Nahdlatul Ulama (NU) kembali menggelar perhelatan akbarnya melalui Muktamar ke-35, sebuah forum musyawarah tertinggi yang mempertemukan ribuan kiai, ulama, tokoh agama, dan warga nahdliyin dari seluruh penjuru Nusantara bahkan mancanegara. Acara agung ini diselenggarakan pada 27–31 Agustus 2026, berpusat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang.
Muktamar kali ini tidak hanya menjadi momentum penting bagi NU dalam menentukan arah strategis organisasi serta merespons berbagai dinamika sosial-keagamaan nasional dan global, tetapi juga kembali menjadi etalase nyata bagi indahnya toleransi di Indonesia. Di balik gegap gempita persidangan dan padatnya agenda muktamar, acara ini memancarkan semangat inklusivitas yang kuat, di mana berbagai elemen masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda turut bahu-membahu menyukseskan jalannya acara.
Dukungan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dalam momentum bersejarah ini ditandai dengan turut terlibatnya persekutuan umat di GKJW Jemaat Sidoarjo bersama dengan 2 gereja yang lain yang melalui jejaringnya bersama LAZISNU PCNU Sidoarjo menggalang donasi demi mensukseskan kegiatan tersebut. Penggalangan dana tersebut menjadi bentuk kepercayaan sekaligus persaudaraan yang terjalin antara komunitas Kristen dengan NU.
Dukungan nyata juga diberikan lewat kehadiran Ketua Majelis Agung GKJW, Pdt. Natael Hermawan Prianto, S.Si., MBA. Beliau hadir secara langsung pada upacara pembukaan Muktamar ke-35 NU pada hari Jumat, 27 Agustus 2026. Kehadirannya berdiri sebagai representasi dari Pengurus Pusat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) untuk memberikan penghormatan dan dukungan moril kepada saudara-saudara Nahdliyin.
Wujud lain dari persaudaraan lintas iman tersebut juga diperlihatkan dengan penuh kehangatan di tingkat akar rumput oleh GKJW Jemaat Jombang. Mengingat besarnya antusiasme dan membludaknya jumlah peserta yang hadir, GKJW Jemaat Jombang mengambil peran proaktif dengan menyulap area gereja menjadi tempat transit dan posko menginap bagi para peserta muktamar. Pintu gereja terbuka lebar untuk menyambut saudara-saudara Muslim yang membutuhkan tempat beristirahat dan membersihkan diri. Keterlibatan ini menjadi potret indah semangat gotong royong yang mengesampingkan sekat-sekat perbedaan, sekaligus menegaskan identitas Jombang sebagai kota toleransi.
Semangat kolaborasi ini terus berlanjut pada agenda berikutnya. Lebih dari sekadar tamu khusus di hari pembukaan, Pdt. Natael juga mengambil peran penting sebagai salah satu narasumber dalam Festival JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi) pada hari Minggu, 30 Agustus 2026, yang merupakan rangkaian acara pendukung muktamar. Dalam forum tersebut, beliau menyuarakan pesan krusial mengenai pentingnya sinergi dan kolaborasi antarumat beragama dalam merawat kelestarian alam serta memperkokoh nilai-nilai toleransi kebangsaan di Indonesia.
Di acara yang sama, dukungan dari komunitas GKJW juga tidak berhenti pada penyediaan fasilitas akomodasi dan sumbangsih pemikiran. Rumah Sakit Kristen (RSK) Mojowarno turut ambil bagian dengan menerjunkan tim medisnya langsung ke salah satu tempat rangkaian pelaksanaan kegiatan, yaitu Festival JAGAT yang berlokasi di Ponpes Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang.
Sepanjang berlangsungnya acara, RSK Mojowarno membuka posko yang menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan umum serta pemeriksaan mata secara gratis. Fasilitas ini sangat dirasakan manfaatnya oleh para peserta, panitia, maupun masyarakat sekitar yang mengalami kelelahan atau gangguan kesehatan di tengah padatnya mobilitas. Kehadiran posko medis lintas iman ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan kemanusiaan bersifat universal dan senantiasa melampaui batas-batas identitas keagamaan.