Bacaan: Yeremia 9 : 17 – 26 | Pujian: KJ. 309
Nats: “Hendaklah mereka bergegas dan menaikkan ratapan atas kita, supaya air mata kita bercucuran, dan menggenangi kelopak mata kita!” (Ayat 18)
Dewasa ini, kecanggihan teknologi, media sosial, dan segala bentuk kemudahan yang ditawarkan olehnya sungguh kuat menarik perhatian kaum muda-mudi dan anak-anak di sekitar kita. Semua kemudahan dan kecanggihan itu sering kali membuat mereka merasa sudah cukup kuat dan pintar dalam menghadapi tantangan hidup tanpa perlu bergantung kepada orang lain atau bahkan Tuhan. Namun faktanya, di balik kebanggaan itu, tetap ada rasa hampa dan kesepian yang tak terucapkan, juga krisis dan masalah yang belum terselesaikan. Semua pencapaian duniawi ternyata tidak bisa mengisi kekosongan dalam hati manusia. Inilah gambaran kesadaran sebuah jalan hidup yang sedang jauh dari kasih Tuhan dan kebenaran-Nya, seperti yang disinggung dalam bacaan kita hari ini.
Yeremia 9:17-26 mengingatkan kita bahwa Tuhan memanggil umat-Nya, Israel, untuk bertobat dari kesombongan dan kebanggaan yang menyesatkan. Mereka harus sadar bahwa kebanggan terhadap diri sendiri adalah sia-sia. Allah menegur mereka yang hanya mengandalkan kekuatan dan pengetahuan duniawi, sementara hatinya jauh dan tercerai dari Tuhan Allah. Israel pasti akan menderita dan binasa bila mereka terus menjauh dari Allah dan Firman-Nya. Karena itu, mereka harus mengenal Allah dengan benar, hidup dengan kerendahan hati dan kejujuran, karena hanya Allah saja yang dapat mengubah dan memberi makna dalam hidup mereka. Allah tidak melihat kemegahan luar, tetapi mencari hati yang tulus dan mau bertobat.
Janganlah kita mudah terbuai oleh kebanggaan dan pencapaian duniawi semata. Janganlah kita memisahkan diri dari Tuhan. Mari belajar untuk terus membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, besatu dengan Tuhan, tetap rendah hati dan terhubung dengan-Nya dalam setiap langkah hidup kita. Mari kita menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan dan sumber pertolongan kita. Dengan begitu, kita tidak hanya sukses secara duniawi, tetapi juga hidup dalam damai dan sukacita sejati yang hanya bersumber dari Tuhan Allah. Inilah iman dan prinsip hidup yang perlu diterapkan secara konsisten, agar dalam segala bentuk krisis kehidupan yang kita alami, kita tetap berjalan dalam kebenaran, terang, hikmat dan kebijaksanaan. Amin. [Prist].
“Bersatu dengan Tuhan membuat kita teguh, jauh dan terpisah dari-Nya membuat kita runtuh.”