Tanggap, Tangkas, Tangguh : Tanggul Bencana GKJW ikuti Pelatihan Gereja Tangguh Bencana II di GKJTU

2 December 2025

Enam orang utusan dari Greja Kristen Jawi Wetan yaitu Pdt. Krisna Yoga (Tanggul Bencana MA), Yoyok Yonatan, Dani Kr. (Tanggul Bencana MD Malang I),  Poniran ( Tanggul Bencana MD Malang II), Siswadi (Tanggul Bencana MD Malang IV) dan Made (Tanggul Bencana MD Surabaya Timur I) mengikuti Pelatihan Gereja Tangguh Bencana Tahap II  pada 27–29 November 2025 di Graha Sabda Mulya, Kopeng, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Keberadaan Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) sebagai pihak penggagas semakin menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi dinamika kebencanaan yang terus berkembang di wilayah pelayanan gereja. Dan kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi Pokja Tanggul Bencana GKJW untuk memperkuat kapasitas internal sekaligus memperluas jejaring kemanusiaan lintas gereja.

Selama kegiatan berlangsung, banyak sekali pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan operasional di lapangan. Materi yang disusun secara sistematis membantu memperjelas posisi gereja dalam sistem penanggulangan bencana, sekaligus membuka ruang evaluasi terhadap kesiapan mekanisme internal yang sudah diterapkan. Dengan begitu, pelatihan ini tidak hanya menawarkan pengetahuan, melainkan juga memantik refleksi kritis atas praktik yang selama ini berjalan.

Relevansi pelatihan kian terasa ketika kajian mengenai konsep Gereja Tangguh Bencana dan sistem penanggulangan bencana diperkaya dengan pendalaman Kode Etik Kemanusiaan dan Core Humanitarian Standard (CHS). Keberadaan standar internasional tersebut memberi acuan kerja yang terukur bagi Tanggul Bencana GKJW untuk memastikan respons bencana dilakukan secara kredibel, transparan, dan tetap menjunjung keselamatan serta martabat penyintas.

Pemahaman tentang akuntabilitas ini menjadi elemen penting dalam upaya meningkatkan kualitas tata kelola pelayanan kemanusiaan, terutama di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap praktik respons gereja.

Penguatan kapasitas kemudian diwujudkan melalui sesi teknis yang menekankan keterampilan operasional, seperti pengelolaan Pos Terpadu, pelaksanaan pengkajian cepat, penerapan standar Sphere, dan penyusunan laporan situasi yang akurat. Seluruh materi ini membekali Tanggul Bencana GKJW dengan dasar metodologis yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan cepat, penilaian lapangan yang objektif, dan pelaporan yang valid. Selain itu, pendalaman terkait fundraising berbasis etika dan transparansi ikut mempertegas pentingnya tata kelola dana yang akuntabel dalam respons bencana yang kian menuntut ketepatan dan kepercayaan publik.

Secara keseluruhan, pelatihan ini menghadirkan manfaat konkret bagi Tanggul Bencana GKJW melalui peningkatan kompetensi relawan, penguatan standar operasional, perluasan jaringan kemitraan, serta peneguhan fondasi akuntabilitas kelembagaan. Partisipasi aktif Tanggul Bencana GKJW dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen GKJW untuk hadir sebagai institusi yang tangguh, responsif, dan siap memberikan pelayanan kemanusiaan yang terukur serta berdampak bagi masyarakat terdampak bencana.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak