Ucapan Yang Mendatangkan Kebaikan Pancaran Air Hidup 4 November 2026

4 November 2026

Bacaan: Amsal 16 : 21 – 33  |  Pujian: KJ. 432
Nats: “Orang yang sabar melebihi seorang pejuang, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.” (Ayat 32)

Dalam pengalaman berelasi dengan beberapa orang, kita memiliki kemampuan mengenal dan memahami karakter mereka. Semakin banyak orang yang kita temui, semakin banyak pula pengalaman kita menghadapinya. Mungkin kita pernah menjumpai yang demikian: “Aku ngomongnya emang pedes tapi niatku baik kok” atau “Aku ini blak-blakan.” Dalam psikologi komunikasi mengajarkan bahwa setiap kita membuka mulut, kita sedang membangun atau menghancurkan dunia orang lain. Orang-orang yang berlindung pada pernyataan demikian bisa saja sedang mengalami defensive projection, yang artinya upaya psikologis untuk melindungi citra diri dengan cara menyalahkan orang lain. Ini bisa menjadi tanda rendahnya empati.

Melalui bacaan kita hari ini, penulis Amsal mengingatkan pembacanya untuk menggunakan mulut untuk berkata-kata hal yang membangun, bagaikan sarang madu yang manis bagi hati, dan obat bagi tulang-tulang. Ini semua berangkat dari akal budi dan keputusan yang berasal dari Tuhan Allah (Ay. 33), yang disertai dengan pengendalian diri. Pengendalian diri mendatangkan kesabaran dan hikmat untuk menahan diri dari sikap yang mendatangkan kejahatan bagi yang lain. Penulis Amsal pada ayat 32 mengatakan bahwa orang sabar melebihi seorang pahlawan dan orang yang menguasai diri melebihi orang yang merebut kota.

Pada bulan budaya ini, kita diajak untuk mawas diri. Awas terhadap hidup dan kebiasaan-kebiasaan yang sering kali kita normalisasikan, padahal hal tersebut wujud dari ketidakmampuan kita untuk mengendalikan diri. Kita bisa menjadi orang tegas tanpa harus menjadi orang yang kejam. Kita bisa menjadi orang yang jujur tanpa harus mencabik harga diri orang lain. Oleh sebab itu, sebelum kita mengatakan sesuatu, mari kita hayati dalu apakah ucapan kita berasal dari Tuhan, yang membangun orang lain atau malah justru sebaliknya? Mari kita memperkatakan perkataan yang baik dan benar, kata-kata kasih yang membangun dan menguatkan sesama kita. Amin. [GEA].

“Mulailah berkata kasih hari ini!”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak