Minggu Biasa | Pembukaan Bulan Kitab Suci
Stola Hijau
Bacaan 1: Yehezkiel 33 : 7 – 11
Mazmur: Mazmur 119 : 33 – 40
Bacaan 2: Roma 13 : 8 – 14
Bacaan 3: Matius 18 : 15 – 20
Tema Liturgis: Alkitab Menuntun pada Pertobatan Ekologis
Tema Khotbah: Persekutuan yang Menjaga Kehidupan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yehezkiel 33 : 7 – 11
Kitab Yehezkiel lahir dari krisis nasional dan teologis besar dalam sejarah Israel, dimana Yerusalem dihancurkan, Bait Allah diruntuhkan, dan umat Allah dicabut dari tanah perjanjian, dalam pembuangan di Babel. Yehezkiel sendiri adalah seorang imam, anak Buzi yang termasuk dalam rombongan orang Yehuda yang dibuang bersama Raja Yoyakhin ke Babel ada tahun 597 SM. Keruntuhan Yerusalem, kehancuran Bait Allah, dan pembuangan yang dialaminya membuat jabatan Imam yang selama ini dimiliki Yehezkiel kehilangan maknanya. Imam tanpa altar dan ruang kudus, tidak berarti apa-apa. Ia lalu menerima penglihatan-penglihatan Ilahi yang mengubah total orientasi hidupnya: dari seorang imam yang terikat pada ruang ibadah, menjadi seorang nabi bagi umat yang hidup tanpa Bait Allah, tanpa tanah perjanjian, dan tanpa kepastian masa depan (lih. Yeh. 1:1-3). Oleh sebab itu, pesan kenabian yang diserukan Yehezkiel tidak muncul dari ruang aman, melainkan dari reruntuhan yang dipenuhi dengan penderitaan sekaligus harapan. Berita kenabiannya muncul di tengah kesesakan dan perjuangan untuk bertahan dan beradaptasi dimana identitas bangsa terguncang dan Bait Allah (sebagai bukti kehadiran Allah) hancur. Maka pertanyaan terbesar dari kitab ini adalah: “Apakah Tuhan masih menyertai? Apakah perjanjian dengan-Nya masih berlaku?”
Dalam situasi dan suasana batin inilah perikop Yehezkiel 33:7-11 disampaikan, dimana TUHAN kembali berfirman pada Yehezkiel dan menetapkannya sebagai “penjaga kaum Israel” (Ay. 7). Penetapan ini bukan sekadar jabatan simbolis, melainkan redefinisi panggilan profetik Yehezkiel. Dalam dunia kuno, seorang penjaga sebuah kota akan berada di titik tertinggi tembok kota untuk mengawasi datangnya ancaman dan bahaya. Tugasnya memang bukan melawan musuh secara langsung, melainkan memastikan bahwa seluruh kota mendengar dan berjaga bila ancaman itu akan datang. Dengan metafora tugas Yehezkiel ini, firman TUHAN perlu dipahami sebagai peringatan yang menyelamatkan kehidupan. Maka tugas Yehezkiel adalah menyampaikan firman Tuhan, diam atau menahannya bukan pilihan.
Ayat 8-9 menguraikan logika tanpa kompromi. Jika ada orang jahat mati karena kesalahannya tanpa pernah mendengar penjaga mengingatkannya, darah orang itu adalah tanggung jawab si penjaga. Gambaran ini menunjukkan bahwa kelalaian bukan sekadar kesalahan, namun kegagalan relasional yang serius. Dalam hal ini, diam berarti turut membiarkan kehancuran itu terjadi. Sebaliknya, jika sang penjaga telah memberikan peringatan namun orang jahat itu tak berbalik dari jalan kejahatannya, tanggung jawab tetap berada di tangan orang itu sendiri. Dengan demikian, Yehezkiel bukan diminta untuk memaksa pertobatan sebagai hasil pemberitaan, melainkan agar ia terus setia menyuarakan firman kebenaran betapapun berat dan menyakitkan.
Nada teks lalu terasa agak bergeser di ayat 10, ketika suara umat mulai terdengar, “pelanggaran dan dosa kami sudah tertanggung atas kami dan karena itu kami merana; bagaimana kami dapat tetap hidup?” Di sini umat mengakui pelanggaran dan dosanya, mereka pun menyampaikan keputus-asaan mereka. Inilah titik tergelapnya, dimana rasa bersalah berubah menjadi penghakiman atas diri sendiri, bahwa kehidupan tak mungkn berlanjut setelah kehancuran. Dan dalam titik kelam inilah, TUHAN menunjukkan isi hati-Nya, bahwa kehendak-Nya bukanlah kematian orang fasik melainkan pertobatannya. Seruan agar umat bertobat dan berbalik bukanlah ancaman, melainkan sebuah peringatan dan undangan. Allah bukan pribadi yang menikmati penghukuman, melainkan Allah yang tetap membuka jalan pengampunan bahkan setelah kehancuran terjadi.
Dengan demikian, pertobatan dalam bacaan kita ini bukan sekadar ekspresi rasa bersalah, melainkan perubahan arah yang konkrit. Sebuah gerak menuju Allah, menuju kehidupan yang diperbarui. Tuhan tidak pernah menghendaki umat-Nya tenggelam dalam penyesalan tanpa harapan atau berakhir dalam kehancuran penghukuman. Sebaliknya, melalui Yehezkiel sang penjaga, Allah menegur dan mengingatkan. Bukan untuk mematahkan atau mematikan, namun agar pintu menuju kehidupan itu tetap terbuka bagi umat yang bersedia bertobat.
Roma 13 : 8 – 14
Surat Roma ditulis Paulus kepada Jemaat yang tidak didirikannya. Jemaat di Roma adalah komunitas Kristen yang hidup di pusat “dunia” Romawi saat itu. Jemaat ini terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi, dengan latar belakang iman, budaya, dan etika yang beragam. Karena itu, Surat Roma bukan sekadar surat biasa. Surat ini banyak disebut sebagai sebuat refleksi teologis paling matang dan sistematis yang pernah ditulis oleh Paulus. Surat Roma berisi refleksi teologis mengenai Injil sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan dan membentuk kehidupan bersama. Paulus tidak hanya menjelaskan bagaimana manusia dibenarkan oleh Allah, melainkan juga bagaimana kebenaran itu harus terwujud dalam cara hidup sehari-hari. Sikap hidup Kristiani mestilah terlihat bukan hanya di dalam gereja, namun juga dalam sikap terhadap hukum dan otoritas sebagai kesaksian di tengah dunia yang tidak selalu ramah. Demikianlah Rasul Paulus melalui Surat Roma mengajak orang percaya untuk hidup konsisten sebagai murid Kristus.
Perikop bacaan kita hari ini merupakan jembatan penting dalam bagian etika Surat Roma secara keseluruhan (12:1-15:13). Setelah Paulus bicara mengenai relasi dengan sesama dan dengan negara (13:1-7), kini ia bicara mengenai hutang. Hutang yang dimaksud Paulus di sini bukan hanya soal finansial, melainkan dalam makna etika relasional yang lebih luas. Paulus menegaskan bahwa satu-satunya hutang yang tidak pernah bisa lunas adalah kasih (Ay. 8). Tentu Paulus tidak sedang hendak mengatur perkara utang-piutang, melainkan sedang menggeser logika kewajiban yang dihidupi oleh orang yang berada di budaya Mediterania kuno, budaya yang sangat menekankan timbal balik, balas membalas jasa dan kehormatan.
Dalam dunia Romawi, relasi sosial dibangun di atas prinsip memberi dan menerima secara seimbang dan proporsional. Sedang Paulus, justru menempatkan “kasih” sebagai tugas dan kewajiban yang melampaui logika timbal balik tadi. Kasih harus terus menerus diberikan tanpa perhitungan soal kapan akan didapatkan kembali. Dengan demikian, kasih bukan hanya berdasar logika melainkan sebuah kesadaran dalam kerangka pemenuhan seluruh hukum Taurat. Paulus lalu menyebut beberapa perintah yang sangat familiar: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, dan jangan mengingini, untuk menegaskan bahwa semua perintah itu berpuncak pada satu prinsip, yaitu kasih (Ay. 9-10). Kasih di sini bukanlah emosi sesaat, namun tindakan konkrit yang menolak untuk menyakiti orang lain. Karena kasih adalah dasar dari segala perbuatan baik, maka kasih itulah penggenapan semua hukum Allah.
Paulus tidak berhenti di hubungan relasional saja, di ayat 11-14, ia membawa pembaca masuk ke dalam kesadaran waktu. Paulus mengingatkan jemaat bahwa mereka hidup dalam sebuah momen: “keadaan waktu sekarang.” Bahasa yang digunakan Paulus ini sangat syarat dengan nuansa eskatologis. Dimana hidup orang percaya digambarkan seperti orang yang sedang tidur dan kini dipanggil untuk bangun, karena keselamatan sudah lebih dekat. Gambaran malam yang sudah jauh berlalu dan siang yang hampir datang (Ay. 12) menempatkan kehidupan orang percaya di masa antara already dan not yet, antara masa yang hampir berlalu dan realita baru di dalam Kristus. Kesadaran akan waktu inilah yang lalu menuntut respons etis yang nyata. Bahwa orang percaya harus menanggalkan “perbuatan-perbuatan kegelapan” dan digantikan dengan “perlengkapan senjata terang.” Metafora eskatologis ini sesungguhnya bicara soal perubahan, dimana hidup dalam terang berarti hidup selaras dengan realita baru yang telah dimulai di dalam Kristus.
Perikop ini berpuncak di ayat 14. Ungkapan “mengenakan Kristus” bicara mengenai partisipasi yang menyeluruh. Sama seperti kita “mengenakan” pakaian yang menutupi keseluruhan diri, demikian juga mengenakan Kristus. Dimana orang percaya dipanggil untuk membungkus keseluruhan dirinya di dalam Kristus, termasuk cara berpikir, bertindak, dan berbicara. Dengan demikian, kehidupan mereka ada dalam kendali Kristus dan mencerminkan terang Kristus. Dalam konteks jemaat mula-mula saat itu, baik di Roma maupun di kota-kota lain, surat ini memiliki bobot pastoral yang sangat kuat. Dimana kasih menjadi “hukum” yang mempersatukan, meskipun sebelumnya mereka memiliki standar etis yang berbeda-beda. Kasih menjadi pusat yang mempersatukan dan kesadaran eskatologis menolong jemaat saat itu (dan juga kita sekarang) untuk tidak terjebak pada konflik internal, namun hidup sebagai komunitas yang mencerminkan terang Kristus di tengah dunia. Dengan demikian jelas bahwa hidup kekristenan bukanlah hidup yang berdasarkan pada sejumlah aturan dan larangan, melainkan cara hidup yang lahir dari kasih, diarahkan oleh harapan, dan dibentuk oleh tujuan kepada Kristus.
Matius 18 : 15 – 20
Perikop kita berada dalam rangkaian pengajaran Yesus mengenai kehidupan bersama dalam komunitas murid. Seluruh pasal 18 sering disebut sebagai discourse on community, dimana Yesus tidak membicarakan soal orang luar, namun bicara mengenai relasi internal. Relasi antara mereka yang sama-sama mengaku sebagai pengikut Kristus. Setelah menekankan perhatian pada yang kecil dan rentan di ayat 1-14, Yesus bicara tentang situasi yang tak terhindarkan dalam kehidupan bersama, yaitu bagaimana menghadapi dosa dan konflik di dalam komunitas. Dengan demikian, teks ini bukan dibaca sebagai prosedur hukum yang kaku, melainkan sebagai kelanjutan dan perwujudan dari kasih Allah yang mencari, mengampuni, dan memulihkan umat yang tersesat.
Yesus mengawali pengajarannya dengan gambaran situasi yang sangat personal, “apabila saudaramu berbuat dosa…” (Ay. 15). Istilah “saudara” (Yun. Adelphos) bukanlah bahasa formal, melainkan bahasa relasional. Karenanya, pendekatan pertama yang diajarkan oleh Yesus bukan membuka atau membicarakan kesalahan di ruang publik, melainkan perjumpaan empat mata. Dengan demikian diharapkan perjumpaan itu dapat menolong orang berdosa untuk kembali dan berbalik dari dosanya, tanpa menimbulkan kegaduhan atau mengekspos dosa yang bersangkutan. Hasil yang diharapkan dari pertemuan itu adalah “engkau telah mendapatkannya kembali”, sebuah pemulihan relasi melalui perjumpaan pastoral. Namun Yesus juga realistis. Ia mengakui bahwa tidak semua teguran akan diterima. Karena itu, langkah kedua melibatkan satu atau dua orang lain (Ay. 16), dengan rujukan pada prinsip Taurat tentang dua atau tiga saksi (Ul. 19:15). Akan tetapi, para saksi yang dihadirkan ini bukan pendakwa yang memperberat penghukuman, melainkan untuk memberi ruang lebih luas pada dialog dan memastikan bahwa proses yang dialami tidak didorong oleh emosi. Mereka adalah penopang kebenaran dan penjaga keadilan relasional. Proses ini menunjukkan bahwa kebenaran dalam komunitas murid Yesus tidak berdiri di atas opini pribadi semata, namun komunitas Kristen hadir untuk menopang upaya pemulihan, bukan untuk mempercepat penghukuman.
Barulah setelah semua upaya personal dan komunal tetap saja gagal, persoalan ini dapat disampaikan pada jemaat (Ay. 17). Tentu upaya akhir ini bukanlah bentuk pengadilan, namun menunjukkan bahwa komunitas orang percaya juga dipanggil untuk sabar dan turut terlibat dalam menempuh proses pemulihan seorang saudara. Bahkan ketika yang bersangkutan tetap mengeraskan hati dan menolak kembali pada jalan kebenaran, Tuhan Yesus meminta mereka untuk memandang ia sebagai “orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Sebutan ini bukanlah izin atau alasan untuk membenci orang tersebut. Penyebutan ini adalah proses renaming (penamaan ulang) sebuah relasi, bahwa kini ia berada di luar persekutuan. Namun jangan lupa bahwa bukankah justru pelayanan dan karya Yesus justru terjadi di luar persekutuan? Injil Matius sendiri mengisahkan Yesus bukan saja makan bersama para pemungut cukai, namun juga memanggil salah seorang pemungut cukai sebagai murid-Nya (Mat. 9:9-13). Jadi jelas, bagi Yesus, penyebutan ini merupakan bentuk kasih yang mengundang pertobatan. Karena peluang bagi pertobatan tidak pernah benar-benar tertutup.
Ayat 18 lalu mengangkat persoalan ini ke tingkat teologis yang lebih dalam. Tuhan Yesus menegaskan otoritas komunitas dengan berkata, “Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga.” Pernyataan ini sering disalahpahami sebagai kuasa absolut untuk menghukum sesama, padahal dalam konteks tradisi rabinik, ini berkaitan dengan kewenangan untuk menilai apa yang diperbolehkan atau tidak, apa yang selaras dengan kehendak Allah dan mana yang tidak. Pernyataan tentang “mengikat dan melepaskan” tidak diberikan kepada individu tertentu, melainkan kepada komunitas murid secara kolektif. Jadi, kewenangan ini tidak dapat berdiri sendiri. Kuasa ini diberikan pada komunitas dalam kerangka tanggung jawab pastoral. Jadi, Gereja diberikan kewenangan dan kuasa untuk mengambil sikap dan keputusan etis demi menjaga kehidupan bersama, dan oleh kesadaran bahwa keputusan komunitas berada di bawah otoritas Allah sendiri.
Yesus lalu menutup perikop ini dengan janji yang luar biasa sebagai puncak pesan teologis-Nya, bahwa Ia selalu hadir dan beserta di dalam sebuah persekutuan, bahkan jika yang berkumpul hanya dua orang (Ay. 19-20). Ini berarti kehadiran Kristus adalah fondasi yang mendasari sebuah komunitas orang percaya. Maka, Yesus tak hanya berjanji akan hadir dalam komunitas yang besar dan mapan, tetapi juga pada persekutuan kecil yang bergumul dengan kebenaran dan kasih. Dengan demikian, gereja seharusnya tidak berjalan hanya dengan aturan, prosedur atau otoritas manusia, melainkan keyakinan bahwa Kristus sendiri yang hadir dan bekerja di tengah upaya manusia yang rapuh dan kadang sering kali dipenuhi ketegangan dan perselisihan itu. Dengan demikian, perikop ini menggambarkan kehidupan bersama dalam iman bukanlah ruang steril tanpa konflik dan kepentingan, melainkan ruang untuk mengelola konflik dengan cara kasih. Gereja sebagai komunitas beriman, serius dalam menyikapi dosa. Namun di saat yang sama, gereja lebih serius memproses pemulihan. Teguran yang diberikan bukanlah alat kekuasaan, melainkan ekspresi kasih dan usaha menjaga kehidupan bersama. Gereja dipanggil bukan untuk menghakimi, melainkan untuk berani menyuarakan kebenaran sembari terus berjalan bersama Sang Kepala yang senantiasa hadir di tengah-tengah proses pemulihan umat-Nya.
Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan menggambarkan umat Allah sebagai komunitas yang dipanggil untuk menjaga kehidupan satu sama lain. Yehezkiel adalah penjaga yang bertanggung jawab atas kehidupan umat Israel. Paulus memanggil jemaat Roma untuk membangun hidup bersama di atas kasih. Dan Yesus menegaskan bahwa gereja hadir untuk memulihkan, bukan menyingkirkan. Maka, Gereja menjadi tempat dimana kebenaran disuarakan dengan kasih, dengan tujuan menjaga kehidupan. Di sanalah Kristus hadir dan bekerja di tengah umat-Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Ada sebuah idiom klasik yang cukup terkenal: “Speech is silver, silence is golden.” Dalam Bahasa Indonesia, bagian kedua dari idiom inilah yang lebih dikenal “diam adalah emas.”
Ungkapan ini mengakui bahwa kata-kata memang penting, karena kata-kata bernilai, seperti perak, namun dalam situasi tertentu, keheningan justru lebih berharga, bahkan diibaratkan emas. Diam memberi ruang bagi diri sendiri untuk berpikir, dan bagi orang lain untuk menemukan kata-kata serta suara mereka. Dalam pengertian ini, diam bukanlah sikap abai, melainkan bentuk kepedulian, bukan lari dari relasi, melainkan memberi ruang agar relasi dapat bernafas. Masalahnya, dalam pengalaman kita berelasi dan bersosialisasi, diam sering kali berubah makna. Diam tidak lagi menjadi ruang pemulihan, melainkan dipakai sebagai hukuman (silent treatment). Kita pun sering diam ketika melihat yang keliru. Diam ketika relasi mulai retak. Diam karena takut menyinggung, takut konflik, takut kehilangan kenyamanan. Diam bukan karena peduli, melainkan karena enggan terlibat. Dan tanpa sadar, diam semacam ini justru bisa melukai dan mematikan kehidupan bersama.
Namun bacaan-bacaan kita hari ini mengajak kita menilai ulang keheningan seperti ini. Ketiga teks Alkitab tidak memuliakan diam yang membiarkan kehancuran, melainkan menyingkapkan panggilan umat Allah sebagai persekutuan yang menjaga kehidupan. Persekutuan yang tahu kapan harus memberi ruang untuk keheningan dan kapan harus berani bersuara demi kehidupan.
Isi
Kitab Yehezkiel membawa ingatan pembacanya ke situasi ekstrem dalam sejarah Israel: kehancuran Yerusalem, runtuhnya Bait Allah, dan pembuangan di Babel. Dalam kondisi inilah Allah menetapkan Yehezkiel sebagai penjaga. Seorang penjaga, dalam dunia kuno, tidak dipuji karena keheningannya, melainkan karena kewaspadaannya. Ia tidak menyelamatkan kota dengan pedang, melainkan dengan suara yang dinyaringkan, dengan peringatan. Maka Allah berkata dengan tegas, jika penjaga diam ketika bahaya datang, darah orang yang binasa dituntut dari tangannya. Di sini kita belajar bahwa diam tidak selalu emas. Ada keheningan yang justru menjadi kegagalan relasional. Kasih, dalam konteks ini, menuntut keberanian untuk bersuara—bukan untuk menghukum, tetapi untuk menjaga kehidupan.
Rasul Paulus lalu menempatkan panggilan untuk bersuara ini dalam kehidupan bersama yang lebih luas. Paulus berbicara tentang kasih sebagai hutang yang tidak pernah lunas. Dalam budaya yang sangat menekankan timbal balik dan kehormatan yang dihidupi oleh masyarakat Yunani saat itu, Paulus menggeser logikanya bahwa kasih tidak berhenti ketika relasi menjadi sulit. Kasih harus terus memberi bahkan saat ia tak mendapatkan balasan sama sekali. Kasih tidak memilih diam demi kenyamanan diri. Kasih justru terus terlibat, terus bekerja, terus menjaga kehidupan bersama. Karena itu, Paulus mengajak jemaat hidup dalam terang, dengan menanggalkan perbuatan kegelapan, dan mengenakan Kristus. Sebuah cara hidup yang berada dalam kerangka kasih dan kehendak Kristus. Hidup dalam terang berarti tidak membiarkan relasi dikuasai oleh keheningan yang dingin dan memisahkan.
Penginjil Matius lalu memperlihatkan bagaimana panggilan ini diaplikasikan secara konkret dalam relasi berkomunitas. Yesus mengakui bahwa dalam komunitas yang berisi orang-orang yang percaya pada-Nya pun tak luput dari dosa dan konflik. Tetapi Tuhan Yesus juga tidak membenarkan penghakiman yang kejam. Ia mengajarkan proses yang bertahap, relasional, dan penuh kesabaran, dengan satu tujuan yang jelas: mendapatkan kembali saudara yang hilang. Gereja tidak dipanggil untuk melakukan silent treatment, tetapi juga tidak untuk mempermalukan. Gereja dipanggil untuk berbicara dalam kasih, dan mengasihi dengan tanggung jawab. Bahkan ketika relasi harus diberi jarak, pintu pertobatan tidak pernah benar-benar ditutup.
Dari ketiga bacaan ini, kita dapat belajar bahwa kita semua memiliki panggilan yang sama, yaitu Allah meletakkan masing-masing kita sebagai individu di tengah-tengah kehidupan komunal. Karena hanya dalam kehidupan komunal, dalam persekutuanlah, kita dapat saling menjaga kehidupan. Persekutuan yang harus berani bersuara demi kehidupan, tak segan membangun relasi bahkan dengan yang memusuhi di atas kasih, dan memproses konflik dengan tujuan pemulihan relasi.
Penutup
Jika kita kembali pada idiom di awal tadi: speech is silver, silence is golden. Bacaan hari ini tidak menolak keheningan, tetapi mengajarkan kita untuk membedakan keheningan yang menyembuhkan dan keheningan yang melumpuhkan. Diam bisa menjadi emas ketika ia memberi ruang bagi pertumbuhan. Tetapi diam berubah menjadi beban ketika ia membiarkan relasi mati perlahan. Persekutuan yang menjaga kehidupan adalah persekutuan yang tidak sembunyi di balik keheningan, tetapi juga tidak asal berbicara. Ia berani menyuarakan kebenaran dalam kasih, dan menghidupi kasih dengan tanggung jawab. Dan kabar baiknya, Yesus sendiri berjanji: di tengah persekutuan seperti itulah (bahkan ketika hanya dua atau tiga orang yang bergumul dengan kebenaran dan kasih), Ia hadir dan bekerja. Kiranya kita dimampukan menjadi persekutuan yang tahu kapan diam itu emas, dan kapan suara kasih harus terdengar demi kehidupan bersama. Amin. [Rhe]
Pujian: PKJ. 14 Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Wonten satunggaling paribasan ingkang kasuwur: “Speech is silver, silence is golden.” Ing basa Jawi, kalih perangan paribasan punika dipun tepang kaliyan tembung, “Meneng kuwi emas.” Tembung punika ngakeni bilih ukara-ukara punika pancen wigati lan nggadhahi nilai, kados saloka (perak), nanging ing kahanan tartamtu, ening punika langkung aji tinimbang emas utawi saloka punika. Ening punika paring papan kangge dhiri pribadi kangge mikir, lan kangge tiyang sanes, ening punika saged kangge manggihaken ukara-ukara ugi suwanten piyambakipun. Saking pangertosan punika, mendel punika sanes sikep mboten peduli nanging kapedulian, mboten mlajeng saking hubungan nanging paring papan supados hubungan punika saged kawangun. Masalahipun, salebeting pengalaman anggen kita mangun hubungan lan bersosialisasi, asring mendel punika owah maknanipun. Mendel punika mboten dados ruang pamulihan malih, nanging dipun damel minangka ngukum tiyang sanes. Kita ugi asring mendel nalika kita ningali prekawis ingkang lepat. Mendel nalika hubungan milai retak. Mendel awit kita ajrih nyinggung tiyang sanes, kita ajrih kaliyan konflik, kita ajrih kecalan kanyamanan. Kita mendel mboten karana peduli nanging karana kita mboten purun cawe-cawe. Tanpa kita sadar, mendel kados punika saged nglarani lan mejahi pigesangan sesarengan.
Nanging waosan-waosan kita dinten punika ngajak kita kangge ningali malih tegesipun mendel ingkang kados punika. Tiga teks Kitab Suci ingkang kita waos mboten negesaken mendel ndadosaken karisakan, nanging nyingkepaken timbalan umatipun Allah minangka patunggilan ingkang njagi pigesangan. Patunggilan ingkang mangertos kapan wancinipun paring ruang kangge ening lan kapan wancinipun wicanten kangge kelajengan gesang.
Isi
Kitab Yehezkiel punika mbeta para pamaosing kitab ing kahanan sejarahipun Israel ingkang nyariosaken: risaking kutha Yerusalem, rubuhing Padalameman Suci, lan pambuwangan ing Babel. Ing kahanan ingkang kados punika, Gusti Allah netepaken Yehezkiel minangka Juru Jaga. Juru Jaga ing donya kuno punika mboten badhe dipun puji awit eningipun nanging awit kawaspadanipun. Piyambakipun mboten nylametaken kutha saking pedang nanging kanthi suwara sora lan pepengetipun. Ing ngriki Gusti Allah ngendika kanthi teges bilih Juru Jaga punika mendel nalika marabaya dumugi, rahing tiyang ingkang pejah dipun tuntut saking astanipun Juru Jaga punika. Ing ngriki kita saged sinau bilih mendel punika mboten selaminipun emas. Wonten suwasana ening ingkang malah dados kagagalan hubungan. Tresna ing konteks kita punika nuntut kita wantun wicanten, mboten kangge ngukum nanging kangge njagi pigesangan.
Rasul Paulus nedahaken bilih timbalan kangge wicanten ing pigesangan ingkang langkung wiyar. Paulus ngendika bilih tresna minangka utang punika mboten badhe lunas. Ing kabudayan ingkang mentingaken timbal balik lan pakurmatan ing satengahing masyarakat Yunani nalika semanten, Paulus nedahaken bilih tresna punika mboten mandek nalika hubungan punika dados ewet. Tresna punika kedah terus maringi, sanandyan mboten nampi walesanipun. Tresna mboten milih mendel kangge kaayeman dhiri. Tresna kedah terus wonten, terus makarya, terus njagi pigesangan sesarengan. Karana punika, Paulus ngajak pasamuwan gesang ing pepadhang srana nanggelaken tumindak peteng lan ngagem Sang Kristus. Satunggaling cara inggih punika gesang ing katresnan lan karsanipun Sang Kristus. Gesang salebeting pepadhang tegesipun mboten ndadosaken hubungan punika dipun kuwaosi kaliyan ening ingkang ayep lan misahaken.
Juru tulis Mateus nedahaken kados pundi timbalan punika dipun trepaken wonten ing pasamuwan. Gusti Yesus ngakeni bilih pasamuwan ingkang isinipun para tiyang pitados punika mboten lepat saking dosa lan pasulayan. Nanging Gusti Yesus mboten mbeneraken pangukuman ingkang kejem. Panjenenganipun ngajaraken bab proses ingkang tumata, relasional, lan kedah sabar, kanthi satunggal tujuan ingkang jelas, inggih punika manggihaken malih sedherek ingkang ical. Greja mboten dipun timbali kangge nindakaken paukuman srana mendel (silent treatment), ugi mboten damel wirangipun tiyang. Greja dipun timbali kangge wicanten ing katresnan lan nresnani kanthi tanggel jawab sanadyan relasi kedah dipun paringi jarak, korining pitobat mboten nate saestu katutup.
Saking katiga waosan punika, kita saged sinau bilih kita sadaya nggadhah timbalan ingkang sami, inggih punika Gusti Allah mapanaken kita minangka pribadi ing satengah-tengahing gesang pasamuwan. Awit namung srana gesang ing pasamuwan punika, kita saged njagi pigesangan. Patunggilan kita kedah wantun wicanten, mboten isin kangge mbangun relasi, langkung-langkung relasi kaliyan mengsah kita kanthi tujuan mulihaken relasi punika.
Panutup
Bilih kita balik malih ing paribasan wiwitan: speech is silver, silence is golden, waosan kita dinten punika mboten nampik ening, nanging mucal kita kangge mbentenaken antawis ening ingkang nyarasaken lan ening ingkang nglumpuhaken. Mendel punika saged dados emas nalika mendel punika dipun paringi ruang kangge tuwuhing pemanggih. Nanging mendel ugi saged owah dados momotan nalika kita ngejaraken relasi punika mati. Patunggilan ingkang njagi pigesangan, inggih punika patunggilan ingkang mboten singitan ing walikipun ening punika, nanging ugi mboten asal wicanten. Piyambakipun kedah wantun wicanten bab kayekten ing katresnan, lan nindakaken tresna punika kanthi tanggel jawab. Kabar saenipun, Gusti Yesus piyambak sampun janji: ing satengah-tengahing patunggilan punika (sanadyan namung kalih utawi tiga tiyang ingkang nindakaken kayekten lan katresnan), Panjenenganipun rawuh lan makarya. Mugi kita sadaya kasagedaken dados patunggilan tiyang pitados ingkang mangertos kapan wancinipun mendel punika emas lan kapan wancinipun suwanten katresnan punika kedah kapireng ing pigesangan sesarengan. Amin. [Terj. AR].
Pamuji: KPJ. 370 Tresna Mring Sesami