Mimpi Kartini dan Mojowarno

Para perawat dan pasien Rumah Sakit Zending di Mojowarno tahun 1930-an.
Sumber:Koleksi Troopen Museum Belanda.

Masa hidup Kartini berdampingan dengan masa hidup sebuah jemaat muda di desa baru bernama Mojowarno¹. Mojowarno, yang kala itu memiliki sekolah bidan (vroedvrouw) untuk masyarakat Jawa itu, terkenal hingga ke Jepara, kampung halaman Kartini. Dalam buku yang disusun dari surat-suratnya: “Habis Gelap Terbitlah Terang” Kartini jelas menunjukkan bahwa dia mengenal tempat itu. Dia mengenal pelayanan para zending (pekabar Injil) di Mojowarno.

Kartini ingin belajar ke Belanda. Dia mengajukan rakes (surat permohonan) untuk belajar ke negeri itu. Tetapi keluarga yang menjadi sahabat dekatnya – Menteri Kebudayaan, Agama, dan Industri Hindia Belanda –Abendanon dan istrinya, Rosa Manuela Mandri, menyarankan Kartini untuk belajar di Batavia. Tetapi mimpi itu pun tak terwujud. Satu-satunya kemungkinan yang ada, walaupun jelas itu bukan pilihan pertama atau keduanya, Kartini ingin belajar di Mojowarno.

Dalam surat-suratnya, Kartini menyatakan bahwa seandainya dia bisa pergi ke Mojowarno, hal tersebut akan membawa kebaikan dan kedamaian bagi jiwanya (Surat kepada Ny. Abendanon, 31 Januari 1901). Dia melihat betapa senangnya seorang perempuan bisa bebas melakukan pekerjaan sosial bagi orang lain dan tidak terkurung oleh budaya masyarakat Jawa pada waktu itu yang sangat mengekang perempuan. Baginya kekangan itu serupa penjara jiwa. Dia menuliskan, “Bukankah musuh dari luar yang melemahkan kami, kami tiadalah takut akan dia, melainkan musuh di dalam yang memakan jiwa, hati, otak kami! Tiada suatu apa jua pun yang dapat melipur hati kami, tiada seorang jua pun yang dapat menolong kami, lain daripada Tuhan dan kami sendiri!” (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 11 Oktober 1902). Kartini merindukan kemerdekaan bagi perempuan.

Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon bertanggal 30 September 1901 Kartini mendapatkan ijin dari bapaknya untuk belajar di Mojowarno. Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini tidak pernah mencatatkan sendiri bahwa dia pernah belajar di Mojowarno (dalam catatan R. Soedibjo Mariso, pada tahun 1899 Kartini datang ke Mojowarno, tetapi jika dibandingkan surat Kartini tersebut bahwa ketika itu dia belum berangkat ke Mojowarno, agaknya catatan R. Soedibjo Mariso tersebut perlu ditinjau ulang). Namun, dia memiliki catatan penting bagi pendidikan bidan yang diadakan di Mojowarno ketika itu.

Dalam suratnya kepada Abendanon, 31 Januari 1903, dia mencatatkan, “Betapa pikiranmu tentang zending yang hendak berbuat baik kepada rakyat di pulau Jawa, semata-mata oleh karena kemauan rasa kasih, jadi zending yang maksudnya bukan hendak mengajak orang memeluk agama Nasrani, dan yang menjauhkan semua agama daripada usahanya? Apakah salahnya jika usaha seperti di Mojowarno dilakukan di kota yang lain-lain juga, usaha yang sama sekali tiada berpanji-panji agama? Dengan demikian penduduk yang beragama Islam tidak terpaksa menjadi musuh.” Pendidikan yang diadakan di sana memiliki nuansa lain, bukan hanya pendidikan, tetapi juga untuk mengkristenkan seseorang. Kartini mempertanyakan pendidikan yang demikian. Orang-orang sebangsanya, yang beragama Islam, akan memandang rendah kepada rekan sebangsanya yang berpindah agama. Masyarakat Jawa yang berpindah agama pun akan memandang rendah kepada rekan sebangsanya yang beragama Islam. Niat yang demikian bisa memecah belah masyarakat Jawa sendiri. Karena itu Kartini menyatakan dengan tegas, “Jika orang hendak mengajarkan agama juga kepada orang Jawa, ajarlah ia mengenal Tuhan Yang Esa, Bapak Penyayang dan Pengasih itu, yang jadi Bapak semua makhluk, orang Kristen maupun dia orang Islam, Buddha, Yahudi, dan sebagainya.”

Sebuah kemerdekaan jiwa, jika itu justru membuat permusuhan antara satu dengan yang lain, bukan sedang menyelesaikan masalah, tetapi menciptakan masalah baru. Kartini berdiri tegak memegang mimpinya pada kemerdekaan, tetapi pada saat yang sama dia memegang teguh pendiriannya pada upaya perdamaian. Surat Kartini tersebut seolah menantang panggilan kesaksian hari ini, apakah kesaksian lalu dipahami sebatas penginjilan dan menjadikan orang lain beragama Kristen, atau justru mengenalkan orang pada misi Kristus yang memerdekakan segenap ciptaan.

Rakes Kartini untuk belajar di Belanda tak kunjung mendapat jawaban. Lukanya digambarkan dalam kalimatnya, “… di dalam jiwa saya; terasa seolah-olah hendak tercekik kehilangan napas. Tidak, tidaklah saya hendak membiarkan demikian … Saya tiada hendak memperturutkan hati rusuh, saya hendak menguasainya perasaan duka cita itu harus takluk kepada saya.” (Surat kepada Abendanon, 25 Januari 1903). Abendanon dan istrinya menyarankan Kartini untuk mendirikan sekolahnya sendiri. Kartini mewujudkan hal itu, dia membuka sekolahnya di beranda belakang rumah dinas Bupati Jepara, pada Juni 1903. Awalnya hanya satu muridnya, lalu bertambah menjadi lima orang hanya dalam hitungan seminggu. Di sekolah itu, murid-muridnya belajar membaca dan menulis. Mereka juga belajar budi pekerti, memasak, menjahit, dan membuat kerajinan tangan. Dia mendapatkan kemerdekaannya dan telah memerdekakan para perempuan bangsanya. Sekolahnya adalah sekolah sarat kemanusiaan, ketika perempuan diterima apa pun latar belakangnya.

Tak lama kemudian, bupati Rembang, Kanjeng Raden Adipati Djojoadiningrat melamarnya – yang kala itu telah memiliki 3 gundik. Kartini mengajukan syarat – bukan hal yang lazim bagi para perempuan hari itu – dia tidak mau dalam upacara perkawinannya ada peristiwa perempuan menyembah kepada sang pria, dia tidak mau berbicara bahasa Jawa krama kepada suaminya. Kartini ingin perempuan dianggap sederajat. Djojoadiningrat menyanggupinya. Selang tiga hari, usai menerima lamaran tersebut, rakes Kartini untuk bersekolah di Belanda diterima. Tapi kali ini dia sudah terikat, dia tak mungkin bisa pergi. Tempatnya digantikan H. Agus Salim dari Padang. Kartini menikah pada 12 November 1903. Empat hari setelah melahirkan anak pertamanya pada 17 September 1904 ketika berusia 25 tahun, Kartini meninggal dunia.

Perempuan muda itu mendambakan setiap orang bisa memilih jalannya sendiri, entah itu sebagai ibu, sebagai orang yang bekerja dalam lingkungan sosial, atau apa pun pilihannya. Dia tidak ingin setiap perempuan, siapa pun, terikat pada aturan yang memenjarakan jiwa dan kemanusiaan. Merayakan Kartini adalah merayakan keadilan dan kehidupan.


Catatan:

1: Mojowarno adalah salah satu jemaat mula GKJW. GKJW belumlah terbentuk saat Kartini berkeinginan mempelajari ilmu kebidanan di Mojowarno. Jemaat Mojowarno masih berdiri sendiri hingga pada tahun 1931 bersama beberapa jemaat lain membentuk persekutuan yang bernama “Pasamuwan-pasamuwan Kristen ing Tanah Jawi Wetan”. Persekutuan itulah yang kemudian berkembang menjadi GKJW saat ini.

 

 

Bagikan Entri Ini:

  • 20
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •