Pemahaman Alkitab Maret 2022

1 February 2022

Pemahaman Alkitab (PA) Maret 2022
Masa Pra Paskah

Pengantar Umum

Mengawali bahan PA di bulan Maret 2022, ada baiknya kita terlebih dahulu memperdalam pemaknaan atas tema liturgis yang sudah disiapkan, yaitu: “Bertirakat sebagai Jalan Memperbarui Panggilan dan Iman.”

Pertama, tentang kata tirakat. Kata ini merupakan bentuk kata kerja dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai: menahan hawa nafsu” (seperti berpuasa, berpantang), dan diartikan juga: “mengasingkan diri ke tempat yang sunyi” (di gunung dan sebagainya). Berikutnya, mengacu Tim Balai Bahasa Yogyakarta dalam Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa), tirakat merupakan bentuk krama ngoko dan diartikan sebagai bentuk ngengurangi; nglakoni sesirik (mengurangi, menjalankan hal yang menjadi pantangan) dan sujarah menyang pasarean (datang untuk berziarah ke makam). Sedangkan, mengutip dari nu.or.id, kata tirakat adalah penjawaan dari kata Arab, thariqah yang bermakna “jalan yang dilalui.” Bahasa Indonesia menyerap kata ini menjadi tirakat dan tirakatan. Tirakat berarti menjalani laku spiritual untuk mencapai sesuatu yang diiinginkan. Disebut pula oleh kalangan pesantren dengan riyadhah, yaitu menjalani laku mengendalikan dan mengekang hawa nafsu. Antara lain bisa dalam bentuk tidak tidur semalaman dan berpuasa.

Menurut M. Dwi Cahyono, dalam tulisannya berjudul “Malem 1 Sura, Momentum “Tirakatan” Pada Pemangku Budaya Jawa” (www.jurnalmalang.com) yang dikutip lengkap berikut ini, kata tirakat dan tirakatan (sebagai sebuah aktivitas tirakat) ternyata tidak dijumpai baik dalam bahasa Jawa Kuna ataupun Jawa Tengahan. Dwi Cahyono kemudian menyatakan, “Alih-alih terdapat suatu kosa kata yang cukup dekat dengan itu, yakni “tira”, yang searti dengan kata “tirah”, yaitu: pantai, tepi sungai, sisi, pinggir, lambung . Dalam bahasa Indonesia istilah “tirah” diartikan: pindah ke tempat lain untuk beristirahat dalam rangka memulihkan kesehatan. Oleh karena itu, kata jadian “petirahan” menunjuk kepada tempat beristirahat (semacam sanatorium sebagai tempat untuk berobat atau untuk memulihkan kesehatan). Dalam maksud yang lebih luas, tirah bukan hanya untuk penyebutan dari penyakit biologis, melainkan juga terhadap sakit rohani dengan cara beristirahat. Hal ini memberi petunjuk bahwa “sesi istirahat” perlu pula untuk dilakukan dalam mengisi hidup. Kata “tirah” memiliki keserupaan dengan “tirakat”, namun dengan sedikit beda arti — seperti pada kata “berkah” dengan “berkat”, atau kata “istirah” dengan “istirahat”. Aktifitas tirakat, yang berarti laku mengasingkan diri ke tempat sunyi, dalam sebutan lain diistilahkan dengan “nepi, manepi”, yang menjadi arti dari kata “tira” tersebut. Kata jadian “nepi” juga kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna, seperti pada kata ulang “anepi-nepi”, dalam arti: menepi, pergi/ menuju ke pinggir, sebagaimana misalnya disebut dalam kakawin Ramayana dan Kresnayana. Terkait itu, “petirahan” digambarkan sebagai tempat yang sunyi, sejuk segar, dan dapat memberi ketentraman hati. Suatu tempat yang cocok untuk beristirahat guna memulihkan kesehatan, baik fisik maupun jiwa. Tirakat pada dasarnya merupakan tindakan sengaja untuk memisahkan diri dari dunia ramai, atau bersunyi diri guna mendapatkan apa yang disebut “ketenangan, ketentraman maupun kebersihan batin.”

Kata tirakat hampir senada dengan istilah asketisme atau pertarakan (bahasa Yunaniἄσκησις áskesis, “olahraga” atau “latihan”) yaitu gaya hidup yang bercirikan laku berpantang kenikmatan demi mewujudkan maksud-maksud rohani. Secara singkat, wikipedia menerangkan bahwa para petarak (pengamal asketisme) dapat saja menyepi dari keramaian dunia agar dapat bertapa brata dan dapat pula hidup di tengah-tengah masyarakat, tetapi lazimnya mereka mengadopsi suatu gaya hidup yang sangat bersahaja, bercirikan penolakan terhadap harta-benda dan kenikmatan-kenikmatan jasmani, serta melewatkan waktu dengan berpuasa sambil tekun beribadah atau sambil merenungkan perkara-perkara rohani. Dalam hal ini, juga bisa disandingkan istilah Vigili (Lat:waspada), sebuah bentuk tirakatan atau tuguran, berjaga dan tidak tidur pada malam menjelang Paskah.

Kedua, tentang jalan. Andar Ismail menerangkan secara ringkas di buku Selamat Berkembang pengertian mengenai jalan. Di Perjanjian Lama, jalan menjadi kiasan tentang perintah atau kehendak Tuhan, rencana Tuhan, arah dan hidup manusia, serta perilaku atau gaya hidup. Sedangkan di Perjanjian Baru merupakan kiasan sebagai ajaran yang dianut, perilaku atau kelakuan, dan secara khusus langsung merujuk kepada Yesus yang mengatakan “Akulah Jalan..”. Yesus adalah jalan itu sendiri, yang berfungsi sebagai jalan yang bisa dilalui dari sini ke sana, yaitu “datang kepada Bapa..”. Dan jika dikaitkan dengan bagian tema PA diatas, “jalan memperbarui panggilan dan iman”, -sudah seharusnya pembaharuan baik panggilan dan iman-, mengikuti gaya hidup Yesus yang taat, diwujudkan dalam perilaku hidup dan sesuai dengan rencana Tuhan sekaligus memegang teguh keimanan hingga akhir hayat.

Ketiga, tentang bacaan Alkitab dan tentang kita sebagai pembacanya. Berdasarkan pemaparan dari Robert Setio dalam buku Membaca Alkitab Menurut Pembaca, Suatu Tafsir Pragmatis, maka bahan bacaan Alkitab yang dipergunakan dalam PA ini juga akan dilihat dari sudut pandang pembaca masa kini dengan pengalaman dan konteksnya. Namun, dengan tetap tidak meninggalkan bukti kesejarahan dan ilmu tafsir lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghargai pembaca Alkitab di masa kini, sekaligus juga untuk meminimalkan pandangan bahwa sudut pandang pembaca akan menjadi sangat subyektif perseorangan dan tercabut dari akar teks. Minimal ada sifat saling mengontrol dan melengkapi dalam memahami sebuah teks di dalam Alkitab. Kemudian, berkaitan dengan tema tentang tirakat, tentunya hal ini dekat dengan konteks GKJW yang berada di bumi Jawa Timur. Dalam hal ini, pembaca diharapkan peka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Termasuk juga kebutuhan bersama di masyarakat dan sekaligus di dalam komunitas iman yang hidup di tempat yang sama. Bahwa pada suatu waktu, ada kalanya seseorang atau sekelompok orang atau masyarakat bisa menghadapi pergumulan dan bertujuan ingin lepas darinya. Kemudian dengan cara atau sarana tertentu melakukan tirakat, sehingga hidupnya bisa menjadi lebih baik.

Keempat, tentang Masa Pra Paskah. Salah satu sisi dari bahan PA ini adalah pelaksanaan Masa Pra Paskah yang dimulai sejak pelaksanaan Rabu Abu tanggal 2 Maret 2022. Minggu Pra Paskah disebut juga Minggu-Minggu Sengsara Tuhan, dimana jemaat diajak untuk mengenang kembali kesengsaraan Yesus Kristus dengan puncak pada tindakan pengorbanan diri-Nya. Menurut buku Konsep Pedoman Masa Raya Paskah dan Kegiatannya di GKJW pada minggu sengsara ini ada istilah yang bisa kita pergumulkan, yaitu : Invocabit dan Oculi. Invocabit (Lat: berseru/ memanggil) merupakan nama Minggu Pra Paskah 1. Tema yang ditekankan adalah pencobaan yang dialami oleh Yesus. Jemaat diajak untuk melihat pencobaan-pencobaan yang dialaminya dalam terang pencobaan yang dialami oleh Yesus. Dalam menghadapi pencobaan hidupnya, jemaat diajak untuk tetap setia dan berseru memohon pertolongan Tuhan. Berikutnya adalah kata Oculi (Lat: mata). Merupakan nama Minggu Pra Paskah 3. Tema yang ditekankan adalah percaya, menyembah Allah dan pertobatan sebagai panggilan umat Allah. Jemaat diajak untuk berintrospeksi diri, melihat kembali hidupnya dalam keprihatinan dan mempertimbangkan bagaimana hidupnya telah dilalui menurut hukum Tuhan dan teladan Kristus.

Berkaitan dengan masa Pra Paskah di era masa kini, kita bisa menjalankan Aksi Berpuasa atau berpantang baik secara rohani atau jasmani sebagai wujud pengendalian keinginan dan hasrat dari seseorang. Misalnya berpuasa atau berpantang makan makanan kesukaan sehari-hari, berpuasa menggunakan media sosial atau ponsel. Diharapkan hal ini dapat menjadi sarana dan upaya menuju penghayatan untuk introspeksi diri, penyesalan, pertobatan dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Paling tidak, semua ini mengarah kepada bentuk melakukan tirakat yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Dan dalam kerangka besar sebagai bagian dari Tubuh Kristus yang bersatu dalam gereja GKJW, laku tirakat menjadi proses umat dan gereja-Nya untuk ikut dalam memenuhi panggilan GKJW yaitu pemberlakuan kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Dari keseluruhan pengertian di atas, dapatlah kiranya kita mengarahkan kepada makna bahwa tirakat merupakan sebuah aktivitas yang secara sadar dilakukan dengan sebuah cara tertentu dan yang tentunya terkandung hal, maksud, dan tujuan tertentu yang hendak dicapai. Berlandaskan kepada hal inilah, kita akan memaknai tema Pemahaman Alkitab (PA) di bulan Maret 2022.

