Pemahaman Alkitab Mei 2026

1 April 2026

Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2026 (I)
Masa Undhuh–Undhuh

Bacaan: Kejadian 8 : 13 – 22
Tema Liturgis: Cinta Allah Melahirkan Kelimpahan Syukur
Tema PA: Menanti dalam Kegelisahan, Menuai dalam Syukur

Pengantar:
Ada sebuah kisah tentang seseorang yang mengendarai motor dalam keadaan hujan deras, melintasi jalan berkelok-kelok di sebuah kawasan perbukitan dalam kegelapan malam, dengan jurang yang berada di sisi kanan dan tebing tinggi di sisi kiri. Dalam kondisi gelap dan kondisi jalan yang licin, di sebuah tikungan tiba-tiba motor tersebut mengalami slip (tergelincir), akibatnya si pengemudi ini jatuh berguling-guling ke arah jurang. Si pengemudi ini berusaha dengan tangannya untuk meraih sesuatu, dan pada akhirnya ia berhasil memegang sebuah benda yang ternyata adalah batang pohon. Si pengemudi ini terus bergantungan. Dalam malam yang sangat gelap dan tidak dapat melihat apapun, Ia berdoa dan berseru kepada Tuhan, “Tuhan aku percaya kepada-Mu, nyatakan pertolongan-Mu, kiranya ada orang yang akan mengulurkan tali sehingga bisa mengangkat aku.”

Tiba-tiba pengemudi ini merasa ada suara yang berbicara di hatinya, “Jika engkau percaya kepada-Ku, lepaskan tanganmu.” Merasa keadaan gelap dan tidak bisa melihat keadaan sekitar, maka si pengemudi ini memutuskan untuk tetap bergantungan sepanjang malam, sambil terus berharap agar ada orang yang akan mengulurkan sebuah tali bantuan untuk menarik dirinya. Saat pagi datang dan cahaya matahari mulai menyinari, akhirnya orang ini bisa melihat, bahwa ternyata jarak tanah dengan posisinya tergantung hanya tinggal sekitar 50 cm, artinya jika ia melepaskan pegangan tangannya semalam, maka Ia bisa mendarat di tanah dan beristirahat hingga pertolongan datang.

Sebenarnya, Allah tidak pernah kekurangan cara untuk menolong umat-Nya. Hanya saja kadang kala kita kurang peka dengan cara Tuhan menolong kita. Kerap kali kita berdoa minta pertolongan Tuhan tetapi yang kita mau bentuk pertolongannya adalah sesuai dengan cara dan waktu kita. Kita lupa bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Kita menjadi kurang sabar dalam menanti pertolongan Tuhan. Menanti bukanlah sekadar pasrah dalam ketidakpastian tetapi juga berproses dalam iman dan keyakinan. Kegelisahan dalam masa penantian adalah bagian dari perjalanan, tetapi doa dan kepercayaan kepada Tuhan akan membawa ketenangan. Saat ini, kita akan belajar dari Nuh dalam menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan setelah melewati proses hidupnya dalam peristiwa air bah.

Penjelasan Teks:
Nuh menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Ia sangat mengerti bagaimana bersyukur kepada Allah dengan mendirikan mezbah dan mempersembahkan kurban bakaran, setelah ia dan keluarganya diselamatkan Tuhan Allah dari air bah.

Kisah “air bah” adalah bukti Allah tidak membiarkan manusia terus ada dalam kecenderungan melakukan kejahatan, menjalani hidup yang rusak dan perbuatan yang telah melampaui batas-batas tatanan yang diciptakan Allah. Dalam Kejadian 6, kita memperoleh informasi bahwa Allah memutuskan untuk menghapuskan makhluk hidup yang diciptakan-Nya di bumi, kecuali Nuh dan keluarganya. Karena dalam pandangan Allah, Nuh hidup bergaul dengan-Nya, seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Sehingga Nuh mendapatkan kemurahan hati dan belas kasih Allah. Nuh, isterinya, 3 orang anaknya (Sem, Ham, Yafet), 3 orang mantunya serta sejumlah jenis burung, hewan, dan juga binatang melata diluputkan dari pemusnahan yang direncanakan Allah. Dengan petunjuk-Nya, Nuh membuat sebuah bahtera agar Nuh dapat selamat dan nantinya Nuh dapat memulai sebuah kehidupan baru seusai peristiwa air bah.

Peristiwa air bah bukan hanya berdampak pada satu titik, bukan hanya satu hari atau satu minggu, tetapi ketika Allah membuat segala mata air di samudera pecah dengan dahsyat dan tingkap-tingkap langit dibuka oleh Allah lalu turun hujan lebat atas bumi selama empat puluh hari empat puluh malam, maka air bah menutupi seluruh permukaan bumi termasuk gunung bahkan diperkirakan 6-7 meter di atas puncak tertinggi yang ada di bumi.

Setelah mengapung selama 150 hari di atas air maka air bahpun perlahan mulai surut. Alkitab menuliskan pada bulan ketujuh hari ketujuh belas bahtera Nuh berhenti di atas pegunungan Ararat (sekarang diperkirakan merupakan pegunungan tertinggi di Turki). Air bah terus surut. Lalu, Nuh melepaskan seekor burung gagak yang terbang pulang pergi sampai air menjadi kering. Kemudian, Nuh melepas seekor Burung Merpati untuk melihat apakah air telah benar-benar surut dari muka Bumi. Kali pertama dan kedua, Merpati tidak mempunyai tempat untuk bernaung sehingga kembali ke bahtera (meskipun pada kedua kalinya membawa Daun Zaitun). Tujuh hari kemudian, Nuh kembali melepaskan Burung Merpati namun burung itu tidak pernah kembali ke bahtera, ini menandakan bahwa ia telah menemukan tanah yang kering untuk didiami. Hal ini meyakinkan Nuh bahwa air bah sudah surut dan permukaan sudah kering (Ay. 12-14). Nuh tidak keluar dari bahtera meskipun ia tahu air bah telah surut. Ia masih menunggu perintah Allah untuk keluar dari bahtera itu. Nuh dengan sabar menanti kehendak Tuhan karena ia percaya sedetikpun Allah tidak melupakannya. Hal itu jelas ditunjukkan pada Kejadian 8:1 dikatakan bahwa “Allah mengingat Nuh”. Allah mengawasi Nuh sepanjang waktu dan pada waktu yang tepat bahtera mereka kandas di tempat yang Tuhan tetapkan untuk mereka. Kalau kita perhatikan Kejadian 8:6-14 ini merupakan ujian kesabaran yang luar biasa bagi Nuh untuk menantikan air bah benar-benar surut sehingga ia bersama keluarga dan seluruh isi bahtera bisa kembali menapakkan kaki di bumi. Tentu tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya Nuh menjalani hari demi hari di dalam bahtera selama terjadi air bah.

Setelah menunggu beberapa waktu dengan penuh kesabaran, atas perintah Allah, pada akhirnya semua yang ada di bahtera diperbolehkan keluar. Betapa segar udara yang dirasakan oleh Nuh ketika pertama kali keluar dari bahtera. Ia melangkah ke dunia baru yang telah dibersihkan dari segala pemberontakan dan kejahatan manusia. Sekarang saatnya memulai kehidupan baru dalam dunia yang baru. Melalui perantaraan Nuh, Allah membangun kembali kehidupan di bumi dan menempatkan manusia baru di dalamnya.

Yang dilakukan pertama kali oleh Nuh setelah keluar dari bahtera adalah mendirikan mezbah bagi Tuhan dan memberikan persembahan kurban bakaran kepada Tuhan Allah. Rasa syukur ini sebagai penyataan pujian dan syukur yang mendalam kepada Allah yang berbelas kasihan, menyelamatkan Nuh dan seluruh isi bahtera. Maka, ia mengambil dari setiap binatang yang tidak haram dan setiap burung yang tidak haram, lalu ia mempersembahkannya di atas mezbah. Nuh sangat tahu apa yang menjadi persyaratan untuk kurban-kurban tersebut, dan ia memilih kurban yang terbaik untuk Tuhan. Jadi, ada dimensi syukur atas kebaikan Allah yang telah diterima Nuh dan seluruh isi bahtera. Dan Allah senang dengan apa yang dilakukan oleh Nuh (Ay. 15-20).

Atas sikap yang dilakukan oleh Nuh, Allah menyatakan janji-Nya untuk tidak lagi mengutuk bumi dan menghancurkan bumi dengan air Bah (Ay. 21). Tuhan juga berjanji akan memelihara bumi dengan berbagai hal yang baik. Misalnya melalui berbagai musim yang akan dilewati oleh umat manusia (Ay. 21-22). Lewat pemeliharaan-Nya diharapkan manusia sadar akan karya-Nya.

Relevansi:
Saat Nuh keluar dari bahtera, hatinya dipenuhi dengan rasa syukur yang sangat besar. Ia merasa bahwa Allah telah menyelamatkan seluruh keluarganya dan menepati janji-Nya. Sekalipun tidak mudah bagi Nuh dan keluarganya berada di dalam bahtera selama tiga ratus delapan puluh dua hari (sekitar 1,5 tahun). Hal ini tentu sangat luar biasa, karena Nuh dan keluarganya ‘bertahan’ menghadapi pengalaman itu. Betapa kesabaran Nuh dan keluarganya sangat teruji dalam peristiwa air bah ini. Mengapa demikian? Karena setelah air surut, tidak serta merta mereka bisa meninggalkan bahtera. Mereka menunggu perintah Tuhan untuk bisa keluar. Sisa bumi juga perlu proses untuk mengering. Ini adalah proses yang alami dan sepertinya butuh waktu yang lama. Entahlah, bagaimana rasanya menunggu. Kalau hal itu terjadi pada diri kita, mungkin kita akan gelisah, cemas, resah bahkan bisa jadi tergoda untuk mengeluh bahwa Tuhan terlalu lama. Dalam situasi yang demikian bisakah kita mengalahkannya. Siapapun yang mau berjalan bersama Tuhan harus belajar menunggu, tenang, dan memberi Tuhan waktu untuk melakukan apa yang Dia kehendaki. Ketika kita tergoda untuk resah dan mengeluh maka ingatlah Nuh dan keluarganya di dalam bahtera supaya kita tetap bisa bersyukur dalam segala hal.

Perikop ini memberikan pembelajaran tentang bagaimana bersyukur kepada Tuhan. Sebagai orang percaya kerap kali kita memberikan persembahan dilandasi oleh semangat transaksional (jual-beli). Saya memberi persembahan supaya Tuhan memberkati hidup saya. Seharusnya tidaklah demikian karena persembahan adalah salah satu cara kita bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Kurban bakaran yang dipersembahkan Nuh kepada Tuhan dipahami Nuh bukan dalam arti supaya Nuh diberkati lebih lagi dalam hidupnya melainkan melalui kurban bakaran itu Nuh mengucap syukur.

Belajar dari perenungan Firman Tuhan, ada dua hal yang perlu kita renungkan: Pertama, Kita bersukacita ketika panen melimpah, namun ada juga masa di mana manusia menjadi putus asa karena kegagalan dan harapan yang tidak sesuai kenyataan. Di atas kenyataan apa pun, mengucap syukur menjadi bukti iman kepada Allah bahwa manusia dan alam semesta diciptakan dan dirawat oleh kasih Allah. Pada Hari Raya Persembahan ini kita diingatkan untuk mewujudkan tanggung jawab iman untuk selalu bersyukur dalam persekutuan, kesaksian, dan pelayanan oleh kasih Allah kepada kita, kepada segala bangsa dan kepada alam semesta. Kita membawa persembahan syukur dengan tulus sebagai tanda pengakuan bahwa Allah telah memelihara kita dengan setia dalam setiap musim kehidupan. Kedua, teruslah berkarya dalam setiap musim kehidupan. Menanam, menabur, menuai dalam kesempatan yang Allah berikan sebagai wujud syukur atas segala yang diberikannya kepada kita.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan:

  1. Dari peristiwa Nuh keluar dari bahtera, teladan apakah yang bisa saudara pelajari bagi kehidupan rohani saudara?
  2. Bagaimanakah kemurahan Tuhan ikut berperan aktif dalam pergumulan hidup saudara setiap hari? Bagikanlah pengalaman saudara? [RA].

Selamat ber-PA, Tuhan Yesus memberkati.


Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2026 (II)
Undhuh–Undhuh

Bacaan: Kisah Para Rasul 27 : 13 – 38
Tema Liturgis: Cinta Allah Melahirkan Kelimpahan Syukur
Tema PA: Bersyukur di Tengah Badai

Pengantar:
Apakah yang saudara rasakan kala badai hadir dalam kehidupan saudara? Apakah yang akan saudara lakukan ketika mendadak usaha saudara, yang telah dirintis selama bertahun-tahun mengalami kerugian atau musibah sehingga hancur luluh berantakan, dan kegagalan demi kegagalan menimpa kehidupan sudara, sehingga untuk menghadapi hari esok pun rasanya sudah tidak sanggup lagi? Apakah yang akan saudara lakukan jika tunangan/pasangan hidup saudara pergi, dan saudara ditinggalkan sendirian? Bagaimana jika saudara menjalani kehidupan sebagai akibat buruk dari konsekuensi perbuatan saudara sendiri bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun? Apakah yang saudara lakukan ketika kehidupan menjadi suram bahkan mungkin sedang berada pada situasi batas akhir atau titik nadir? Apakah yang saudara lakukan saat segala upaya yang terbaik telah dilakukan tetapi tetap menghadapi situasi yang tanpa harapan?

Kisah pelayaran Rasul Paulus dalam bacaan ini merupakan suatu kisah yang menegangkan karena penuh dengan risiko, tetapi sekaligus juga melalui kisah ini kita dapat menyaksikan kesetiaan Allah yang menyertai orang-orang yang setia memegang janji-janji-Nya, yang berpegang pada sauh firman-Nya yang kekal. Melalui kisah ini pula kita dapat belajar bagaimana menghadapi badai dalam kehidupan yang sering kali datang tanpa terduga dan tidak terkendali.

Penjelasan Teks:
Konteks dari bacaan kita saat ini adalah tentang pengalaman perjalanan Rasul Paulus di lautan, saat ia berlayar ke Italia. Bukan sebuah perjalanan yang menyenangkan tetapi sebuah perjalanan yang menegangkan. Sebab, posisi Rasul Paulus dalam perjalanan ini bukan sebagai pemberita Injil, melainkan sebagai tawanan yang akan diadili di kota Roma. Seorang perwira Romawi bernama Yulius ditugaskan untuk membawa Rasul Paulus dan tahanan lainnya ke Roma. Namun tidak ada rute langsung dari Kaisarea ke Italia. Mereka harus melakukan perjalanan dalam beberapa tahap, menggunakan beberapa kapal yang berbeda. Pelayaran dimulai dengan menyusuri pantai sampai ke Sidon (sekarang Libanon). Letaknya kira-kira 110 kilometer di sebelah Utara Kaiserea. Saat mereka berlayar, semuanya baik-baik saja. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Para sejarahwan mengatakan bahwa saat itu kemungkinan besar minggu pertama bulan Oktober, dan mereka sedang memasuki masa dimana perairan di bagian dunia akan menjadi sangat berbahaya.

Setelah beberapa hari berjuang melawan angin/badai, kapal ini dapat berlindung di balik Pulau Kreta (pulau yang cukup besar di Laut Tengah) dan tiba di sebuah pelabuhan kecil yang disebut Pelabuhan Indah. Lalu, Rasul Paulus menasihati Yulius supaya mereka berhenti di Pelabuhan Indah dan menunggu beberapa bulan sebelum melanjutkan perjalanan, karena saat itu bukanlah musim yang aman bagi mereka untuk berlayar. Tetapi Yulius lebih mendengarkan nasihat para juru mudi/nakhoda dan mengabaikan saran rasul Paulus sehingga rombongan tersebut akhirnya melanjutkan pelayaran mereka.

Perjalanan pun dilanjutkan, memang ketika mereka mulai berlayar angin sepoi-sepoi bertiup dari Selatan. Mereka menyangka bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tujuan pun dapat tercapai. Akan tetapi dalam sekejap angin sepoi-sepoi berubah menjadi badai “Timur Laut” yang mengerikan. Kata Yunani yang menggambarkan sifat angin ini adalah ‘tuphonikos’ yang menjadi asal kata bahasa Inggris ‘typhoon’, yaitu angin kencang atau siklon yang bisa menghantam kapal dan mendorongnya menuju pantai berbahaya. Akibatnya, mereka semakin menghadapi badai besar yang mengancam hidup mereka. Untuk menunjukkan betapa dahsyatnya badai yang sedang terjadi di ayat 20 dituliskan sampai-sampai beberapa hari lamanya, baik Matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan. Ini menyiratkan betapa buruknya cuaca di laut itu, siang dan malam langit ditutupi awan yang dibawa badai, sehingga orang-orang di kapal itu tidak dapat melihat Matahari dan bintang-bintang untuk menentukan arah kapal. Tentu saja, kondisi yang demikian membuat mereka putus asa. Namun, berbeda dengan Rasul Paulus, ia tetap tenang. Ia bahkan dapat memberikan semangat agar mereka tabah dan percaya bahwa Allah akan menyelamatkan mereka. Mengapa demikian? Melalui peristiwa yang sulit dan mengerikan ini, Rasul Paulus ingin menyaksikan rencana dan sekaligus kuasa Allah yang menyertainya, bahwa Allah itu hidup dan dapat dipercaya. Ia berkata, “Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, dari Allah yang memiliki aku dan yang kusembah, berdiri di sisiku, dan ia berkata: ‘Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar. Sesungguhnya karena rahmat Allah kepadamu, semua orang yang berada bersama engkau di kapal ini akan selamat.” (Ay. 23-24). Kata jangan takut diterjemahkan dari kata-kata Yunani yang berarti, “Berhentilah merasa takut,” atau “Jangan takut lagi, Paulus!” Selain itu, Rasul Paulus memiliki keyakinan yang kuat bahwa mereka akan selamat karena Allah memang mengutus Rasul Paulus agar ia dapat menghadap kaisar di Roma. Rasul Paulus diutus Allah untuk memberitakan Injil kepada kaisar dan para pejabat serta rakyat Roma. Jadi, jelas Rasul Paulus tidak perlu khawatir bahwa ia akan mati di laut, sebab Tuhan telah menentukan bahwa ia akan pergi ke Roma dan harus menghadap Kaisar. Hanya karena Allah baik kepada Rasul Paulus, maka Ia pun berkenan menyelamatkan seluruh penumpang kapal. Maka Rasul Paulus berbicara kepada semua orang dan berkata, “sebab itu, tetaplah bersemangat, Saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dikatakan kepadaku. Namun, kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.” (Ay. 25-26). Rasul Paulus menasihatkan seluruh penumpang kapal supaya mereka semua ‘tabah hati,’ jangan kehilangan semangat, jangan putus asa, karena ia percaya bahwa Allah pasti akan melakukan apa yang telah Ia katakan kepadanya. Beberapa hari kemudian, setelah rasul Paulus menggagalkan rencana para pelaut untuk meninggalkan kapal, ia mendesak orang-orang seperjalanannya untuk makan (Ay. 33-34), karena sudah empat belas hari mereka tidak makan apapun. Mereka harus makan untuk bertahan hidup. Lebih daripada itu sebenarnya ada makna yang lebih dalam bahwa mereka membutuhkan makanan itu untuk keselamatan mereka (dalam bahasa Yunani: “soteria”). Rasul Paulus juga mengatakan bahwa tidak ada seorang pun akan kehilangan sehelai rambut dari kepalanya. Tentu kita akan ingat dengan perkataan Yesus bahwa mereka yang milik Allah tidak perlu khawatir, karena Tuhan pasti memelihara mereka, bahkan rambut kepalanya akan terhitung semuanya (Luk. 12:7). Allah menjanjikan keselamatan bagi mereka yang menaruh pengharapan kepada-Nya.

Kemudian, Rasul Paulus mengambil roti, mengucap syukur kepada Tuhan memecah-mecahkannya dan mereka mulai makan (Ay. 35). Rasa syukurnya diungkapkan dengan tindakan nyata, yang diumumkan di depan orang banyak sehingga menguatkan setiap orang yang melihatnya. Yang menarik rasa syukur itu diungkapkan oleh rasul Paulus di tengah badai hidup yang sedang ia alami. Maka kuatlah hati semua orang itu, dan mereka menanti siang hari.

Relevansi:
Dalam menjalani hidup ini, kita sering menghadapi badai kehidupan, situasi yang tidak diharapkan. Dalam kondisi yang demikian, kita sering menganggap bahwa diri kita bernasib buruk, penuh dengan kemalangan, tidak punya apa-apa, dan diperlakukan tidak adil. Dalam keadaan yang demikian tidak jarang kita terjebak untuk membandingkan kondisi atau nasib yang kita alami dengan orang-orang di sekitar kita, yang dianggap hidupnya lebih beruntung. Karena itu, kita tidak mampu bersyukur atas segala kemurahan, berkat dan pemeliharaan Tuhan. Namun, tidaklah demikian jika kita memiliki sikap iman yang benar di hadapan Tuhan. Sikap iman yang benar ditunjukkan dengan mampunya diri kita bersyukur untuk setiap berkat Tuhan yang telah diberikan dalam hidup kita. Seraya percaya bahwa Allah berdaulat penuh atas hidup kita. Sekalipun mungkin ada banyak hal yang harus dikorbankan, direlakan bahkan mungkin harus kehilangan namun kita masih tetap bisa bersyukur kepada Tuhan. Dengan bersyukur dalam setiap situasi, kita akan memperoleh energi ilahi, yaitu rahmat Tuhan. Untuk bisa berpikir secara optimis walaupun sedang menderita atau bahkan mengalami kegagalan. Ikhlas menerima setiap persoalan atau penderitaan yang terjadi sebagai anugerah Allah, sehingga kita tetap bisa bersukacita sekalipun disakiti atau dilukai.

Seperti yang dialami oleh Rasul Paulus dan para penumpang kapal tidak lagi menghitung kerugian yang pernah dialami. Mereka juga tidak merisaukan barang-barangnya yang harus dibuang ke laut untuk meringankan beban kapal dalam menghadapi badai lautan. Mereka bersyukur kepada Tuhan bahwa akhirnya mereka semua dapat selamat walaupun semua barang mereka telah lenyap.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan:

  1. Menurut saudara, bagaimana Rasul Paulus dapat melewati badai yang menakutkan ini dengan tabah?
  2. Sebutkan badai kehidupan yang pernah saudara alami? Bagikan pengalaman pribadi saudara!
  3. Apakah yang membuat saudara menjadi pribadi yang lebih baik di tengah badai kehidupan yang saudara alami? [RA].

Selamat ber-PA, Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak