Mengalami Tuhan dalam Segala Sesuatu Khalwat Pendeta GKJW Gelombang II/2026

11 May 2026

Di tengah riuh rendah pelayanan yang tak jarang menguras energi dan batin, empat orang pendeta GKJW dipanggil dari tempat pelayanan masing-masing untuk melangkah masuk ke dalam ruang “hening” dalam Khalwat Pendeta Gelombang II/2026 berlangsung pada tanggal 4-9 Mei 2026, di kantor Majelis Agung GKJW. Perjalanan spiritual tersebut ditempuh oleh Pdt. Kristyanti Retno Wahyuni (GKJW Jemaat Bondowoso), Pdt. Merrys Kristien Vilawati (GKJW Jemaat Besowo), Pdt. Teguh Pylan Jaya (GKJW Jemaat Bangkalan), dan Pdt. Yhusep Adi Prasetya (GKJW Jemaat Klanting).

Khalwat bukan sekadar jeda dari rutinitas kantor gereja, melainkan sebuah keberanian untuk “menepi”. Mengambil inspirasi dari kedalaman makna khalwah, para peserta diajak untuk sengaja mengasingkan diri. Sebagaimana Kristus yang kerap menarik diri ke tempat yang sunyi sebelum melakukan karya besar, keempat pendeta ini memasuki masa sunyi untuk membedah kembali kedalaman motivasi dan memurnikan panggilan mereka di hadapan Sang Pemilik Hidup.

Dengan mengusung tema besar “Mengalami Tuhan dalam Segala Sesuatu” (1 Korintus 15:28), kegiatan ini tidak lagi bicara soal teori-teori teologis yang rumit. Fokus utamanya adalah transformasi dari sekadar “tahu tentang Tuhan” menjadi “mengalami Tuhan”. Para peserta dituntun untuk menemukan jejak-jejak kehadiran Ilahi dalam setiap kepingan peristiwa hidup—baik dalam tawa kemenangan maupun dalam luka yang belum sempat sembuh.

​Enam Hari Menelusuri Labirin Batin Alur perjalanan spiritual selama enam hari ini dirancang sebagai sebuah proses pengupasan lapisan-lapisan diri:

  • Ziarah Ego: Pada hari kedua, suasana hening membawa mereka pada refleksi “Aku dan Egoku”. Di sini, para pendeta diajak berdamai dengan diri sendiri, menyadari bahwa pelayanan seringkali terganggu oleh ambisi pribadi, dan belajar melepaskan kendali agar Tuhan yang bekerja sepenuhnya.
  • Akar dan Rumah: Memasuki hari ketiga, refleksi bergeser ke ranah domestik melalui tema “Aku dan Keluargaku”. Keluarga tidak lagi dilihat sebagai pendukung pelayanan semata, melainkan sebagai tempat sakral di mana jati diri seorang pendeta diuji dan dipulihkan.
  • Persahabatan Jiwa: Hari keempat menjadi momen penguatan kolektif melalui “Anam Cara – Sahabat Bagi Jiwa”. Melalui sesi ini, tumbuh kesadaran bahwa mereka tidak berjalan sendirian; ada rekan sekerja yang siap menjadi cermin dan penopang bagi satu sama lain.
  • Puncak di Parantijati: Keheningan mencapai puncaknya pada hari kelima di Taman Doa Karmel Parantijati, Pandanlandung. Dalam pelukan alam dan suasana doa yang kental, para peserta merayakan kebersatuan mereka dengan semesta, menerjemahkan seluruh perenungan menjadi komitmen nyata.

Perjalanan selama mengikuti khalwat ini ditutup pada hari keenam dengan sebuah ikrar “Komitmen”. Menggemakan kesediaan yang tulus, para peserta kini bersiap kembali ke tempat pelayanan masing-masing: Jemaat Bondowoso, Jemaat Besowo, Jemaat Bangkalan, dan Jemaat Klanting. Mereka tidak membawa oleh-oleh dalam wujud fisik maupun program baru untuk didaratkan bagi jemaat, melainkan mereka membawa “diri” yang dipenuhi dengan semangat baru—diri yang lebih tenang, lebih peka terhadap bimbingan Roh Kudus, dan lebih siap untuk terus mengalami Tuhan dalam setiap jengkal perjalanan kemusafiran bersama jemaat yang dilayani.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak