Pemahaman Alkitab (PA) Juni 2026 (I)
Bulan Kespel
Bacaan: Yosua 1 : 1 – 11
Tema Liturgis: Rumah Kita, Rumah Tuhan
Tema PA: Dimana Bumi Dipijak, Di Situ Tuhan Beserta Kita
Pengantar:
Ada peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Peribahasa ini memiliki makna: dimanapun seseorang berada, ia harus menghormati dan mengikuti aturan serta adat istiadat yang berlaku di tempat tersebut. Dalam konteks perantauan, peribahasa ini mengajarkan kita untuk bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tanpa melupakan identitas diri kita.
Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Arya di sebuah desa yang tenang. Suatu hari, ia memutuskan untuk merantau ke kota besar demi mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Sesampainya di kota, Arya merasa asing dengan segala hal yang baru. Aturan, kebiasaan, dan adat istiadat di kota sangat berbeda dengan desanya. Arya awalnya merasa kesulitan untuk beradaptasi. Ia sering kali merasa bingung dan canggung dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, ia tidak menyerah. Arya mulai memperhatikan bagaimana orang-orang di kota berinteraksi, bagaimana mereka berpakaian, dan bagaimana mereka bertindak. Ia juga mulai mencari informasi tentang aturan dan adat istiadat yang berlaku di kota tersebut. Secara perlahan, Arya mulai memahami dan menyesuaikan diri. Ia mulai belajar berbicara dengan bahasa yang digunakan di kota, mengikuti cara berpakaian yang sopan, dan menghormati aturan-aturan yang ada. Ia juga mulai mencari teman dan bergabung dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Setelah beberapa waktu, Arya berhasil beradaptasi dengan baik di kota. Ia mendapatkan pekerjaan yang layak, memiliki banyak teman, dan merasa nyaman dengan kehidupannya di sana. Ia tidak melupakan asal usulnya, tetapi ia juga mampu menghargai dan mengikuti aturan serta adat istiadat yang berlaku di tempat ia tinggal.
Dalam konteks kemenangan, peribahasa ini bisa diartikan bahwa untuk mencapai kemenangan, kita harus mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada. Kita harus memahami aturan main, strategi yang tepat, dan mampu bekerja sama dengan tim. Kemenangan bukan hanya tentang kemampuan individu, tetapi juga tentang kemampuan untuk menyesuaikan diri dan menghargai orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Jadi, meskipun kita mungkin memiliki impian atau tujuan yang besar, kita tetap harus menghargai dan mengikuti aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungan sekitar kita. Dengan begitu, kita akan memiliki fondasi yang kuat untuk meraih kemenangan dan mencapai kesuksesan. Demikian pula hal yang paling penting dari seorang yang percaya akan Tuhan, selain hal di atas, juga perlu keyakinan kuat bahwa di mana bumi dipijak, di situ Tuhan beserta kita, sebagaimana dalam teks kita kali ini, Yosua 1:1-11.
Penjelasan Teks:
Yosua adalah pemimpin dari kelompok 12 pengintai yang dikirim ke Kanaan sebelum Israel memasuki Tanah Perjanjian (Bil. 13:4-16). Di antara 12 pengintai itu, hanya Kaleb dan Yosua yang kembali dari Kanaan dengan laporan yang penuh iman, yakin bahwa Tuhan akan memberdayakan Israel untuk mengatasi tantangan dalam penaklukan Kanaan. Karena kesetiaan mereka, Yosua dan Kaleb adalah orang Israel dewasa dari generasi yang meninggalkan Mesir, yang bertahan hidup bertahun-tahun di padang gurun dan memasuki Kanaan (Bilangan 14:30). Sekitar 38 tahun sebelum peristiwa Yosua 1, Yosua percaya Tuhan akan bekerja melalui Israel untuk memberi mereka tanah itu, dan dia masih mempercayainya. Musa tidak diizinkan untuk memimpin Israel masuk ke Tanah Perjanjian karena ketidaktaatannya (Bilangan 27:12-14). Hosea (keselamatan) tetapi Musa mengubah namanya menjadi Yosua.
Allah menyadari peralihan kepemimpinan dari Musa kepada Yosua. Musa telah diratapi sebagaimana mestinya (Ul. 34:8); kini saatnya untuk menatap ke depan, pada pekerjaan baru yang akan Allah lakukan melalui pemimpin baru Israel. Bukankah aneh bahwa setelah kematian Musa, keputusasaan total tidak menyelimuti seluruh perkemahan, karena ia yang mereka harapkan akan memberi mereka ketenangan telah meninggal sebelum penaklukan apapun dilakukan di Kanaan? Namun, kita mendapati bahwa mereka tidak patah semangat; Tuhan Allah yang memberi mereka Musa, kini telah memberi mereka Yosua sebagai penggantinya; dan mereka kini telah menyadari sepenuhnya jika Tuhan menyertai mereka, tak seorang pun dapat mengalahkan mereka.
Allah menjanjikan tanah ini kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan anak-anak Yakub (Israel). Janji-janji ini menonjol dalam kitab Kejadian (Kejadian 12:1-3, 12:7, 13:14-17, 15:7, 15:18-21, 17: 8, 24: 7, 26:3-4, 28:3-4, 28:13-14, 35:9-13, 48:3-4, 50:24). Berdasarkan akta kepemilikan, orang Israel tidak pernah memiliki tanah Kanaan, kecuali tempat pemakaman para leluhur di Hebron (Kej. 23:19-20). Mereka tidak tinggal di tanah Kanaan selama sekitar 400 tahun. Namun, tanah yang telah dijanjikan Allah kepada Israel itulah yang sekarang mereka miliki. Seluruh tanah itu diberikan kepada Yosua dan Israel, tetapi mereka hanya dapat memiliki apa yang mereka klaim (setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu). Apa yang mereka miliki harus diperjuangkan, melawan perlawanan yang gigih, karena merebut tanah itu memerlukan usaha. Mereka harus terus maju untuk meraih apa yang telah Tuhan janjikan untuk mereka miliki. Kekuatan dan penyertaan Tuhan akan selalu mereka terima, saat mereka sungguh-sungguh percaya Tuhan beserta mereka dan mereka selalu bekerjasama dengan Tuhan. Maka sangatlah penting bagi mereka memiliki semboyan “di mana bumi dipijak, di situ Tuhan beserta”.
Relevansi:
Dalam bulan Kespel 2026 ini, kita diterangi tema liturgis “Rumah kita, Rumah Tuhan”, oleh karena itu kita diingatkan untuk memperbarui komitmen kita kepada Tuhan dan melayani Dia dengan segenap hati. Dalam Yosua 1:1-11, kita melihat bagaimana Tuhan memerintahkan Yosua untuk memasuki Tanah Perjanjian dan menjanjikan penyertaan. Seperti Yosua, kita juga dapat mengalami penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, bahkan ketika kita menghadapi tantangan dan kesulitan. Tuhan memerintahkan Yosua untuk kuat dan berani memasuki Tanah Perjanjian. Kita juga dapat mengalami kekuatan dan keberanian dari Tuhan dalam hidup kita.
Seperti Yosua, kita dipanggil untuk melayani Tuhan dengan segenap hati dan taat pada perintah-Nya. Kita dapat membagikan kesaksian tentang penyertaan Tuhan dalam hidup kita kepada orang lain, sehingga mereka juga dapat mengalami kekuatan dan keberanian dari Tuhan. Mari kita memperbarui komitmen kita kepada Tuhan dan melayani-Nya dengan segenap hati. Mari kita percaya bahwa Tuhan akan menyertai kita di mana pun kita berada dan memberikan kita kekuatan dan keberanian untuk menghadapi setiap tantangan. Mari kita berdoa memohon kekuatan dan keberanian dari Tuhan untuk melayani-Nya dengan segenap hati. Mari kita membagikan kesaksian tentang penyertaan Tuhan dalam hidup kita kepada orang lain.
Kita tidak perlu takut atau ragu-ragu ketika menghadapi masa depan. Tuhan akan menyertai kita di mana pun kita berada. Di mana bumi dipijak, di situ Tuhan beserta kita. Mari kita percaya kepada Tuhan dan taat pada-Nya, sehingga kita dapat mengalami kekuatan dan penyertaan-Nya dalam hidup kita. Dengan meyakini penyertaan Tuhan, di mana pun kita berada, maka kita akan selalu menerima penyertaan dan pertolongan-Nya di mana pun kita tinggal. Rumah kita juga Rumah Tuhan.
Pertanyaan Untuk Didiskusikan:
- Apakah yang membuat Yosua dan bangsa Israel berhasil masuk dan merebut tanah Kanaan?
- Di saat gereja atau keluarga kita kurang semangat dalam bersaksi dan berpelayanan, apakah yang bisa kita lakukan berdasarkan teladan Yosua di atas? [JS].
Selamat ber-PA, Tuhan Yesus memberkati.
Pemahaman Alkitab (PA) Juni 2026 (II)
Bulan Kespel
Bacaan: Ibrani 3 : 1 – 6
Tema Liturgis: Rumah Kita, Rumah Tuhan
Tema PA: Setialah kepada Rumah Tuhan, seperti Musa!
Pengantar:
Bayangkan sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang bijaksana. Raja tersebut memiliki seorang penasihat utama, seorang menteri yang sangat setia dan dihormati. Namun, suatu hari, sang raja memutuskan untuk membangun sebuah istana megah yang akan menjadi pusat pemerintahan dan simbol kebesaran kerajaan. Raja tersebut menunjuk seorang arsitek terkenal untuk merancang dan membangun istana itu. Arsitek ini bekerja keras, penuh dedikasi, dan karyanya menjadi contoh keindahan dan kemegahan. Ketika istana selesai dibangun, semua orang kagum dan memuji keindahan dan kemegahannya. Menteri setia yang dulu dihormati, sekarang dilihat sebagai bagian dari istana itu sendiri, sementara arsitek, sang pembangun istana, menjadi sosok yang paling dihormati dan dipuji karena karyanya yang luar biasa.
Ilustrasi ini menggambarkan hubungan antara Yesus dan Musa. Musa, seperti menteri setia adalah hamba yang setia dalam rumah Allah, yaitu bangsa Israel. Namun, Yesus, seperti arsitek, adalah pembangun rumah Allah, yaitu gereja. Yesus membangun rumah Allah dengan karya penebusan-Nya, dan karena itu, Ia lebih mulia dan lebih dihormati daripada Musa.
Penjelasan Teks:
Yesus menguduskan kita dan itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut kita saudara dan saudari (2:11). Kita berbagi dalam panggilan surgawi. Yesus telah menguduskan kita dan sedang membawa kita kepada kemuliaan, mengambil bagian dalam panggilan surgawi. Yesus, Sang Rasul dan Imam Besar pengakuan iman kita. Sekilas, ini tampak seperti sebutan yang tidak lazim bagi Yesus. Bagaimana Yesus bisa menjadi rasul? Rasul adalah orang yang diutus Allah dengan wewenang untuk berbicara atas nama Allah dan mewakili Allah bagi manusia. Rasul adalah agen tertinggi wahyu Allah, yang mengemban wewenang penuh Allah atas namanya. Dengan mengingat hal ini, sebutan bagi Yesus ini masuk akal karena inilah inti pokok yang dijelaskan dalam pasal 1. Dahulu Allah berfirman dengan berbagai cara dan berkali-kali melalui para nabi. Namun, di akhir zaman ini Allah telah berfirman kepada kita melalui seorang Putra. Maka, kita harus mempertimbangkan pentingnya Yesus sebagai Imam Besar dan Rasul kita.
Yesus setia kepada Dia yang telah mengangkat-Nya (Bapa) sebagaimana Musa juga setia di seluruh rumah Allah. Ini adalah pernyataan yang sangat penting tentang Musa. Pernyataan tentang Musa ini sebenarnya merupakan kutipan dari Kitab Suci. Dalam Bilangan 12, kita mungkin ingat bahwa Harun dan Miryam menantang otoritas Musa. Mereka menentang Musa karena Musa menikahi seorang perempuan Kush. Maka mereka menyatakan betapa pentingnya diri mereka sendiri bahwa Tuhan juga telah berbicara melalui mereka. Maka Tuhan memanggil mereka dan mendengarkan apa yang Tuhan katakan tentang Musa kepada Harun dan Miryam.
Mari kita perhatikan bahwa kutipan yang digunakan penulis kitab Ibrani dari Bilangan 12:5-8, merupakan pernyataan kemuliaan dan keagungan. Musa tidak boleh dicela karena ia setia di seluruh rumah Allah. Allah berbicara kepadanya dengan jelas dan ia dapat melihat rupa Tuhan. Musa sungguh mulia. Musa adalah perantara utama wahyu Allah, perantara perjanjian, dan pemimpin umat Allah. Namun, perhatikan ayat 3-4. Yesus telah dianggap layak menerima kemuliaan yang lebih besar daripada Musa. Mengapa Yesus memiliki kemuliaan yang lebih besar daripada Musa? Musa memang mulia. Firman yang Tuhan ucapkan tentang Musa tidak Ia katakan tentang orang lain. Jadi, bagaimana Yesus bisa memiliki kemuliaan yang lebih besar? Jawabannya sederhana, menurut penulis Ibrani. Pembangun rumah memiliki lebih banyak kehormatan daripada rumah itu sendiri. Semulia rumah, orang yang membangunnya menerima kemuliaan yang lebih besar. Kita melakukan itu sepanjang waktu. Kita bermegah dalam sesuatu yang menakjubkan, lalu bertanya, “Siapa yang membuatnya?” Kita melakukan itu karena pembangun dan perancangnya lebih agung daripada objek itu sendiri. Sekarang, ada argumen logis yang sangat penting yang disajikan di sini untuk kita pertimbangkan. Yesus adalah pembangun rumah (3:3). Pembangun segala sesuatu adalah Allah (3:4). Jadi, apa kesimpulannya? Yesus adalah Allah. Yesus adalah Putra Ilahi karena Dia adalah pembangun rumah dan Allah membangun segala sesuatu. Yesus layak menerima penghormatan yang lebih besar karena Dia adalah pembangunnya. Musa adalah orang yang agung dan setia sebagai hamba di seluruh rumah Allah (3:5). Namun, Musa hanyalah gambaran kebenaran yang akan diungkapkan kemudian dalam diri Yesus. Musa adalah seorang hamba dan dia agung dan mulia. Namun, Yesus setia sebagai Putra atas rumah Allah.
Dengan demikian, Ibrani 3:1-6 mengajarkan kita untuk menghargai Yesus sebagai Kepala Rumah Allah yang lebih besar dari Musa, dan untuk tetap setia kepada-Nya dalam segala hal.
Relevansi:
GKJW sebagai rumah kita yang juga adalah rumah Tuhan. GKJW merupakan tempat atau wahana bagi setiap orang percaya untuk merasakan, menerima, dan menghayati begitu besar kasih Tuhan Yesus dalam karya keselamatan dan penyertaan-Nya kepada umat manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Setelah itu, umat dipanggil untuk menyatakan kesaksian dan pelayanannya, baik di dalam gereja maupun di luar gereja, sehingga Injil Kerajaan Allah diberitakan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8, Matius 28:19, Pembukaan Tata Pranata GKJW th. 1996, Alinea I, II, III; Tata Gereja Pasal 4 ayat 1 dan 2).
Kegiatan pelayanan di bidang kesaksian adalah kegiatan menjadi saksi Yesus Kristus dan mewartakan berlakunya rencana karya dan kuasa Tuhan Allah dan penggenapannya atas dunia dengan segala isinya. (Pranata Bidang Kesaksian, Pasal 1). Kegiatan pelayanan di bidang Cinta Kasih (sering disebut pelayanan saja) adalah kegiatan menyatakan cinta kasih Tuhan Allah kepada dunia dengan segala isinya, untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin. (Pranata Bidang Pelayanan Cinta Kasih, Pasal 1). Dengan melakukan kegiatan pelayanan di bidang kesaksian dan cinta kasih tersebut, maka orang percaya di GKJW telah meneladani Yesus dan Musa, yang setia pada Rumah Tuhan. Yesus setia kepada Dia yang telah mengangkat-Nya (Bapa) sebagaimana Musa juga setia di seluruh rumah Allah.
Pertanyaan Untuk Didiskusikan:
- Mengapa Yesus dan Musa disebut setia pada Rumah Tuhan? Mengapa Yesus lebih besar dari Musa?
- Apakah yang dapat saudara lakukan di lingkup Jemaat, Majelis Daerah, maupun Majelis Agung, dalam mewujudkan kesaksian dan pelayanan cinta kasih saudara kepada masyarakat di sekitar saudara, sebagai bentuk kesetiaan saudara kepada Rumah Tuhan? [JS].
Selamat ber-PA, Tuhan Yesus memberkati.