Salut! Untuk kali pertama, Majelis Daerah Surabaya Timur I (MD ST-1) menggelar Persekutuan Warga Disabilitas (Pewaris). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu sore, 17 Mei 2025 ini didukung oleh GKJW Jemaat Waru sebagai tuan rumah.
Kegiatan kolaborasi antara Komisi Pembinaan Teologi Daerah (KPT-D) Surabaya Timur I dengan Anak Terang Ministry ( ATM) ini persiapannya cukup singkat rupanya. Hanya 2 pekan sebelum digelar. Berawal dari kerinduan untuk membangun persekutuan anak hingga dewasa yang “berkebutuhan khusus”. Menumbuhkan iman dan semangat mereka dalam sebuah kebersamaan.
“Ini sebenarnya dalam rangka raker juga. Pewaris sebagai trigger (pengantar) acara untuk kegiatan yang akan berlangsung pada 8 Juni 2025 nanti di GKJW Jemaat Tropodo. Ada pertemuan KPTD dengan para pamong khususnya, untuk sosialisasi pelayanan warga disabilitas. Anggap saja ini praktik pelayanannya,” terang Pnt. Sugiantara selaku Ketua KPT-D.
Pelayanan Metode Khusus
Lebih kurang 2 jam persekutuan (ibadah) perdana ini berlangsung. Sepenuhnya dilayani tim dari ATM. Mereka ini adalah sekelompok muda-mudi, bagian dari pelayanan Yayasan Anak Terang Ceria, yang menangani terapi dan pelatihan anak dengan autisme di Surabaya. Beberapa personal di antaranya adalah warga GKJW Jemaat Surabaya, Sidotopo, Rungkut, dan Mlaten. Serta dibantu volunteer dari Pamong GKJW Jemaat Waru.
Memang ada pembeda dalam melakukan pelayanan khsusus seperti ini. Perlu ada pendekatan dan metode khusus yang ramah disabilitas. Ditambah pemahaman visual support untuk penyampaian Firman Tuhan, agar bisa diterima dengan baik oleh individu dengan keterbatasan mental dan fisik. Seperti terlihat dalam altar depan yang menggunakan kotak semacam panggung boneka, dan juga hadirnya Kak Yanda-JBI (Penerjemah Bahasa Isyarat) dari Sidoarjo.
Gelar Talenta Istimewa
Seperti persekutuan pada umumnya, diawali dengan doa pembuka dan disambung puji-pujian. Jeda untuk pelayanan Firman, disambung pujian kembali, persembahan dan doa penutup. Namun yang menjadi faktor pembeda adalah, selain Tim ATM, mereka didampingi para disabilitas sebagai singer dan pemain musiknya.
Sebagai seorang pamong, Eny Dyah yang ditunjuk sebagai song leader menegaskan bahwa mereka semua (yang hadir; merujuk pada disabilitas) adalah “anak-anak istimewa, terlepas dari kondisi yang mereka miliki.”
Beberapa lagu rohani populer dinyanyikan bersama, seperti: Ku Kasihi Kau dengan Kasih Tuhan dan Berkat Kemurahan-Mu sebelum penyampaian renungan. Namun di sela acara terdapat juga beberapa tampilan dari anak-anak disabilitas.
Di antaranya ada Kazu; disabilitas daksa dari GKJW Jemaat Sidotopo. Ada Valensius, penyandang ADHD dari Gkjw Jemaat Surabaya. Selain itu juga tampil pula Evelyn dan Joseph, penyandang autis dari PNIEL Band (Anak Terang Center). Serta SLB Bangun Bangsa dengan dewasa-dewasa penyandang autis, cerebral palsy, slow learner.
Penciptaan, Dosa, dan Pengampunan Kasih
Pelayanan Firman disampaikan oleh Riska Paramityasari yang bertitik tolak dari kisah Penciptaan pertama (Kitab Kejadian). Dari balik layar hitam terdapat visualisasi yang menggambarkan misalnya gambar matahari.
Dari kisah tersebut, jemaat diingatkan bahwa setiap manusia yang diciptakan oleh Tuhan, ia telah dipelihara sejak dalam kandungan ibu. Secara khusus, bagi disabilitas, mereka diajak untuk mengucapkan “Terima kasih Tuhan” sebagai bentuk syukur atas kehidupan.
Materi berlanjut bagaimana dosa bisa membuat manusia “marah, tidak taat, dan terikat pada dosa”. Tetapi karena cinta-Nya, Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan umat dari dosa. Riska juga mengingatkan (kepada orang tua khususnya), bahwa apapun keadaan seseorang, Tuhan tetap memelihara dan mengasihinya
Harapan Baru
Saat lagu “Terima Kasih Tuhan” dinyanyikan, momen ‘haru’ terlihat ketika orang tua yang memiliki anak disabilitas saling berpelukan. Penanda perlunya solidaritas dan dukungan satu sama lain. Sementara lagu persembahan diiringi dengan *Semesta Bernyanyi”, dengan masing-masing maju ke depan.
Acara ini ditutup dengan sambutan dari Ketua PHMD MD ST-1, Pdt. Kristanto. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas terselenggaranya kegiatan perdana ini. Ia juga mengapresiasi keterlibatan Komisi Pelayanan Teologi Daerah (KPT-D) dan kehadiran KPT Jemaat (KPT-J) yang turut hadir. Juga keterlibatan pelayanan dari Anak Terang Ministry.
Kehadiran 100 orang lebih dari kegiatan yang berlangsung di sore hingga malam itu juga dihadiri oleh warga dari gereja lain lintas MD seperti GKJW Jemaat Darmo, Klanting, Dawarblandong. Juga interdenominasi dari GKI Diponegoro, GPIB Eben Haezer, GBT Pniel, GMS, dan Best Church.
Kiranya lewat acara ini, bisa menjadi jalan pembuka. Menjadi berkat dan sarana kesaksian bersama. Bahwa pelayanan itu juga ditujukan kepada mereka yang selama ini “terabaikan” karena keterbatasan dan kekurangan secara fisik.
“Kita di hadapan Tuhan, sama. Mereka juga perlu diperhatikan; tidak saja secara jasmani, tapi juga rohani. Pertumbuhan iman, masalah spiritualitasnya,” harap Sugiantara yang juga menjadi Ketua Bidang Teologia dari GKJW Jemaat Surabaya.
KPT-D berharap, Pewaris ini bisa menjadi kegiatan rutin dan bisa dilakukan bergantian di Jemaat MD ST-1 sebagai tuan tuan rumahnya. Tentu, ini juga terbuka bukan hanya se-MD, tapi juga dengan gereja-gereja lain.
Naskah: Hendra Setiawan
Foto: Kak Iyud, Wiwid, Hendra