Bacaan: Ibrani 9 : 23 – 28 | Pujian: KJ. 450
Nats: “Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah disucikan secara demikian, tetapi benda-benda surgawi sendiri harus disucikan dengan persembahan-persembahan yang lebih baik daripada itu.” (Ayat 23)
Di sebuah desa yang tenang, ada seorang pengrajin tua yang setiap hari duduk di beranda, mengukir topeng-topeng tradisional dengan penuh kesabaran. Ukiran demi ukiran, ia buat bukan sekadar hiasan tetapi lambang dari jiwa-jiwa yang pernah hidup dalam cerita: keberanian seorang ibu, keteguhan seorang pemimpin, kelembutan seorang sahabat. Anak-anak yang melihatnya tak hanya belajar tentang seni, tetapi juga tentang nilai, tentang bagaimana sesuatu yang terlihat sederhana bisa menyimpan makna yang dalam. Topeng-topeng itu tak pernah bernyawa, tetapi entah mengapa, mereka terasa hidup, seperti mengingatkan bahwa hidup ini pun, dalam segala bentuknya, sedang menunjuk pada sesuatu yang lebih tinggi.
Ibrani 9:23 berkata bahwa segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di surga perlu disucikan dengan kurban. Ini mengingatkan bahwa banyak hal di bumi ini seperti: ibadah, tradisi, bahkan bentuk-bentuk kebudayaan kita, hanyalah bayangan dari hal yang sejati, yaitu hadirat Allah sendiri. Dalam Perjanjian Lama, kurban dan kemah suci hanyalah lambang dari penggenapan yang sempurna dalam diri Yesus. Dialah kurban yang sesungguhnya. Bukan lagi darah hewan, tetapi diri-Nya sendiri yang Ia persembahkan, satu kali untuk selamanya. Ia masuk ke dalam ruang surgawi, bukan tiruan, bukan simbol, tetapi tempat yang sejati, demi kita. Dan dengan itu, Ia menyucikan tidak hanya ruang ibadah, tetapi seluruh kehidupan yang mau terbuka dan menerima kasih-Nya.
Di bulan Budaya ini, kita diajak untuk melihat kembali: apa yang sedang kita lambangkan lewat hidup kita? Budaya kita kaya akan simbol, seperti pakaian, gerak tari, motif, bahkan cara bicara, tetapi semua itu seharusnya mengarah pada sesuatu yang lebih dalam, yaitu kasih, kebaikan, ketulusan, pengorbanan. Semua yang kita jalani hari ini, baik dalam ibadah, pekerjaan, maupun relasi, bisa jadi lambang dari surga. Maka, mari kita hidup bukan hanya untuk tampak indah, tetapi untuk menunjukkan arah. Supaya dunia tahu, lewat hidup kita, ada kasih yang kekal, ada terang yang sejati, dan ada rumah di surga yang sedang kita tuju bersama Dia yang lebih dulu mengorbankan diri-Nya untuk kita. Amin. [MEA].
“Biarlah setiap langkahmu di bumi menjadi bayang-bayang kasih surgawi, agar dunia tahu melalui hidupmu, surga pernah menyapa bumi.”