Pemahaman Alkitab (PA) Maret 2023 (I)
Masa Pra Paskah
Bacaan: Yehezkiel 33 : 10 – 16
Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian
Tema PA: Berjaga-jaga Dengan Selalu Mengupayakan Hidup Benar
Pengantar:
Lisa adalah seorang aktivis gereja. Ia seorang yang ramah dan suka menolong. Ia aktif menjadi pamong anak, pemandu puji dalam ibadah, aktif dalam tim perkunjungan, dan tidak pernah absen dalam setiap kegiatan gereja. Lisa dikenal sebagai wanita teladan di gereja dan banyak disukai orang, bahkan ia juga dipercaya memegang uang hasil bazar KPPW, yang rencananya akan digunakan untuk kegiatan anjangsana ke jemaat lain dan rekreasi KPPW. Suatu hari, keluarga Lisa tertimpa musibah. Uang tabungannya dicuri orang, padahal dua hari lagi Lisa harus membayar biaya study tour anaknya. Lisa sangat sedih dan bingung. Kemudian ia memutuskan untuk menggunakan uang bazar KPPW yang dipegangnya diam-diam dan mengubah laporan keuangan bazar agar tidak ada yang mengetahui. Namun, Leli mengetahui hal itu dan menegur Lisa. Ia menyarankan supaya Lisa berbicara jujur pada pengurus KPPW akan kondisinya, supaya ia mendapatkan bantuan tanpa harus berbuat curang. Sayangnya, Lisa tidak menghiraukan Leli yang menegurnya. Bagi Lisa, Leli tidak pantas menasihatinya, karena Leli meskipun sekarang mulai aktif bergereja dan berupaya hidup jujur, namun Lisa masih mengingat Leli sebagai warga yang tidak aktif mengikuti kegiatan gereja dan Leli dulunya juga pernah berbohong.
Pengantar Pertanyaan:
- Menurut saudara, apakah perbuatan yang dilakukan oleh Lisa dapat dibenarkan? Mengapa?
- Menurut saudara, apakah yang dilakukan Leli pada Lisa adalah hal yang benar atau salah? Mengapa?
Penjelasan Teks:
Sebelum masuk pada pembahasan ayat 10-16. Mari memperhatikan 9 ayat di awal, yaitu ayat 1-9. Yehezkiel 33:1-6 menggambarkan mengenai tugas penjaga negeri, yang biasanya ditempatkan di atas tembok-tembok kota. Mereka harus siaga memantau keadaan di luar tembok kota. Bila datang musuh, para penjaga harus meniup sangkakala sebagai tanda bagi para penduduk yang berada di dalam tembok untuk waspada. Kemudian, pada ayat 7-9, penggambaran atas penjaga negeri beserta tanggung jawabnya, ditujukan pada peran dan tanggung jawab Yehezkiel (pada teks ini disebut anak manusia) yang dipanggil sebagai penjaga atas umat Tuhan, yakni bangsa Israel. Yehezkiel harus berjaga-jaga dan memberi peringatan pada umat jika datang bahaya. Jika Yehezkiel tidak memberi peringatan pada umat dan umat menjadi celaka, maka itu merupakan kesalahan Yehezkiel. Namun, jika Yehezkiel telah memberi peringatan, namun umat diam saja atau tidak mengambil tindakan dengan bijak dan umat celaka, maka itu bukan kesalahan Yehezkiel.
Yang harus dijaga oleh Yehezkiel secara khusus adalah kehidupan umat itu sendiri. Apabila umat mulai berjalan tidak lurus pada kehendak Allah; dengan kata lain, umat hidup dalam dosa, maka Yehezkiel harus segera memberi peringatan pada umat, agar mereka segera bertobat. Orang-orang yang mendapat peringatan dari Yehezkiel mempunyai tanggung jawab untuk meresponnya dengan mengambil tindakan pertobatan.
Ayat 10 menunjukkan bahwa umat telah menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukannya. Konsekuensi itu membuat umat merasa hancur dan tidak dapat hidup lagi. Namun sebenarnya, pada ayat 11 terlihat bahwa Allah tidak menghendaki kematian orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak taat pada petunjuk atau perintah Allah, seperti yang dilakukan oleh umat Israel. Allah menginginkan supaya orang-orang fasik bertobat. Orang yang bertobat itu berarti dia menyadari dan mengakui kesalahan atau dosanya dan berusaha sungguh-sungguh untuk hidup dengan benar. Orang yang bertobat ditandai dengan penyerahan diri pada Allah. Orang yang demikian, oleh Allah dikatakan mereka menjadi hidup.
Kata “mati” yang dimaksudkan di sini adalah orang yang tidak melakukan pertobatan dan tidak mengalami pemulihan, sehingga hidupnya digambarkan seperti orang mati, tidak ada kehidupan lagi di dalamnya. Sedangkan kata “hidup” yang dimaksud adalah orang yang bersedia bertobat dan mengalami kasih karunia pengampunan dari Allah, sehingga orang tersebut bisa merasakan kelegaan dan merasakan hidup kembali.
Selanjutnya ayat 12 – 16 menerangkan bahwa keselamatan bagi umat tidak berdasarkan pada perbuatan yang mereka lakukan. Maksudnya, kebenaran yang pernah dilakukan oleh seseorang tidak akan menyelamatkan hidupnya ketika ia melakukan kesalahan. Ia tetap harus menerima konsekuensi dari kesalahan yang telah dilakukannya. Sedangkan, jika ia berbuat jahat atau kesalahan, namun ia mau bertobat, maka kesalahannya tidak lagi diperhitungkan.
Dengan kata lain, ini merupakan panggilan pertobatan bagi umat Allah, supaya umat tidak mengandalkan kemampuannya dalam upaya menyelamatkan dirinya. Oleh karena itu, umat dipanggil supaya tidak terjebak dalam masa lalu: baik itu masa lalunya melakukan kebenaran maupun pelanggaran. Ini karena masa lalu tidak dapat menyelamatkan hidup umat. Bagaimanapun Allah menghendaki seluruh umat-Nya tetap hidup dalam karunia Allah, sehingga Allah dalam bacaan ini memakai Yehezkiel untuk memperhatikan dan mengingatkan umat jika berlaku salah. Umat dapat meresponnya dengan penyerahan diri dalam pertobatan. Orang yang mau bertobat akan selalu mendapatkan pemulihan kehidupan dari Allah.
Pertanyaan untuk Didiskusikan
- Setelah membaca dan merenungkan Yehezkiel 33:10-16, bagaimana pendapat saudara, apakah yang akan saudara lakukan, jika saudara mengetahui pergumulan Lisa dan Leli di atas?
- Setiap orang menghadapi situasi dan pergumulan yang berbeda-beda. Dalam menghadapi pergumulan, setiap orang bisa saja melakukan kesalahan bahkan dosa (seperti studi kasus di atas). Menurut saudara, apakah saudara bersedia dipakai Allah seperti Yehezkiel, yaitu berani menegur atau mengingatkan sesama jika melakukan kesalahan demi kehidupan bersama? Dan apakah saudara bersedia jika saudaralah yang mendapat teguran ketika berbuat salah? [fani].
Pemahaman Alkitab (PA) Maret 2023 (II)
Masa Pra Paskah
Bacaan: Matius 9 : 27 – 34
Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian
Tema PA: Responku Pada Realita, Berdampak Bagi Hidupku dan Sekitarku
Pengantar:
Dini, Dina, Roy, Joni, dan Bona mendapat kepercayaan menjadi panitia Paskah Anak di Gereja. Mereka memutuskan untuk memulai rapat perdana pada hari Jumat malam. Ternyata pada hari Jumat hujan deras turun dari pagi hingga sore hari. Ketika mereka berlima sampai di gereja, ternyata gereja kebanjiran setinggi mata kaki. Mereka berlima kemudian membantu koster gereja membersihkan gereja dari air sisa banjir. Sambil membersihkan lantai, Dina berkata, “Untung ya banjirnya cuma segini, jadi tidak sulit membersihkannya.” Sambil menggurutu Dini menyahut: “Ini pasti gara-gara selokan depan gereja tidak pernah dibersihkan jadinya banjir gini.” Joni pun menimpali: “Iya nih, kosternya ngapain aja sih kok bisa sampai banjir gini. Kegiatan kita kan jadi terganggu, padahal kita mau rapat Paskah.” Dini menyahut lagi: “Gini ini jadi capek, sia-sia tadi ke gereja. Mau rapat malah bersih-bersih.” Roy dan Bona yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan itu, segera mengajak lainnya untuk segera membersihkan lantai. “Sudahlah kita bersihkan saja, kalau kita kerjasama pasti segera beres. Lagian ini gereja kita, kita juga yang harus bertanggung jawab.”
Dalam hidup manusia terdiri dari dua hal: realita dan respon atas realita. Realita yang terjadi bisa sama, namun respon pada realita dapat berbeda-beda. Dari kisah di atas kita melihat bahwa realitanya adalah gereja sedang kebanjiran. Respon pada realitanya berbeda. Bagi Dina, hal ini patut disyukuri karena banjirnya tidak parah dan dapat segera diatasi. Berbeda dengan Dini dan Joni yang merespons dengan menyalahkan keadaan dan orang lain atas realita yang terjadi. Mereka merasa yang mereka lakukan sia-sia dan melelahkan. Sedangkan bagi Roy dan Bona, membersihkan gereja adalah bagian dari tanggung jawab bersama, sehingga perlu kerja sama. Bagaimana cara orang merespon realita akan memberi dampak yang berbeda pula.
Penjelasan Teks:
Dalam Injil Matius 8 dan 9 berisikan kisah-kisah mengenai mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Pada Matius 9:27-34, mengisahkan tentang Yesus menyembuhkan orang buta dan membebaskan orang bisu yang kerasukan setan. Pada ayat 27 tertulis bahwa dua orang buta berteriak-teriak menyebut Yesus: Anak Daud. Hal ini bukan sekedar menunjukkan bahwa Yesus adalah keluarga Daud. Nabi-nabi sebelum kedatangan Yesus telah bernubuat bahwa akan datang penyelamat dari keturunan Raja Daud, sehingga orang-orang Yahudi menghayati bahwa penyelamat yang datang pasti seorang dari keturunan Daud. Dua orang buta tersebut tahu bahwa Yesus bukan orang biasa (Lih. ayat 18-26) dan mereka meyakini bahwa Yesus tentulah keturunan Daud yang akan menyembuhkan mereka.
Sebelum Yesus menyembuhkan mereka, terlebih dulu Yesus bertanya pada mereka, apakah mereka percaya Yesus dapat menyembuhkan, dan mereka pun menjawab bahwa mereka percaya. Pertanyaan ini bukanlah formalitas belaka, melainkan untuk melihat kesungguhan iman percaya mereka pada Yesus. Orang yang meminta pertolongan pada Yesus, haruslah benar-benar yakin dengan sungguh bahwa Yesus memiliki kuasa untuk menolongnya.
Dua orang buta menjawab pertanyaan Yesus bahwa mereka percaya. Yesus menjamah mereka, dan berkata, “Jadilah padamu menurut imanmu.” Dalam Injil Matius tercatat bahwa Yesus mengatakan kalimat tersebut tiga kali (Mat. 8:13; 9:29; 15:28). Ini menunjukkan bahwa iman seseorang pada Yesus penting dalam pandangan-Nya, sehingga Yesus memberikan daya kesembuhan dan kehidupan bagi orang-orang yang percaya pada-Nya.
Ketika dua orang buta ini telah sembuh dan keluar, ada beberapa orang datang pada Yesus dengan membawa seorang bisu yang kerasukan setan. Yesus segera mengusir setan dari orang tersebut dan orang tersebut dapat berbicara. Pada bagian ini menunjukkan bahwa kuasa setan membuat orang yang dirasukinya menjadi bisu. Orang-orang di sekitarnya percaya bahwa Yesus dapat membebaskan orang bisu tersebut dari setan yang menguasainya, sekaligus membebaskannya dari kebisuan. Dari sini tampak bahwa iman tidak hanya bekerja bagi diri sendiri, melainkan dapat berdampak bagi orang lain. Rekan orang bisu itu, percaya Yesus mampu membebaskan orang bisu itu dari kuasa setan, sehingga mereka pun mau berupaya membawanya bertemu dengan Yesus.
Dua contoh tindakan iman di atas menegaskan bahwa iman pada Yesus berdampak terjadinya pemulihan atas diri sendiri maupun bagi orang lain. Akan tetapi orang yang tidak percaya pada Yesus, seperti orang Farisi. Meskipun telah melihat berbagai karya pelayanan Yesus yang menyembuhkan banyak orang, mereka tetap tidak percaya bahkan menuduh Yesus menggunakan kuasa setan. Ini menunjukkan bahwa apapun kuasa Yesus yang terjadi tidak akan membuat orang menjadi beriman kepada-Nya, jika mereka memang tidak mau percaya, meskipun mereka bisa melihat langsung bagaimana mukjizat terjadi, mendengar bagaimana kuasa Yesus bekerja, dan berbicara tentang karya Yesus. Pada sisi yang lain, ada orang-orang yang tidak bisa melihat bagaimana mukjizat Tuhan terjadi, namun hanya dengan mendengar mereka percaya pada Yesus. Dan ada pula orang-orang yang percaya pada Tuhan supaya orang lain mendapatkan pemulihan.
Dalam teks Injil Matius 8-9 terlihat bahwa realitanya Yesus melakukan mukjizat: membangkitkan orang mati dan menyembuhkan orang yang sakit. Orang-orang buta mendengar realita itu dan percaya pada Yesus. Maka mereka mengikuti Yesus dan memohon disembuhkan. Mereka percaya dan menjadi sembuh. Selain mereka, ada rekan-rekan orang bisu yang kerasukan setan juga mendengar akan realita mukjizat Yesus. Mereka percaya pada Yesus dan membawa orang bisu yang kerasukan setan. Orang bisu yang kerasukan setan itu pun sembuh dan terbebas dari kuasa setan. Sedangkan orang Farisi juga tahu atas realita Yesus yang melakukan mukjizat. Namun responsnya adalah mereka tidak percaya pada Yesus. Dampaknya kuasa Yesus juga tidak dinyatakan atas mereka. Jadi, bagaimana cara seseorang merespon realita yang terjadi memberi dampak bagi hidupnya.
Pertanyaan untuk Didiskusikan:
- Apakah saudara pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat saudara semakin percaya pada Yesus atau justru menjadi ragu pada Yesus? Ceritakan!
- Bagaimana saudara merespon hal tersebut dan bagaimana dampaknya dalam kehidupan saudara maupun orang-orang di sekitar saudara? [fani].