Mengikuti alur tema PA yang disajikan kita diajak untuk bisa merancang sebuah tindakan tertentu dengan tujuan panggilan hidup dan iman kita semakin bertumbuh. Hal ini akan tampak jelas pada setiap tujuan dari kegiatan PA ini. Mengacu kepada Taksonomi Bloom, maka tujuan yang hendak dicapai adalah pada ranah kognitif, di tingkatan membuat dan ditunjang dengan kata kerja yang bersifat operasional. Kiranya, melalui PA bulan ini kita menemukan kembali tradisi dan bentuk tirakat baik pribadi ataupun komunal. Kiranya ini sekaligus menjadi jalan untuk menyempurnakan timbalan lan kapitadosan saking, sarta dhumateng Gusti Yesus. [WdK].


Pemahaman Alkitab (PA) Maret (I)
Masa Pra Paskah

 

Bacaan: Ayub 1 : 1 – 22
Tema Liturgis:
Bertirakat sebagai Jalan Memperbarui Panggilan dan Iman

Tema PA: Doa bersama Keluarga
Judul PA: Keluarga dan Kesempatan Memperbaiki Kehidupannya

Tujuan PA:

  1. Peserta PA dapat meningkatkan kehidupan rohani di dalam keluarga.
  2. Peserta PA dapat membuat jadwal ibadah dan doa bersama anggota keluarga.

Peserta PA: Warga Jemaat (mencakup semangat intergenerasi

Pujian: KJ. 353 : 3

Pengantar
Lagu Hidup ini adalah Kesempatan, ciptaan Pdt. Wihelmus Latumahina, mungkin sudah sering kita dengar. Lagu ini kemudian di kembangkan oleh seorang penyanyi lagu rohani bernama Herlin Pirena yang dapat disaksikan pada video ini. . Adapun liriknya adalah sebagai berikut:

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini hanya sementara

Sekuntum bunga di pagi hari
Mekar indah harum di padang yang hijau
Demikian Tuhan mendandani rumput
Gugur bunga bila panas terik

Oh Tuhan, pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini hanya sementara

Oh Tuhan, pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat

Oh Tuhan, pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat

Oh Tuhan, pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat

Dengan tema besar tentang kesempatan dan menggunakan waktu yang diberikan Tuhan, lagu ini mengajak kita untuk menghargai hidup sekaligus menggunakan kesempatan (bahkan kesempatan kedua) dengan sebaik-baiknya. Semangat menggunakan kesempatan dengan semaksimal mungkin, sering kita munculkan saat momentum pembaruan. Misalnya pada saat tahun baru, ulang tahun, atau dalam kalender gerejawi pada saat kesempatan Paskah yang merupakan perayaan pembebasan dari dosa. Kita bertekad dan berkomitmen untuk hidup yang lebih baik lagi. Kenyataannya, sebanyak kita berjanji sering sebanyak itu pula kita melupakannya.

Pada PA saat ini, kita akan merefleksikan diri kita, apakah bisa menggunakan kesempatan yang diberikan dengan baik dan dijalankan dengan benar? Apakah kita berproses secara konsisten atas kebutuhan melakukan kehidupan baik yang pernah kita canangkan? Terlebih jika kita diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Tokoh Alkitab bernama Ayub akan menjadi fokus dalam PA kali ini. Secara khusus, kita akan mempelajari tentang diri Ayub yang diberi kesempatan kembali dalam memperkokoh teladan iman yang telah dimiliki sebelumnya. Apa saja yang dilakukan oleh Ayub saat dia diberi kesempatan (kedua) oleh Tuhan Allah?

Penjelasan Teks
Tokoh utama teks ini bernama Ayub. Seorang laki-laki dari Tanah Us, sebuah tempat yang menurut tradisi Yahudi berada di sebelah tenggara Laut Mati. Ayub mengalami banyak hal dalam hidupnya, termasuk juga hal yang dilakukan dalam diri dan untuk keluarganya. Memang, dalam PA saat ini, kita tidak banyak membahas tentang dialog Ayub dengan ketiga temannya (Elifas, Bildad, dan Zofar), namun bertumpu pada situasi dalam keluarga dan apa yang terjadi didalamnya. Hal tentang keluarga Ayub banyak tersaji di bagian awal dan bagian akhir kitab Ayub. Ada perbandingan, perubahan, dan hubungan timbal balik dari keadaan yang dialaminya. Untuk bagian penjelasan tentang tokoh Ayub ini, kita dibantu oleh buku berjudul Ayub, Bergumul dengan penderitaan, Bergumul dengan Allah, tulisan dari Marie-Claire Barth-Frommel.

Konteks Ayub dan Keluarga Ayub Sebelum Digoda Iblis
Ayub merupakan seorang laki-laki yang makmur dan baik kelakuannya. Seorang yang jujur, adil, dan sangat diberkati. Ayat 1 menerangkan Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, dan takut kepada Allah serta menjauhi kejahatan. Pada bagian awal (prolog) dari Kitab Ayub (Pasal 1-2), Ayub memang digambarkan memiliki semua yang diidamkan oleh banyak orang, yaitu anak yang senantisa berkumpul dan kecukupan kebutuhan serta harta benda yang berlimpah. Ia memiliki 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Ini merupakan jumlah yang ideal sesuai jumlah jari sesuai tradisi saat itu. Tentang hartanya, Ayub mempunyai 7.000 ekor kambing domba, yang bulunya digunting, dipintal, dan ditenun menjadi kain wol dan jubah. Bulu kambing digunakan untuk membuat tenda hitam yang sangat laku di kalangan pengembara jaman itu. Sejumlah 3.000 ekor onta merupakan armada angkutan bahan tekstil, anggur dan minyak zaitun sampai ke Mesir, Madinah, Mekkah, Beirut, dan Damsyik. Sedangkan 500 pasang lembu dipakai untuk membajak ladang dan memberikan susu dan keju. Terakhir, 500 ekor keledai yang mengantar sayur mayur dan buah ke pasar kota yang dekat. Untuk para budak yang berjumlah besar, mereka ini bertugas mengusahakan tanah dan ternak milik Ayub. Pendeknya Ayub hidup dengan tenteram di dunia yang teratur baik.

Mengenai keluarga Ayub, khususnya anak-anak Ayub dikisahkan sering mengadakan perjamuan dengan makan dan minum di rumah masing-masing. Mereka ini sangat berkecukupan. Memang Ayub secara jelas menunjukkan usaha menjaga keluarganya. Selain jaminan kesejahteraan kebutuhan hidup, sekaligus juga mencakup hal yang bersifat spiritual. Pada sisi inilah, Ayub tampil sebagai pembeda. Ia sangat takut jika saat anak-anaknya berkumpul, maka ada pembicaraan yang bebas, melanggar hukum, sehingga menyakiti hati Allah. Ayub malu jika tidak bisa mendidik anak-anaknya dan anak-anaknya tidak bisa menerima sikap takut kepada Allah serta tidak menjauhi yang jahat. Ayub mengambil sikap memanggil anak-anaknya, menguduskan mereka, dan mempersembahkan korban (1:5). Dalam perspektif tirakat, Ayub pun sedang melakukannya. Melakukan hal spiritual dan mendoakan untuk kebaikan anak-anaknya. Rasanya Ayub prihatin dengan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Memang diceritakan jika Ayub mengajak semua anak-anaknya. Pertanyaannya, Bagaimanakah dampak dan pengaruh serta contoh yang dilakukan oleh Ayub merasuk dalam pola pikir anak-anak dan keluarganya? Dalam hal ini, apakah memang Ayub hanya bertirakat sendirian? Dan jika ada peluang anak-anaknya melakukan hal yang tidak benar, apakah Ayub tidak menegur anak-anaknya?

 Sebenarnya ada bentuk kontradiktif yang bisa kita rasakan. Sikap anak-anak masih beraktivitas pesta, makan, dan minum (1:13). Sisi sebaliknya, ada sikap orang tua yang mendoakan dan memberikan korban untuk mohon pengampunan atas kesalahan anak-anaknya. Sepertinya hanya Ayub sendirian yang dekat dengan Allah dan hanya Ayub yang melakukan upaya pembenahan situasi keluarganya khususnya dalam hal spiritualitas. Sedikit dapat dibayangkan ternyata anggota keluarga tidak ikut dalam olah rohani, bahkan anak-anak tetap berpesta meski telah diajak untuk memberikan korban penebusan salah.

Konteks Ayub dan Keluarga Setelah Nyata Tetap Setia
Kilas tentang musibah yang datang menjadi awal permulaan dan kesempatan baru. Sebagaimana kita ketahui ada dua dari kelompok musuh dan dua dari bencana alam yang membuat semua yang dimiliki Ayub menjadi sirna. Yaitu orang Syeba dari Arabia Selatan yang menyerang penjaga dan merampas lembu sapi dan keledai betina (1:15). Kemudian api halilintar menyambar dan membakar kambing domba (1:16). Orang Kasdim yang berasal dari muara Sungai Efrat yang menyerbu penjaga dan merampas unta (1:17). Serta angin ribut dan taufan yang berputar merobohkan tembok rumah dan menimpa anak-anak Ayub hingga mati (1:19). Semuanya habis, bahkan akhirnya istri Ayub juga meninggalkan Ayub (2:9). Terlepas dari upaya Iblis, mari kita fokus kepada hal yang dilakukan dan dialami Ayub dalam keluarganya.

Bagian akhir dari kisah kemalangan bertubi-tubi yang menimpa Ayub adalah cerita tentang Ayub yang menjadi pulih kembali. Ayub digambarkan punya kesempatan kembali untuk membangun situasi keluarga melakukan tindakan spiritual secara bersama. Pada bagian akhir (epilog) dari Kitab Ayub (Pasal 42), situasi berubah dan berganti dengan berkat menjadi dua kali lipat. Ayub memiliki 7 orang anak laki-laki dan 3 anak perempuan lagi. Namun terdapat perbedaan, nama anak perempuan disebut lebih dahulu, yang dengan jelas diungkapkan tidak ada gadis secantik anak Ayub di seluruh negeri. Ketiganya bernama Yemima berarti merpati, Kezia berarti kasia yang adalah sejenis kayu manis yang dipakai sebagai wangi-wangian, Kerenhapukh berarti kotak kecil tempat alat-alat kecantikan. Dalam bahasa Ibrani, nama putri-putri Ayub memberi kesan kecantikan, baik dari bunyinya maupun artinya. Sedikit catatan tentang keberadaan istri Ayub. Legenda “Wasiat Ayub” (abad pertama Masehi) mencatat bahwa istri Ayub, bernama Siditos, telah meninggal dunia dan bahwa Ayub menikah lagi dengan seorang putri Yahudi yang memberikan sepuluh putra dan putri. Ayub juga memiliki 14.000 kambing domba, 6.000 onta, 2.000 sapi dan 1.000 keledai. Ia juga dikunjungi lagi oleh keluarganya (42:11). Semula keluarga ini takut mendekati orang kemungkinan besar sedang dihukum Allah. Sesuatu yang ternyata kemudian diketahui salah. Keluarganya kemudian datang, makan bersama, memberikan perak dan cincin emas. Damai sejahtera tercipta. Pada masa hidup inilah terdapat hal yang penting dalam diri Ayub, yaitu bagaimanakah sikap dan pergaulannya dengan anak cucunya terutama dalam hal spiritual. Apakah masih seperti pada bagian prolog ?

Secara khusus, jika kita berfokus kepada situasi rohani keluarga Ayub, memang tidak diceritakan secara gamblang. Hal ini memang ini merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh naskah, tetapi tetap dapat dibayangkan. Sebagaimana keluarga pada umumnya, tentu pelajaran dari pergumulan yang bisa diselesaikan pasti akan dijadikan pedoman. Keluarga Ayub sangat mungkin ikut dalam olah rohani sebagaimana yang dilakukan oleh Ayub. Seluruh anggota keluarga menggunakan kesempatan yang diberikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya untuk berdekatan dengan Allah. Semua anggota keluarga bersama-sama menjaga kehidupan bersama dengan Allah. Hal ini paling tidak berdasarkan kepada kisah tentang akhir hidup Ayub. Kita perhatikan, tidak ada kalimat yang menceritakan tentang pesta makan dan minum sama sekali.

Ayub menjalani hidupnya dengan tenang dan sejahtera. Lahir dan batinnya. Pasal 42:17 mencatat “matilah Ayub, tua, dan lanjut umur. Teks bahasa Ibrani mengatakan bahwa ia kenyang dengan hari-harinya seperti Yakub (Kej. 35:29) dan Salomo (1 Taw. 29:28) dan menerima kefanaan dengan hati yang tenang. Tentunya ini menjadi sumber pemahaman bahwa ketekunan dan rasa takut kepada Allah juga menjadi dua kali lipat. Semakin dekat dengan Allah. Pada saat keimanannya digugat oleh teman-temannya saja Ayub tidak goyah. Apalagi dalam suasana yang serba aman dan berkecukupan. Tentunya pengalaman iman Ayub diceritakan kepada generasi penerusnya, paling tidak hingga anak dan cucunya sampai keturunan yang keempat. Dapat dipahami jika dalam masa yang baru ini, Ayub mengajak seluruh unsur dalam keluarganya untuk bisa melakukan upaya mendekat kepada Tuhan di antara semua anggota keluarganya. Inilah sebuah proses menuju kepada tirakat bersama. Bahwa yang takut untuk berbuat dosa adalah seluruh anggota keluarga. Ayub tidak lagi menjadi resah namun menjadi bersyukur hingga akhir hayatnya.

Penerapan
Seperti halnya Ayub, sebagai bagian dari keluarga, kita tentu ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Jika ada situasi keluarga menjadi tidak baik-baik tentu kita berusaha memperbaikinya. Ayub terus mengusahakannya, meskipun dilakukan sendirian. Salah satu bukti, dirinya tetap mempersembahkan korban bakaran sesuai jumlah anak-anaknya. Upayanya didukung dengan sikap yang waspada, hati-hati, cermat, tekun, setia dan merasa tidak layak jika kemudian mempersalahkan Allah atas kemalangan yang menimpanya. Terbukti, pada akhirnya, dengan dukungan dan peran Allah situasi Ayub dipulihkan bahkan diganti berlipat ganda.

Jika dikisahkan sejak bagian awal Ayub telah tekun, telah menjalani derita dengan tabah, maka pada akhirnya ia juga dituntut untuk konsisten tekun pada masa dan keadaan-keadaan berikutnya yang dialami. Ayub pada bagian akhir hidupnya dikisahkan tenang dan sejahtera. Ini dapat dimaknai adanya perubahan suasana kebersamaan dalam keluarganya. Ayub mengubahnya, dari perspektif kesendirian kini menjadi bersama-sama menjaga keluarga. Tidak pada satu pihak merasakan kenikmatan sedang pada pihak lain harus mengalami derita sendiri. Ayub tidak sendirian lagi mengupayakan kehidupan iman keluarganya. Ayub tentunya telah menggunakan kesempatan keduanya dengan sebaik-baiknya sehingga bisa menjalani hidup hingga tua dan lanjut umur. Karenanya, bilamana situasi hidup kita masih diberi kesempatan untuk menjadi baik, apakah kita bisa seperti Ayub, menggunakannya semaksimal mungkin?

Pertanyaan Reflektif untuk Didiskusikan

  1. Manakah yang kita pilih, hidup seperti Ayub pada periode awal atau pada periode akhir dalam hal menjaga hubungannya dengan Allah. Berusaha menjaga iman keluarganya sendirian ataukah ingin dilakukan secara bersama-sama? Mengapa?
  2. Bagaimana cara kita membangun persekutuan bersama dalam keluarga sehingga tumbuh rasa kebersamaan dan kesatuan yang terus terjaga dengan konsisten?
  3. Dalam rangka menjaga kebersamaan, apakah di antara semua anggota keluarga kita bisa bersepakat bersama-sama bertirakat demi tujuan yang sama? Apakah bentuk tirakat bagi keluarga yang tepat dan sesuai dengan harapan dan pergumulan masing-masing untuk saat ini?

Penutup
Keluarga dan anggotanya adalah satu kesatuan. Yang hendaknya bisa memiliki tujuan bersama yang sama dan secara bersama-sama turut mengusahakannya. Semuanya bisa bertirakat demi kebaikan keluarga. [WdK]

Catatan
Akan menjadi sangat baik bila peserta PA juga melibatkan seluruh kategorial dalam pelayanan jemaat. Paling tidak semangat untuk melaksanakan kegiatan yang bersifat intergenerasi bisa terwujud. Dalam hal pembahasan pertanyaan reflektif, diharapkan seluruh kategorial ini bisa diajak untuk aktif.


Pemahaman Alkitab (PA) Maret (II)
Masa Pra Paskah

Bacaan: Roma 2 : 1 – 11
Tema Liturgis: Bertirakat sebagai Jalan Memperbarui Panggilan dan Iman

Tema PA: Allah Bersikap Adil kepada Semua Orang
Judul PA: Hubungan Baik Memang Menyenangkan

Tujuan PA:

  1. Peserta PA dapat mengoreksi diri sendiri atas kesalahan yang sering diperbuat.
  2. Peserta PA dapat menyusun rencana perbuatan baik untuk memperbaiki kesalahan.

Peserta PA: Warga Jemaat

Pujian: KJ. 467

Pengantar
“Mulutmu harimaumu” mungkin kalimat tersebut sudah sering kita dengar. Kalimat ini dapat diartikan bahwa setiap kata yang dilontarkan bisa menjadi sebuah kesalahan, ketika menyakiti orang lain dan sekaligus bisa juga membahayakan diri sendiri. Dan pada masa sekarang, dalam situasi masyarakat yang dikelilingi media sosial, pepatah ini berkembang menjadi kalimat “Jarimu harimaumu.” Jika dulu kita mungkin melakukan kesalahan melalui ucapan verbal secara langsung, ternyata sekarang ini juga dimungkinkan melakukan kesalahan melalui pikiran yang diungkapkan melalui tulisan di media sosial.

Hoax adalah salah satu contoh yang mengemuka saat ini. Dari hal ini, kita semakin menyadari bahwa semakin banyak sekali sarana dan cara yang membuat kita “bisa” dan “berpeluang” melakukan kesalahan dan berimbas kepada rusaknya relasi dengan sesama kita. Karenanya kita perlu semakin waspada. Sekaligus, jika kita mungkin tidak secara sadar dan tidak tahu jika telah melakukan kesalahan, maka berani mengaku salah tentunya menjadi hal yang diidealkan. Serta kemudian berproses untuk memperbaiki diri.

Melalui bahan PA ini, kita belajar untuk menyempurnakan diri pribadi. Mari kita ingat-ingat, kesalahan apa saja yang telah kita perbuatan selama hidup kita dan kita ingat bagaimana kita berusaha memperbaikinya. Memulihkan diri menjadi penting, jika ternyata kita terus menyesali tanpa berkesudahan atas sebuah kesalahan. Kita perlu berusaha menyehatkan diri dari kata, tindakan, dan pikiran yang meracuni. Termasuk berani merancang hingga detail rencana perbaikan diri menjadi manusia baru yang telah bertobat dari kesalahan.

Penjelasan Teks
Penulis surat Roma adalah Paulus, walaupun ia sebenarnya bukan pendiri jemaat di Roma. Surat ini ditujukan kepada pembacanya yang adalah orang percaya kepada Yesus, yang berada di kota Roma. Adapun konteks jemaatnya dikotomis, diantaranya adalah pengelompokan orang Kristen yang “asli” Yahudi dan orang yang memang sudah bertempat tinggal di kota Roma lebih dahulu. Jumlah orang Kristen yang berasal dari kota Roma lebih banyak dan yang keturunan Yahudi kalah jumlahnya. Dari sini, kita tentu bisa merasakan adanya latar belakang dan sudut pandang serta pengalaman yang berbeda di antara dua kelompok ini dalam membangun kehidupan persekutuan, khususnya ketika menyikapi konteks di kota Roma. Situasi ini juga mempengaruhi pola relasi dan keutuhan yang dibangun di antara kedua kelompok ini. Melalui tulisan Paulus, kita bisa menemukan pendapatnya tentang bentuk dan cara membangun hubungan yang sehat di antara jemaat Roma. Bahwa kedua pihak harus saling memperbaiki diri. Pada gilirannya nanti, pendapat Paulus menjadi penopang dalam menghadapi kondisi eksternal jemaat.

Sebagai awal, untuk memahami bacaan PA saat ini, tidaklah bisa dilepaskan dari perikop sebelum dan sesudahnya. Dalam hal ini kita akan mencermati dengan dua sudut pandang, sebagaimana yang dituliskan oleh Paulus, yaitu pertama: penggambaran tentang tindakan manusia dan kedua, penggambaran tentang respon Allah atas apa yang dilakukan oleh manusia.

Penggambaran dari Tindakan Manusia dan Tanggapan serta Karya Allah
Secara umum, pertama, Paulus menuliskan gambaran mengenai tindakan manusia. Dihubungkan dengan perikop sebelumnya, yang berisi daftar kefasikan dan kelaliman manusia (1:18-32), Paulus hendak menggambarkan keadaan manusia tanpa Kristus (1:18 – 3:20). Melalui pemaparan kesalahan manusia, Paulus hendak menyadarkan bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan yang bermacam-macam. Dan jika disambung dengan pasal 2, dapat dirasakan bahwa siapapun itu (=manusia) sama-sama punya potensi untuk juga ikut dan berbuat kesalahan (2:1). Jika dituliskan contoh tindakan menghakimi, maka orang Kristen, baik yang keturunan Yahudi ataupun yang berasal dari kota Roma sendiri bisa juga jatuh ke dalam kesalahan. Keduanya bisa saling menghakimi yang kemudian mempertajam perbedaan. Yang dihakimi bisa membalas menghakimi dan sebaliknya, tanpa ada kesudahannya. Dalam hal ini, bahkan bagi orang Yahudi yang merasa paling benar, perasaan seperti inilah yang justru juga merupakan kesalahan. Kita tahu, bahwa siapa yang merasa benar, akan tergoda untuk menghakimi. Tentu harapannya adalah di antara sesama murid jangan saling menghakimi. Karenanya lebih baik tidak membuka pemikiran sebagai yang paling benar sendiri. Setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing dan minimal kemudian perlu ingat bahwa standar yang dikenakan pada orang lain pun akan bisa dikenakan balik.

Selanjutnya juga, atas kesalahan yang dilakukan, semua pihak juga memiliki kemungkinan dihukum oleh Allah karena perbuatannya, sehingga harus senantiasa waspada dengan cara hidup yang benar (2:1-3). Karena itu semua orang dan masing-masing harus mau memperbaiki diri, dimulai dari diri sendiri.

Kedua, Paulus kemudian juga menuliskan gambaran tentang tindakan Allah. Kita fokus kepada ayat 11, bahwa Allah pasti bersikap adil, tidak pandang bulu (bandingkan Ulangan 10:17). Semua adalah setara, termasuk dalam hal balasan atau imbalan yang diterima sesuai perbuatan, baik itu orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Baik orang Kristen yang adalah penduduk kota Roma dan orang Kristen yang keturunan Yahudi. Tidak diadakan pembedaan. Dari beberapa terjemahan sangat kentara tentang keadilan Allah. Beberapa terjemahannya yaitu: “Sebab Allah memperlakukan semua orang sama” (Alkitab BIMK); “Sabab Allah ora pilih kasih” (Terj Jawa 06); “Merga Gusti Allah ngadili saben wong tanpa pilih kasih.” (Jawa 94); dan “Sabab Gusti Allah ora pilih kasih.” (Jawa 81). Allah akan bertindak kepada manusia yang salah dengan konsekuensi dari tindakannya yaitu murka geram dan penderitaan akan diberikan (2:8-9).

 Kita diingatkan bahwa jika manusia melakukan kesalahan dan berhadapan dengan hukuman maka manusia tidak bisa meminta keringanan. Sedangkan sebaliknya, jika ada manusia yang benar, maka ada pokok tentang imbalan yaitu hidup kekal dan kemuliaan (2:7,10). Artinya, Allah bertindak memberikan anugerah. Melalui suratnya ini, Paulus memberikan kesadaran tentang prinsip tabur tuai dari seorang individu. Diharapkan ini menjadi gaya hidup serta mengarahkan kepada perubahan dan perbaikan kehidupan iman yang dijalani dalam komunitas iman di kota Roma.

Sekilas, tulisan di surat Paulus ini memang seakan hanya berkisar kepada konsep hubungan sebab akibat, yaitu jika melakukan sesuatu, maka akan mendapat dan atau tidak mendapatkan sesuatu. Manusia tampak hanya menjadi obyek atas sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Namun dalam perspektif luas, Paulus hendak menggambarkan tentang sebuah konsep hidup pentingnya menjadi manusia yang sadar akan konsekuensi dari sebuah tindakan yang dilakukan. Secara dewasa manusia diajak untuk berpikir tentang hal apa yang memang patut dan tidak patut untuk dilakukan. Tetap ada sisi melatih diri menjadi subyek yang bisa menentukan posisi diri untuk berbuat kesalahan atau sedang proses memperbaiki diri. Contoh yang diberikan Paulus dalam hal menghakimi dan menyalahkan orang lain, diajaknya untuk dilihat dalam sudut pandang yang luas. Antara lain tentang dampak, konsekuensi dan akibat yang timbul jika menghakimi sesamanya. Termasuk jika dengan tajam menilai orang lain, bisa saja justru kemudian sedang melakukan tindakan salah yang sama dan resikonya adalah hukuman oleh Allah.

Penerapan dan Makna
Setiap orang pasti memiliki harapan untuk sembuh dari penyakit batin, tidak berbuat salah lagi dan tidak mau menjadi objek hukuman. Karenanya, manusia sebagai subyek atas dirinya sendiri juga perlu upaya untuk menahan diri dan pemulihan diri dari kesalahan serta kembali memperbaiki hubungan dengan sesama. Sebagai catatan, kata pulih atau memulihkan berasal dari kata “syub” (Ibrani) dengan pengertian rohani misalnya berputar arah kembali, memperbaiki, menghubungkan, menyembuhkan, menyambung, mengutuhkan, berdamai, dan bertobat. Kata ini sepadan dengan “apokhatismai” (Yunani) berarti sembuh dan kata “katartizo” (Yunani) yang berarti memperbaiki sesuatu yang rusak, mengembalikan ke jalan yang benar dan melengkapi apa yang belum lengkap.

Kemampuan untuk menahan diri dan mengetahui apa yang dicari dalam hidup seseorang akan menentukan hal apa yang akan dilakukan, termasuk menghindari berbuat salah. Seseorang yang dewasa akan melakukan tindakan ketaatan bukan karena takut dihukum namun karena kesadaran diri. Secara luas, ini membawa pengaruh memutuskan mata rantai saling menyalahkan. Termasuk bisa mengurangi beragam bentuk kekerasan, termasuk juga kekerasan verbal, yang sangat mudah kita jumpai di sekitar kita.

Pertanyaan Reflektif untuk Didiskusikan

  1. Berdasarkan teks bacaan, manakah yang menjadi kecenderungan sikap hidup kita pribadi? Mengarah kepada tindakan yang salah ataukah kepada kemuliaan Allah? Bersikap menyalahkan dan menghakimi orang ataukah mampu memberikan apresiasi secara sehat kepada sesama kita?
  2. Apa kesalahan yang pernah kita lakukan dan bagaimana rencana dari kita masing-masing untuk memperbaiki diri? Dalam masa Pra Paskah ini apa bentuk tirakat pribadi yang bisa meningkatkan nilai hidup yang kita alami, sehingga kita semakin layak menerima anugerah, hidup kekal dan kemuliaan dari Allah?
  3. Aktivitas lanjutan. Peserta PA diajak untuk membuat bagan rencana 40 hari tindakan baik guna bertarak hal kedagingan yang akan dilakukan selama masa Minggu Pra Paskah hingga menjelang Perayaan Paskah. Untuk contoh bisa melakukan browsing dengan kata kunci “kalender 40 hari pra Paskah.”

Kesimpulan
Mari kita mulai dari diri kita terlebih dahulu untuk memperbaiki kesalahan. Dalam hal ini mungkin kita bisa memperhatikan lagu berjudul “Kumulai dari diri sendiri” karya Pontas Purba. Misalnya yang dinyanyikan oleh PS.Narwastu ~ GKJW Gresik  dan Koor MJ GKJW Pundungsari daur 2016-2018  (Liriknya dapat dibaca dibagian bawah bahan PA ini).

Sebagai penutup kegiatan PA, mari kita memperhatikan kalimat yang dituliskan oleh Andar Ismail dalam buku Selamat Berpulih, pada halaman 72-74 yang berkisah tentang Oprah Winfrey. Oprah merupakan tokoh berpengaruh, memiliki program televisi The Oprah Winfrey Show dan majalah The Oprah Winfrey Magazine. Dalam banyak kesempatan ia mampu memberikan semangat pemulihan diri di masa lalu untuk melangkah ke pertumbuhan masa depan. Kalimat kunci yang sering disampaikan oleh Oprah adalah, “If you had known better, you would have done better” (Jika Anda tahu yang lebih baik, Anda seharusnya akan melakukannya lebih baik). Memang sering kita menyesali kesalahan di masa lalu dan ini tidak berguna. Yang lebih berguna adalah kita tidak melakukan kesalahan itu kembali. Dan hubungan dengan sesama pun kembali menjadi menyenangkan. [WdK].

Lagu: Kumulai dari Diri Sendiri
(Cipt: Pontas Purba – 2005)

1

Kumulai dari diri sendiri
untuk melakukan yang terbaik.
Kumulai dari diri sendiri,
hidup jujur dengan hikmat Tuhanku.
Tekadku Tuhan: mengikut-Mu selama hidupku,
berpegang teguh kepada iman dan percayaku.
Akan kumulai dari diriku
melakukan sikap yang benar.
Biar pun kecil dan sederhana,
Tuhan dapat membuat jadi besar.

 

2.

Kumulai dari keluargaku
menjadi pelaku Firman-Mu.
S’lalu mendengar tuntunan Tuhan,
berserah pada rencana kasih-Mu.
Kadang-kadang lainjawaban Tuhan atas doaku.
Kupegang teguh,Tuhanku memberikan yang terbaik
Kumulai dari keluargaku,
hidup memancarkan kasih-Mu.
Walau ‘ku lemah dan tidak layak,
kuasa Tuhan menguatkan diriku.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak