Peduli Iklim dengan cara Josjis Care! Tentu kita tahu taman Eden yang indah perlu dirawat. Bukankah itu adalah cara menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di muka bumi ini? Maka, pohon-pohon spiritualitas yang berbeda perlu ditumbuhkan dalam rumah teduh bersama. Membawa visi itulah, maka pelatihan Climate Skill sengaja diadakan pada hari Jumat 18-20 September 2026 di pendopo IPTh Balewiyata. Kegiatan ini menghadirkan sebanyak 25 peserta delegasi lintas iman berusia 18 hingga 30 tahun datang dari berbagai lembaga dan komunitas. Seperti GARUDA (Gusdurian Muda Malang Raya) , RUMPUN, Kampus DESA, KPPM GKJW Jemaat Tulangbawang, KPPM GKJW Jemaat Kedungkandang, KPPM GKJW Jemaat Talun, PUAN MANCA, Komunitas Eco-literasi, Nadyatul Aisyiah dan beberapa peserta dari background Hindu dan Katolik.
Selama tiga hari, warna-warna spiritualitas inilah menjadi karakteristik taman rumah ekologi sedang ditata bersama. Adapun kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama ekologis IPTh Balewiyata dengan LPKP (Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan) Jawa Timur yang mendapat dukungan penuh dari British Council Indonesia. Tentunya, seperti yang disampaikan Project Manager Climate Skills British Council, Ginanda Kandiati, tujuan kegiatan ini adalah terwujudnya generasi muda yang memiliki keterampilan, jejaring, dan pengetahuan untuk menghadapi perubahan iklim serta berperan dalam transisi berkeadilan. Dia menjelaskan, ada lima negara menjadi sasaran dari program Climate Skill dari British Council UK, yaitu Meksiko, Indonesia, India, Brazil dan Vietnam. Indonesia berada di peringkat ketiga menjadi negara yang terdampak mengalami panas ekstrem yang sangat dipengaruhi iklim. Maka dari itu, khusus di Indonesia, dua provinsi yang menjadi sasaran, yakni Jawa Barat yang sudah berjalan sejak tahun 2024 dan menjadi pilot project, baru kemudian Jawa Timur bergerak pada tahun ini. “Kami memilih kota Malang dan Surabaya karena dua kota ini memiliki basis sdm anak muda yang memiliki kualitas dalam penguasaan materi modulnya dan juga melihat geografis wilayah yang potensial terdampak isu iklim”, tambahnya. Ginanda menjelaskan, modul pembelajaran dalam Climate Skill ini kami menggunakan dari British Council UK, yang semoga memudahkan peserta dalam memahami materi dalam kelas. Bahkan, lingkungan area Balewiyata juga menurutnya menjadi salah satu model ideal yang sesuai dengan modul dikarenakan banyaknya ruang alam terbuka memakai media pohon, binatang dan area taman sebagai tempat pembelajaran strategis.
“Khusus penyelenggaraan di sini, masalah iklim adalah kepentingan ekologis bersama. Maka, kami dari pihak penyelenggara sangat berharap pelatihan Climate Skill ini bisa bermanfaat bagi semua kalangan lintas iman. Ini merupakan tanggung jawab kita bersama dalam merawat bumi lebih hijau lagi “ ujar Pdt Yulius Setyo Nugroho, M. Fil., selaku Sekretaris Program IPTh Balewiyata, dalam sambutan pembuka acara kemarin Jumat, 18 September 2026.
Ketua LPKP (Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan) Jawa Timur Anwar Solichin menambahkan bahwa British Council mempercayai LPKP dan beberapa lembaga yang berada di kota Malang, kota Batu dan Kab Malang untuk menyelenggarakan pelatihan Climate Skill ini. “Khusus kota Malang ada tiga lembaga yang kami ajak kerjasama, yaitu IPTh Balewiyata-GKJW, Nadyatul Aisyah Kota Malang dan Urban Farming“, katanya. Selain itu, dia menjelaskan bahwa setiap lembaga memiliki perwakilan yang dijadikan fasilitator British Council yang mana mereka juga mendapatkan pelatihan intensif selama 4 hari di BLK (Balai Latihan Kerja) Kab Malang Singosari pada bulan Juli lalu. Setelah itu, para fasilitator yang di antara mereka bernama Lintang Gurat Jingga (Urban Farming), Sovia Haiba Sifana (Nasyiatul Asyiyah) dan Dian Christiana (IPTh Balewiyata-GKJW) kemudian menjadi tenaga pengajar di tiga lembaga tersebut secara bergiliran jadwalnya pada bulan September ini.
Adapun tujuan pelatihan ini adalah melatih para peserta untuk memiliki keterampilan iklim yang berkelanjutan di wilayah masing – masing. Sebab, pembelajaran materi Climate Skill ini murni menggunakan modul dan kurikulum British Council yang sebagian besar memberikan pengetahuan iklim, melebarkan koneksi, dan strategi dalam memimpin sebuah komunitas iklim. Dalam setiap pelatihan lokal di tiga wilayah tersebut, setiap 25 peserta yang menjadi sasaran akan mendapat pendampingan penuh selama 3 hari pelatihan dari fasilitator dalam mewujudkan proyek rencana tindak lanjut hingga bulan November. “Kandidat fasilitator dan peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah mereka yang memang memiliki ketertarikan tinggi terhadap isu iklim”, tambahnya.
Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi-materi yang berkesan dan menyenangkan. Seperti pada hari pertama, mereka mendapatkan Learning Journey yang dimetaforakan selayaknya tanaman yang berawal dari benih yang berada di dalam tanah (Seeds) dimana mereka diajarkan untuk lebih awareness (sadar) dan kepercayaan diri dalam diri mereka. Kemudian, pada hari kedua, peserta diajak untuk masuk metafora bertumbuh (Grow), yang mengajak peserta untuk berinteraksi dengan kawannya lewat komunikasi dan menghargai perbedaan. Di hari yang sama, mereka juga beranjak menuju materi dalam fase Discover (Explorasi) yang berarti berkolaborasi, membangun ekosistem dan membaca peluang. Hingga pada hari ketiga mereka mendapat materi Sustain (Berkelanjutan) dan belajar mengenai bagaimana mempraktekkan materi-materi dan menetapkan tujuan lebih terperinci dalam rancangan tindak lanjut.
Peserta sangat merasa antusias dan senang sekali mengikuti acara ini karena banyak melakukan praktek di luar kelas dan melihat pohon di ruangan terbuka. “Materinya itu nggak bikin bosen. Asyik dan seru sekali, bahkan mudah diingat. Beda sama materi kuliah. Terimakasih banget buat para fasilitatornya keren-keren deh..”, ujar Najmi Nahadin Afkari, delegasi Kampus Desa. Dia juga menilai, dengan kebersamaan bertemu dengan teman-teman lintas iman memberi kesan yang luar biasa karena ada sharing terkait isu iklim yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan komunitas lainnya.
Bahkan, peserta ingin kegiatan ini terus dan sering diadakan lagi agar banyak yang semakin banyak yang menjadi mengerti dan memahami keterampilan-keterampilan iklim yang belum tentu diperoleh di bangku sekolah maupun kuliah. “Aku suka banget semua rangkaian materinya dan mungkin bisa diagendakan lagi jilid kedua karena memang seru sekali. Metode yang membuat peserta lebih banyak diskusi dan interaksi dengan kawan-kawan yang berbeda background juga sangat membantu. Kami jadi saling sharing pengetahuan lintas iman“, ujar Bernadeta Gracia Lavitasari, peserta asal kota Malang.
Setelah pertemuan tiga hari tersebut, seluruh peserta nantinya juga akan mengagendakan perjumpaan kembali dengan fasilitatornya untuk membicarakan terkait proyek tindak lanjut yang akan diajukan ke British Council pada bulan November nanti.
Tulisan: Dian Christiana