Workshop Pemuda Penggerak Perdamaian dan Moderasi Umat Beragama

Bagian Kemitraan Emansipatoris PKN (de Protestantse Kerk in Nederland/ Gereja Protestan Belanda) bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) telah mengadakan “Workshop Pemuda Penggerak Perdamaian dan Moderasi Umat Beragama” bertempat di IPTh. Balewiyata pada tanggal 23-25 Agustus 2022.

Workshop ini dilaksanakan secara hybrid (campuran online dan offline). Sebanyak 33 pemuda lintas iman dari Medan, Jakarta, Bali, Sumba, Kupang, Maluku, Makasar, Gorontalo, Manado, Palu, Poso, Bojonegoro, Jombang dan Malang perwakilan dari sinode GKJW, GKI, GKPB, GKJ, GBKP, GMIT, GKS, GKJTU, GKST, GMIH dan GPID serta perwakilan 3 lembaga (PGI, PGIW & SAG).hadir di Kompleks Balewiyata, Majelis Agung GKJW.

Pemuda dianggap mempunyai potensi sebagi penggerak perdamaian karena kemampuannya untuk mengembangkan opini publik melalui media sosial. Pada satu sisi, kemampuan itu dapat digunakan untuk mengupayakan perdamaian dan menangkal gerakan politik identitas. Namun disisi lain, pemuda disadari juga merupakan kelompok yang rentan diprovokasi terlibat dalam berbagai konflik dan tindak intoleransi. Dengan menggerakkan moderasi umat beragama, pemuda diharapkan dapat mengurangi daya sengat radikalisme dan fundamentalisme.

Workshop dibuka dengan ibadah yang dilayani oleh Pelaksana Tugas Direktur IPTh. Balewiyata, Pdt. Gideon Hendo Buono. Pada kesempatan itu, para pemuda dari berbagai macam agama (Islam, Kristen, Katolik dan Hindu) disemangati menjadi pahlawan yang bergerilya untuk mengabarkan kabar baik dan perdamaian. Pdt. Gideon mengungkapkan bahwa musuh kita bukanlah mereka yang berbeda, namun situasi yang mengeras karena politik pemecah belah, ekstrimisme agama, global warming. Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Agung GKJW, Pdt. Natael HP menyampaikan harapannya para pemuda dapat mengeliminir intoleransi dan radikalisme, serta dapat mengupayakan kerukunan tidak hanya di level elit, namun juga sampai di akar rumput.

Beberapa tema yang diangkat dalam workshop ini ialah: “Politik dan Agama”, “Peran Agama mengembangkan Perdamaian” ,“Politisasi isu identitas”, dan “Peta Politik Electoral 2023”. Setiap kali selesai sesi, diadakan penajaman materi dengan diskusi yang difasilitasi oleh steering committee PGI.

Para peserta workshop ini juga sempat mengikuti eksposure ke Candi Sumberawan, Singosari. Setelah mendengar penjelasan Mas Dika, juru Wihara di Candi Sumber Awan, para pemuda mengikuti bicang-bincang tentang budaya dan politik menjelang Pemilu 2024. Bincang-bincang ini dilakukan bersama dua budayawan, yaitu Bpk. Kristanto Budiprabowo dan Ibu Tuswati di pendapa Patirtan Sumber Awan.

Dalam bincang-bincang tersebut, Bpk. Kristanto Budiprabowo menjelaskan perspektif budaya yang bisa masuk ke lingkungan politik dan menekankan perlunya membangun relasi organisasi tanpa meninggalkan relasi personal, serta pelajaran yang sudah dimiliki kaum muda dalam menghadapi tahun 2024.

Sementara itu, IBu Tuswati (lebih dikenal dengan nama Bu Tusi), seorang guru spiritual pendiri dan pemilik Patirtan Sumber Awan. Bu Tusi menceritakan pengalaman spiritual hingga bisa mendirikan tempat yang secara kultural menjaga relasi lintas iman, serta memberdayakan masyarakat sekitar menyediakan sarana beribadah yang bisa menjadi simbol atau cara berbicara lintas iman.

Pada hari terakhir, para peserta para pemuda diberi kesempatan sharing pengalaman eksposure, serta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan evaluasi kegiatan. Workshop diakhiri dengan penutupan yang difasilitasi oleh Pdt. Muso Wahyu Bimantoro. Dalam penutupan ini, para pemuda bersama menyerukan:

Untuk memperbaiki dan merawat bangsa Indonesia maka kami Komunitas Pemuda Penggerak Perdamaian dengan ini menyerukan :

  1. Negara menegakkan regulasi hak umat beragama dengan tujuan perlindungan umat beragama.
  2. Partai politik harus mencerminkan Pancasila bukan golongan tertentu.
  3. Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus memiliki wawasan kebangsaan yang luas untuk mendorong regulasi pro Pancasila.
  4. Menyelesaikan konflik dengan mengedepankan asas kemanusiaan dan membuka ruang dialog yang luas kepada semua golongan.
  5. Menghapus stigma mayoritas dan minoritas di seluruh wilayah Indonesia.
  6. Pemuda sebagai penerus bangsa harus memiliki budaya percaya kepada sesama anak bangsa dan melawan sikap apatis terhadap keberagaman demi meningkatkan solidaritas.
  7. Pemuda dengan daya nalar kritis melawan ujaran kebencian dan politisasi identitas untuk menyongsong pesta demokrasi yang damai dan berkeadilan sosial, serta menjadi pemuda yang aktif, positif, kritis, dan realistis.

Memanfaatkan perjumpaan penganut agama yang berbeda, steering committee PGI memberi kesempatan beberapa peserta memimpin doa menurut agama masing-masing untuk mengawali dan mengakhiri setiap sesi. Workshop pemuda selama 3 hari ini menambah daya para pemuda lintas iman bergerilya mewujudkan perdamaian di tengah kemajemukan Indonesia.

 

Bagikan Entri Ini: