Pusat Pastoral Greja Kristen Jawi Wetan dibawah IPTh. Balewiyata, mengutus Pdt. Dyah Eka Siwi dan Pdt. Yosua Anggi Hermanto, untuk mengikuti kegiatan Studi Institut Persetia di STT Bala Keselamatan – Palu pada 16-20 Juni 2025. Studi Institut ini merupakan program tahunan dari Persetia (Perkumpulan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia), yang setiap tahun mengambil tema tertentu untuk digumuli bersama. Tujuan diadakan kegiatan itu adalah untuk meningkatkan kapasitas dosen/tenaga pendidik di lingkungan sekolah teologi, serta mengembangkan penelitian dan wawasan teologis bagi Gereja-Gereja di Indonesia. Dimana pada tahun ini, tema yang diambil adalah Pastoral Care and Counseling in Disruptive era.
Sekretaris Umum PGI, yang sekaligus salah satu narasumber, Pdt. Darwin Darmawan, M.Th, menyampaikan bahwa kesadaran terhadap kondisi zaman yang berubah begitu pesat, harus dimiliki oleh setiap tenaga pendidik dan para pemimpin Gereja masa kini. Sebab, kehadiran Artiicial Intelligence (AI) dan kemajuan teknologi lainnya, memang memberikan peluang baru untuk menjangkau lebih banyak orang, meningkatkan efisiensi, memberi kemudahan dan pelayanan personal yang lebih relevan. Namun tanpa disadari, berbagai hal tersebut, juga membawa segudang masalah lain. Seperti halnya masalah sosial, ekonomi, mental dan bahkan spiritual.
Senada dengan itu, Ev.Henny Sulianti Mamahit, S.Th., M.Div., M.Th., Dosen STT Bala Keselamatan – Palu, pada sesi materi ke-2 menyampaikan, bahwa Gereja pada masa kini tidak boleh stagnan dan hanya mengandalkan cara lama dalam melayani umat Tuhan. Gereja harus terus beradaptasi dengan masalah dan kebutuhan konseling pastoral umat, yang pastinya akan semakin kompleks dan menantang. Oleh karena itu, pelayanan pastoral yang adaptif, responsif, namun tetap holistik dalam melihat akar masalah, adalah hal yang sangat dibutuhkan, demi menerangi kegelapan digital masa kini, sembari menghadirkan kasih Kristus, di tengah dunia yang selalu online.
Pada sesi materi terakhir, Pdt. Dr.Totok S.Wiryasaputra, M.Th, Kon.Pas.,Sp., Direktur Eksekutif AKPIN menyoroti keberadaan Gereja yang harus dapat menjadi komunitas yang saling memedulikan. Dimana setiap orang dipanggil menjadi pendamping yang hadir secara inkarnasional dalam seluruh dinamikan kehidupan. “Gereja di Indonesia harus memiliki kapasitas untuk melepaskan diri dari kepompong teologi lama dan membentuk kerangka pelayanan yang otentik, kontekstual dan transformatif, di tengah arus disrupsi digital yang tak terelakkan”. Ungkap Pdt. Totok.
Berita : Pdt. Yosua Anggi