Tahun Liturgi: HUT RI
Tema: Hidupku Berharga dan Menjadi Berkat
Judul: Mempersembahkan Hidup
Bacaan Alkitab: Roma 12:1-8
Ayat Hafalan: “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” (Efesus 4:3)
Lagu Tema: Lagu Pop Rohani, “Aku Diberkati”
Tujuan: Remaja dapat memahami makna persembahan hidup kepada Tuhan dan tanggung jawab menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Dalam Roma 12:1-8, Rasul Paulus menjelaskan bagaimana pengikut Kristus harus menjalani kehidupannya yang berkenan di hadapan Allah. Sebab oleh karena kemurahan Allah, manusia telah mendapatkan pengampunan dosa dan keselamatan. Salah satu bentuk tindakan yang perlu dilakukan adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1b). Rasul Paulus memakai kata “persembahan tubuh” karena hidup manusia lebih berharga dan harus didekatkan atau diserahkan kepada Tuhan. Kata “tubuh” yang dipakai Paulus ini untuk menggambarkan keseluruhan pengikut Kristus. Dalam tradisi agama Yahudi dan agama-agama lainnya pada zaman Paulus, memberikan persembahan kurban menjadi hal yang sangat penting bagi hidup mereka. Paulus mengatakan bahwa orang beriman tidak perlu lagi mempersembahkan binatang mati atau persembahan yang lain untuk menyenangkan Allah. Mereka lebih baik mempersembahkan seluruh hidup dirinya dalam pelayanan yang hidup kepada Allah.
Salah satu bentuk mempersembahkan hidup ialah belajar mengendalikan diri, baik hati dan pikiran untuk tidak serupa dengan dunia, supaya manusia dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Rasul Paulus menyampaikan: “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3). Kata “menguasai diri” dan tidak memikirkan hal yang lebih tinggi ini adalah kunci dari pengendalian diri yang harus dilakukan setiap orang percaya. Dalam menjalani hidup sebagai pengikut Kristus, setiap orang juga diperlengkapi dengan karunia-karunia yang berbeda-beda dengan tujuan agar bisa saling melengkapi dalam melakukan pelayanan, di antaranya: karunia bernubuat (kemampuan mendengar kehendak Allah dan menyampaikan kepada orang lain), karunia melayani, karunia mengajar, karunia menasihati, dan sebagainya. Semua ini merupakan karya Allah yang membuat kita hidup saling bersatu di dalam Kristus dan menjadi berkat bagi sesama.
Refleksi untuk Pamong
Setiap dari kita para pamong telah diberi karunia yang berbeda-beda dari Tuhan. Setiap hari telah menyaksikan karya Tuhan dan menerima berkat-Nya. Sebagai rasa sukacita dan syukur, mari kita memberi hidup kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan. Sebab Yesus saja bersedia memberikan nyawa-Nya bagi kita dan memberi kita keselamatan. Maka bila dibandingkan, apa yang kita berikan ini tidak pernah sebanding dengan kasih dan pengorbanan Tuhan bagi kita.
Untuk itu, mari kita memberi persembahan hidup untuk melayani Tuhan agar banyak orang yang mendengar tentang Injil dan mereka juga mengalami keselamatan. Pergunakan waktu, tenaga, pikiran, dan karunia-karunia yang dianugerahkan Tuhan sebagai sarana membangun kesatuan di dalam pelayanan dan gereja. Kita juga harus menyadari bahwa dalam melakukan pelayanan ataupun menjalani hidup sehari-hari, kita tidak pernah lepas dari tantangan serta godaan yang datang dari dalam maupun luar diri kita. Maka ingatlah firman Tuhan yang telah disampaikan oleh Rasul Paulus supaya kita mampu mengendalikan diri dan tidak hidup serupa dengan dunia.
Pendahuluan
Halo anak-anak remaja yang terkasih, selamat berjumpa dalam kasih Kristus. Pada hari ini kita bersyukur bisa saling berjumpa dalam keadaan sehat dalam ibadah anak dan remaja ini. Sebelum kita bersama mau belajar tentang firman Tuhan hari ini, kakak mau mengajak semua anak-anak untuk melakukan game merangkai karet menjadi sebuah game lompat tali, namun waktunya hanya 1 menit ya.
(Bahan dari tali karet, dan pamong diminta untuk mengajarkan terlebih dahulu kepada anak remaja.)
Inti Penyampaian
Permainan ini kita lakukan untuk mengingatkan bahwa waktu yang kita nikmati di dunia ini hanya sementara. Maka dari itu, hidup yang Tuhan anugerahkan kepada kita harus dipakai dengan sebaik-baiknya. Bagaimana kita mempergunakan waktu pemberian Tuhan dengan bijaksana?
Rasul Paulus lewat firman Tuhan menyampaikan supaya kita tidak hidup serupa dengan dunia, tetapi berubah oleh pembaruan budi, artinya: Pertama, kita menyadari bahwa dunia yang kita tinggali hanya sementara, jadi kita harus hidup takut akan Tuhan. Kedua, tidak menuruti keinginan daging seperti tindakan berbohong, mencuri, iri hati, mendendam, serakah, dan sebagainya.
Mari melakukan hal-hal yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan dengan cara mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Persembahan hidup di sini berarti kita memberi waktu, tenaga, pikiran, dan perbuatan hidup untuk berkata yang baik, berpikir yang positif dan optimis, melakukan kebaikan, kasih, dan pengampunan kepada sesama. Sebab persembahan tubuh lebih berkenan di hadapan Tuhan, dengan persembahan tubuh kita ikut mewartakan tentang firman Tuhan. Dalam agama Yahudi dan agama-agama lainnya pada zaman Paulus, memberikan persembahan kurban kepada Allah di Bait Allah Yerusalem. Persembahan yang dituntut oleh hukum Taurat adalah menyembelih hewan-hewan tertentu, serta membakar bulir-bulir gandum dan dupa. Besar kecilnya persembahan tergantung dari kemampuan seseorang. Persembahan diberikan kepada Allah dalam rangka mengakui kesalahan dan memohon pengampunan dosa. Selain itu, seseorang memberi persembahan sebagai tanda mengucap syukur atau memenuhi nazar kepada Tuhan.
Kita semua anak-anak Tuhan telah diberi karunia-karunia yang berbeda. Dalam Alkitab disebutkan ada karunia bernubuat (kemampuan mendengar kehendak Allah dan menyampaikan kepada orang lain), karunia melayani, karunia mengajar, karunia menasihati, dan sebagainya. Semua ini merupakan anugerah Tuhan yang harus kita pergunakan untuk membangun persatuan di mana pun kita berada. Seperti saat ini kita yang sedang merayakan HUT RI ke-81. Karunia-karunia yang Tuhan berikan ini mari digunakan dalam hidup sehari-hari, baik di sekolah dengan menasihati teman yang melakukan kesalahan, melerai teman yang melakukan diskriminasi; ketika kita di rumah, karunia yang kita miliki digunakan untuk berkomunikasi dengan baik kepada orang tua, saling berdamai dengan kakak ataupun adik; saat di lingkungan masyarakat, karunia yang Tuhan berikan digunakan untuk menghargai dan menghormati orang di sekitar kita.
Aktivitas
Mari kita menuliskan sebuah komitmen untuk sukacita mempersembahkan hidup dan mempergunakan karunia yang Tuhan berikan sebagai sarana membangun persatuan.