Bacaan: Titus 1 : 1 – 9 | Pujian: KJ. 309
Nats: “… melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri, …” (Ayat 8)
Ada penjual bakso keliling yang memberi nama gerobaknya “Sempurna”. Sama seperti nama pada gerobak itu, bakso yang dijual pun juga sempurna, rasanya enak dan tidak pernah gagal memanjakan pembeli dengan nikmatnya bakso tersebut. Mungkin si penjual memberi tulisan di gerobak baksonya dengan harapan bakso yang dijualnya dapat dengan sempurna dinikmati para pelanggannya. Harapan ini pasti juga dengan berbagai upaya yang menyertainya. Demikian juga dengan kehidupan setiap orang, proses untuk menjadi manusia yang sempurna bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah dipelajari di bangku-bangku sekolah ataupun kursus. Semuanya perlu pengalaman jatuh bangun dan melalui berbagai luka yang dialami seseorang.
Dalam suratnya kepada Titus, rasul Paulus menyampaikan berbagai syarat yang harus diperhatikan Titus dalam menentukan penilik dan penatua di jemaat. Berbagai syarat memperlihatkan bahwa seorang penilik jemaat haruslah orang yang sempurna. Baik secara pribadi maupun keluarganya haruslah sempurna. Syarat yang diajukan Paulus ini bukanlah tanpa alasan, karena bagi Paulus seorang yang mewakili para Rasul untuk memimpin jemaat memang seharusnya orang-orang pilihan, yang sudah melalui berbagai proses hidup dan memiliki kematangan berpikir serta mengambil keputusan. Karena kehidupan yang harus dihadapi oleh jemaat mula-mula saat itu sangat berat maka dibutuhkan pemimpin yang cakap dan tidak bercela untuk menghindari berbagai masalah yang akan datang di kemudian hari.
Tuhan Yesus berpesan kepada kita, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Pesan ini bukan tanpa alasan, karena banyak perkara berat yang harus kita hadapi dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, maka kesempurnaan itu menjadi hal yang pertama-tama harus kita upayakan. Saat ini tantangan sebagai orang Kristen di dunia ini semakin berat. Mampukah kita bertahan dalam iman, atau iman hanya sebagai pemanis ketika kita beribadah saja? Agar kehidupan kita tetap terpelihara dan tidak terjatuh dalam kesengsaraan, marilah kita terus mengupayakan kesempurnaan hidup di dalam Tuhan. Karena dengan demikian hidup kita dapat menghadapi berbagai tantangan zaman yang saat ini semakin berat. Amin. [RES].
“Kesempurnaan hidup adalah keniscayaan meskipun tidak mudah untuk diwujudkan.”