“Ngoyot lan Berbobot” di Era VUCA-BANI Pembinaan Vikaris GKJW 2025

11 November 2025

“Ngoyot lan Berbobot.” merupakan tema Pembinaan Vikar pada 4-  6 November 2025 oleh Komisi Manajemen dan Sumber Daya Manusia (MSDM) GKJW  di Kantor Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan.  Tema tersebut relevan bagi para calon pemimpin spiritual dalam menghadapi dunia yang dipenuhi dengan ketidakpastian dan perubahan yang sangat cepat. Konsep dan konteks pembinaan ini diletakkan dalam kerangka dua dinamika besar dunia kontemporer yakni VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan BANI (Brittle, Anxiety, Non-linear, Incomprehensible).

Pdt. Retnosari M.Th selaku Ketua Komisi MSDM, dalam pembukaannya menekankan bahwa berakar dalam Kristus adalah pondasi utama untuk menghadapi risiko dan tantangan pelayanan. Para vikar diajak untuk siap menghadapi konsekuensi dan ketidakpastian dalam peran mereka sebagai pemimpin gereja masa depan. Dalam kondisi yang serba tak pasti, pemimpin spiritual dituntut memiliki kedalaman iman sekaligus kepekaan terhadap perubahan sosial yang terjadi di sekitarnya. Pdt. Ari Mustrorini M.Th melalui ilustrasi “miselium jamur” menegaskan bahwa akar yang kokoh dari bawah tanah menjadi simbol iman yang kuat bagi pemimpin spiritual. Dengan pondasi iman yang mendalam, pemimpin mampu bertahan dan terus tumbuh di tengah segala tantangan pelayanan yang tak terduga.

Sesi pertama oleh Pdt. Nicky Widyaningrum MA membahas penggembalaan dalam konteks VUCA-BANI. Para vikar diajak untuk melihat bencana tidak hanya sebagai bencana alam, tetapi juga bencana sosial seperti ketidakadilan, konflik, kemiskinan, dan kekerasan. Penggembalaan dalam situasi demikian menuntut kepekaan teologis dan praktis agar mampu menjawab kebutuhan umat secara relevan. Selanjutnya, Pdt. Agus Budi Kristanto MM, selaku sekretaris penuh waktu Komisi MSDM, mengangkat tema patuwen yang amat perlu untuk dilakukan dalam konteks BANI. Pdt. Agus menekankan perlunya refleksi atas kualitas pelayanan melalui “dialog urip” yakni perjumpaan penuh kasih meneladani pengosongan diri Allah yang keluar dari diri-Nya di dalam Yesus Kristus, yang melalui Sang Roh Kudus mengarahkan umat untuk kembali pada kasih Bapa sebagai sumber kehidupan.

Memasuki hari kedua, pembinaan beralih pada aspek sosial dan spiritual yang krusial bagi pelayanan. Pdt. Dadi Wirawan menekankan pentingnya analisa sosial dalam menghadapi dinamika VUCA-BANI. Para vikar dituntut memiliki wawasan tajam agar pelayanan dapat merespons perubahan dan kebutuhan masyarakat. Kemudian, Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi menekankan pentingnya proses decision making yang melibatkan discernment dan spiritual companionship sebagai sebuah kecakapan mendasar yang harus dikuasai oleh pemimpin spiritual. Dalam menghadapi ketidakpastian, keputusan yang diambil oleh pemimpin harus berakar pada perjumpaan mendalam dengan Allah dan didukung oleh upaya mendengarkan secara mendalam dan berjalan bersama sahabat jiwa. Pdt. Hardiyan menegaskan bahwa penggunaan nalar secara sehat yang dibarengi dengan doa, jeda, refleksi spiritual, dan keintiman relasi dengan Allah Trinitas serta sesama menjadi pondasi bagi proses pengambilan keputusan yang tepat dan bijak.

Pada hari terakhir, Pdt. Retnosari M.Th di dalam sesinya menegaskan bahwa spiritual leadership bukanlah sekadar soal perebutan kekuasaan, melainkan tentang hati dan kepekaan. Kepemimpinan yang berakar dalam Kristus bertujuan membawa umat pada kedamaian dan kebenaran Allah, bukan sekadar memilih opsi yang paling menguntungkan, khususnya saat menghadapi tekanan dan ketidakpastian.

Rangkaian acara pembinaan ditutup dengan ibadah penutupan yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi. Pada momen tersebut, para peserta diajak untuk berdiam diri dan merefleksikan perjalanan pelayanan mereka. Penekanan pada peran sang Anamcara (sahabat jiwa) memperkuat pesan bahwa kolaborasi, saling mendukung, dan membangun relasi positif merupakan bagian tak terpisahkan dari pelayanan yang “ngoyot dan berbobot.”

Selain memperdalam dimensi spiritual dan sosial, pembinaan vikar juga menegaskan pentingnya membangun kolegialitas. Para vikar diberi ruang untuk berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan memperkokoh ikatan kebersamaan yang sangat diperlukan dalam perjalanan pelayanan.

Dengan tema “Ngoyot dan Berbobot”, pembinaan ini membekali para vikar dengan kedalaman spiritual, kepekaan sosial, kemampuan analisis, dan kepemimpinan yang berpijak pada nilai-nilai Kristiani. Melaluinya, para vikar diharapkan semakin siap menghadapi dunia yang kompleks dengan hati yang teguh, berakar kuat dalam Kristus, serta mampu menjadi pemimpin dan pelayan yang membawa perubahan dan penguatan bagi jemaat dan masyarakat ( Komisi MSDM).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak