IPTh Balewiyata melalui dukungan dan kerjasama dengan United Evangelical Mission (UEM) dan Gusdurian Malang menyelenggarakan pelatihan perdana bertajuk “In Her Hands – Perempuan Agen Perdamaian” pada 29–31 Agustus 2025 bertempat di kompleks Balewiyata Malang. Pelatihan yang dikoordinasikan secara langsung oleh Julia Thissen (co-worker UEM) merupakan bagian dari program Studi Lintas Iman (SILI) yang berlangsung sepanjang tahun 2025-2026.
Dalam pelatihan, hadir 25 perempuan lintas iman dari berbagai daerah di Jawa Timur yang mewakili latar belakang agama dan kepercayaan yang beragam seperti GKJW, Katolik, Muhammadiyah, NU, Ahmadiyah, Baha’i, Hindu, aliran kepercayaan Sapta Dharma dan lainnya.
Pelatihan ini bertujuan membangun kapasitas perempuan sebagai agen perdamaian yang berdaya melalui dialog lintas iman. Dalam suasana ruang aman (safe space) yang interaktif dan penuh solidaritas, para peserta memeroleh kesempatan untuk berbagi pengalaman, berefleksi, dan memperdalam gagasan tentang bagaimana menjadi perempuan yang kuat dan berdaya dalam menghadapi stigma, stereotipe, hingga diskriminasi di masyarakat.
Para peserta juga diajak untuk merefleksikan identitas diri dan peran mereka dalam konteks agama, budaya, dan masyarakat agar lebih berdaya, sekaligus menumbuhkan empati dan saling menghargai.
Beberapa narasumber hadir memberi wawasan mendalam dari sudut pandang lintas iman dan lintas disiplin ilmu. Antara lain Ibu Susiana dari komunitas Baha’i yang menegaskan pentingnya persaudaraan sejati dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan perdamaian. Serta Pdt. Tamariska Fendi Putri dari GKJW Sumberpucung, menekankan peran perempuan sebagai role model dalam mendidik toleransi sejak keluarga dan masyarakat, serta pentingnya menjaga kesehatan mental agar dapat terus menjadi penggerak perdamaian.
Ibu Nila Wardani dari Rumpun Malang memperkenalkan program-program peacebuilding berbasis masyarakat yang menguatkan solidaritas lintas komunitas. Selain itu, Antasilani dari tradisi Buddhis memperkenalkan praktik meditasi sebagai jalan menenangkan batin dan menumbuhkan welas asih, sebagai pondasi penting bagi kedamaian sejati, yang ditambahkan dengan perspektif feminis dan ekologi dari Pdt Nicky Widyaningrum yang mengaitkan keterpautan hubungan antara lingkungan hidup dan peran perempuan.
Respons positif muncul dari banyak peserta. Ida Ayu Manik Gunawati dari Hindu Pura Dwirjayasa, Malang mengungkapkan bahwa selain bertemu perempuan lintas iman, dia belajar banyak untuk mengembangkan potensi diri. Sementara, Ardini Trisnawati dari GKJW Rungkut mengaku senang bisa memahami beragam aliran kepercayaan di Indonesia yang selama ini kurang dikenalnya.
Silfia Heni dari Pesantren Rakyat Sumberpucung menyambut baik wawasan luas yang ia peroleh, sementara Veronica Yuniar Meliana (FKAUB) menegaskan bahwa “Women empower women” dan Perempuan perlu untuk berani “Speak up”. Sa’idah Fiddaroini dari Muhammadiyah pada akhirnya juga bertekad untuk meneruskan nilai-nilai perdamaian ke komunitasnya.
Melalui studi lintas iman, kiranya hadir komunitas perempuan lintas iman yang saling menguatkan dan menyemangati untuk terus berkontribusi sebagai penjaga toleransi, perajut kedamaian dan penebar pengharapan di wilayah masing-masing.
Dalam pertemuan ini, perempuan lintas agama juga turut menyerukan keadilan, perdamaian dan cinta kasih di tengah kepedihan dinegeri ini melalui video dibawah ini :