Tanggul Bencana GKJW Perkuat Kapasitas Advokasi Kemanusiaan Mentoring Advokasi Kanvas Bersama Yayasan SHEEP Indonesia

30 August 2026

Pokja Tanggul Bencana Majelis Agung (TBMA) Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) kembali mempertegas komitmennya dalam panggilan pelayanan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Hal tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif GKJW dalam kegiatan “Pelatihan dan Workshop Advokasi: Mentoring Peer Humanitarian Partner (PHP) ToGETHER 2.0” yang diselenggarakan oleh Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) pada tanggal 19–22 Agustus 2026 di Balkondes Wringin Putih, Magelang, Jawa Tengah. Kali ini TBMA mengutus Pdt. Krisna Yoga Pradigdya, S.Si dan Ibu Kartikanita menjadi perwakilan dalam pelatihan tersebut.

Di tengah semakin kompleksnya tantangan bencana dan krisis sosial-ekologis saat ini, pelayanan gereja dipanggil untuk tidak hanya berhenti pada aksi karitatif atau bantuan darurat sesaat. Pelayanan kemanusiaan GKJW dalam hal ini Pokja Tanggul Bencana dituntut bergerak lebih jauh menuju tindakan strategis, inklusif, dan sistematis yang berpihak pada pemenuhan hak-hak masyarakat terdampak.

Selain GKJW, pelatihan Advokasi yang diselenggarakan oleh Yayasan Sheep Indonesia (YSI) diikuti juga oleh mitra ToGETHER lainnya, yakni Yayasan YAPHI, Jaga Balai, Cappa Keadilan Ekologi dan Mitra Wacana. Melalui forum belajar dan jejaring kemanusiaan lintas wilayah ini bukan hanya membangun semangat kolaborasi dan saling menguatkan, namun diharapkan juga menjadi ruang belajar dari pengalaman aksi advokasidi masing-masing PHP.

Selama tiga hari pelatihan, fasilitator dari Yayasan SHEEP Indonesia memandu para peserta mendalami metodologi Advokasi Kanvas. Metode ini diperkenalkan sebagai alat analisis (framework) praktis untuk merancang perencanaan advokasi yang kontekstual. Melalui 10 elemen kunci advokasi kanvas mulai dari perumusan masalah utama, tujuan advokasi, penetapan target pengambil keputusan, siapa partisipan atau kelompok sasarannya, apa pesan utama, bagaimana strategi dan taktik advokasinya, penggalangan aliansi,apa saja sumber dayanya, bagaimana hambatan atau risiko hingga penetapan indikator keberhasilan, GKJW diajak memetakan isu-isu prioritas dalam kerangka respon tanggap darurat (Emergency Response) berbasis bukti (evidence-based). Partisipasi dalam workshop ini memperkuat refleksi teologis bahwa diakonia gereja adalah diakonia yang transformatif.

Advokasi kemanusiaan bukan sekadar aktivitas teknis organisatoris, melainkan wujud kesaksian profetis gereja untuk menyuarakan keadilan, membela kelompok rentan, serta menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah situasi krisis. GKJW terus berkomitmen memperkuat kapasitas jemaat dan lembaga agar semakin siap hadir sebagai rekan sekerja Allah dalam memulihkan kehidupan masyarakat terdampak bencana.

Penulis: Kartikanita
Foto: Dokumentasi YSI

Renungan Harian

Renungan Harian Anak