Pendopo Atas Kantor Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) menjadi saksi peristiwa bersejarah bagi wajah kekristenan yang dibawa oleh dua sinode besar di Jawa Timur. Di mana pada Selasa, 14 April 2026, telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan (MoU) Kemitraan Strategis Ekumenis antara Pelayan Harian Majelis Agung GKJW (PHMA GKJW) dengan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah (BPMSW) GKI Sinode Wilayah Jawa Timur yang disaksikan langsung oleh segenap anggota PHMA GKJW.


Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh kedua belah pihak, masing-masing diwakili dari PHMA GKJW: Pdt. Natael Hermawan Prianto (Ketua) bersama BPMSW GKI SW Jatim: Pdt. Deddy Gunawan Satyaputra (Ketua Umum). Langkah ini merupakan upaya nyata untuk membingkai kembali relasi yang secara historis telah terjalin lama namun kini diperkuat melalui payung kemitraan strategis.



Jejak Historis: Persaudaraan GKJW dan GKI SW Jatim
Hubungan antara GKJW dan GKI SW Jatim bukanlah sekadar bentuk kerja sama antar-organisasi yang bersifat fungsional, melainkan sebuah pemulihan ingatan kolektif akan identitas “Saudara Kandung Satu Rahim”. Berdasarkan catatan sejarah yang tertuang dalam dokumen kemitraan, jemaat-jemaat yang kini bernaung di bawah GKI SW Jatim memiliki akar yang sama dengan komunitas Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Jawa Timur. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa di balik perbedaan administratif saat ini, terdapat garis keturunan iman yang bersumber dari titik mula yang sama.
Pada pertengahan abad ke-19, gerakan pekabaran Injil di Jawa Timur tidak mengenal sekat etnis yang kaku. Anggota jemaat Tionghoa Kristen mula-mula lahir, dibaptis, dan dibina dalam persekutuan yang hangat bersama saudara-saudara Jawa mereka. Mereka bersekutu di bawah naungan Pasamuwan-Pasamuwan Kristen Jawi yang tersebar di berbagai pelosok, yang dalam perjalanannya kemudian bertumbuh dan dikenal sebagai Greja Kristen Jawi Wetan. Kedekatan ini menunjukkan bahwa sejak awal, kekristenan di Jawa Timur telah menghidupi semangat inklusivitas.
Keterikatan mendalam ini dibuktikan melalui eksistensi jemaat-jemaat awal di pusat-pusat peradaban Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, dan Kediri. Di kota-kota inilah, ruang-ruang ibadah milik GKJW menjadi tempat persemaian bagi iman jemaat THKTKH. Di dalam gedung-gedung gereja tersebut, benih iman jemaat Tionghoa Kristen ditumbuhkan dan dirawat dengan penuh kasih sebelum akhirnya mereka dewasa secara organisasi dan tumbuh menjadi sinode yang mandiri.
Pemisahan secara administratif organisasi di masa lalu terbukti tidak pernah benar-benar memutus tali spiritualitas yang telah terjalin selama ratusan tahun. Dalam berbagai lintasan waktu, GKI SW Jatim dan GKJW terus dipertemukan dalam wadah dan ruang pelayanan yang sama. Salah satu bukti nyatanya adalah kolaborasi dalam mendirikan badan pelayanan bersama yang berfokus pada pendampingan intelektual muda di Surabaya, yang dikenal sebagai Pelayanan Mahasiswa (PELMA). Selain itu, kedua gereja juga seringkali bergandengan tangan dalam misi kemanusiaan, khususnya saat menanggulangi dampak bencana alam yang kerap melanda kawasan selatan Provinsi Jawa Timur, serta berbagai kegiatan oikumenis lainnya.
Dokumen kemitraan ini pada akhirnya menegaskan kembali bahwa GKJW adalah rumah di mana cikal bakal GKI SW Jatim ditumbuhkan. Pengakuan sejarah ini sangat penting karena menempatkan kedua lembaga dalam posisi yang setara—bukan sebagai asing bagi satu sama lain, melainkan sebagai sesama ahli waris misi Allah (Missio Dei) di tanah Jawa Timur yang dipanggil untuk terus berjalan bersama.
Konteks Geospasial: Menjawab Tantangan Bersama di Tempat yang Sama
Secara geospasial, Jawa Timur merupakan wilayah dengan kompleksitas sosial, ekonomi, dan budaya yang tinggi. Sebagai provinsi dengan sebaran jemaat yang sangat luas—mulai dari kawasan urban yang padat hingga pelosok agraris dan pesisir—GKJW dan GKI SW Jatim menghadapi tantangan pelayanan yang serupa. Mobilitas penduduk yang tinggi dan perkembangan pusat-pusat ekonomi baru menuntut gereja untuk hadir secara lebih dinamis. GKI SW Jatim dengan karakteristik masyarakat urban-pluralnya dan GKJW dengan akar budayanya yang kuat di pedesaan serta perkotaan, memiliki irisan wilayah pelayanan yang saling bersinggungan.
Oleh karena itu, kemitraan ini dirancang untuk menciptakan pemetaan pelayanan yang lebih efektif guna menjawab isu krusial seperti kesenjangan ekonomi, ancaman radikalisme, hingga permasalahan lingkungan hidup. Dengan menyatukan kekuatan geospasial kedua gereja, diharapkan terjadi distribusi pelayanan yang lebih kontekstual. Sinergi ini memungkinkan kedua pihak untuk saling menopang di wilayah-wilayah di mana salah satu pihak memiliki keterbatasan sumber daya, sehingga kehadiran gereja sebagai pembawa damai sejahtera dapat dirasakan secara konkret oleh seluruh lapisan masyarakat Jawa Timur tanpa terkecuali.
Panggilan Ekumenis: Gereja yang Esa, Kudus, dan Am
Kerjasama ini merupakan manifestasi dari panggilan ekumenis untuk mewujudkan gereja yang Esa, Kudus, dan Am. Dalam perspektif teologis, perpecahan administratif seringkali menjadi hambatan bagi kesaksian di dunia. Dengan berkomitmen untuk berjalan bersama, GKJW dan GKI SW Jatim memberikan kesaksian nyata bahwa kesatuan tubuh Kristus dapat dihidupi melalui kerja sama yang tulus. Panggilan untuk menjadi “Esa” diwujudkan dengan pengakuan atas keunikan tradisi masing-masing tanpa harus menjadi seragam, sementara aspek “Kudus” dan “Am” tampak dalam komitmen mereka untuk menjaga integritas pelayanan yang ditujukan bagi kepentingan kemanusiaan yang universal.
Cakupan Bidang Kerjasama antara GKJW dan GKI SW Jatim
Cakupan kerja sama yang disepakati dalam kemitraan ini meliputi lima pilar utama pelayanan gereja, yaitu Bidang Teologi, Koinonia, Marturia, Diakonia, dan Penatalayanan. Kelima bidang ini dirancang untuk saling menguatkan agar gereja tidak hanya bertumbuh secara internal, tetapi juga mampu memberikan jawaban atas pergumulan nyata yang dihadapi warga gereja dan masyarakat luas, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Bidang teologi berkaitan dengan upaya bersama membina dan membangun pemahaman iman yang signifikan, relevan, membebaskan, dan kontekstual di tengah realitas masyarakat yang terus berubah. Melalui kerja sama teologis, kedua gereja berupaya menuju sebuah teologi gereja yang kreatif, profetik, dan dialogis—yang mengkritisi bentuk-bentuk iman yang terjebak pada dogmatisme atau pemisahan iman dari realitas sosial. Sinergi ini merumuskan pengakuan iman yang menjawab pergumulan warga gereja dan relevan dengan konteks sosial-politik, serta menjadi sumber orientasi bagi ajaran gereja, pendidikan iman, spiritualitas, dan etika.
Dalam bidang Koinonia, fokus utama diarahkan pada penguatan persekutuan yang inklusif dan saling menghidupkan melalui berbagai bentuk perjumpaan. Hal ini meliputi penyelenggaraan ibadah raya bersama di momen-momen gerejawi yang penting, pertukaran pelayan firman secara rutin antarjemaat, serta pembinaan kepemimpinan lintas sinode bagi pemuda dan kaum profesional. Kerja sama ini bertujuan agar warga kedua gereja dapat saling mengenal dan belajar dari tradisi masing-masing, sehingga kesatuan tubuh Kristus bukan lagi menjadi konsep yang abstrak, melainkan dialami secara nyata dalam kebersamaan sehari-hari.
Sementara itu, bidang Marturia menitikberatkan pada kolaborasi kesaksian gereja di tengah dunia modern yang serba digital. Kedua gereja berkomitmen untuk mengembangkan strategi pekabaran Injil yang relevan, salah satunya melalui optimalisasi media sosial dan konten kreatif yang mampu menjangkau generasi masa kini. Di sisi lain, bidang Diakonia difokuskan pada pelayanan sosial yang transformatif dengan menangani akar permasalahan di masyarakat, seperti pemberdayaan ekonomi warga jemaat, aksi tanggap bencana yang terpadu, hingga pendampingan terhadap isu-isu lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat seperti stunting.
Terakhir, bidang Penatalayanan menjadi landasan organisasional bagi kemitraan ini melalui pemanfaatan sumber daya dan aset secara lebih efisien dan transparan. Kerja sama ini mencakup pertukaran ilmu dan teknologi, transformasi digital dalam sistem administrasi gereja, hingga pengembangan model tata kelola organisasi yang akuntabel.
Guna memastikan seluruh poin kesepakatan ini dapat berjalan secara sistematis, kedua belah pihak sepakat untuk membentuk semacam wadah bersama yang bernama Satuan Tugas Kemitraan Strategis (Satgas Mitra) yang bertugas untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi setiap program kerja agar tujuan kemitraan jangka panjang ini dapat tercapai secara maksimal.
Napak Tilas: Merawat Akar Sejarah Persaudaraan

Setelah rangkaian prosesi penandatanganan di kantor Majelis Agung usai, agenda berlanjut napak tilas sejarah yang sarat makna. Perwakilan BPMSW GKI SW Jatim dengan didampingi oleh beberapa pendeta tugas khusus kantor Majelis Agung bergerak menuju GKJW Jemaat Malang (Talun). Di Jemaat bersejarah ini, rombongan menelusuri bukti otentik hubungan masa lalu dengan meninjau Buku Induk Jemaat untuk melihat langsung catatan nama Oei Sioe Tiong menjadi warga Jemaat. Catatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa sejak era pionir, tokoh-tokoh awal anggota jemaat Tionghoa Kristen telah tercatat dan menjadi bagian integral dari persekutuan Jemaat-Jemaat yang kini dikenal sebagai GKJW.
Perjalanan spiritual ini kemudian diakhiri dengan mengunjungi Kendalpayak untuk meninjau lokasi yang dahulu merupakan Pos Pekabaran Injil. Meski saat ini bangunan tersebut telah beralih fungsi menjadi eks-pabrik NIMEF, kehadiran para pimpinan kedua sinode di lokasi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan dasar kekristenan di Jawa Timur tanpa sekat etnis. Kunjungan ke situs-situs cikal bakal ini menutup seluruh rangkaian acara dengan sebuah penegasan bahwa kemitraan yang kini diresmikan memiliki fondasi historis yang kokoh, yang kini dipanggil kembali untuk menjawab tantangan zaman dalam semangat kesatuan yang utuh.