Iseng yang Menjadi Berkat. Perjalanan Pdt. Teguh Pylan dan Boneka Tangannya untuk Pelayanan Anak-anak.

Pengantar dari Admin:
Pdt. Teguh Pylan Jaya (saat ini melayani di GKJW Jemaat Bangkalan) menggunakan boneka tangan buatannya sendiri sebagai sarana pelayanan bagi anak-anak di sekolah minggu. Berikut ini kisahnya perjalanannya:

Pdt. Teguh Pylan dan panggung bonekanya melayani anak-anak sekolah minggu

Kebanyakan orang atau bahkan gereja seringkali menganggap bahwa anak adalah masa depan gereja, sehingga seringkali kebutuhan bahkan pelayanan terhadap anak kurang diperhatikan. Namun, tidak demikian dengan saya, bagi saya anak bukan hanya masa depan gereja melainkan juga masa kini gereja. Mereka ada di saat ini dan berhak menerima pelayanan yang sama dengan warga dewasa. Anak harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, sehingga pelayanan terhadapnya tidak dilakukan sekedarnya saja.

Kecintaan kepada anak sudah tertanam sejak awal perkuliahan di Duta Wacana-Yogyakarta. Di sela-sela kesibukan dengan tugas-tugas di kampus, saya juga terlibat dalam pelayanan anak di salah satu gereja di Yogyakarta sebut saja Gereja-Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sarimulyo. Berawal dari tuntutan tugas salah satu mata kuliah, lama-lama saya jadi betah di gereja ini, bahkan sampai akhir masa kuliah. Berawal dari pendamping Guru Sekolah Minggu (GSM-bahasa lokal gereja) sampai membantu memimpin dalam persiapan GSM. Di sinilah benih-benih kecintaan terhadap anak terus bertumbuh dan bertumbuh.

Melayani anak tentu berbeda dengan melayani pemuda, apalagi warga dewasa. Melayani anak-anak membutuhkan kreativitas dan semangat yang besar. Seorang Pelayan harus selalu menciptakan ide-ide kreatif, supaya pelayanannya tetap menarik dan tidak membosankan. Di samping itu tentu inti firman Tuhan tetap harus menjadi yang utama dan tersampaikan dengan jelas kepada anak.

Berkaitan dengan kreativitas ini, saya mencoba menghadirkan boneka tangan/puppet untuk mendukung pelayanan para GSM. Bisa dibilang, “Awalnya iseng-iseng, gak taunya menjadi berkat bagi banyak orang!”.

Mengapa begitu? Karena lagi-lagi berawal dari tugas praktek salah satu mata kuliah. Kala itu saya mengambil mata kuliah pilihan yakni metode PAK, yang ternyata peminatnya hanya sedikit. Salah satu tugasnya adalah kami dalam kelompok diminta untuk mempraktikan pelayanan kepada anak dengan metode yang beragam. Nah, kelompok kami mendapat tugas untuk mempraktikan metode penyampaian menggunakan alat peraga.

Waktu itu yang kami pilih adalah panggung boneka. Perlengkapan yang dibutuhkan tentu boneka tangan/puppet dan panggungnya. Untuk boneka, kami pinjam ke dosen yang mengajar, sementara panggungnya saya buat sendiri dari pipa-pipa yang saling dihubungkan. Kenapa saya membuat sendiri? Karena saya berpikir jangka panjang bahwa nanti selesai tugas panggungnya masih bisa terus dipakai.

Setelah melakukan berbagai persiapan, kami siap untuk melakukan tugas praktik dihadapan dosen dan teman-teman. Saya memegang satu karakter dan memainkannya. Setelah praktik, kami belum langsung mengembalikan boneka tangan tersebut ke dosen. Di asrama, diam-diam saya memperhatikan bentuk boneka itu secara teliti, mulut, kepala, tangan dan badannya. Setelah saya kembalikan ke dosen, saya mulai tergerak untuk membuat duplikasinya. Berbekal kain flanel, dakron, jarum, benang seadanya saya mulai menggunting, merekatkan dan menjahit setiap bagiannya dengan cermat sembari terus menghadirkan bentuk boneka milik dosen tadi.

Alhasil, jadilah boneka puppet pertama saya, warnanya hijau dan masih agak berantakan. Belum puas dengan hasilnya, saya kembali membeli bahan-bahannya dan kembali mencoba membuat yang lebih besar, persis seperti yang pernah saya pegang. Dalam hitungan hari, saya kembali menghadirkan satu boneka/puppet hasil karya tangan saya sendiri.

Memakai baju yang sama dengan boneka saat sidang skripsi

Menjelang akhir masa kuliah, keinginan untuk terus membuat boneka/puppet yang lebih baik sempat tertahan. Terlebih lagi saat fokus mengerjakan penulisan akhir atau skripsi. Namun, saat menjelang sidang, terlintas dalam benak saya untuk memberikan kenang-kenangan kepada dosen-dosen dalam sidang saya (dosen pembimbing dan dosen penguji). Tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk memberikan boneka tangan/puppet hasil karya tangan saya sendiri.

Beberapa malam menyempatkan diri untuk mempelajari kembali naskah skripsi, sembari menjahit boneka tangan. Hasilnya adalah tiga boneka yang berpakaian sama persis dengan pakaian yang saya pakai waktu sidang skripsi. Memang dari awal saya rencanakan untuk membuat manekin diri saya, sehingga saat para dosen melihat boneka itu, mereka akan tetap mengingat pembuatnya. Dibajunya saya sertakan nama lengkap, nomor induk mahasiswa dan tanggal sidang skripsi saya. Semoga boneka itu masih ada dan tersimpan dengan baik.

Dari sidang inilah titik awal boneka-boneka itu mulai menjadi berkat bagi banyak orang. Setelah sidang, kami mengabadikan momen melalui foto bersama dengan para dosen yang memegang boneka tangan. Kemudian, saya posting foto tersebut di media sosial facebook. Ternyata menuai banyak respon dari orang-orang yang melihatnya, bahkan ada beberapa yang memesannya. Padahal maksud postingan saya untuk berbagi sukacita bahwa saya telah selesai di jenjang perkuliahan, tapi nyatanya ada yang lain yang disoroti banyak orang.

Proses produksi boneka.

Mencoba memenuhi permintaan, saya kembali membuat boneka tangan dengan ukuran yang sama seperti yang saya berikan ke para dosen. Pembuatan gelombang pertama sebanyak 10 boneka. Saat itu, bukan hanya boneka saja yang saya jahit tangan, tapi juga bajunya. Berawal dari pola seadanya, kemudian saya serius membuat pola tetap, apalagi saat diminta untuk mengisi pelatihan pembuatan boneka tangan di salah satu gereja GPIB di Solo.

Sejak saat itu, boneka tangan/moveable mouth asli buatan saya dikenal banyak orang. Saya pun semakin giat untuk membuatnya meski jarang memainkannya sendiri. Hingga saat ini sudah sekitar 200 lebih boneka yang sudah saya buat dan tersebar ke berbagai wilayah, bahkan ke luar pulau.

Saat sudah masuk dalam ranah pemasaran tentu harus ada merek supaya semakin dikenal. Di sini saya mulai memikirkan apa nama yang pas untuk boneka tangan buatan saya. Dibantu oleh Kak Rani, salah seorang kakak tingkat di Duta Wacana, saya memilih nama pydoll untuk karya saya. Nama ini diambil dari nama saya sendiri pylan dan doll yang berarti boneka maka disingkat saja menjadi pydoll. Nama yang diharapkan bisa diingat banyak orang dan bisa terus menjadi berkat. Beberapa jejak pydoll adalah sebagai berikut:

  • Dibuat khusus sebagai kenang-kenangan saat mengakhiri masa Vikar di beberapa jemaat
  • Dibuat berdasarkan pesanan customer
  • Mengisi pelatihan pembuatan boneka tangan sesuai permintaan

Dengan harapan pydoll bisa terus menjadi berkat, maka saya sempat mengajak beberapa ibu-ibu untuk membantu saya. Namun, karena waktu perjumpaan yang terlalu singkat maka kegiatan tersebut tidak berlanjut. Sehingga saat ini tetap dikerjakan sendiri, meskipun ada banyak pesanan yang belum tertangani karena kesibukan di jemaat. Meski demikian, saya tetap berharap bahwa pydoll akan terus menjadi berkat bagi banyak anak di gereja, menjadi teman yang menyapa anak-anak. Salah satu nya adalah melalui pelayanan minggu ini, di mana saya mengajak salah satu karakter boneka bernama Pyki untuk menemani saya.

 

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •