Pemahaman Alkitab Februari 2019

PEMAHAMAN ALKITAB FEBURARI 2019 (I)

 

Bacaan : Kisah Rasul 9:19b-25
Thema liturgis : Melakukan kehendak Allah sambil meyakini kasih pemeliharaan-Nya.
Thema PA : Meyakini  Pemeliharaan Allah.
Tujuan  :

  1. Mengajak peserta PA untuk meyakini bahwa Tuhan Itu Sang Pemelihara.
  2. Menyadari bahwa pemeliharan Tuhan akan sangat terasa saat menghadapi tantangan.
  3. Menyakini bahwa Pemeliharaan Tuhan ada dalam kehidupan orang percaya.

 

Teks Kisah Rasul 9:19b-25

Pada teks ini menceritakan tentang pengalaman Saulus setelah mengalami pertobatan. Ia tinggal bersama murid-murid di Damsyik. Ada yang menduga bahwa Saulus sebelum ke Damsyik, ia tinggal di Arab (Galatia 1:17). Ketika ke Damsyik ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pemberitaannya itu membuat orang-orang Yahudi heran, dan mengira bahwa Saulus akan membawanya ke hadapan Imam-imam kepala.(ayat 21). Rupa-rupanya kehadiran Saulus yang memberitakan Yesus sebagai Mesias menimbulkan syak prasangka, keragu-raguan dan membuat bingung  orang-orang Yahudi di Damsyik, karena ia  meyakinkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan mereka. Sehingga di antara mereka yang kenal Saulus ada yang ragu untuk  menerima atau percaya padanya. Di satu sisi  Saulus makin besar pengaruhnya terhadap orang-orang Yahudi, tetapi di sisi yang lain ada beberapa orang mempunyai rencana jahat untuk membunuh Saulus (ayat 23). Rencana untuk membunuh Saulus dirancang sedemikian rupa, dan usaha itu jelas ketika orang-orang Yahudi mengawal semua pintu gerbang kota, agar Saulus tidak bisa lolos dan akhirnya dapat dibunuh. Saulus menyadari bahwa dirinya dalam keadaan terancam hidupnya, tetapi Tuhan bekerja melalui para murid-murid nya, Paulus selamat dari bahaya maut. (ayat 25).

(Catatan tambahan-historis )

Menurut catatan di ayat 25, Paulus bertobat pada tahun 34 M dan kemudian dibantu meloloskan diri dari Damaskus pada tahun 37 M. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia pasal 1:17 Paulus mengisahkan bagaimana ia dibantu melarikan diri dari kota Damaskus pada zaman pemerintahaan raja Aretas dari Nabataea. Raja Aretas (Harithat IV) yang wafat pada tahun 40 (lihat 2 Korintus 11:32-33) memerintah dari tahun 9 sampai 40 M. Sejarawan Yahudi-Romawi abad ke-1 M, Flavius Yosefus (37-100), mencatat detail perselisihan antara raja Aretas dengan raja Herodes Antipas mengenai perbatasan. Yosefus menuliskan Aretas sebagai “raja Arabia Petrea”. Kaisar Romawi Tiberius berpihak kepada Herodes Antipas dan memerintahkan Vitellius, prokonsul di Suriah, “untuk berperang melawan Aretas.” Dalam perjalanan Vitellius menerima komunikasi yang mengabarkan kematian Tiberius, maka ia menarik kembali tentaranya. Tiberius wafat pada tanggal 16 Maret 37 dan pada saat itu Damaskus berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi dan dipimpin oleh Vitellius. Raja Aretas wafat pada tahun 40 sehingga lolosnya Paulus dari Damaskus terjadi antara tahun 37 dan 40. Belum jelas kapan Aretas menerima kuasa atas Damaskus dari Kaisar Caligula dalam penyelesaian kasus di Suriah. Pemerintahan Areta di Damaskus dapat berawal dari tahun 37 berdasarkan penemuan arkeologi berupa mata uang logam. Dosker menulis: “Waktu Tiberias wafat pada tahun 37, dan mengingat urusan Arabia sudah tuntas pada tahun 39, jelas bahwa pertobatan Paulus terjadi antara tahun 34 dan 36. Tanggal ini kemudian menjadi pasti berkat sebuah koin dari Damaskus, dengan gambar raja Aretas dan tahun “101”. Jika tahun itu mengacu pada era Pompian, berarti sama dengan tahun 37 M, sehingga pertobatan Paulus terjadi pada tahun 34 (T. E. Mionnet, Description des medailles antiques greques et romaines, V [1811], 284f.).

