ini disebabkan oleh salju Pegunungan Lebanon di sebelah Utara sungai yang mencair. Sejarah iman yang disaksikan dalam Alkitab menunjukkan betapa besar dan hebatnya kuasa Allah bekerja dalam diri Yosua dan umat Israel. Rancangan dan karya Allah itu dibarengi dengan kepatuhan Yosua dan umat-Nya terhadap segala perintah Allah, bahkan sampai pada hal-hal yang sangat teknis dan detail. Di sinilah letak keberhasilan kisah penyeberangan sungai Yordan, yakni sinergitas antara rancangan keselamatan Allah dan kepatuhan umat atas petunjuk-Nya.
Di sisi lain, dikemukakan pula oleh sejumlah ahli bahwa daerah Yerikho yang berdekatan dengan sungai Yordan itu, merupakan daerah lembah patahan sehingga rentan terhadap gempa bumi. Bahkan, intensitas gempa bumi di daerah ini sangat sering. Seringkali pula bencana ini mengakibatkan, di antaranya runtuhnya bangunan tembok-tembok, tanah longsor, dan dampak lain seperti tersumbatnya aliran sungai Yordan selama satu atau dua hari. Ditilik dari sisi iman, petunjuk yang disampaikan oleh Allah kepada Yosua selaras dengan fenomena alam ini. Sehingga, kita dapat mengimani bahwa rancangan Allah bukanlah rancangan biasa, melainkan sangat kompleks dan detil. Meski demikian, umat tetaplah bisa menghayatinya sebagai rancangan keselamatan dengan menyediakan diri untuk taat sepenuhnya.
Pertanyaan untuk Didiskusikan:
- Faktor apakah yang menjadi kunci keberhasilan penyeberangan sungai Yordan?
- Dalam berupaya mentas dari kesulitan hidup, sikap iman yang bagaimana dapat menghantarkan upaya kita agar sinergis dan selaras dengan tuntunan Tuhan?
- Ungkapkan kesaksian saudara tentang pengalaman sinergitas atau keselarasan antara upaya yang saudara lakukan dengan tuntunan Tuhan, dalam menghadapi permasalahan hidup! [aan].
Pemahaman Alkitab (PA) April 2023 (II)
Masa Paskah
Bacaan: 1 Korintus 15 : 12 – 28
Tema Liturgis: GKJW Bangkit Bersama Kristus
Tema PA: Kebangkitan Adalah Satu Dalam Beda
Pengantar:
Sejak lama kita mengenal istilah adu domba. Kita banyak menerima cerita atau membaca referensi tentang adu domba ini lazim terjadi di era penjajahan. Tujuannya adalah pemecahan atas persatuan dan kesatuan. Dalam konteks penjajahan, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia tentu menjadi kekuatan besar yang ditakuti oleh penjajah. Dengan adu domba, sebuah kesatuan yang terdiri dari pelbagai perbedaan sangat berpotensi untuk bertikai, lalu terpecah menjadi beberapa bagian (kelompok) dengan paham kebenaran dan kepentingan masing-masing.
Di era sekarang, ancaman perpecahan masif terjadi. Salah satu yang paling mengancam ialah issue perbedaan keyakinan atau agama. Tentulah si pengusung kepentingan tersebut sadar bahwa Indonesia adalah kekuatan besar dalam bangunan kesatuan. Kesatuan rakyat menjadi ancaman serius bagi pengusung kepentingan untuk berkuasa di negeri ini. Di sisi lain, mereka sadar bahwa secara umum sumber daya manusia di negeri ini belumlah memadai. Oleh karenanya, keyakinan sempit atas agama yang diimani atau sikap fanatik yang berlebihan, menjadi lahan yang empuk untuk dibajak dengan ideologi perbedaan nan eksklusif. Tujuan besar dari semua itu ialah penguasaan si pengusung kepentingan atas orang-orang dan penguasaan atas kekayaan sumber daya alam. Keduanya itu demi memuaskan nafsu keserakahan, demi mendapatkan banyak uang dan kekuasaan — dua hal yang paling diinginkan banyak orang di dunia ini.
