Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) menyampaikan rasa syukur atas terpilihnya Bapak Saptoyo, salah satu warga GKJW Jemaat Sendangbiru, sebagai penerima penghargaan PIKI (Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia) Awards 2026 untuk kategori Lingkungan Hidup. Acara malam penganugerahan ini dilangsungkan pada hari Minggu, 25 Oktober 2026, bertempat di Studio Metro TV, Jakarta Barat.
Penghargaan PIKI Awards 2026 diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI) dengan mengusung tema “Terang Allah Membawa Kebenaran”. Bapak Saptoyo terpilih melalui proses penjaringan terbuka sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya yang berdampak dan berkelanjutan bagi kelestarian lingkungan bangsa Indonesia.
Sebelumnya, Pelayan Harian Majelis Agung (PHMA) GKJW mendapatkan surat pemberitahuan resmi terkait dengan hal tersebut, kemudian membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk menggali nama-nama yang akan diusulkan sebagai nominator. Setelah mendapatkan nama-nama calon nominator, salah satunya Bapak Saptoyo, maka PHMA pun mengirimkan surat usulan dan rekomendasi resmi pencalonan kepada panitia penyelenggara pada tanggal 26 Agustus 2026.
Kiprah Bapak Saptoyo dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir di Malang Selatan telah berjalan selama lebih dari dua dekade. Diawali dari semangat untuk menyelematkan lingkungan ekologis di kawasan pesisir pantai bersama dengan persekutuan warga Jemaat Sendangbiru, Bapak Saptoyo menjadi salah satu orang yang terus aktif bergerak hingga saat ini. Untuk memperkuat status dan legalitasnya, beliau kemudian mendirikan Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru sekaligus inisiator berdirinya kawasan pelestarian dan ekowisata Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna. Dedikasi beliau terbukti dari keberhasilannya memulihkan lahan kritis yang dahulu memicu krisis air bersih dan paceklik ikan menjadi sabuk hijau mangrove yang rimbun.
D
alam perjalanannya merawat lingkungan, Bapak Saptoyo sempat menghadapi berbagai rintangan, termasuk ditangkap aparat karena tuduhan memasuki kawasan konservasi tanpa izin saat memulai inisiatif reboisasi. Meski demikian, upaya konsistennya kini membuahkan hasil nyata dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk merekrut mantan pembalak hutan menjadi penjaga alam dan mempekerjakan beberapa warga lokal yang sebagian besar adalah perempuan. Untuk melindungi daya dukung lingkungan, tata kelola yang beliau pimpin memberlakukan aturan tegas, seperti pembatasan kuota pengunjung maksimal 100 orang per dua jam di Pantai Tiga Warna serta pemeriksaan barang bawaan ketat untuk mencegah masuknya sampah plastik.
Majelis Agung GKJW menyambut baik penghargaan ini sebagai wujud pengakuan atas panggilan iman warga jemaat dalam merawat ciptaan Tuhan. Dukungan nyata terhadap kiprah Bapak Saptoyo tidak hanya diberikan oleh Majelis Agung, tetapi juga mengalir kuat dari Majelis Jemaat GKJW Sendangbiru. Sebagai bentuk dukungan penuh, Majelis Jemaat secara khusus mengutus Bapak Agus Harianto (Yafet), yang menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Jemaat sekaligus Kepala Desa setempat, untuk berangkat ke Jakarta dan mendampingi Bapak Saptoyo secara langsung dalam malam penganugerahan tersebut.