Realitas Gereja antara peluang dan tantangan Kehidupan

Kehadiran dan keberadaan warga kristiani (warga gkjw berada di dalamnya) ditengah masyarakat majemuk untuk mewartakan kabarbaik (Injil Tuhan) melalui karya, perilaku, dan kehidupan yang menjadi berkat bagi sesama, bukanlah hal yang ringan. Di satu sisi kehadiran pelayanan warga gereja, misalnya kehadiran pelayanan kesehatan,melalui rumah sakit, klinik-klinik, pendidikan, keterlibatan kegiatan dalam masyarakat sebagai rt, rw, panitia-panitia kegiatan masyarakat, bahkan sebagai aparat pemerintahan, dapat diterima dengan baik, tetapi di sisi yang lain kehadiran gereja terkadang ada yang mengalami tantangan yang cukup berat, misalnya sulitnya mengurus ijin bangunan gereja, mengurus sertfikat tanah gereja, masih adanya kecurigaan terhadap kegiatan-kegiatan gereja di tengah masyarakat. Keadaan ini menguji keteguhan iman warga gereja, tetapi puji syukur bahwa warga gereja walaupun dalam realita kehidupan banyak yang mengalami tantangan, sebagian besar, mereka tetap teguh di dalam Tuhan. ( Misalnya kasus pembakaran gereja 1998, bom natal, kasus Al Maidah (Ahok) teror di Surabaya dll),  Kasus tersebut tidak menyurutkan kehadiran Gereja untuk bersaksi, ini semua menjadi bukti bahwa warga kristiani (gereja), meyakini di tengah tantangan ancaman mereka tetap teguh, mereka yakin adanya pemeliharan Tuhan, seperti yang dialami oleh Saulus, di tengah ancaman, ada hal yang membuat nyaman yaitu pemeliharaan Tuhan.

 Greja Kristen Jawi Wetan sebagai Organisasi gereja, maupun gereja sebagai organisme sudah berupaya melaksanakan panggilannya melalui  pelaksanan kegiatan-kegiatan gereja secara intern, maupun ekstern yang dikemas secara programatis, melalui PPJP, PPJM, dan PKT, yang disepakati melalui keputusan-keputusan Sidang (MJ,MD,MA). Untuk melaksanakan tugas panggilan tersebut dilaksanakan dan hasilnya di evaluasi. Pada hasil evaluasi ada keberhasilan, tetapi tidak jarang mengalami kegagalan. Ada peluang tapi juga ada tantangan, ada pelayanan gereja yang membahagiakan, yang menguatkan keberadaan gereja, tetapi di sisi lain ada keprihatinan. Dengan kenyataan ini apakah kita yakin akan pemeliharaan Tuhan? Suadara-saudara yang merasakannya.

Pertanyaan dan sharing untuk dipergumulkan bersama.

  1. Berilah kesempatan kepada peserta PA untuk men-Sharingkan pengalamannya sebagai warga gereja yang tinggal di tengah masyarakat majemuk. ( pengalaman yang membahagiakan, maupun yang tidak menyenangkan)
  2. (setelah sharing), berikan pertanyaan berikut:
  3. Apakah saudara merasa bahwa Tuhan Allah menolong saudara atau tidak?
  4. Bila jawaban saudara ya, apa wujud pemeliharaan Allah yang saudara rasakan?
  5. GKJW (Jemaat saudara ) sebagai gereja Tuhan, menurut saudara apakah juga dipelihara, disertai oleh Tuhan Allah? Apakah wujud pemeliharaan Tuhan terhadap jemaat saudara?

 


 

PEMAHAMAN ALKITAB PEBRUARI 2019 (II)

 

Bacaan  : Roma 8:1-11.
Kalender Liturgis : Minggu biasa .
Tema Liturgis : Melakukan Kehendak Allah Sambil Meyakini Kasih Pemeliharaan-Nya.
Tema PA : Hidup oleh Roh adalah hidup toleran!
Tujuan :

  1. Agar warga jemaat mengetahui tentang kehendak Tuhan atas kehidupan riil kita.
  2. Agar warga jemaat memahami bahwa kita (umat-Nya) wajib menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata).
  3. Agar warga jemaat melatih diri untuk meyakini serta menghayati kasih pemeliharaan-Nya sehingga dapat menaati kehendak Tuhan dan ketaatan tersebut berdampak positif bagi lingkungannya, dengan hidup toleran.

 

Keterangan Teks:

Ayat 1: ‘Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus’. Apa artinya bagi kita, jika kita sedang berada di lajur kematian? Kenyataan bahwa semua manusia ada di lajur kematian, sebab memang pantas dihukum karena merusak hukum suci Allah secara berulang-ulang. Tanpa Tuhan Yesus kita tak memiliki harapan apa pun. Syukur kepada Allah, sebab Ia telah menyatakan bahwa kita tak bersalah dan menawarkan kita pembebasan dari dosa dan kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya.

Ayat 2: Roh yang memberi hidup ini adalah Roh Kudus. Roh hadir ketika Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya (Kej.1:2) dan Roh adalah kekuatan dibalik kelahiran kembali setiap orang Kristen. Roh memberi kita kekuatan yang kita butuhkan untuk hidup secara Kristen.

Ayat 3: Tuhan Yesus memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban (persembahan) bagi dosa-dosa kita. Di zaman Perjanjian Lama, korban binatang secara terus-menerus dipersembahkan di bait. Korban-korban tersebut menunjukkan kesungguhan hati bangsa Israel akan dosa: Darah-Nya ditumpahkan sebagai pengampunan dosa (Imamat 17:11). Tetapi darah binatang tidak dapat sungguh-sungguh menghapus dosa (Ibrani 10:4). Korban-korban yang dilakukan manusia hanya dapat mengacu pada pengorbanan Tuhan Yesus, yang membayar lunas bagi semua dosa.

Ayat 5-6: Paulus membagi umat ke dalam dua kategori, yakni mereka yang membiarkan dirinya dikuasai oleh dosa turunan mereka (daging), dan mereka yang mengikuti setelah Roh Kudus. Kita semua akan ada di kategori satu jika Tuhan Yesus tidak menawarkan kita sebuah jalan keluar. Sekali kita berkata ya  kepada Tuhan Yesus, kita akan ingin terus mengikuti-Nya, sebab jalan-Nya memberi kehidupan dan damai. Setiap hari kita harus sadar memilih memusatkan hidup kita pada Allah. Gunakan Alkitab untuk membuka tabir bimbingan-Nya, dan kemudian mematuhinya. Di setiap situasi membingungkan, Tanya pada diri sendiri: ‘Apa yang Tuhan Yesus kehendaki untuk saya lakukan?’ Jika Roh Kudus menunjukkan apa yang benar, lakukan dengan segera. Untuk dosa turunan  kita versus hidup baru kita dalam Kristus, lihat Roma 6:6-8; Ef.4:22-24; Kol.3:3-15.

Ayat 9: Ragukah anda tentang realitas anda sebagai seorang Kristen?  Seorang Kristen adalah seseorang yang mempunyai Roh Allah tinggal dalam dirinya. Jika anda percaya Kristus bagi keselamatan anda dan mengakui-Nya sebagai Tuhan, kemudian Roh Kudus masuk ke dalam hidup anda, maka anda adalah seorang Kristen. Anda yakin bahwa Roh Kudus datang, sebab anda menantikannya dengan tekun, dan Roh datang sebab Tuhan Yesus telah menjanjikannya.  Jika Roh Kudus bekerja dalam diri anda, maka:

  • anda akan percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Anak Allah dan hidup kekal hadir melalui-Nya (I Yoh.5:5);
  • anda akan mulai melakukan seperti yang Kristus kehendaki (Roma 8:5; Gal.5:22-23);
  • anda akan menemukan pertolongan dalam problem anda setiap hari dan dalam doa anda (Roma 8:26-27);
  • anda akan diberdayakan untuk melayani Allah dan melakukan kehendak-Nya (Kisah Para Rasul 1:8; Roma 12:6 dst);
  • dan anda akan menjadi bagian rencana Allah untuk membangun gereja-Nya (Ef.4:12-13).

Ayat 11: Roh Kudus adalah perjanjian atau jaminan Allah tentang hidup kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Roh ada dalam diri kita sekarang oleh iman, dan oleh iman kita tentu hidup dengan Kristus selamanya. Lihat Roma 8:23; I Kor.6:14; II Kor.4:14; I Tes.4:14.

Realitas kehidupan kini dan penerapan:

Sejak hari Minggu tanggal 23 September 2018, telah dimulai kampanye pemilihan legislatif (anggota DPR/DPRD) serta pemilihan presiden dan wakilnya, sampai nanti bulan April 2019. Masa kampanye, apalagi dalam kurun waktu yang sangat panjang itu, bukannya tidak mungkin rentan terjadi konflik di antara warga Negara Indonesia, yang berbeda dukungan dan pilihannya. Menurut pemerintah RI dan berbagai pihak, korupsi dan intoleransi menghambat demokrasi di Indonesia. Isu SARA (suku, agama, ras, antar golongan) sangat sensitif dijadikan alat adu domba. Tantangan yang harus kita hadapi adalah ada sebagian orang/pihak yang kurang atau tidak bisa menerima perbedaan, keanekaragaman, dan kebinekaan itu sebagai berkat.

Ada dua (2) sikap atas isu SARA tersebut, yaitu ‘toleran’ dan ‘intoleran’. ‘Toleran’ adalah bersifat atau bersikap menenggang: menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. ‘Intoleran’ adalah kebalikan dari toleran!

Menurut Majalah Intisari Bulan Agustus 2018, ada sepuluh kota di Indonesia paling intoleran, yaitu Jakarta (kota paling tidak toleran di tahun 2017), Banda Aceh, Bogor, Cilegon, Depok, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, Padang, dan Mataram. Sepuluh kota dengan tingkat toleransi tertinggi adalah Manado, Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Tual, Binjai, Kotamobagu, Palu, Tebing Tinggi, dan Surakarta.

Untuk dapat bersikap toleran, masyarakat Jawa memiliki kearifan lokalnya, yang berbunyi: ‘Desa mawa cara, Negara mawa tata’, artinya: desa mawa cara (desa mempunyai adat sendiri), Negara mawa tata (Negara memiliki tatanan, aturan, atau hukum tertentu). Peribahasa ini memuat inti pandangan masyarakat Jawa yang menghargai adanya pluralitas dengan segala perbedaan adat kebiasaannya. Untuk itu, bagi para pendatang harus pandai-pandai memahami, menghormati, dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat. Jangan melecehkan apalagi mengubahnya sebab akan menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada konflik yang tidak diinginkan. Saya menangkap kearifan tsb, bahwa masyarakat Jawa menerima pluralisme (keadaan masyarakat yang majemuk: perbedaan, kebinekaan, banyak ragam macam) sebagai berkat! Sebagai karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia Jawa.

Metode:

Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Sebutkan ‘kehendak Tuhan’ yang anda yakini/hayati/alami dalam kurun waktu sebulan terakhir ini. Bagaimana respons atau tanggapan anda menghadapi kehendak Tuhan tersebut?
  2. Hal apa saja yang anda butuhkan agar anda dapat merasa wajib menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata) anda?
  3. Baca sekali lagi bagian ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ di atas. Langkah apa yang ingin anda lakukan untuk mewujudkan ‘melatih diri untuk meyakini serta menghayati kasih pemeliharaan-Nya sehingga dapat menaati kehendak Tuhan dan ketaatan tersebut berdampak positif bagi lingkungannya, dengan hidup toleran?
 

Bagikan Entri Ini: