Tahun Gerejawi: Adven 2 (Hari Disabilitas Internasional)
Tema: Allah Berkarya Melalui Setiap Orang
Judul: Jangan Tanya “kenapa?”
Bacaan: Yohanes 9:1-8
Ayat Hafalan: “Jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.” ( Yohanes 9: 3 TB2-LAI)
Lagu Tema:
- Walau Ku tak Dapat Melihat
- Kidung Siwi 17 Aku Anak Tuhan (C)
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Ketika sedang lewat di suatu tempat, Yesus dan para murid bertemu dengan banyak orang, salah satunya adalah pengemis buta yang kemudian mereka tahu bahwa dia sudah buta sejak lahir. Orang yang dilihat sama, yaitu pengemis buta, tetapi perspektifnya berbeda. Para murid justru tertarik untuk bertanya kepada Sang Guru tentang analisa-Nya terhadap keadaan si buta. Mengapa dia buta, dosanya atau dosa orang tuanya? Tetapi Tuhan Yesus melihat dari sudut yang berbeda. Konsep berkat-kutuk, hitam-putih, benar-salah yang diterapkan dalam kehidupan jaman itu, didobrak oleh Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya. Pernyataan Tuhan Yesus juga menunjukkan adanya porsi “misteri” dalam karya-Nya. Yaitu bahwa ada rencana yang lain atas penderitaan dan keterbatasan manusia.
Karya kasih-Nya tidak hanya ditunjukkan dengan mengubah pandangan orang-orang di sekitar si buta, yang tadinya cenderung “menghakimi” keadaannya. Tuhan Yesus melanjutkan dengan memberi bukti atas pernyataan-Nya dengan menyembuhkan si buta – dengan demikian nyata bahwa si buta menjadi sarana penyataan karya Allah. Kali ini media penyembuhannya adalah ludah dan tanah. Setelah mengolesinya dengan lumpur, Tuhan Yesus menyuruh si buta membasuh diri di Siloam, dan dia benar bisa melihat setelahnya.
Refleksi Untuk Pamong
Dari masa ke masa, manusia mudah untuk “kepo” terhadap segala hal, terlebih yang belum dipahami. Tidak terkecuali terhadap orang buta sejak lahir yang di kisahkan hari ini. Kita tahu pasti bahwa dia bukan satu-satunya di dunia, baik pada jaman Yesus ataupun di masa kini. Namun kecenderungan manusiawi tetap mencari “kenapa?” lalu lupa untuk mengambil sikap bijak setelahnya. Karena terlalu sibuk mencari sebab, kadang orang-orang berbeda/ disable, seperti dalam cerita Alkitab hari ini tidak mendapat cukup perhatian dan bantuan, malah kadang menerima penghakiman.
Mari kita ubah mindset kita, seperti Tuhan Yesus yang mengajarkan kepada para murid, bahwa hidup ini kompleks, dan ada “misteri” Allah yang tidak akan bisa kita pahami sepenuhnya. Maka, alih-alih sibuk mencari alasan, mari kita mulai untuk mewujudkan perhatian kepada setiap orang yang membutuhkan, terlebih saudara-saudara penyandang disabitas. Mereka ada agar kita menyadari bahwa karya Tuhan Allah dapat terjadi dengan luar biasa atas mereka, juga agar kita memiliki kepekaan untuk menjadi sarana karya Allah itu.
Tujuan:
- Remaja dapat menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan setiap orang dengan tujuan yang baik, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan.
- Remaja dapat memahami bahwa disabilitas bukanlah hukuman dari Tuhan, tetapi kesempatan bagi Tuhan untuk menunjukkan karya-Nya.
- Remaja dapat menunjukkan sikap inklusif dan menghargai keberagaman di lingkungan sekolah, gereja, dan masyarakat.
Pendahuluan
Selamat pagi teman-teman remaja yang terkasih. Bagaimana kabar hari ini? Sudah mulai bersiap untuk Ujuan Semester? Semoga lancar ya. Oh ya hari ini kita juga sudah mulai masuk Minggu Adven2, artinya kita akan segera menyambut Natal. Khusus hari ini, juga ada hal khusus, ternyata 7 Desember adalah hari diasibilas Internasional. Adakah yang tau apa itu disabitilas? (memberi kesempatan remaja menjawab)
Inti Penyampaian
Teman-teman remaja yang terkasih, dari jawaban teman-teman tadi kita tahu bahwa yang namanya disabitilas ternyata ada di sekitar kita. Ada banyak sebab orang menjadi disable, bisa karena bawaan lahir, kecelakaan, sakit, usia, dsb. Tidak sedikit orang ketika melihat kekurangan orang lain, termasuk saudara/ teman yang disable, pertanyaan awalnya adalah “kenapa?”. Apakah hal itu tidak boleh? Boleh saja, asal dalam rasa ingin tahu itu kita tidak “menghakimi”. Seperti yang diungkapkan para murid saat melihat seorang pengemis buta dari lahir, yang mereka tanyakan, itu dosa siapa? Ya, dalam tradisi Yahudi percaya akan berkat dan kutuk. Orang baik diberkati orang jahat menerima kutuk. Itu yang membuat mereka berfikir jika orang menderita/ sakit/ disable, ada dosa yang ditanggung.
Tuhan Yesus meluruskan pikiran para murid, dengan tegas Dia menjawab “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.” Ada Misteri Allah dalam peristiwa kehidupan, yang kadang kita sebagai manusia “tidak sampai” memikirkannya. Jawaban Tuhan Yesus juga mengingatkan, daripada hanya tanya kenapa, lebih penting untuk kita memberikan perhatian dan membantu saudara-saudara yang disable.
Penerapan
Teman-teman remaja, apakah kalian punya pengalaman bertemu atau bersama dengan saudara-saudara yang disable? Atau kita yang sedang dalam keadaan disable?
Mari kita membayangkan diri sebagai teman-teman yang diasble (remaja diajak untuk melakukan permainan “perjalanan si buta”), apa yang diharapkan dari orang lain? Dalam permainan tadi bisa jadi ada yang membantu tapi juga mengecoh. Demikian halnya dalam hidup sehari-hari, sikap orang terhadap saudara disble bisa jadi berbeda-beda. Kalau teman-teman remaja memilih bagaimana? Baiknya kita memberi dukungan, pertolongan dan kesempatan untuk teman disable berkarya. Mari kita upayakan bersama agar rumah, gereja dan sekolah kita ramah bagi semua.
Aktivitas
Permainan “ perjalanan si buta”
- Pamong menata ruang menjadi track dengan beberapa halangan. Bisa dengan menempatkan beberapa kursi, kardus, atau barang yang ada di ruang ibadah.
- Minta salah satu remaja maju dan memakai penutup mata yang disediakan pamong.
- Minta remaja dengan penutup mata untuk berjalan dari titik awal ke tujuan yang disepakati sebelumnya.
- Teman-teman remaja yang lain dipersilahkan untuk bersuara (boleh mengecoh, boleh membantu)
- Permainan berakhir saat 1 remaja dengan penutup mata sampai di titik tujuan.