Contoh yang paling sederhana ialah pemaksaan atas penggunaan atribut suatu agama tertentu oleh oknum tenaga pendidik dalam sebuah lembaga pendidikan, yang notabene penggunaan atribut tersebut bukanlah sebuah hukum wajib. Belum lagi beberapa produk tertentu yang dijual dengan menyertakan sesuatu yang khas dari satu agama tertentu. Lagi, keberadaan ormas-ormas yang mengusung satu kebenaran tertentu untuk ”menghabisi” yang berseberangan dengan berbagai macam cara, misalnya, ujaran kebencian, kekerasan, pemaksaan, bahkan janji-janji surgawi. Beberapa contoh tersebut adalah sebuah upaya untuk menanamkan eksklusifitas dan fanatisme sempit, sehingga makin terang sebuah perbedaan dalam bangunan kesatuan. Dimana masing-masing yang berbeda itu saling bertikai, berselisih, dan terpecah belah kekuatan besarnya. Di balik semua itu, kita diperhadapkan pada apa yang disebut dengan radikalisme, ekstrimisme, bahkan terorisme.
Penjelasan Teks:
Pertikaian dan perselisihan paham yang terjadi dalam kesatuan tubuh Jemaat Korintus didasari oleh kebenaran yang saling berbeda satu sama lain, dan masing-masing mengamininya sebagai sebuah kebenaran mutlak. Dapat dimaklumi bahwa setelah Jemaat ini didirikan oleh Paulus pada tahun 41 M, selama sepuluh tahun setelahnya Paulus tidak menunggui Jemaat ini dalam proses menuju kedewasaan. Barulah tahun 51 M, Paulus kembali ke Korintus untuk jangka waktu yang cukup lama menetap di sana. Selama sepuluh tahun pasca berdiri, tentu banyak masuk pemberitaan lain di luar Injil sebagaimana diberitakan Paulus. Berbagai pemberitaan lain itu kemudian membentuk perbedaan pemahaman dan kelompok, setidaknya tiga golongan, yakni Paulus, Kefas, Apollos. Meski demikian, ada pula yang hanya mau terikat pada Kristus sendiri. Menurut Paulus, perbedaan tersebut terjadi karena mereka terkesima oleh si pembawa berita masing-masing ajaran yang ”fasih berkata-kata”. Dalam tradisi Yunani yang mereka warisi, fasih berkata-kata adalah salah satu bentuk atau tolak ukur bahwa seseorang dapat dikatakan berhikmat. Perbedaan inilah yang sangat mengancam perpecahan Jemaat Korintus.
Dalam perbedaan besar tersebut, terdapat pula perbedaan pemahaman yang lebih menukik pada satu hal tertentu. Salah satunya ialah dalam bacaan kita saat ini. Ada sejumlah orang Kristen Korintus yang mengimani kebangkitan Yesus, tetapi menyangkal kebangkitan orang mati. Dalam arti yang lain, sejumlah orang itu berkeyakinan bahwa keselamatan yang didapatkan bukanlah melalui kematian dan kebangkitan Kristus, namun melalui cara yang lain, yakni hanya dengan baptisan. Padahal, tradisi Kristen mangatakan bahwa kebangkitan kemanusiaan Yesus adalah sesuatu yang utuh bersama-sama dengan baptisan dan kematian di kayu salib sebagai anugerah atas karya penyelamatan Allah bagi dunia ini. Demikianlah ditegaskan bagi mereka oleh Paulus.
Dalam segala perbedaan golongan dan pemahaman itu, Paulus meluruskan bahwa kebenaran bukan terletak pada si pembawa berita, melainkan pada isi berita itu sendiri, yakni damai sejahtera Allah yang diwartakan dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Tak penting lagi atribut golongan yang berpotensi menimbulkan perpecahan, melainkan fokuslah pada pengharapan akan kebangkitan, sebab itulah yang dapat menyatukan dan menyelamatkan.
Pertanyaan untuk Didiskusikan:
- Mengapa Jemaat Korintus mengalami perselisihan dan apa yang menjadi faktor utamanya?
- Bagaimana sikap kita sebagai warga gereja dalam menghadapi fanatisme sempit yang berlebihan agar tetap dapat membangun kesatuan dalam pelbagai perbedaan?
- Apakah yang dapat dilakukan gereja selaku organisasi dalam menghadapi ancaman radikalisme dan ekstrimisme? [aan].