Hidup yang Berbuah Ketaatan dan Kebenaran Khotbah Minggu 4 Oktober 2026

21 September 2026

Minggu Biasa | Perjamuan Kudus Ekumene
Stola Putih

Bacaan 1: Yesaya 5 : 1 – 7
Mazmur: Mazmur 80 : 7 – 15
Bacaan 2: Filipi 3 : 4b – 14
Bacaan 3: Matius 21 : 33 – 46

Tema Liturgis: Merawat Persaudaraan Sejati
Tema Khotbah: Hidup yang Berbuah Ketaatan dan Kebenaran

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 5 : 1 – 7
Kitab Yesaya merupakan bagian dari kitab-kitab kenabian yang termasuk pada kelompok nabi-nabi besar. Pemberian nama Yesaya sendiri merujuk pada tokoh utama kitab ini, yaitu Yesaya bin Amos yang adalah nabi besar di Kerajaan Yehuda pada abad ke-8 SM. Dimana pada waktu itu, pemerintahan Yehuda dipimpin oleh raja Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia. Pada masa itu, bangsa Yehuda mengalami kemakmuran ekonomi dan stabilitas politik, tetapi dibalik itu terjadi kemerosotan moral dan rohani. Selain itu, terjadi pula ketidakadilan sosial, penindasan terhadap yang lemah, dan kemunafikan dalam ritus peribadahan. Kitab ini secara keseluruhan dibagi menjadi tiga bagian besar yang dikenal dengan istilah Proto-Yesaya (Yesaya 1-39), Deutero-Yesaya (Yesaya 40-55) dan Trito-Yesaya (Yesaya 56-66).

Yesaya 5:1-7 menjadi bagian dari Proto-Yesaya yang mengangkat seruan tentang ancaman kehidupan bagi bangsa Israel, yang mana ancaman tersebut tidak hanya berasal dari kekuatan bangsa lain akan tetapi lebih pada ancaman yang berasal dari dalam bangsa itu sendiri, yaitu ketidak-taatan dan ketidak-percayaan kepada Allah. Perikop ini disusun dalam bentuk nyanyian atau puisi alegoris. Dimana dapat diartikan bahwa kebun anggur melambangkan Israel/Yehuda, sedangkan pemilik kebun adalah Allah sendiri. Allah digambarkan sebagai pemilik kebun yang telah melakukan segala sesuatu dengan sempurna: memilih tanah yang subur, membersihkan batu, menanam anggur pilihan, dan membangun perlindungan. Akan tetapi, kebun anggur itu hanya menghasilkan buah anggur asam. Hal ini melambangkan kegagalan Israel dalam menghasilkan keadilan dan kebenaran, yang seharusnya menjadi buah kehidupan umat pilihan Allah. Dapat dirasakan gaya bahasa yang digunakan awalnya terdengar seperti lagu cinta, namun berakhir sebagai tuntutan hukum terhadap umat-Nya. Perikop ini menegaskan bahwa hak istimewa sebagai umat pilihan Allah menuntut tanggung jawab moral dan rohani untuk membuahkan ketaatan dan kebenaran.

Filipi 3 : 4b – 14
Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus ketika berada di dalam penjara (Fil. 1:7,14,17) yang kemungkinan besar ada di kota Roma pada waktu antara tahun 58 M. Rasul Paulus menulis surat kepada Jemaat Filipi dengan maksud untuk memberikan nasihat atau penggembalaan kepada jemaat di sana. Jemaat Filipi sendiri adalah jemaat yang sangat dekat secara emosional dengan Rasul Paulus dan selalu setia dalam mendukung pelayanannya, termasuk melalui bantuan finansial (Fil. 4:15-18). Meskipun demikian, dalam perjalanannya ternyata muncul sekelompok orang yang menentang Rasul Paulus (Fil. 1:27-30; 2:21). Untuk itu tidak heran jika kritik yang tajam juga diberikan oleh Rasul Paulus di dalam suratnya, khususnya menyoroti kehidupan sekelompok orang yang sering kali tidak sehati dan sepikir dalam pelayanannya.

Dalam Filipi 3:4b-14, Rasul Paulus memberikan nasihat dan memperingatkan Jemaat Filipi agar berhati-hati terhadap ancaman dari kelompok-kelompok yang menekankan pada legalistas hukum dan mengejar keselamatan berdasarkan kebenaran usaha manusia (ketaatan lahiriah). Rasul Paulus menegaskan bahwa segala kelebihan dan pencapaian manusia menurut standar dunia atau agama tidak ada artinya dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus. Dimana ia mengatakan bahwa hal-hal yang dahulu dianggap sebagai keuntungan — status, ketaatan hukum Taurat, dan latar belakang religious— sekarang dianggap rugi dan sampah demi memperoleh Kristus.

Rasul Paulus menekankan bahwa kebenaran sejati bukan berasal dari usaha manusia, melainkan dari iman kepada Kristus. Tujuan hidupnya adalah mengenal Kristus secara mendalam, mengalami kuasa kebangkitan-Nya, serta mengambil bagian dalam penderitaan-Nya, sehingga hidupnya semakin serupa dengan Kristus. Ia juga menyadari bahwa ia belum dapat mencapai kesempurnaan, tetapi terus berjuang dengan tekun, berupaya untuk menghasilkan buah yang baik dari pilihan hidupnya. Gambaran tentang sebuah perlombaan rohani ingin menegaskan bahwa hidup orang percaya harus dijalani dengan fokus dan ketekunan menuju tujuan akhir, yaitu keselamatan dan kemuliaan bersama Kristus.

Matius 21 : 33 – 46
Injil Matius merupakan bagian dari Injil Sinoptik. Kata sifat sinoptik sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu synopsis yang memiliki arti “melihat bersama”. Hal ini disebabkan adanya keterkaitan dan kesamaan di dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas dalam hal menguraikan pelayanan Yesus Kristus. Injil Matius ditulis terutama untuk orang Kristen berlatar belakang Yahudi dengan tujuan menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Oleh sebab itu, dapat ditemukan dalam tulisannya sering mengaitkan ajaran Yesus dengan nubuat dan simbol-simbol Yahudi. Terkait dengan waktu penulisannya, Injil Matius diperkirakan antara rentang waktu setelah tahun 70 M dan sebelum tahun 100 M.

Bacaan dalam Matius 21:33-46 memiliki nuansa hubungan dan keterkaitan narasi dengan Perjanjian Lama, khususnya tentang tema “Kebun Anggur” dalam Yesaya 5:1-7. Dalam perumpamaan ini, penulis Matius ingin menegaskan bahwa Allah adalah pemilik Kerajaan Allah, sedangkan manusia hanyalah pengelola yang bertanggung-jawab atas apa yang dipercayakan kepadanya. Sedangkan gambaran para penggarap melambangkan para pemimpin Yahudi yang menolak dan menganiaya para nabi bahkan membunuh Anak Allah. Para pendengar dapat secara langsung memahami perumpamaan ini karena sangat dekat dengan realitas ekonomi dan kehidupan mereka sehari-hari, bahkan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menyadari bahwa perumpaan itu ditujukan untuk mereka (Ay. 45).

Melalui perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa penolakan terhadap kehendak Allah membawa konsekuensi penghakiman. Oleh karena ketidaksetiaan para pemimpin (para penggarap) tersebut, Kerajaan Allah akan diambil dari mereka dan diberikan kepada orang-orang yang menghasilkan buah yang dikehendaki Allah. Ungkapan batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan menjadi batu penjuru, menegaskan bahwa Yesus yang ditolak justru adalah dasar keselamatan. Melalui perumpamaan ini, Yesus menekankan bahwa karunia Kerajaan Allah bukan ditentukan oleh status religious seseorang, akan tetapi lebih pada buah kehidupan (Ay. 43) yang dihasilkannya, yaitu ketaatan dan kebenaran.

Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan ini berbicara tentang kehendak Allah atas kehidupan umat-Nya agar dapat menghasilkan buah iman yang baik, yaitu ketaatan dan kebenaran. Buah iman dalam bentuk ketaatan dan kebenaran tersebut harus dapat diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari agar kehidupan umat Allah berkenan kepada-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Bayangkan, ada seorang petani yang memiliki sebidang tanah kebun untuk dikelola dan diolah. Sebagaimana umumnya, tanah kebun tersebut diolah dengan baik, bahkan benih yang dipilih adalah benih yang terbaik. Tidak hanya itu, pagar di sekeliling tanah kebun juga diolah dengan baik agar dapat mengurangi serangan hama atas tanaman utama. Selain itu, menara penjaga juga dipersiapkan agar petani dapat mengontrol pertumbuhan tanamannya dengan baik. Dengan segala yang sudah dilakukan, maka sang petani memiliki harapan bahwa pada akhirnya ia mendapatkan hasil panen yang baik dan melimpah. Akan tetapi di waktu panen tiba, yang didapatkan tidak sesuai dengan harapannya. Bukan buah yang baik dan melimpah, melainkan buah yang asam dan tidak memiliki nilai jual.

Pertanyaannya adalah siapakah yang salah? Tentu, bukan sang petani sebab ia sudah melakukan yang terbaik dalam setiap proses pengelolaan tanah kebunnya. Masalahnya bisa saja ada pada kebun itu sendiri yang tidak mampu menghasilkan buah seperti yang diharapkan. Meskipun terlihat begitu subur, serta sudah diolah dengan sedemikian baiknya, akan tetapi nyatanya dari tanah kebun itu sendiri tidak menghendaki untuk menghasilkan buah yang baik. Demikianlah gambaran dalam kehidupan umat Kristus sebagai kebun anggur Allah, bisa jadi tidak menghasilkan buah yang baik oleh karena kesalahan ada pada dirinya sendiri.

Isi
Ketiga bacaan saat ini berbicara tentang kehendak Allah atas kehidupan umat-Nya agar dapat menghasilkan buah iman yang nyata, yaitu ketaatan dan kebenaran. Gambaran tentang kebun anggur yang termuat dalam nyanyian dan puisi di Yesaya 5:1-7 menegaskan bahwa umat Allah sebagai kebun anggur Allah harus dapat menghasilkan buah yang baik sebab Allah sendiri yang memilih, memelihara, melindungi, serta memberkati. Allah digambarkan sebagai pemilik kebun yang telah melakukan segala sesuatu dengan sempurna: memilih tanah yang subur, membersihkan batu, menanam anggur pilihan, dan membangun perlindungan. Akan tetapi, kebun anggur itu hanya menghasilkan buah anggur asam. Hal ini melambangkan kegagalan Israel dalam menghasilkan keadilan dan kebenaran, yang seharusnya menjadi buah kehidupan umat pilihan Allah. Sebagai umat pilihan Allah, sudah seharusnya mereka dapat menghasilkan buah yang baik dan tidak hanya terlihat religious akan tetapi sebenarnya hidupnya jauh dari kehendak Allah.

Sebagaimana perumpamaan tentang kebun anggur yang tertulis dalam Matius 21:33-46 yang menjadi kritik pedas terhadap keberadaan iman-iman kepala dan orang-orang Farisi, yang mana mereka hanya terlihat bagus diluar akan tetapi tidak dapat menghasilkan buah iman yang sebagaimana dikehendak Allah. Sejatinya para penggarap hanya dipercaya untuk mengolah dan mengelola kebun anggur bukan memilikinya. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, oleh karena nafsu, ambisi, dan keegoisan diri maka motivasi para penggarap kebun anggur berubah menjadi kejahatan. Melalui perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa penolakan terhadap kehendak Allah membawa konsekuensi penghakiman. Oleh karena ketidaksetiaan para pemimpin (para penggarap) tersebut, Kerajaan Allah akan diambil dari mereka dan diberikan kepada orang-orang yang menghasilkan buah sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Kehidupan yang menghasilkan buah yang baik dapat dilihat dari hidup Rasul Paulus. Sebagai seorang yang memiliki semua “modal religious” seperti status, pendidikan, dan ketaatan hukum tetapi semuanya dianggap rugi dan sampah jika dibandingkan dengan pengenalannya akan Kristus. Rasul Paulus menekankan bahwa kebenaran sejati bukan berasal dari usaha manusia, melainkan dari iman kepada Kristus. Tujuan hidupnya adalah mengenal Kristus secara mendalam, mengalami kuasa kebangkitan-Nya, serta mengambil bagian dalam penderitaan-Nya, sehingga hidupnya semakin serupa dengan Kristus. Dengan keberadaannya tersebut, tidak membuat dirinya kemudian menjadi pribadi yang sombong tetapi memacu dirinya untuk bertumbuh, berjuang, dan terus melangkah maju mengejar panggilan Allah. Dengan demikian, ia mampu menghasilkan buah iman yang baik, yaitu hidup dalam ketaatan dan kebenaran Allah.

Penutup
Minggu ini kita bersama-sama ada dalam penghayatan Bulan Ekumene dan menandainya dengan Perjamuan Kudus. Dengan memahami makna ekumenis yang selama ini dibangun bersama, maka harapannya GKJW dapat bergandengan tangan bersama-sama dengan komunitas-komunitas Tuhan di dunia ini untuk mewujudkan kebun anggur Allah yang subur dan menghasilkan buah yang baik, yaitu ketaatan dan kebenaran Allah. Di bulan Ekumene dan penghayatan Perjamuan Kudus saat ini baiklah jika kita kembali mengingat bahwa Allah telah menanam kita di kebun-Nya, memelihara kita dengan kasih, dan memberi kita anugerah keselamatan di dalam Kristus. Oleh sebab itu, marilah menjadi persekutuan umat Allah yang senantiasa memiliki hidup yang berbuah ketaatan dan kebenaran. Amin. [DAR].

 

Pujian: KJ. 356  Tinggalah Dalam Yesus

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Cobi panjenengan bayangaken, wonten satunggaling tiyang tani ingkang kagungan lemah kebon, saben dintenipun dipun rimati lan dipun olah. Kados pundi limrahipun, lemah kebon punika dipun olah kanthi sae sanget, malah winihipun dipun piji winih ingkang paling sae. Mboten namung mekaten, pager ing ngupengi kebon punika ugi dipun rimat kanthi prayogi supados saged nyuda serangan hama dhateng tetuwuhan utami. Kajawi punika, menara pangawasan sampun dipun cawisaken supados pak tani punika saged mirsani lan ngawasi tuwuhing tanemanipun kanthi becik. Kanthi sadaya ingkang sampun dipun lampahi punika, pak tani gadhah pangajeng-ajeng bilih ing wekdal panen badhe pikantuk asil ingkang sae lan kathah. Nanging nalika dumugi wekdal panen, asil ingkang dipun tampi mboten kados ingkang dipun ajeng-ajeng. Dene ingkang dipun pundhut mboten woh ingkang sae lan kathah, nanging woh ingkang kecut lan mboten aji.

Pitakenanipun, sinten ingkang lepat? Mesthi sanes pak tani punika awit piyambakipun sampun nglampahi sadaya kanthi saestu ing saben proses pangelolaan lemah kebonipun. Pranyata, prekawisipun saged wonten ing kebonipun piyambak ingkang mboten saged nuwuhaken tetuwuhan kados ingkang dipun ajeng-ajeng. Sanadyan kasat mripat kebon punika katingal subur lan sampun dipun rimati kanthi prayogi sanget, nanging ing kasunyatanipun, saking lemah kebon punika piyambak mboten gadhah pepinginan ngasilaken woh ingkang sae. Kados mekaten gambaranipun gesang umatipun Sang Kristus minangka kebon angguripun Gusti Allah, ingkang mboten saged ngasilaken woh ingkang sae amargi kalepatan punika wonten ing dhirinipun piyambak.

Isi
Waosan ing wekdal punika sami ngrembag bab karsanipun Gusti Allah tumrap gesang umat-Ipun supados saged ngasilaken woh iman ingkang nyata, inggih punika kataatan lan kabeneran. Gambaran babagan kebon anggur ingkang kaandharaken wonten ing kidung lan puisi Kitab Yesaya 5:1–7 negesaken bilih umatipun Gusti Allah minangka kebon angguripun Gusti Allah kedah saged ngasilaken woh ingkang sae, awit Gusti Allah piyambak ingkang miji, ngrimati, ngreksa, saha maringi berkah. Gusti Allah kagambaraken minangka ingkang kagungan kebon, ingkang sampun nglampahi sadaya kanthi sampurna: miji lemah ingkang subur, ngresiki sela-sela, nandur anggur pilihan, lan ngedegaken pangayoman. Nanging, kebon anggur punika namung ngasilaken woh anggur ingkang kecut. Punika nggambaraken kagagalanipun bangsa Israel nalika nuwuhaken kaadilan lan kabeneran, ingkang saestunipun kedah dados woh gesangipun umat pilihanipun Gusti Allah. Minangka umat pilihanipun Gusti Allah, sampun samesthinipun saged ngasilaken woh ingkang sae, mboten namung katingal religius wonten njawi, nanging ing kasunyatan gesangipun tebih saking karsanipun Gusti Allah.

Mekaten ugi kados pasemon bab kebon anggur ingkang kaserat wonten ing Injil Mateus 21:33–46, ingkang dados kritik ingkang landhep dhateng para imam kepala lan tiyang-tiyang Farisi. Para imam lan tiyang Farisi namung katingal sae saking njawi, nanging mboten saged ngasilaken woh iman kados ingkang dipun karsakaken Gusti Allah. Satemenipun, para panggarap kebon namung dipun pitados kangge ngolah lan ngrimati kebon anggur, mboten kagungan hak nduweni. Nanging ingkang kadadosan malah kosok balinipun, awit saking hawa nepsu, ambisi, lan kaegoisan pribadi, motivasi para panggarap kebon anggur punika malah dados tumindak ala. Lumantar pasemon punika, Gusti Yesus negesaken bilih nyingkur dhateng karsanipun Gusti Allah mesthi nuwuhaken paukuman. Amargi mboten setyanipun para pemimpin (para panggarap) punika, Karajanipun Gusti Allah badhe dipun pundhut saking piyambakipun lan dipun paringaken dhateng tiyang-tiyang ingkang saged ngasilaken woh kados ingkang dipun karsaaken Gusti Allah.

Gesang ingkang ngasilaken woh ingkang sae saged dipun pirsani saking gesangipun Rasul Paulus. Minangka satunggaling tiyang ingkang gadhah sadaya “modal religius” kados drajat, ilmu, lan kataatan dhateng angger-anggering Toret, sadaya punika dipun anggep rugi lan kados rereged menawi dipun bandhingaken kaliyan pangertosanipun dhateng Sang Kristus. Rasul Paulus negesaken bilih kabeneran sejati mboten asalipun saking usaha manungsa, nanging saking iman dhumateng Sang Kristus. Ancasing gesangipun inggih punika supados saged mangertos Sang Kristus kanthi langkung rumaket, ngraosaken kakiyatan wungun-Ipun, saha ndherek nandhang kasangsaran-Ipun, satemah gesangipun dados saya sami kaliyan Sang Kristus. Kawontenan punika mboten ndadosaken piyambakipun dados pribadi ingkang gumunggung, nanging malah dados pangatag kangge piyambakipun supados tansah tuwuh, ngudi, lan maju tanpa kendhat njangkung timbalanipun Gusti Allah. Kanthi mekaten, piyambakipun saged ngasilaken woh iman ingkang sae, inggih punika gesang ingkang kebak kataatan lan kabeneranipun Gusti Allah.

Panutup
Ing minggu punika, kita sadaya sami mlebet wonten ing panghayatan Wulan Ekumene lan Bujana Suci. Kanthi mangertosi lan ngugemi teges ekumenis ingkang sampun dipun bangun bebarengan ngantos sapunika, pangajeng-ajengipun GKJW saged sesarengan kaliyan pasamuwan lan komunitas umatipun Gusti Allah ing saindenging jagad punika mujudaken kebon angguripun Gusti Allah ingkang subur lan ngasilaken woh ingkang sae, inggih punika kataatan lan kabeneranipun Gusti Allah. Wonten ing Wulan Ekumene saha panghayatan Bujana Suci wekdal punika, prayogi kita sadaya ngengeti malih bilih Gusti Allah sampun mapanaken kita wonten ing kebon anggur-Ipun, ngimati kita kanthi katresnan-Ipun, saha maringi kita kanugrahan kawilujengan wonten ing Sang Kristus. Mila saking punika, sumangga kita dados patunggilan umatipun Gusti Allah ingkang tansah ngupadi gesang ingkang ngasilaken woh kataatan lan kabeneran. Amin. [DAR].

 

Pamuji: KPJ. 439  Ing Jagad Kang Peteng

Renungan Harian

Renungan Harian Anak