Peaceful Mind, Peaceful Life Tuntunan Ibadah Remaja 20 September 2026

7 September 2026

Tahun Liturgi: Bulan Kitab Suci
Tema: Menjadi “Penjaga Perdamaian” Merupakan Salah Satu Buah dalam Pelayanan
Judul: Peaceful Mind, Peaceful Life

Bacaan: Filipi 1:21–30
Ayat Hafalan: Filipi 1:29 – “Sebab, kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”

Lagu: Havenu Shalom – Kubawa Berita Sejahtera

Tujuan: Secara berkelompok, remaja dapat merancang sebuah “Pakta Perdamaian Kelas” yang berisi poin-poin komitmen untuk menjaga keharmonisan di grup chat atau pergaulan remaja gereja secara kreatif.

Penjelasan Teks
Filipi merupakan jemaat atau gereja pertama yang didirikan oleh Paulus, Silas, dan Timotius di Benua Eropa. Jemaat Filipi didirikan oleh Paulus dan rekan-rekannya pada perjalanan misi yang kedua. Surat Filipi ditulis ketika ia berada di dalam penjara sekitar tahun 60–62 M. Jemaat Filipi juga dikenal memiliki kepedulian besar pada pelayanan Paulus, khususnya ketika Paulus berada di penjara. Oleh karena itu, Surat Filipi berisi ungkapan sukacita dan ucapan syukur Paulus atas kondisi jemaat karena menjalani kehidupan dengan penuh kasih.

Dalam Filipi 1:21–30, Paulus mengatakan bahwa seluruh kehidupan adalah milik Kristus, “karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (ayat 21). Akan tetapi, dalam ketegangan antara memilih “aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus” (ayat 23) dan “tinggal di dunia” (ayat 24), ia memilih tetap tinggal bersama-sama dengan jemaat, supaya kehidupan jemaat semakin maju dan bersukacita dalam iman (ayat 25). Melalui surat ini, Paulus memiliki kerinduan yang sangat besar untuk dapat berjumpa dan tinggal bersama jemaat (ayat 26).

Selain itu, Paulus menasihati supaya kehidupan jemaat tetap sesuai dan setia dengan ajaran Kristus. Hal itu disampaikan karena ajaran Kristus bukanlah hal yang mudah dilakukan, sehingga mereka harus kuat, teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk satu iman (ayat 27). Menurut Paulus, pilihan untuk setia kepada ajaran Kristus dipandang oleh musuh sebagai tanda kebinasaan, namun bagi jemaat hal itu adalah keselamatan (ayat 28). Akhirnya, Paulus menyampaikan bahwa jemaat tidak diajar hanya menerima karunia dari Allah ketika percaya kepada Kristus, melainkan pada saat yang bersamaan juga mendapat panggilan untuk menderita untuk Allah (ayat 29).

Berdasarkan uraian di atas, dalam konteks “menjaga perdamaian”, upaya mewujudkannya perlu didasari oleh sebuah pilihan untuk tetap setia pada ajaran Kristus. Dengan demikian, “menjaga perdamaian” bukan berarti menoleransi segala bentuk pelanggaran dan kejahatan, melainkan hidup dengan dasar kasih satu dengan yang lain. Jika melihat kehidupan jemaat Filipi, upaya “menjaga perdamaian” dapat dilakukan dengan memiliki kepedulian yang besar atas kehidupan orang lain yang membutuhkan, baik secara materi maupun non-materi. Secara lebih konkret, “menjaga perdamaian” dapat dilakukan dengan berbagi sukacita dan berkat kepada yang lainnya.

Pendahuluan
Menurut KBBI, perdamaian adalah keadaan harmoni, tenang, dan aman yang ditandai dengan tidak adanya permusuhan, kekerasan, atau konflik. Ini mencakup situasi tanpa perang, adanya keadilan sosial, serta terwujudnya saling pengertian dan kerukunan antarindividu maupun antarkelompok. Perdamaian merupakan dambaan manusia untuk mencapai kesejahteraan hidup. Perdamaian juga memiliki arti penghentian permusuhan atau perselisihan. Dalam konteks yang lebih dalam, perdamaian mencakup kebebasan dari rasa takut akan kekerasan. Kemudian, kalau menurut firman Tuhan hari ini, perdamaian itu bagaimana, ya?

Mari kita buka dan baca firman Tuhan hari ini dari Filipi 1:21–30.

Cerita
Menurut firman Tuhan hari ini, Paulus menulis tentang hidup dengan dasar kasih satu sama lain dan hidup berpadanan dengan Injil (Ayat 27-28). Paulus menasihati agar jemaat hidup layak bagi Injil Kristus. Dengan demikian, berarti hidup dengan teguh berdiri dalam satu roh, sehati sejiwa berjuang untuk iman, dan tidak gentar menghadapi lawan. Paulus juga menasihati bagaimana hidup pengikut Kristus harus menjadi penjaga perdamaian. Menurut Paulus dalam ayat 22-23, hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Paulus menegaskan bahwa hidupnya adalah untuk Kristus. Jika harus mati, ia juga mengatakan bahwa kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan sebuah keuntungan. Mengapa demikian? Karena ia akan diam bersama Kristus.

Meskipun merindukan kematian bersama Kristus, Paulus memilih untuk tetap hidup di dunia. Hal ini didasarkan pada kebutuhan jemaat Filipi. Dengan terus hidup, ia dapat terus bekerja, melayani, dan memajukan iman mereka sebab hidup adalah untuk berbuah (Ayat 24-26), dan buah yang dipilih oleh Paulus adalah dengan menjadi “Penjaga Perdamaian”. Pilihan seperti Paulus bukanlah hal yang mudah, tetapi bisa dilakukan. Sebagai remaja kepunyaan Allah, kita juga bisa menjadi agen perdamaian itu di tengah kehidupan bergereja, kehidupan di keluarga, atau di komunitas-komunitas yang lain. Caranya adalah dengan tidak mudah ikut terbakar oleh situasi-situasi tidak baik: berani mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak baik, berani tidak disukai karena memiliki pendapat yang berbeda (jika itu baik), menjadi penengah apabila ada teman yang salah paham, dan lain-lain.

Aktivitas
Secara berkelompok, remaja dapat merancang sebuah “Pakta Perdamaian Kelas” yang berisi poin-poin komitmen untuk menjaga keharmonisan di grup chat atau pergaulan remaja gereja secara kreatif.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak