Mengisahkan Cerita Alkitab Khotbah Minggu 21 September 2025

8 September 2025

Minggu Biasa | Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1: Amos 8 : 4 – 7
Mazmur: Mazmur 113
Bacaan 2: 1 Timotius 2 : 1 – 7
Bacaan 3: Lukas 16 : 1 – 13

Tema Liturgis: Membudayakan Cinta Alkitab dengan Berkisah
Tema Khotbah: Mengisahkan Cerita Alkitab

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Amos 8 : 4 – 7
Amos adalah seorang nabi yang hidup pada abad ke-8 SM. Ia rekan sezaman dengan nabi Yesaya dan Mikha di Yehuda dan Yunus serta Hosea di Israel. Amos sendiri adalah seorang peternak dari Tekoa, sebuah desa di Yehuda sebelah selatan Yerusalem. Ia diutus untuk menyampaikan nubutan Allah mengenai Kerajaan Israel Utara yang tidak setia kepada Allah. Pada saat Amos menyampaikan nubuat kepada Israel Utara, bangsa ini berada pada situasi politik dan kemakmuran yang stabil. Secara pemerintahan bangsa Israel hidup dalam kejayaan, akan tetapi kehidupan spiritual mereka mengalami kebobrokan. Mereka hidup dalam kemunafikan, kemewahan, dan penyembahan berhala. Sistem peradilan di sana telah rusak, banyak terjadi penindasan terhadap orang miskin. Untuk itu misi Amos adalah memberitakan tentang keadilan, kebenaran dan hukuman Allah terhadap bangsa Israel karena mereka telah berbuat dosa dan tidak mau mendengarkan firman Tuhan.

Secara khusus pada bacaan kita ini adalah bagian dari peringatan yang disampaikan oleh Nabi Amos kepada orang-orang yang menyengsarakan sesamanya. Amos memperingatkan mereka yang menginjak-injak dan menekan orang-orang miskin, yang menipu orang-orang yang kurang berpengetahuan dalam perdagangan, yang memperbudak orang-orang yang lemah. Mereka diperingatkan bahwa Tuhan tidak akan melupakan perbuatan jahat mereka. Mereka yang menyengsarakan sesamanya itu akan mengalami goncangan dalam hidup mereka. Mereka tidak akan mengalami ketenangan, bahkan mereka akan mengalami kesedihan. Kepada mereka, Amos menyerukan agar mereka bertobat, kembali kepada Tuhan Allah. Tanpa pertobatan maka hukuman Allah akan menimpa kepada mereka.

1 Timotius 2 : 1 – 7
Surat 1 dan 2 Timotius disebut sebagai Surat Penggembalaan. Surat ini ditulis oleh Paulus dan ditujukan kepada Timotius yang pada waktu itu berada di Efesus. Tujuan Paulus menuliskan suratnya kepada Timotius antara lain: (1) untuk menasihati Timotius secara pribadi terkait dengan kehidupannya dan pelayanannya; (2) mendorong Timotius untuk mempertahankan kemurnian Injil Kristus dan menjaga kekudusan dari pengajaran palsu; (3) memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Timotius tentang berbagai urusan dan persoalan gereja di Efesus. Di sinilah Paulus senantiasa memotivasi Timotius agar dia tetap setia dalam pelayanannya sekalipun dia harus menghadapi berbagai macam tantangan dalam pelayanannya.

Dalam perikop ini Paulus menasihatkan kepada Timotius supaya mendoakan para pemimpin dan pemerintah. Mereka penting didoakan agar mengetahui kebenaran dan melakukannya dalam segala tugas dan tanggung jawab mereka. Maksudnya supaya mereka tidak melakukan kesalahan dalam tugas, tidak memeras, menindas atau menganiaya. Dengan mereka mengetahui dan melakukan kebenaran, semua orang bisa hidup tenang dan orang percaya dapat menjalani kehidupan imannya dengan bebas. Lebih dari itu, para pemimpin dan pemerintah itu diselamatkan dari hukuman karena kesalahan. Begitulah yang dikehendaki Allah bagi mereka semua.

Lukas 16 : 1 – 13
Bacaan ketiga ini terdiri dari 2 perikop. Yang pertama ayat 1-9 berupa perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, dan yang kedua ayat 10-13 yang berupa ajaran Yesus tentang kesetiaan dalam perkara kecil.

Dalam perikop yang pertama Yesus berkisah kepada murid-murid-Nya tentang adanya seorang bendahara yang tidak jujur dalam mengemban tugasnya. Dia bercerita bahwa bendahara itu menghambur-hamburkan atau memboroskan harta milik majikannya. Karena itu, dia diancam akan diberhentikan dari pekerjaannya itu. Menyadari ancaman itu, bendahara ini menggunakan akal cerdiknya untuk selamat. Kecerdikan akalnya itu dipuji oleh majikannya. Bendahara itu mendekati orang-orang yang berhutang kepada majikannya untuk mengubah surat hutangnya menjadi lebih kecil dari yang sebenarnya. Jadi, di sini Yesus mengisahkan perbuatan buruk dan juga kecerdikan seseorang.

Kemudian Yesus melanjutkan kisah cerita-Nya itu dengan memberikan nasihat kepada murid-murid-Nya. Dia menasihati mereka untuk setia dalam segala tugas dan tanggung, mulai dari yang kecil. Jika seseorang bisa setia dalam perkara yang kecil, dia sangat dimungkinkan untuk mampu setia dalam perkara yang besar.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan di atas sama-sama berbicara tentang orang-orang yang melakukan keburukan dan kejahatan, atau cenderung mudah melakukan keburukan. Bacaan 1 berisi peringatan kepada orang-orang yang menyengsarakan sesamanya. Bacaan 2 berisi nasihat untuk mendoakan para pemimpin supaya tidak melakukan kejahatan, melainkan melakukan kebenaran. Bacaan 3 berisi kisah tentang orang yang tidak jujur dan nasehat supaya setia dan jujur.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pada tahun 1970-an dan sebelumnya, para orang tua suka mendongeng atau berkisah kepada anak cucu mereka. Yang dikisahkan adalah dongeng-dongeng populer di tengah masyarakat, seperti dongeng tentang si kancil yang cerdik. Ketika televisi memasyarakat, dongeng-dongeng itu mulai jarang dikisahkan kepada anak cucu mereka, karena dongeng-dongeng itu ditayangkan di televisi. Ketika memasuki era digital modern sekarang dongeng-dongeng itu rupanya mulai lenyap, digantikan dengan games di HP.

Isi
Dalam bacaan utama hari ini, Lukas 16:1-13, khususnya ayat 1-9, Tuhan Yesus berkisah kepada murid-murid-Nya. Pada kesempatan itu, Dia berkisah tentang adanya seorang bendahara yang tidak jujur, yang memboroskan harta milik majikannya. Orang ini tentu merugikan dan mengecewakan majikannya. Karena ketidakjujuran dan kejahatannya, bendahara itu hendak diberhentikan dari jabatan dan pekerjaannya. Menghadapi ancaman itu, sang bendahara menggunakan akal cerdiknya untuk menyelamatkan diri. Dia mendekati orang-orang yang berhutang kepada majikannya itu untuk mengubah surat hutang yang sudah dibuat sebelumnya. Bendahara itu membuat surat hutang yang baru  menggantikan yang sebelumnya. Surat hutang yang baru itu lebih kecil dari yang sebelumnya. Karena akal cerdiknya itu, dia dipuji oleh majikannya.

Dalam bacaan pertama, nabi Amos menyerukan peringatan kepada orang-orang yang jahat, yang mencari kesenangan diri sendiri, yang menyengsarakan sesamanya. Mereka berbuat curang dan menipu orang-orang lemah dan miskin. Mereka yang menyengsarakan sesamanya itu akan mengalami goncangan dalam hidup mereka. Mereka tidak akan mengalami ketenangan, bahkan mereka akan mengalami kesedihan.

Cerita yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus itu kemudian dilengkapi dengan ajaran dan nasihat untuk para pendengarnya (Ay. 10-13). Mereka dinasihati supaya setia mulai dari dalam perkara yang kecil. Setia artinya baik dan jujur, tidak seperti perbuatan bendahara dalam cerita tadi, tidak seperti perilaku orang-orang yang diperingatkan oleh nabi Amos tadi. Orang yang setia itu mengetahui dan melakukan kebenaran dan kebaikan.

Begitulah yang dikehendaki Tuhan bagi semua orang, seperti yang disebut dalam bacaan kedua, 1 Timotius 2:1-7. Dimana, Paulus menasihatkan kepada Timotius supaya mendoakan para pemimpin dan pemerintah. Mereka adalah orang-orang yang rentan terhadap godaan untuk melakukan perbuatan tidak setia, tidak jujur, dan memutar balikkan kebenaran. Mereka penting untuk didoakan agar mengetahui dan melakukan kebenaran dan kebaikan dalam segala tugas dan tanggung jawab mereka. Maksudnya adalah supaya mereka tidak melakukan kesalahan dalam tugas, tidak memeras, menindas atau menganiaya. Dengan mereka mengetahui dan melakukan kebenaran dan kebaikan, semua orang bisa hidup tenang dan orang percaya dapat menjalani kehidupan imannya dengan bebas. Lebih dari itu, para pemimpin dan pemerintah itu diselamatkan dari hukuman karena kesalahan.

Penutup
Dalam menyampaikan ajaran-Nya, Tuhan Yesus sering berkisah tentang tokoh-tokoh Kitab Suci dan kisah-kisah yang lain, kisah-kisah karangan-Nya sendiri. Semua kisah-kisah itu diceritakan-Nya dengan dilengkapi ajaran-ajaran mulia-Nya. Dengan cara itu ajaran-ajaran-Nya lebih mudah dipahami, diresapi dan diingat kembali. Begitu pula dengan kita semua. Dalam menyampaikan ajaran-ajaran kepada keluarga, kepada suami, isteri dan anak adalah baik jika kita juga menceritakan kisah-kisah Alkitab. Dengan begitu, kiranya Alkitab yang berisi kesaksian tentang kasih, karya, kuasa, dan firman Tuhan dicintai oleh anak, istri, suami kita. Amin. [st]

 

Pujian: KJ. 427   Ku Suka menuturkan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing watawis taun 1970-an lan saderengipun, para tiyang sepuh remen ndongeng atau crita dhateng anak putunipun. Ingkang dipun cariyosaken inggih punika dongeng-dongeng ingkang kawentar ing tengahing masyarakat, kados ta dongeng-dongeng bab kancil ingkang pinter. Nanging nalika televisi sumebar ing tengahing masyarakat, tumunten dongeng-dongeng punika wiwit awis-awis kacariyosaken dhateng anak putu, karana dongeng-dongeng punika katontonaken ing televisi. Sareng lumebet ing mangsa digital modern samangke, dongeng-dongeng punika rupinipun wiwit sirna, kagantos games wonten ing HP.

Isi
Wonten ing waosan ingkang linangkung dinten punika, Lukas 16:1-13, mliginipun ayat 1-9, Gusti Yesus “ndongeng” utawi cariyos dhateng para sakabatipun. Nalika semanten Panjenenganipun cariyos bab wontenipun juru-gedhong utawi bendahara ingkang mboten jujur, ingkang ngawut-awut barang kagunganing bendaranipun. Tiyang punika tamtu mitunani lan nguciwani bendaranipun. Awit saking anggenipun mboten jujur lan tumindak piala, juru-gedhong punika badhe kalengseraken saking drajat lan padamelanipun. Sareng ngadhepi pangancam punika, piyambakipun tumunten ngginakaken akal juligipun kangge nylametaken dhiri. Piyambakipun mrepegi tiyang-tiyang ingkang nggadhah utang dhateng bendaranipun. Piyambakipun ngewahi serat utangipun tiyang-tiyang punika kadadosaken langkung sekedhik tinimbang serat utang ingkang sampun wonten. Karana akal juligipun, juru-gedhong punika dipun alembana dening bendaranipun.

Wonten ing waosan kapisan nabi Amos ngumandhangaken piweleh dhateng tiyang-tiyang ingkang sami tumindak awon, ingkang mbujeng kasenenganing dhiri pribadi, ingkang nyengsarakaken sesaminipun. Tiyang-tiyang punika sami tumindak julig lan ngapusi tiyang-tiyang sekeng lan miskin. Tiyang-tiyang ingkang ancik-ancik ing kasangsaraning tiyang apes punika badhe ngalami gonjang-ganjing wonten ing gesangipun. Tiyang-tiyang punika mboten badhe ayeming manah, malah badhe ngalami kasedhihan.

Carita ingkang dipun cariyosaken dening Gusti Yesus punika tumunten dipun jangkepi kalayan piwulang lan piweling dhateng sedaya ingkang sami mirengaken (Ay. 10-13). Tiyang-tiyang sami dipun tuturi supados sami setya wiwit ing babagan prekawis ingkang alit lan sepele. Setya tegesipun sae lan jujur, mboten kados tumindakipun juru-gedhong kalawau, mboten kados tumindakipun tiyang-tiyang ingkang dipun welehaken dening nabi Amos. Tiyang ingkang setya punika mesthi mangertos lan nindakaken kayekten lan kasaenan.

Lah makaten ingkang dipun kersakaken dening Gusti tumrap sedaya tiyang, kados ingkang kasebat wonten waosan kaping kalih, 1 Timotius 2:1-7. Ingkang punika, Rasul Paulus paring pitutur dhateng Timotius supados ndongakaken para pemimpin lan pamrentah. Tiyang-tiyang punika ngadhepi kathah panggodha ingkang gampil murugaken tumindak mboten setya, mboten jujur, lan malik kayekten. Tiyang-tiyang punika penting dipun dongakaken supados sami mangertosi lan nindakaken kayekten lan kasaenan ing saranduning ayahan lan jejibahanipun. Pangajabipun inggih punika supados tiyang-tiyang punika mboten tumindak awon, meres, nindhes utawi nganiaya ing salebeting netepi ayahan lan jejibahanipun. Kanthi mangertosi lan nindakaken kayekten lan kasaenan, sedaya tiyang saged gesang ayem tentrem lan para tiyang pitados saged gesang ngecakaken iman kapitadosanipun kanthi merdika. Langkung saking punika, supados para pemimpin lan pamrentah punika kawilujengaken saking paukumaning dosa.

Panutup
Gusti Yesus anggenipun paring piwulang, Panjenenganipun asring “ndongeng” ngariyosaken para pangageng ing Kitab Suci lan ugi cariyos-cariyos sanesipun, cariyos-cariyos anggitanipun pribadi. Sedaya cariyos ingkang kacariyosaken dipun jangkepi kalayan piwulangipun ingkang utami. Kanthi margi ingkang makaten punika, piwulang-piwulangipun Gusti Yesus langkung gampil dipun mangertosi, dipun resepi, lan dipun enget-enget malih. Makaten ugi tumrap kita sedaya, ing salebeting maringi piwulang dhateng kulawarga, dhateng semah lan anak putu, prayogi kita nyariyosaken lelampahan-lelampahan ing Kitab Suci. Kalayan makaten, Kitab Suci ingkang isi paseksi bab sih katresnan, pakaryan, pangwaos, lan sabdanipun Gusti dipun remeni dening anak putu lan semah kita. Amin. [st].

 

Pamuji: KPJ. 212  Aku Mbok Caritanana

Renungan Harian

Renungan Harian Anak