Bacaan: 2 Tawarikh 8 : 12 – 16 | Pujian: KJ. 369
Nats: “Lalu Salomo mempersembahkan kurban bakaran bagi TUHAN di atas mezbah TUHAN yang didirikannya di depan serambi Bait Suci, …” (Ayat 12)
Di sebuah desa kecil, ada seorang tukang kayu yang sangat terampil dan dikenal oleh orang-orang di desanya. Ia selalu membiasakan memulai harinya dengan berdoa sebelum mengerjakan apapun. Ketika ada yang bertanya, “Mengapa engkau melakukannya?” Ia berkata, “Karena apa yang saya buat bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk memuliakan Tuhan.” Sikap ini mencerminkan komitmen yang teguh dalam menjadikan Tuhan sebagai pusat dari semua aktivitasnya.
Dalam bacaan kita hari ini, kita melihat bagaimana Raja Salomo memusatkan hidup dan pemerintahannya pada Tuhan. Ia mempersembahkan kurban bakaran di mezbah yang telah ia dirikan untuk Tuhan, sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan Musa. Ia juga mengatur pelayanan para imam dan orang Lewi dengan tertib, memastikan setiap bagian dari ibadah berjalan sesuai kehendak Tuhan. Perikop ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya membangun kehidupan yang terstruktur dengan baik, berpusat pada Tuhan, dan dipenuhi rasa hormat terhadap aturan-Nya. Salomo tidak hanya menunjukkan ketaatan dalam ibadah, tetapi juga ketekunannya untuk memastikan bahwa semua aspek kehidupan bangsa Israel terarah pada penyembahan kepada Tuhan.
Bulan Pembangunan GKJW 2025 yang bertema, “Membangun Budaya Kritis Apresiatif”, mengajak kita untuk mengevaluasi cara kita menjalani hidup sampai saat ini. Apakah kita sudah menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan kita? Apakah kita menghargai dan mengapresiasi karya Tuhan dan sesama dalam setiap aspek kehidupan? Budaya kritis apresiatif berarti tidak hanya mempertanyakan, tetapi juga menghormati dan membangun dengan dasar yang kuat di dalam Tuhan. Maka dari itu, dalam bulan pembangunan GJW saat ini, kita diajak melihat kembali hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Apakah sudah mencerminkan sikap memuliakan Tuhan? Seperti Salomo yang tekun mengatur pelayanan kepada Tuhan, kita juga dipanggil untuk membangun kehidupan yang memuliakan Tuhan, baik dalam pekerjaan, pelayanan, dan hubungan kita dengan sesama. Mari kita kritis terhadap cara hidup kita. Dengan demikian, kita bukan hanya menjadi saksi bagi Tuhan, tetapi juga berkontribusi membangun budaya saling menghargai dan mendukung. Amin. [YNW].
“Hidup berpusat pada Tuhan, membangun budaya yang memuliakan Dia.”