Pemahaman Alkitab Mei 2022

12 April 2022

Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2022 (I)
Masa Undhuh.-Undhuh

Bacaan: Mazmur 100 : 1 – 5
Tema Liturgis: Mensyukuri Berkat Tuhan dalam Segala Keadaan
Tema PA: Kasih Setia Allah Tak Terbatas Ruang dan Waktu

Pengantar
Pandemi Covid-19 yang berlangsung mulai bulan Maret 2020 di Indonesia membawa banyak perubahan dalam segi kehidupan. Salah satunya dalam bentuk ibadah. Sebelum pandemi Covid-19, ibadah dilaksanakan bersama di gereja, kehadiran dan keaktifan di gereja menjadi salah satu bentuk kesetiaan iman seseorang. Pada saat pandemi Covid-19 berlangsung, ibadah-ibadah dialihkan ke rumah masing-masing, bersama dengan keluarga masing-masing, demi menghindari penyebaran dan penularan Covid-19. Bahkan Sakramen Perjamuan Kudus juga dilaksanakan di rumah bersama keluarga masing-masing. Ibadah Unduh-Unduh dilaksanakan di rumah bersama keluarga, ada lelangan atau bazar online. Kegiatan-kegaitan gerejawi lainnya juga dilaksanakan di rumah bersama dengan keluarga. Memang ada suasana ibadah berbeda yang harus dihadapi. Saat ibadah di gereja ada musik pengiring, saat di rumah bisa jadi minim musik pengiring atau bahkan tidak ada sama sekali. Saat ibadah di gereja bisa bertemu dengan banyak saudara yang lainnya dalam suasana meriah, saat ibadah di rumah bertemu keluarga dalam keintiman dan suasana penuh cinta. Saat ibadah di gereja ada pelayan-pelayan khusus, saat ibadah di rumah semua anggota keluarga bisa terlibat melayani. Ada hal positif yang bisa diambil saat ibadah harus dilaksanakan di rumah bersama keluarga karena pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Memindahkan mimbar gereja ke rumah masing-masing, memang tidaklah menghilangkan esensi dari ibadah itu sendiri. Tidaklah menghilangkan makna dan sukacita ibadah yang dilakukan. Dimanapun tempat, Allah tetap hadir. Kemeriahan dan kebersamaan yang biasanya ada saat ibadah di gereja bisa dibawa juga di dalam ibadah di rumah masing-masing. Suasana yang khidmat, penuh cinta kasih, keakraban bisa diciptakan bersama. Sehingga ibadah yang sementara waktu dialihkan di rumah masing-masing akibat pandemi Covid-19 tidak akan pernah menghilangkan sukacita dan kekhidmatannya. Bahkan dapat menambah keintiman serta keakraban dari masing-masing anggota keluarga juga menjadi sarana mengembangkan diri dan talenta, karena semuanya memiliki kesempatan untuk melayani. Beribadah dan memuliakan nama Allah tidak dibatasi ruang dan waktu, dimanapun bisa dilakukan. Allah hadir dimanapun berada. Allah hadir saat ibadah dilaksanakan di rumah-rumah (karena kondisi pandemi), Allah hadir disana. Kebaikan dan kehadiran Allah tidak akan bisa dibatasi ruang dan waktu, juga tidak bisa dibatasi logika manusia. Kasih setia Allah tetap bisa dirasakan dimanapun berada.

Penjelasan Teks
Kehadiran Allah menjadi pokok penting dalam kitab Mazmur. Allah digambarkan hadir di Bait Allah sebagai pusat peribadahan orang Yahudi saat itu. Di Bait Allah, umat memperingati perjumpaan dengan Allah. Bait Allah juga menjadi tempat tiga perayaan tahunan penting, yaitu Paskah pada permulaan musim semi, Pentakosta pada tujuh minggu kemudian, dan Pondok Daun di permulaan musim gugur. Bacaan kita kali ini merupakan bagian dari Mazmur untuk mempersembahkan korban syukur di Bait Allah (peraturan tentang korban syukur tertulis dalam Imamat 7:11-21). Mazmur 100 merupakan Mazmur yang dinyanyikan untuk mengiringi arak-arakan masuk ke Bait Allah. Umat datang di Bait Allah dan mereka beribadah di pelataran Bait Allah karena Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu saja. Nyatanya dimanapun mereka beribadah, di pelataran sekalipun, mereka tetap merasakan sukacita dan kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka.

Ayat 1 – 3 merupakan seruan pertama untuk beribadah dan dibawakan oleh Paduan Suara di luar pelataran Bait Allah. Umat diajak untuk bersorak-sorai saat hendak memasuki Bait Allah. Umat diajak untuk datang beribadah dengan sukacita, karena mereka adalah kepunyaan Allah dan bahwa Allah sendiri yang menjadi gembala bagi mereka, yang menuntun dan menjaga kehidupan mereka. Ajakan untuk beribadah dan bersorak-sorai memasuki Bait Allah mengingatkan bahwa manusia harus beribadah kepada Allah dengan penuh ketaatan sebagai ungkapan syukur, karena Allah telah menciptakan manusia dan memberikan kehidupan kepada manusia. Ungkapan syukur karena Allah senantiasa menuntun dan menjaga kehidupan manusia.

Ayat 4 – 5 merupakan panggilan kedua untuk beribadah dan dibawakan oleh Paduan Suara saat berada dalam pelataran Bait Allah. Umat yang hendak datang beribadah diajak untuk meneruskan ibadah mereka dengan memasuki pintu gerbang dengan penuh syukur karena mereka masih memiliki kesempatan untuk beribadah. Lalu dilanjutkan masuk ke pelataran Bait Allah dengan puji-pujian, karena disanalah mereka akan melaksanakan ibadah mereka kepada Allah, mereka akan menjumpai Allah dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan mereka. Ibadah dengan penuh syukur dan menaikkan puji-pujian, karena umat merasakan kebaikan dan kasih setia Allah dalam kehidupan mereka. Bahkan kasih setia Allah tidak hanya akan dirasakan oleh mereka sendiri, tetapi juga untuk keturunan mereka. Oleh karena itu, mereka haruslah setia beribadah kepada Allah dengan penuh sukacita.

Bahan Diskusi

  1. Apakah yang mendasari manusia untuk selalu beribadah dan menyembah Allah dengan penuh sukacita dan penuh ucapan syukur?
  2. Bagaimana pengalaman iman saudara bersama dengan keluarga saat harus melaksanakan ibadah dan kegiatan gerejawi di rumah bersama dengan keluarga akibat adanya pandemi Covid-19?
  3. Bagaimana saudara memahami kehadiran dan kasih setia Allah saat melaksanakan ibadah dan kegiatan gerejawi di rumah bersama dengan keluarga?
  4. Hal positif apakah yang bisa saudara kembangkan bersama dengan keluarga saat melaksanakan ibadah dan kegiatan gerejawi di rumah bersama dengan keluarga? [cha].

 


 

Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2022 (II)
Masa Undhuh-Undhuh

 

Bacaan: Lukas 12 : 29 – 32
Tema Liturgis: Mensyukuri Berkat Tuhan dalam Segala Keadaan
Tema PA: Menjadi Tenang di Tengah Kekuatiran

Pengantar
Panic Buying adalah pembelian barang karena rasa panik sehingga kemudian menimbulkan perilaku memborong atau menimbun suatu barang. Panic Buying dilakukan berdasar rasa takut atau khawatir tidak kebagian barang tersebut. Perilaku pembelian semacam ini dapat menyebabkan kekurangan stok barang, kelangkaan barang, dan kenaikan harga barang yang tidak masuk akal. Panic Buying ini biasanya terjadi sebagai antisipasi bencana, setelah bencana atau ada rencana kenaikan harga barang. Ada yang membeli dalam jumlah banyak untuk disimpan dan digunakan sendiri. Tetapi ada juga yang menimbun untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi (mencari untung dari situasi).

Jika kita ingat di masa pandemi Covid-19 gelombang pertama, ada panic buying dimana banyak orang memborong masker dan hand sanitizer sehingga menyebabkan kedua barang tersebut langka di pasaran, jikapun ada harganya naik secara tidak masuk akal. Di awal pandemi, kedua barang tersebut menjadi barang yang sangat diperlukan, sekaligus susah dicari. Lalu saat pandemi Covid-19 memasuki gelombang kedua, ada panic buying kembali, orang-orang memborong vitamin, obat, susu, dan oksigen, sehingga barang-barang tersebut menjadi langka di pasaran ataupun jika ada harganya mengalami kenaikan yang luar biasa, sama seperti yang terjadi pada saat gelombang pertama.

Perilaku Panic Buying didasari oleh keputusan emosional. Rasa cemas, takut atau kuatir akan kehabisan barang yang langka, padahal barang tersebut adalah barang yang sangat dibutuhkan saat itu. Saat manusia merasa cemas, takut atau kuatir di dalam hidupnya seringkali mereka memutuskan sesuatu secara emosional berdasar nalarnya saja dan berdasar ketakutannya saja. Bahkan seringkali mereka tidak memikirkan resiko dari apa yang diperbuatnya. Saat Panic Buying biasanya orang-orang akan berebut, tidak mempertimbangkan keselamatan diri sendiri dan juga orang lain. Lalu bagaimana yang perlu disiapkan agar dalam kondisi yang cemas, takut atau kuatir itu manusia bisa mengambil keputusan yang jernih berhikmat dan tidak sekedar karena emosional semata. Tentu yang paling dibutuhkan adalah ketenangan diri. Ketenangan diri untuk mengatasi situasi yang ada, ketenangan diri mengambil keputusan dengan hikmat di tengah situasi yang ada. Jika kita perhatikan pada saat pandemi Covid-19 gelombang pertama, di tengah panic buying masker dan hand sanitizer muncullah orang-orang kreatif yang dapat membuat masker dan hand sanitizer sendiri, sehingga situasi dapat teratasi dengan baik.

Penjelasan Teks
Rasa kuatir tampaknya juga dialami oleh para murid pada bacaan kali ini. Lukas 12:29-32 tidak bisa dipisahkan dari perikop sebelumnya yaitu Lukas 12:13-21 cerita tentang Orang Kaya Yang Bodoh. Dalam Lukas 12:13-21, Yesus mengingatkan bahwa begitu banyak orang yang hancur hidupnya karena ketamakan dan terlalu cemas memikirkan kekayaan dunia. Yesus mengingatkan agar waspada terhadap suatu jenis ketamakan yang paling berbahaya, yaitu kepuasan jasmani dalam memiliki harta duniawi yang berlimpah. Dalam bagian Lukas 12:22-34 bisa jadi murid-murid berpikir bahwa mereka tidak akan terjerumus ke dalam bahaya ketamakan, sebab mereka tidak memiliki beraneka ragam harta yang berlimpah untuk dibanggakan. Akan tetapi Yesus mengingatkan para murid ada bahaya lain yang menggoda orang-orang yang hanya mempunyai sedikit barang di dunia seperti halnya para murid (karena mereka telah meninggalkan semuanya untuk mengikut Yesus). Godaan itu adalah kekhawatiran mengenai kebutuhan-kebutuhan hidup, sehingga Yesus berkata “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai” (Ay. 22), “Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang kamu minum dan janganlah cemas hatimu” (Ay. 29). Khawatir akan pakaian yang akan melindungi tubuh mereka, khawatir akan kebutuhan makanan serta minuman untuk perjalanan pelayanan mereka. Tentu itu adalah hal yang wajar karena mereka membutuhkan semua itu untuk kehidupan mereka.

Terhadap kekhawatiran yang dirasakan itu, Yesus mengingatkan agar para murid menjadi tenang sehingga dapat melihat karya Tuhan di dalam kehidupan mereka. Yesus memberi contoh akan karya Tuhan. Percayalah kepada Tuhan akan urusan makanan, burung-burung tidak menabur dan tidak menuai, tetapi tidak pernah khawatir atau cemas bagaimana mereka akan memelihara diri mereka, karena mereka diberi makan dan tidak pernah mati kelaparan. Percayalah kepada Tuhan akan urusan pakaian, bunga bakung tidak memintal dan tidak menenun, tetapi didandani dengan sangat indahnya. Seperti halnya bangsa Israel saat berada di padang gurun Sin, mereka diberikan Manna dan burung puyuh untuk makanan mereka (Keluaran 16), pakaian mereka tidak menjadi buruk dan kaki mereka terlindungi serta tidak menjadi bengkak selama 40 tahun (Ulangan 8:4). Tuhan menata dan menyiapkan segala kebutuhan manusia dengan sungguh amat baiknya.

Kekhawatiran muncul karena kekurang-percayaan manusia akan karya Allah, sehingga dalam ayat 30 dituliskan “semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah.” Segala kekhawatiran tidak akan menghasilkan apa-apa, sia-sia, dan tidak berguna. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh murid-murid Yesus? Ayat 31 menyebutkan, “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Diperlukan ketenangan batin dari para murid untuk melihat dan merasakan karya Tuhan di dalam hidup mereka. Ketenangan batin itu akan menjadikan mereka berpikir jernih walaupun terbersit perasaan kuatir sebagai manusia. Ketenangan batin itu yang akan menjadikan mereka semakin melekat kepada Kristus serta yakin akan karya Tuhan di sepanjang kehidupan mereka serta menjadikan mereka tidak terjerumus kepada godaan ketamakan atau kekhawatiran.

 Bahan Diskusi

  1. Bagaimana saudara memahami ayat 31, “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu” dalam hubungan ketenangan batin untuk melekat dan melihat karya Kristus dalam kehidupan saudara?
  2. Setiap manusia memiliki potensi untuk terjerumus dalam godaan kekhawatiran. Kekhawatiran akan kehidupan mereka atau juga orang-orang terdekatnya. Apakah kekhawatiran besar yang pernah saudara rasakan dalam hidup saudara?
  3. Bagaimanakah saudara dapat melihat karya Tuhan dalam kehidupan saudara saat merasakan khawatir atau kecemasan? [cha].

Renungan Harian

Renungan Harian Anak