“Gereja hadir karena Warta Injil, dan hanya memiliki makna jika setia dalam mewartakannya. Jika tidak, gereja hanya akan menjadi sekadar entitas tanpa roh kehidupan.”
Demikian disampaikan oleh Pdt. Simon Rachmadi, Ph.D. dalam Seminar Kesaksian Berbasis Budaya Lokal dan Intergenerasi. Digelar dalam rangka Bulan Kesaksian dan Pelayanan, yang diadakan oleh GKJW Jemaat Sidoarjo, dengan mengundang juga Komisi Kesaksian Jemaat di lingkup Majelis Daerah Surabaya Timur I pada 16 Mei 2025.
Menurut dosen STFT (Sekolah Tinggi Filsafat Theologi) Jakarta ini, dalam sejarah Gereja Jawa, semangat pewartaan Injil telah ada sejak para leluhur Kristen Jawa pertama kali berinteraksi dengan dunia Kristianitas melalui para misionaris swasta. Berbeda dari pendeta negeri yang digaji Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), para misionaris ini secara sukarela pergi ke berbagai pelosok untuk mewartakan Injil dengan dukungan komunitas yang kuat.
Perjumpaan dengan para misionaris membuka cakrawala baru bagi wong ndesâ, leluhur Kristen Jawa. Mereka tidak lagi melihat dunia sebagai sesuatu yang terbatas, tetapi seluas langit yang tak bertepi. Religiusitas mereka berkembang menjadi lebih emansipatif; mirip dengan pengalaman Gereja Perdana dan umat Kristiani awal yang berasal dari berbagai tempat dan zaman.
Kesaksian Iman sebagai Bukti Kehadiran Kristus
Pewartaan Injil bukan sekadar menyampaikan informasi seperti berita, tetapi membangun “komuni iman” (perjumpaan) yang memperkaya makna hidup. Seperti Tuhan Yesus sendiri yang disebut sebagai “Saksi yang Setia” (Wahyu 1:5).
Ketika Dia ditanya oleh Imam Agung Kayafas, Yesus meminta agar murid-murid-Nya yang bersaksi tentang ajaran-Nya (Yoh 18:21). Kesaksian ini merupakan bentuk komunikasi iman, yang menghadirkan “logos” (kata) dan memungkinkan orang semakin menyadari kehadiran “Sang Logos” sendiri, yaitu Sang Kristus yang menjelma menjadi manusia.
Kristus selalu hadir dalam kebersamaan dan komunitas. Pengalaman pribadi seseorang dalam berjumpa dengan Tuhan, perlu divalidasi dalam persekutuan iman. Hal ini terlihat dalam kisah Maria Magdalena yang tidak diperbolehkan menjamah Yesus secara pribadi (Yoh 20:17). Tetapi kepada Thomas, ia mendapatkan pengakuan iman ketika berada di tengah komunitas para rasul (Yoh 20:27).
Teologi dan Pewartaan Injil
Teologi saja tidak cukup. Agar benar-benar hidup, harus ada tindakan nyata dalam mewartakan Injil. ‘Teologi in loco’ (teologi dalam konteks tempat) memastikan bahwa pewartaan Injil relevan dengan kehidupan. Sementara ‘teologi in tempo’ (teologi dalam konteks waktu) menghadirkan Kristus secara aktif dalam waktu tertentu.
Pewartaan Injil bukan sekadar menyampaikan pesan rohani semata. Namun juga membangun “komuni iman” yang memiliki bobot signifikan; membawa pencerahan batin dan pertobatan yang autentik.
Pewartaan Injil sejati bukan hanya berbicara tentang hal-hal religius, tetapi menjawab “kebutuhan manusia akan pengakuan dan rekognisi”. Hal ini terwujud dalam sikap nyata untuk menghadirkan “kebaikan bersama”, menawarkan solusi otentik, dan membawa pencerahan yang membebaskan jiwa dari halangan spiritual seperti takhayul dan delusi.
Pewartaan Injil bukanlah apa yang disebut “Kristenisasi”, melainkan “proses edukasi iman”. Memastikan bahwa kehidupan orang Kristiani —baik secara personal maupun komunal— berfungsi efektif untuk menjawab kebutuhan rohani manusia.
Demikian juga dengan gereja, agar tetap relevan, ia harus berkembang menjadi “agama yang indah”. Yaitu agama yang memperlengkapi umat dengan alat-alat spiritual, untuk mereka bisa terus bertumbuh dalam iman.
Kesaksian dan Kemitraan
Acara yang digagas oleh Komisi Pembinaan Kesaksian Jemaat (KPK-J) Sidoarjo ini cukup menarik, karena juga menjadi rasa syukur atas penempatan Ruang Ibadah yang baru. Ada selingan paduan suara dan vokal grup di sela penyampaian materi dan sesi tanya jawab. Kesempatan ini secara khusus diberikan kepada peserta sidi, KPK jemaat yang hadir, dan tuan rumah sendiri.
Di akhir acara, sebagai kenang-kenangan, Pdt. Simon yang pernah menulis buku Theologia in Loco di Tengah Jalinan Antar-Peradaban (2019) juga mendapat kenang-kenangan istimewa dari para penulis buku lokal. Empat warga GKJW yang juga berjemaat di wilayah pelayanan Majelis Daerah Surabaya Timur I ini masing-masing menyerahkan buku yang sudah diterbitkan.
Di antaranya adalah (1) Kyai Irawana – Sang Pencari Cahaya Sejati dan (2) Ambabaddi Bongsorejo, Kisah Kyai Klass dan Putri Tercantik oleh Wiryo Widianto dan Hadiyanto. (3) Ebing, Baptisan dan Pendeta Pertama Suku Madura, oleh Hadiyanto. (4) Surabaya; Jejak Sejarah Munculnya Kekristenan Jawa Mula-mula, oleh Hendra Setiawan. Serta sebuah buku dummy (segera terbit) berjudul (5) Kyai Wakya dan Kyai Sesam Midin karya Wiryo Widianto, Negari Karunia Adi, dan Iman Wimbadi.
Dengan mengambil tema “Menampilkan Kristus dalam Konteks Keindonesiaan”, kegiatan tidak hanya berhenti sepanjang dua jam lebih dalam ruang tertutup. Agenda kegiatan esok hari (17 Mei 2025), Tim dari GKJW Sidoarjo berkunjung ke GKJW Aditoya, Kediri. Melihat, berbincang dan belajar bagaimana jemaat menjalankan kesaksian dan pelayanannya di bidang pertanian. Juga tindak lanjut membangun komitmen bersama di antara kedua jemaat.
Berita : Tim
Foto : Panitia & Hendra