Minggu Biasa | Bulan Kitab Suci
Stola Hijau
Bacaan 1: Keluaran 32 : 7 – 14
Mazmur: Mazmur 51 : 1 – 10
Bacaan 2: 1 Timotius 1 : 12 – 17
Bacaan 3: Lukas 15 : 1 – 10
Tema Liturgis: Membudayakan Cinta Alkitab dengan Berkisah
Tema Khotbah: Anugerah yang Tak Berkesudahan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 32 : 7 – 14
Bagian ini merupakan kelanjutan dari peristiwa anak lembu emas yang merupakan pengkhianatan Israel pada YHWH. Saat Musa tinggal di gunung Sinai selama 40 hari 40 malam, Israel merasa ditinggalkan dan kemudian berada dalam krisis luar biasa. Israel merasa kehilangan representasi kehadiran Yang Ilahi, sehingga mempertanyakan siapa lagi yang akan memimpin mereka (Ay. 1). Israel lalu menuntut Harun untuk membuat allah yang dapat melanjutkan kepemimpinan. Protes dan keluhan Israel ditanggapi Harun secara serius dengan meminta mereka semua menanggalkan semua anting emas (nampaknya anting ini merupakan hasil jarahan di tanah Mesir (lih. 3:22), lalu dari bahan itulah patung anak lembu emas dibuat (Ay. 4). Penulis Keluaran menekankan keterlibatan “seluruh bangsa” (Ay. 3) yang turut menyumbangkan anting-antingnya sebagai bentuk dari ketidaksetiaan Israel pada perjanjian dengan YHWH. Bahkan bani Lewi yang kemudian memihak Musa dengan membunuh saudara, teman, dan tetangganya sebagai bentuk hukuman (Ay. 26-27), juga dikesankan turut menyumbang emas bagi patung tuangan itu. Penanggalan anting dari telinga juga mengungkapkan gestur pengkhianatan yang kuat, mengingat para budak saat itu mengikat telinganya di tiang rumah sang tuan sebagai bentuk kesetiaan.
Bentuk “anak lembu” bukanlah bentuk yang secara “random” atau kebetulan dipilih oleh Harun, karena ada simbol yang cukup kuat dibaliknya. Lembu adalah julukan untuk El, dewa tertinggi yang disembah oleh bangsa Kanaan, yang wilayahnya sedang dituju oleh Israel. Nampaknya, pemilihan bentuk ini menggambarkan keinginan Israel untuk menguasai dewa Kanaan sebagai bentuk jaminan keberhasilan dalam penaklukan tanah perjanjian. Dengan demikian patung anak lembu ini menyimbolkan dosa dasar Israel, yaitu ketidaksetiaan dan kurangnya iman. Pembangunan mezbah di depan patung, ditambah dengan persembahan dan perayaan hari raya (Ay. 5-6) memperjelas bagaimana Israel menghinakan upacara perjanjian yang telah ditetapkan dalam Keluaran 24:3-8.
Penyimpangan Israel ini membuat Tuhan berfirman pada Musa agar segera turun untuk menemui bangsanya. Penyebutan “bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir” (Ay. 7) merupakan ungkapan retoris yang menunjukkan betapa dosa menghancurkan relasi TUHAN dengan umat-Nya. YHWH tidak lagi menyebut Israel sebagai bangsa milik-Nya dan tidak mengakui bahwa DiriNya-lah yang sesungguhnya memimpin umat keluar dari tanah perbudakan, untuk menekankan dampak dari ketidaksetiaan. TUHAN menunjukkan murka-Nya dan ingin menghukum Israel dengan membinasakan mereka (Ay. 10), namun Musa mencoba melunakkan hati TUHAN (Ay. 11-13) dan berhasil membuat-Nya menyesal (Ay. 14). Tentu saja ini bukan menunjukkan bahwa TUHAN bersifat plin-plan, melainkan menggambarkan bagaimana TUHAN memiliki relasi yang dinamis dengan ciptaan-Nya dan bagaimana Dia bersedia mendengar dan mengampuni (Ay. 14). Dari narasi ini, kita bisa melihat bagaimana relasi Musa dengan TUHAN, dapat membuat Israel menerima anugerah pengampunan dan keselamatan meskipun mereka telah melanggar perjanjian dengan-Nya.
1 Timotius 1 : 12 – 17
Setelah membahas mengenai ajaran sesat yang mengancam jemaat (1:3-11), penulis surat penggembalaan ini melanjutkan dengan memberikan kesaksian personalnya (Ay. 12-17). Sang penulis bersaksi bagaimana anugerah Tuhan mentransformasi kehidupannya, sehingga ia menyatakan bahwa pengampunan dan kemurahan Tuhan tersedia bagi semua orang, bahkan bagi pendosa yang terjahat sekalipun. Pertama-tama, penulis mengakui bahwa pelayanannya berdasar pada kekuatan dan anugerah Kristus. Ini menunjukkan betapa ia bergantung pada anugerah Allah dan bukannya pada kuasa dan kekuatannya sendiri (Ay. 12). Kemudian ia mengenang bahwa dirinya dulu adalah seorang penghujat dan penganiaya yang ganas (Ay. 13), namun anugerah Allah justru melimpah ruah (Ay.14). Anugerah ini datang dalam keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus (Ay. 15), hanya melalui-Nya semua orang yang paling berdosa sekalipun beroleh kasih karunia dan hidup kekal (Ay. 16).
Berdasarkan pengalaman iman pribadi inilah, penulis surat menjadikan dirinya sebagai contoh bagi orang yang sedang tersesat dalam dosa. Jika Tuhan telah menunjukkan kesabaran-Nya pada penulis, berarti semua orang juga akan menerima kesabaran Tuhan. Jika Tuhan dapat menyelamatkan dan mengubah penulis, berarti Tuhan juga menyelamatkan dan mengubah hidup semua orang yang bersedia percaya. Sebab itu, dengan penuh syukur penulis menutup bagian ini dengan sebuah doksologi yang memuliakan keagungan dan kedaulatan Tuhan, “hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.” (Ay. 17).
Kesaksian pribadi penulis surat 1 Timotius ini menunjukkan transformasi kehidupan yang dialami karena anugerah yang diterima. Penulis menekankan dosa masa lalunya yang amat kelam dan gelap, meski demikian anugerah Tuhan lebih besar dan terang ketimbang dosanya. Dengan demikian, penulis bermaksud mengingatkan para pembacanya saat itu, dan juga kita sekarang ini bahwa tidak ada seorang pun yang luput dari kuasa anugerah Allah. Kesaksian hidupnya sudah menjadi buktinya: tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni!
Lukas 15 : 1 – 10
Di awal pasal 15, Lukas memberikan gambaran mengenai natur pelayanan Yesus yang terbuka bagi semua orang termasuk mereka yang tersisih dan dianggap berdosa. Pasal 15 ini sebenarnya terdiri dari 3 perumpamaan (domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang) yang menekankan tema teologis serupa, yaitu anugerah Allah. Ayat 1-2 merupakan awal narasi yang memberikan konteks keseluruhan dari tiga perumpamaan tersebut. Narasi ini diawali dengan keterangan bagaimana para pemungut cukai dan orang berdosa “biasa” datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia (Ay. 1). Dalam konteks sosial dan politik saat itu, pemungut cukai merupakan golongan orang yang menjadi musuh masyarakat, karena pekerjaan mereka adalah mengambil pajak dari sesama orang Yahudi untuk disetorkan kepada penguasa Romawi, sang penjajah. Sedang Lukas secara sengaja tidak menyebut secara detil apa macam dosa yang dilakukan oleh orang-orang yang disebut “berdosa”, nampaknya hal ini dilakukan penginjil untuk tetap menjaga inklusifitas terminologi “dosa” sehingga semua orang yang merasa berdosa dan membutuhkan pengampunan dapat mengidentifikasi dirinya dengan golongan ini. Nampaknya, kebiasaan orang-orang berdosa yang datang pada Yesus ini membuat orang Farisi dan para ahli Taurat gusar. Mereka mengkritik Yesus karena menerima dan makan bersama orang berdosa (Ay. 2). Kritik ini nampaknya menunjukkan bahwa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ini beranggapan bahwa Yesus segolongan dengan mereka sebagai rabi, sebagai pengajar, dan pemuka Agama Yahudi yang tak patut untuk bergaul dengan mereka yang berdosa. Sedang “makan bersama” dalam tradisi Yahudi bermakna lebih dari sekedar makan, karena para elit Yahudi hanya makan bersama orang-orang yang sama-sama kudus dan tahir. Berbagi makanan berarti menunjukkan kesetaraan dalam persekutuan. Dalam dua ayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa orang Farisi dan ahli Taurat percaya bahwa kesucian dan ketahiran berarti keharusan untuk memisahkan diri dari yang berdosa.
Respons Tuhan Yesus pada sikap orang Farisi dan ahli Taurat inilah yang disampaikan melalui dua perumpamaan di ayat 3-10. Di perumpamaan yang pertama, Tuhan Yesus menggunakan konteks agrikultural yang sangat akrab di telinga para pendengar-Nya. Dia mengajak, baik para penentang maupun pendukung-Nya untuk sama-sama membayangkan kesusahan hati seorang gembala yang kehilangan satu dari seratus dombanya (Ay. 4). Satu domba ini justru menjadi alasan bagi sang gembala untuk mengambil resiko dengan meninggalkan yang 99 ekor demi menyelamatkan yang tersesat, dan saat menemukannya ia gembira dan merayakan dengan sahabat-sahabatnya (Ay. 5-6). Yesus mengaplikasikan perumpamaan ini untuk menunjukkan sikap Tuhan pada mereka yang tersesat. Bahwa kembalinya satu yang hilang lebih membawa sukacita ketimbang 99 yang tidak membutuhkan pengampunan (Ay. 7). Perumpamaan kedua tentang dirham yang hilang memiliki poin yang serupa (Ay. 8-10). Meski perempuan itu masih punya sembilan dirham, ditemukannya satu dirham yang hilang membawa sukacita luar biasa. Ia mengundang para kerabatnya bukan untuk sembilan dirham, melainkan untuk satu yang hilang itu. Mirip dengan perumpamaan yang disampaikan sebelumnya, perumpamaan ini juga digunakan untuk menunjukkan bahwa ada sukacita surgawi yang terjadi saat seorang yang tersesat (berdosa) ditemukan (bertobat).
Dua perumpamaan ini sama-sama menggambarkan respons natural yang ditunjukkan saat ada barang/seseorang yang hilang ditemukan. Melalui rangkaian perumpamaan ini, Yesus sedang menempatkan orang Farisi dan ahli Taurat di posisi yang kontras dengan sukacita yang dialami sang gembala dan perempuan. Mereka bukannya turut bersukacita atas ditemukannya orang-orang berdosa yang terhilang tetapi justru menggerutu dan mengkritik Yesus karena Yesus menerima mereka. Rangkaian perumpamaan ini menunjukkan pesan teologis yang kuat, dimana Tuhan digambarkan aktif mencari umat milik-Nya yang hilang dan tiap orang berharga di mata-Nya. Sekali lagi kita menemukan di dalam bacaan leksionaris hari ini bahwa anugerah Tuhan melampaui segala dosa.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Anugerah Tuhan adalah anugerah yang mengampuni, mengubah, dan mencari mereka yang tersesat. Tidak ada yang terlalu berdosa untuk menerima pengampunan-Nya, tidak ada yang terlalu jauh untuk dijangkau oleh kasih-Nya. Setiap pribadi berharga di mata Tuhan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
(Mengawali khotbah ini, pengkhotbah dapat langsung menyanyikan dua bait pertama dari lagu Gala Bunga Matahari oleh Sal Priadi atau jika tidak memungkinkan dapat menampilkan video musik officialnya)
Mungkinkah, mungkinkah
Mungkinkah kau mampir hari ini?
Bila tidak mirip kau, jadilah bunga matahari
Yang tiba-tiba mekar di taman, meski bicara dengan bahasa tumbuhan
Ceritakan padaku, bagaimana tempat tinggalmu yang baru
Lagu ini sempat viral beberapa saat yang lalu karena banyak pendengar musik yang merasa “relate” (terhubung) dengan liriknya yang dalam. Lagu ini menggambarkan rasa sakit karena kehilangan, sekaligus harapan untuk dapat berjumpa kembali dengan orang tercinta yang telah berpulang. Semua orang pasti pernah merasa kehilangan dalam berbagai bentuknya, masalahnya bagaimana caranya menghadapi kehilangan itu? Memang bisa saja kita terpuruk dan tak mampu bangkit, namun kita harus terus melanjutkan hidup dengan merengkuh rasa sakitnya. Saudara-saudara, sadarkah kita bahwa yang bisa merasakan kehilangan bukan hanya kita sebagai manusia, Tuhan juga mengalami duka dari kehilangan. Ya, Dia Yang Maha Segala itu kadang kala juga harus kehilangan umat yang dikasihi-Nya karena berbagai sebab? Apa dan bagaimana Tuhan menghadapi rasa kehilangan ini bisa kita lihat dari respons-Nya yang digambarkan dalam tiga bacaan kita hari ini. Bahwa tiap umat yang terhilang itu berharga di mata Tuhan, oleh sebab itu Ia justru tidak membuang yang terhilang, namun justru terus memberikan anugerah. Anugerah dalam kehilangan inilah yang digambarkan dalam tiga bacaan kita hari ini.
Isi
Relasi YHWH dengan Israel bukanlah relasi yang selalu baik-baik dan lancar-lancar saja, seringkali relasi itu rusak karena kedegilan Israel. Bacaan pertama kita menggambarkan hal ini, setelah beberapa saat ditinggal Musa menemu YHWH di gunung Sinai, umat Israel gonjang ganjing. Mereka dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran mengenai siapa yang akan memimpin mereka ke tanah perjanjian Tuhan. Meski mereka telah melihat sendiri kuasa Tuhan melalui Sepuluh Tulah di Mesir atau terbelahnya laut Teberau, Israel tetap saja sangsi. Mereka demo, datang kepada Harun dan meminta agar dibuatkan tuhan lain sebagai pemimpin. Harun menuruti Israel, dan membuat patung anak lembu emas dari segenap perhiasan emas yang dimiliki orang Israel. Ini adalah pengkhianatan! Umat tidak menaati perjanjian dengan TUHANnya, dan dampaknya TUHAN kehilangan umat-Nya. Dalam murka-Nya, TUHAN ingin melenyapkan mereka. Namun, Musa memohon ampunan, meminta belas kasihan TUHAN, dan Ia memberi pengampunan. Tentu ini bukan berarti bahwa Tuhan adalah pribadi yang labil apalagi plin-plan, namun ini menunjukkan betapa Dia bersedia terlibat dalam relasi dengan umat-Nya secara dinamis dan bersedia mendengar dan mengampuni. Dari bacaan pertama ini kita bisa belajar bahwa anugerah Tuhan diberikan melalui pengampunan.
Penulis surat penggembalaan juga menuliskan kesaksiannya, betapa ia dulu adalah seorang yang jahat dan menentang Kristus. Penulis surat 1 Timotius mengakui bahwa pelayanannya berdasar pada kekuatan dan anugerah Kristus. Ini menunjukkan betapa ia bergantung pada anugerah Allah dan bukan pada kuasa dan kekuatannya sendiri (Ay. 12). Kemudian ia mengenang bahwa dirinya dulu adalah seorang penghujat dan penganiaya yang ganas (Ay. 13), namun anugerah justru melimpah ruah (Ay. 14). Anugerah ini datang dalam keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus (Ay. 15), hanya melalui-Nya semua orang yang paling berdosa sekalipun beroleh kasih karunia dan hidup kekal (Ay. 16). Demikianlah seorang yang tadinya pendosa jahat yang tersesat, diubah dan dipulihkan-Nya. Dari bacaan kedua ini kita bisa melihat bahwa anugerah Tuhan adalah anugerah yang mengubahkan dan memulihkan kehidupan.
Tuhan Yesus, dalam bacaan Injil kita hari ini juga menekankan betapa tiap orang berharga di mata Tuhan. Seperti seorang gembala yang meninggalkan 99 domba demi satu yang hilang. Dan bagai seorang perempuan yang mencari sekeping dirham yang hilang di seluruh penjuru rumahnya, meski masih ada sembilan keping dirham lainnya. Demikian pula Tuhan dan seluruh penghuni surga akan bersukacita jika yang terhilang itu dapat ditemukan kembali. Dari dua perumpamaan yang ada dalam bacaan ini, kita bisa melihat bahwa baik sang gembala maupun perempuan yang sedang kehilangan ini, sama-sama bertindak aktif dalam mencari miliknya yang hilang. Demikian pula Tuhan, Dia tidak pernah diam apalagi menyerah saat umat kesayangan-Nya tersesat. Tuhan tak pernah letih mencari terus dan terus, sampai yang hilang ditemukan. Sungguh, anugerah Tuhan itu mencari dan menyelamatkan.
Penutup
Demikialah ketiga teks kita mengingatkan bahwa anugerah Tuhan adalah anugerah yang mengampuni, mengubah, dan mencari kita yang tersesat. Tidak ada yang terlalu berdosa untuk menerima pengampunan-Nya, tidak ada yang terlalu jauh untuk dijangkau oleh kasih-Nya. Setiap pribadi, berharga di mata Tuhan. Jadi, apapun kondisi kita saat ini, entah kita yang merasa sedang terpuruk, merasa sedang terjatuh atau merasa tidak mampu bangkit lagi, ingatlah, setiap kita berharga. Oleh sebab itu, Tuhan tidak pernah membiarkan kita terhilang dan tersesat. Mari tenangkan jiwa dan hati kita yang sedang riuh agar kita merasakan anugerah Tuhan dan mendengar suara-Nya memanggil kita. Selamat melanjutkan hidup dengan berdasar anugerah Tuhan. Amin. [Rhe].
Pujian: KJ. 387 Ku Heran Allah Mau Membr’ri
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
(Miwiti khotbah, palados saged mujekaken lagu Gala Bunga Matahari saking Sal Priadi, utawi saged nampilaken video punika)
Mungkinkah, mungkinkah
Mungkinkah kau mampir hari ini?
Bila tidak mirip kau, jadilah bunga matahari
Yang tiba-tiba mekar di taman, meski bicara dengan bahasa tumbuhan
Ceritakan padaku, bagaimana tempat tinggalmu yang baru
Tembang punika viral awit katah tiyang ingkang mireng tembang punika rumaos “relate” (terhubung) kaliyan lirik ing tembang punika. Tembang punika gambaraken raos sakit awit kecalan tiyang ingkang dipun tresnani sarta ngajeng-ajeng saged pinanggih malih kaliyan tiyang ingkang sampun seda punika. Sedaya tiyang tamtu nate rumaos kecalan, ingkang dados masalahipun kados pundi caranipun kangge ngadhepi raos kecalan punika? Saged kemawon kita nyerah lan mboten saged tangi, nanging kita kedah enget bilih kita kedah nglajengaken gesang kanthi ngrengkuh raos sakit punika. Punapa kita sadar bilih ingkang saged ngraosaken kecalan punika mboten namung manungsa kemawon? Gusti Allah ugi ngalami raos kecalan ugi. Inggih, Gusti Allah ingkang Maha Mangertos punika kadang kedah kecalan umat ingkang dipun tresnani awit saking maneka rena alesan. Punapa lan kados pundi Gusti Allah anggenipun ngadhepi raos kecalan punika, saged kita mangertosi saking respon-Ipun ingkang kagambaraken saking tiga waosan kita dinten punika. Pancen saben umat ingkang ical punika aji ing paningalipun Gusti Allah, awit saking punika Gusti Allah mboten mbucal umat-Ipun, nanging maringi sih rahmat. Sih rahmat ing satengahing kecalan punika ingkang kagambaraken ing tiga waosan kita punika.
Isi
Hubungan antawisipun Gusti Allah (YHWH) kaliyan bangsa Israel mboten selaminipun ing kahanan ingkang sae kemawon, asring hubungan punika risak karana wangkoting bangsa Israel. Waosan kaping sepisan nggambaraken bab punika, saksampunipun bangsa Israel dipun tilar Musa ingkang manggihi Gusti Allah ing gunung Sinai, bangsa Israel milai gonjang ganjing. Bangsa Israel rumaos ajrih lan kuwatos bab sinten ingkang badhe mimpin piyambakipun tumuju tanah prajanjian. Sanadyan bangsa Israel sampun nyekseni piyambak panguwaosipun Gusti Allah saking sedasa tulah ing Mesir utawi kawiyakipun laut Teberau, bangsa Israel tetap kemawon mangu-mangu. Bangsa punika lajeng madhep dhateng Harun lan nyuwun supados dipun damelaken “gusti sanes” minangka pemimpin. Harun netepi pepenginanipun bangsa Israel punika, lajeng damelaken patung anak pedhet emas saking sakatahing perhiasan emas ingkang dipun gadhahi bangsa Israel punika. Punika wujuding pambalela! Bangsa Israel sampun mboten setya malih tumrap prajanjinipun kaliyan Gusti Allah, mekaten anggenipun Gusti Allah kecalan umat-Ipun. Ing salebeting raos dukanipun, Gusti Allah nyingkiraken bangsa Israel punika. Nanging Musa nyuwunaken sih pangapunten saking Gusti, nyuwun sih piwelas saking Gusti supados Gusti Allah karsaa ngapunten bangsa Israel. Tamtu punika mboten ateges Gusti Allah punika plin-plan, nanging punika nedahaken bilih hubungan antawisipun Gusti Allah kaliyan umat-Ipun punika dinamis. Panjenenganipun karsa mireng lan ngapunten kalepatan umat-Ipun. Saking waosan sepisan punika, kita saged sinau bilih sih rahmatipun Gusti Allah punika kaparingaken lumantar sih pangapunten.
Juru serat 1 Timotius ngakeni bilih rumiyin piyambakipun punika tiyang awon ingkang nentang Sang Kristus, nanging sapunika piyambakipun ngakeni bilih peladosan ingkang katindakaken punika namung adedasar saking kakiyatan lan sih rahmating Sang Kristus. Punika nedahaken bilih piyambakipun tansah gumantung saking sih rahmatipun Gusti Allah sanes saking kuwaos lan kakiyatanipun piyambak (Ay. 12). Piyambakipun kengetan bilih rumiyin piyambakipun punika tiyang durhaka lan tiyang ingkang nganiaya pandherekipun Gusti Yesus ingkang kejem (Ay. 13), nanging sapunika piyambakipun nampi sih rahmatipun Gusti ingkang ageng (Ay. 14). Sih rahmat punika awujud kawilujengan saking Gusti Yesus Kristus (Ay. 15), namung saking Gusti Yesus, sadaya tiyang dosa kaparingan sih rahmat lan gesang langgeng (Ay. 16). Mekaten kawontenanipun juru serat Timotius punika, piyambakipun ingkang waunipun tiyang dosa lan jahat, dipun owahi lan dipun pulihaken kaliyan Gusti. Saking waosan kaping kalih punika kita saged mangertos bilih sih rahmatipun Gusti punika sih rahmat ingkang ngowahi lan mulihaken pigesangan.
Gusti Yesus ing waosan Injil dinten punika nedahaken bilih saben tiyang punika aji wonten paningalipun Gusti Allah. Kados Juru angon menda ingkang nilar 99 medhanipun kangge madosi setunggal mendhanipun ingkang ical. Lan kados tiyang estri ingkang madosi sakeping dirhamipun ingkang ical ing salebeting griyanipun, sanadyan piyambakipun taksih kagungan 9 keping dirham sanesipun. Mekaten ugi Gusti Allah lan sadaya penghuni swarga tansah bebingah karana tiyang ingkang ical sampun kapanggihaken malih. Saking kalih pasemon ingkang wonten ing waosan punika, kita saged mangertos sae punika juru angon mendha lan tiyang estri punika sami-sami kecalan, lajeng sami-sami tumindak aktif mandosi barang kagunganipun ingkang ical. Mekaten ugi Gusti Allah mboten nate mendel lan mboten nyerah madosi umat kagungan-Ipun ingkang kesasar. Gusti Allah mboten nate sayah anggenipun madosi terus ngantos umat ingkang ical punika kapanggihaken. Saestu sih rahmatipun Gusti punika katingal, Gusti karsa madosi lan nylametaken umat-Ipun.
Panutup
Mekaten tiga waosan kita punika ngengetaken kita bilih sih rahmatipun Gusti Allah punika sih rahmat ingkang ngapurani, ngowahi, lan madosi kita ingkang kesasar. Mboten wonten tiyang dosa ingkang mboten nampi sih rahmat-Ipun, sedaya wonten ing pangrengkuh sih katresnan-Ipun. Saben pribadi punika aji ing paningalipun Gusti. Dados punapa kemawon kahanan kita sapunika, sae punika kahanan ingkang sangsara, dawah, lan rumaos mboten saged tangi malih, mangga kita enget bilih kita punika aji wonten ing ngarsanipun Gusti. Awit Gusti Allah mboten nate nilar kita ingkang kesasar. Mangga kita ayemaken manah lan jiwa kita supados kita saged ngraosaken sih rahmat-Ipun Gusti lan mirengaken suwanten-Ipun nimbali kita. Sugeng nglajengaken gesang adedasar sih rahmatipun Gusti. Amin. [Terj. AR].
Pamuji: KPJ. 194 Kitab Suci Kang Adi