Angkat Pola Asuh Penuh Kasih dan Komunikasi Keluarga Seminar Parenting GKJW Jemaat Purwodadi Kras

29 July 2026

Pentingnya pendampingan keluarga dalam menghadapi tantangan pengasuhan anak menjadi salah satu perhatian GKJW Jemaat Purwodadi Kras. Hal tersebut disampaikan Pendeta Ivanna Oktaviranti dalam sambutannya pada Seminar Parenting yang diselenggarakan di gedung gereja Pepanthan Kandat pada Minggu (26/7). Menurutnya, seminar yang merupakan program Kelompok Kerja Pendampingan dan Perlindungan Anak (Pokja P2A) ini menjadi salah satu tindak lanjut hasil rembug warga sekaligus wujud kehadiran gereja dalam membangun kesadaran jemaat akan pentingnya pola pengasuhan yang sehat dan berlandaskan nilai-nilai Kristiani.

Seminar diikuti oleh anak-anak, remaja, pemuda, warga dewasa, hingga warga adi yuswa serta menghadirkan dua narasumber, Lilik Ayuningtyas dan Christina Akede, yang memiliki latar belakang di bidang psikologi dan pendampingan anak.

Pada sesi pertama, Lilik Ayuningtyas mengajak peserta mengenali empat pola asuh yang umum dijumpai dalam keluarga, yaitu otoritatif, otoriter, permisif, dan pola asuh penuh kasih. Pola asuh otoritatif ditandai dengan adanya aturan yang jelas, tetapi tetap disertai kasih sayang, kehangatan, dan ruang berdialog dengan anak. Sebaliknya, pola asuh otoriter lebih menekankan disiplin dan kepatuhan dengan ruang diskusi yang terbatas. Sementara itu, pola asuh permisif memberikan kebebasan yang luas kepada anak dengan sedikit batasan maupun aturan. Menurut Lilik, pengasuhan Kristen berakar pada pola asuh penuh kasih, yaitu membesarkan anak berdasarkan kasih Allah tanpa syarat. Ia menjelaskan bahwa pola asuh penuh kasih bertumpu pada tiga fondasi, yakni otoritas Alkitab, teladan Kristus, dan pertumbuhan rohani. Ketiga fondasi tersebut menjadi dasar agar orang tua tidak hanya mengajarkan nilai-nilai iman melalui perkataan, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari yang dapat diteladani anak.

Untuk membantu peserta memahami materi, Lilik mengajak salah seorang peserta anak, Mosa, berdialog di depan forum. Ia bertanya apakah Mosa lebih senang disuruh belajar atau ditemani belajar oleh ayahnya. Mosa menjawab bahwa ia lebih memilih ditemani belajar. Ilustrasi tersebut digunakan Lilik untuk menjelaskan pola asuh penuh kasih yang menekankan kehadiran dan pendampingan orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.

Setelah penyampaian materi, peserta dibagi ke dalam lima kelompok yang terdiri atas berbagai rentang usia. Setiap kelompok menerima topik diskusi yang berbeda mengenai pengasuhan anak sebelum mempresentasikan hasil pembahasannya di hadapan peserta seminar.

Salah satu peserta, Noka dari kelompok 2, menyampaikan bahwa tantangan yang sering dirasakan anak adalah sulitnya memahami orang tua. “Kadang kita punya keinginan seperti ini, tapi sama orang tua tidak boleh. Orang tua juga punya pemikirannya sendiri,” ungkapnya. Sementara itu, kelompok 1 yang membahas tantangan terbesar orang tua dalam mengasuh anak menyampaikan bahwa anak sering kali sulit diarahkan. Selain itu, pengaruh media sosial juga dinilai menjadi salah satu tantangan yang dihadapi keluarga dalam mendampingi pertumbuhan anak.

Menanggapi hasil diskusi tersebut, Lilik menyimpulkan bahwa komunikasi menjadi salah satu kunci dalam membangun relasi yang sehat antara orang tua dan anak. Pembahasan mengenai komunikasi dalam keluarga kemudian dilanjutkan oleh narasumber kedua, Christina Akede.

Pada sesi berikutnya, Christina menekankan bahwa komunikasi tidak sekadar berbicara. Komunikasi juga mencakup kemampuan mendengar, memahami, merespons, dan menghargai lawan bicara. Ia mengutip penelitian Barnes dan Olson yang menunjukkan bahwa keluarga dengan komunikasi terbuka cenderung memiliki hubungan yang lebih dekat dan konflik yang lebih rendah. Selain itu, penelitian Ackard dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa komunikasi yang hangat berkaitan dengan kesehatan mental anak dan hubungan keluarga yang lebih sehat. Christina juga mengaitkan pentingnya komunikasi dalam keluarga dengan firman Tuhan dalam Ulangan 6:6-7 yang mengajarkan agar orang tua menanamkan firman Tuhan kepada anak dalam setiap kesempatan, baik ketika berada di rumah, dalam perjalanan, saat berbaring, maupun ketika bangun.

Dalam pemaparannya, Christina menjelaskan bahwa ibu dan ayah memiliki peran komunikasi yang saling melengkapi. Ibu berperan menjadi tempat aman bagi anak untuk bercerita, membantu anak mengenali emosinya, serta menjadi pendengar yang baik. Di sisi lain, ayah berperan sebagai pembimbing yang mendorong anak belajar mengambil keputusan, menumbuhkan keberanian, mengembangkan kemampuan sosial, dan menanamkan tanggung jawab.

Selain itu, Christina mengingatkan bahwa cara berkomunikasi perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Anak usia 0 hingga 2 tahun membutuhkan rasa aman melalui sentuhan, pelukan, kontak mata, dan nada suara yang lembut. Memasuki usia 3 hingga 5 tahun, komunikasi dapat dilakukan melalui cerita, permainan, dan pilihan-pilihan sederhana. Pada usia 6 hingga 12 tahun, anak mulai membutuhkan penjelasan mengenai alasan di balik aturan yang diberikan. Sementara itu, remaja membutuhkan ruang untuk didengar, dipahami, dan diajak berdialog tanpa dihakimi.

Seminar diakhiri dengan ajakan kepada seluruh peserta untuk membangun pola asuh yang lebih baik melalui komunikasi yang terbuka dan penuh kasih. Bersama-sama, peserta mengucapkan komitmen untuk menerapkan pola asuh yang berlandaskan kasih serta meneladani Kristus dalam kehidupan keluarga. Lilik Ayuningtyas mengingatkan bahwa setiap orang tua tidak dituntut untuk menjadi pribadi yang sempurna. “Kita tidak harus sempurna menjadi orang tua, tetapi kita harus tetap belajar mendampingi anak-anak kita,” pesannya.

 

Berita : Pricillia Dewi Megawati
Foto : Tim Multimedia GKJW Purwodadi Kras

Renungan Harian

Renungan Harian Anak