
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengumumkan rencana untuk membuka peluang investasi rumah sakit asing di Indonesia. Dukungan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur pun segera menyusul. Dalam pemberitaan detik.com (24 Juli 2025), Ketua IDI Jatim dr. Pudjo Hartanto menyambut baik kebijakan ini dan menyebutnya sebagai kesempatan untuk transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter Indonesia, dan penyediaan layanan medis bertaraf internasional di dalam negeri. Ia mengakui, seperti halnya liberalisasi sektor ekonomi lainnya, kebijakan ini bisa menumbuhkan dua fenomena: “ada rumah sakit yang berjaya, dan ada yang kolaps.”
Ucapan tersebut tentu bukan prediksi statistic semata. Ia mencerminkan realitas lapangan bahwa dunia pelayanan kesehatan Indonesia sedang memasuki fase kompetisi bebas, bahkan bisa dikatakan terbuka pada “darwinisme pasar.” Dalam konteks ini, rumah sakit-rumah sakit milik gereja, terutama yang dikelola oleh gereja teritorial seperti Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW), berada pada posisi rawan. Banyak di antaranya telah cukup lama bertahan dengan berat, menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas yang menua, dan tekanan keuangan akibat pelayanan sosial yang tidak sebanding dengan pendapatan. Masuknya RS asing bisa menjadi pukulan terakhir yang menjatuhkan.
Namun apakah rumah sakit gereja harus tunduk pada kepunahan? Atau justru ini saatnya untuk bertransformasi? Tulisan ini hendak mengupas dilema ini secara agak menyeluruh, dari sisi teologi pelayanan, kebijakan publik, hingga manajemen kelembagaan. Di dalamnya juga diwacanakan beberapa pendekatan strategis agar pelayanan kesehatan gereja tidak hanya bertahan, melainkan tampil relevan dan signifikan di tengah zaman yang berubah.
Pelayanan Kesehatan Gereja: Diakonia yang Terancam
Rumah sakit milik gereja di Indonesia, seperti yang dikelola GKJW, sejatinya bukan sekadar institusi kesehatan. Mereka adalah bagian dari wujud konkret pelayanan holistik gereja: menyentuh tubuh, jiwa, dan roh manusia. Berdasarkan konsep diakonia dalam pemahaman Reformed dan Injili, pelayanan kesehatan adalah bentuk kasih yang paling nyata, bagian dari mandat Kristus untuk melayani “yang sakit dan menderita.”
Namun kenyataan lapangan menunjukkan bahwa semangat diakonia ini telah lama ditantang oleh tekanan finansial dan administratif. Sebagai contoh, rumah sakit – rumah sakit GKJW selama ini beroperasi dengan pendanaan terbatas, SDM yang kerap multitugas, serta fasilitas yang jauh dari standar rumah sakit komersial. Banyak RS gereja juga berstatus kelas C atau D, yang berarti lebih banyak melayani masyarakat bawah dan ronisnya dengan tarif yang di bawah biaya operasional.
Dalam laporan Kompas dan detik.com, disebutkan bahwa RS asing akan membawa teknologi tinggi, sistem manajemen profesional, dan standar medis global. Ini adalah hal yang patut disambut untuk peningkatan mutu kesehatan nasional. Tetapi, dalam skenario terbuka seperti ini, RS local, apalagi yang “nirlaba” seperti milik gereja, akan kehilangan daya saing, terutama dalam hal SDM, peralatan, dan segmentasi pasar.
Dalam analisa kebijakan publik, liberalisasi sektor kesehatan seperti ini sah secara hukum melalui omnibus law dan UU Cipta Kerja. Namun, jika tidak diiringi dengan perlindungan dan penguatan kapasitas RS nirlaba dan komunitas, hasilnya akan timpang. RS asing akan menyasar pasar menengah ke atas yang mapan, sementara RS lokal terseret dalam lumpur pelayanan sosial tanpa kompensasi yang layak. Dalam jangka panjang, bukan hanya pelayanan sosial yang tergerus, tapi juga wajah kehadiran gereja di tengah masyarakat.
Antara Misi dan Manajemen: Menyelaraskan Dua Dunia
Dalam tradisi Protestan, termasuk GKJW, pengelolaan rumah sakit sering kali dilihat sebagai bagian dari perwujudan iman dan kasih. Namun kini kita harus jujur mengakui: semangat pelayanan saja tidak cukup bila tidak disertai tata kelola yang profesional dan sistematis. Inilah titik kritis yang harus segera direspon oleh seluruh elemen GKJW dan Yayasan Kesehatan GKJW selaku lembaga gerejawi di bidang pelayanan kesehatan.
Seperti dikemukakan pakar manajemen lembaga sosial John Carver, banyak lembaga berbasis keagamaan gagal bukan karena mereka kurang semangat, tetapi karena tidak memiliki struktur tata kelola yang adaptif dan akuntabel. RS gereja terlalu sering dikelola sebagai “perpanjangan tangan” gereja, bukan sebagai entitas profesional dengan otonomi strategis. Padahal, dunia medis adalah ranah teknis yang bergerak cepat, penuh tuntutan kualitas dan efisiensi.
Dalam konteks GKJW, perlu evaluasi menyeluruh tentang bagaimana RS gereja dikelola. Apakah pengambilan keputusan strategis terlalu terpusat di lingkup Majelis Agung? Apakah Yayasan Kesehatan telah diberi kewenangan yang lebih besar namun tetap dengan dewan pengawas profesional? Apakah laporan keuangan diaudit secara independen? Apakah layanan digital dan sistem informasi medis sudah terintegrasi? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk melihat apakah RS GKJW masih punya harapan untuk bertransformasi menjadi pelayanan kesehatan yang tahan uji di era kompetisi bebas ini.
Menimbang Peluang Kolaborasi: Musuh Lama, Sekutu Baru
Kehadiran RS asing memang membawa ancaman, tapi juga peluang jika dilihat dari sudut pandang inovatif. Tidak semua RS gereja harus bersaing secara langsung dengan RS internasional. Sebaliknya, rumah sakit gereja bisa menjadi mitra lokal yang kuat dalam program-program komunitas, pelayanan pencegahan, dan spesialisasi pelayanan yang “diabaikan” oleh RS komersial, misalnya: paliatif, geriatri, psikiatri komunitas, atau rehabilitasi sosial.
Lebih jauh, RS GKJW dan institusi sejenis dapat membentuk konsorsium atau aliansi sinergis dengan lembaga pendidikan Kristen (seperti Universitas Katolik Widya Mandala, UK Petra, atau STIKES Kristen). Kerja sama ini bisa memperkuat ekosistem pelayanan, memperluas jaringan SDM, dan membuka akses pada riset medis serta hibah internasional. Model kolaboratif semacam ini terbukti berhasil dalam banyak kasus di negara-negara seperti Filipina, Kenya, dan bahkan Belanda.
Reposisi Strategis: Dari Beban Menjadi Kekuatan Pelayanan
Sudah saatnya gereja, termasuk GKJW, melakukan reposisi strategis terhadap pelayanan rumah sakit. Kita tidak dapat lagi mengelola rumah sakit seperti dulu, seolah-olah ia adalah pelengkap pelayanan gereja dengan kebaktian-kebaktiannya. Rumah sakit adalah entitas kompleks: ia adalah pelayanan kasih, tetapi juga institusi profesional; ia bersifat rohani, tetapi hidup dalam ekosistem yang sangat duniawi.
Oleh karena itu, struktur kelembagaan rumah sakit gereja perlu ditinjau ulang. Banyak rumah sakit milik sinode gereja, termasuk GKJW, masih berada dalam model “pengelolaan langsung” oleh yayasan atau unit kerja yang sinodal. Akibatnya, fleksibilitas manajerial terbatas, struktur akuntabilitas kabur, dan ruang inovasi terhambat oleh “birokrasi” internal gereja yang tidak selalu relevan dengan tantangan sektor kesehatan.
Model yang lebih tepat adalah menjadikan rumah sakit sebagai entitas otonom berbentuk yayasan profesional, dengan governance yang terbuka namun tetap dalam kerangka teologis gereja. Sinode gereja cukup menjadi pemegang mandat moral dan teologis, sementara urusan operasional dan investasi dipercayakan kepada Pembina, Pengurus dan Pengawas Yayasan yang diisi oleh para profesional medis, manajer rumah sakit, ahli hukum kesehatan, serta teolog publik.
Dengan model ini, RS milik GKJW tidak perlu kehilangan karakter gerejawinya. Justru melalui pengelolaan profesional, nilai-nilai Injil tentang belas kasih, integritas, dan pelayanan pada yang miskin akan menemukan wadah nyata yang efisien dan berdampak luas.
Menata Kembali SDM dan Sistem Digital
Salah satu faktor utama yang membuat RS asing unggul adalah kekuatan SDM dan teknologi digital. Di sisi ini, RS gereja sering tertinggal. Banyak dokter spesialis lebih memilih rumah sakit swasta yang menawarkan insentif lebih baik dan beban kerja yang lebih terukur. RS gereja kerap bergantung pada relasi informal dan idealisme.
Namun dalam jangka panjang, model ketergantungan pada semangat pelayanan saja tidak berkelanjutan. Maka diperlukan strategi ganda: Pertama, menjalin kemitraan strategis dengan institusi pendidikan kesehatan, seperti Fakultas Kedokteran UKDW, UK Petra, Widya Mandala, Stikes Kristen, dan universitas lain mitra gereja.
Tujuannya adalah membentuk ekosistem pembelajaran, magang, dan riset berbasis pelayanan kasih. Kedua, membangun sistem digitalisasi menyeluruh, termasuk rekam medis elektronik, manajemen klaim BPJS yang transparan, dashboard keuangan, hingga telemedicine sederhana untuk menjangkau warga jemaat di pelosok. Digitalisasi bukan hanya meningkatkan efisiensi, tapi juga memperbaiki persepsi publik tentang profesionalitas RS gereja.
Pemerintah saat ini mendorong RS untuk melakukan akreditasi paripurna, dan banyak rumah sakit Kristen kesulitan memenuhi indikator digital dan manajerial. Maka sudah waktunya sinode gereja, dalam hal ini Majelis Agung GKJW, menyediakan support system berbasis data dan pelatihan digital lintas rumah sakit milik gereja agar transformasi ini tidak hanya menjadi retorika.
Segmentasi dan Spesialisasi Sosial: Niche yang Terlupakan
Salah satu langkah adaptif yang dapat ditempuh RS GKJW adalah fokus pada layanan yang seringkali “diabaikan” oleh rumah sakit komersial. Sebagian besar RS asing akan fokus pada pasar kelas menengah-atas, dengan layanan estetika, jantung, kanker, atau rawat inap eksklusif. Tapi ada segmen luas yang tetap terbuka seperti: layanan geriatri (lanjut usia), sangat dibutuhkan di tengah tren penuaan populasi; Psikiatri komunitas dan rehabilitasi mental yang masih dianggap “tidak menguntungkan” oleh RS umum; layanan paliatif pendampingan menjelang kematian, dan pastoral klinis, yang sejalan dengan misi gereja.
Jika RS GKJW mengambil posisi ini, ia bukan hanya bertahan, tapi juga menjadi pemimpin di bidang pelayanan yang menyentuh eksistensi manusia secara utuh. Gereja akan hadir dalam ruang yang sering kali dilupakan pasar, dan justru di situlah Injil bisa bersuara lebih lantang.
Model Keuangan Alternatif dan Dana Abadi Pelayanan
Kelemahan yang juga cukup mendasar dari RS gereja adalah struktur pembiayaannya. Selama ini rumah sakit hidup dari klaim BPJS dan subsidi silang pelayanan sosial. Namun kondisi keuangan BPJS yang fluktuatif serta kebijakan tarif yang sering diubah secara sepihak membuat banyak RS nirlaba kolaps pelan-pelan.
Sudah saatnya sinode gereja, dalam hal ini Majelis Agung GKJW, membentuk Dana Abadi Pelayanan Kesehatan Gereja, yang dapat dihimpun dari donasi warga jemaat dan diaspora, hasil kerja sama internasional (lembaga gereja mitra di Eropa, Asia dan sebagainya) dan kontribusi rutin dari lembaga-lembaga usaha lain milik gereja jika tata kelola asset sudah dijalankan dengan lancar.
Dana ini tidak dipakai untuk operasional harian, tetapi menjadi endowment fund yang menghasilkan bunga tetap untuk menopang program pelayanan jangka panjang, misalnya: klinik keliling, layanan pengobatan gratis, atau program dokter jemaat. Dana abadi ini juga bisa digunakan sebagai jaminan kredit lunak atau investasi infrastruktur rumah sakit.
Sebagai tambahan, rumah sakit GKJW dapat membuka produk layanan solidaritas kesehatan internal jemaat, mirip asuransi mikro gereja, dengan premi ringan yang dikelola secara mutual. Model ini sudah diterapkan sukses oleh gereja di Filipina dan Afrika Selatan.
Menguatkan Jaringan: Konsorsium RS Kristen Jawa Timur
Di tengah kompetisi global, sinergi menjadi kunci. GKJW tidak perlu berjalan sendiri. Justru tantangan ini adalah momen yang tepat untuk mulai menggagas pembentukan Konsorsium Rumah Sakit Kristen Jawa Timur, yang menghimpun RS milik GKJW, Baptis, Katolik, GKI, GPdI, dan lainnya.
Konsorsium ini dapat menjadi wadah pengadaan alat dan obat dalam skala besar agar lebih murah, pertukaran tenaga medis dan pelatihan bersama, lobi kebijakan kepada pemerintah maupun riset dan pengembangan bersama berbasis teologi pelayanan
Aliansi seperti ini bukan hal baru. Di Amerika, Catholic Health Association sudah sejak lama menjadi kekuatan besar yang menjembatani pelayanan gereja dan sistem kesehatan nasional. Di Indonesia, hal serupa bisa dibentuk melalui pendekatan lintas sinode gereja dan misi pelayanan bersama.
Menafsir Zaman, Merawat Tubuh, Menghidupkan Iman
Pada titik ini, penting bagi gereja, termasuk GKJW, untuk kembali pada inti identitas pelayanannya. Rumah sakit milik gereja bukanlah proyek bisnis, tapi juga bukan sekadar bentuk pengabdian sentimental. Ia adalah bagian dari mandat Injil untuk menyentuh tubuh dan jiwa manusia dalam kasih dan kebenaran. Namun dalam dunia yang terus berubah ini, kasih perlu dikomunikasikan melalui struktur, manajemen, dan teknologi yang dapat dimengerti oleh zaman.
Teologi pelayanan kesehatan tidak berhenti pada pelayanan murah bahkan gratis. Ia juga mencakup keberanian untuk berubah, mengambil keputusan sulit, dan membuka diri pada kemitraan baru. Di sinilah relevansi misi gereja diuji. Apakah gereja tetap menjadi suara kasih dalam dunia yang dikuasai oleh efisiensi dan pasar? Atau justru mengundurkan diri karena tidak mampu beradaptasi?
Gereja tidak boleh secara gegabah bersikap anti-pasar. Yang harus ditolak adalah pasar tanpa kasih dan tanpa regulasi etis. Justru gereja harus hadir dalam logika pasar dengan membawa etos baru: keadilan, keberpihakan pada yang lemah, dan pelayanan yang manusiawi. Rumah sakit gereja yang profesional, namun tetap berpihak pada mereka yang tak bersuara, adalah bentuk konkrit dari perjumpaan Injil dengan dunia modern.
Membaca Tanda Zaman: Rumah Sakit Gereja Bukanlah Sekadar Bangunan
Dalam teologi publik, sebagaimana dikembangkan oleh Douglas John Hall dan Miroslav Volf, gereja dipanggil untuk membaca “tanda-tanda zaman” (signs of the times) dan meresponsnya secara profetik. Kebijakan Presiden Prabowo membuka izin RS asing adalah salah satu tanda zaman itu. Ia menuntut gereja untuk tidak diam. Jika kita mengabaikannya, maka rumah sakit gereja tidak hanya akan kehilangan relevansi, tapi bisa benar-benar hilang dari lanskap sosial.
Tantangan ini juga menjadi peluang untuk melihat bahwa rumah sakit tidak identik dengan tembok atau tempat tidur rawat inap. Konsep pelayanan kesehatan gereja harus melampaui batas fisik. Klinik keliling, unit pastoral kesehatan, posyandu jemaat, hingga telekonsultasi bisa menjadi ekspresi pelayanan kesehatan gereja yang relevan, murah, dan menyentuh lebih banyak jiwa.
Dengan cara ini, rumah sakit tidak lagi menjadi beban berat dalam kehidupan pelayanan gereja, tetapi menjadi pusat gravitasi misi sosial gereja di tengah dunia yang haus akan empati dan pengharapan.
Visi Strategis Pelayanan Kesehatan GKJW
Maka GKJW, sebagai gereja yang tumbuh di bumi Jawa Timur dan hidup dalam pluralitas masyarakatnya, dapat mulai memikirkan beberapa visi jangka panjang seperti:
- Transformasi RS GKJW sebagai Rumah Sakit Komunitas Kristiani, yang profesional, digital, dan melayani dengan kasih.
- Reorientasi Layanan ke Segmen Sosial Unik, seperti pelayanan lanjut usia, dukungan mental komunitas, dan pemulihan pasca bencana.
- Membangun Dana Abadi Pelayanan Kesehatan Jemaat, dikelola secara transparan dan akuntabel, sebagai wujud tanggung jawab iman.
- Mendirikan Konsorsium RS Gereja Jawa Timur, yang kuat dalam sinergi, solid dalam advokasi kebijakan, dan berdaya tawar dalam ekosistem kesehatan nasional.
- Mewujudkan Sistem Digital Terpadu, dari rekam medis, manajemen keuangan, hingga integrasi pelayanan pastoral berbasis aplikasi.
Dalam semua ini, Majelis Agung atau sinode gereja tidak harus menjadi pengelola langsung. Tugas Majelis Agung atau sinode gereja adalah memastikan nilai, arah teologis, dan pengawasan etis pelayanan kesehatan gereja tetap terjaga. Operasional harian diserahkan kepada yayasan profesional dan tim manajemen kompeten, dengan mekanisme akuntabilitas dan evaluasi berkala.
Bertahan atau Bangkit?
Pernyataan Ketua IDI Jatim bahwa “akan ada rumah sakit yang berjaya, dan ada yang kolaps” bukanlah ancaman kosong. Itu adalah peringatan bagi semua lembaga pelayanan, terutama gereja, untuk tidak tinggal dalam zona nyaman. Rumah sakit gereja yang tidak mau berubah, tidak membuka diri terhadap manajemen profesional dan tidak menata ulang visinya, akan tergerus oleh waktu. Sebaliknya, rumah sakit yang berani bertransformasi justru akan menemukan kembali maknanya dalam masyarakat.
Gereja bukan hanya pelindung nilai-nilai spiritual, tetapi juga aktor sosial yang bertanggung jawab dalam menciptakan sistem kesehatan yang adil, inklusif, dan manusiawi. Rumah sakit GKJW, jika dibenahi dengan serius, dapat menjadi pusat kesaksian Injil di jaman now, bukan sekedar karena ornament salib di pintunya, tapi karena kasih yang hidup dalam setiap pelayanannya.
Dalam dunia yang bergerak cepat dan sering kali melupakan yang lemah, rumah sakit gereja adalah ingatan kolektif tentang kemanusiaan. Jangan biarkan ia mati hanya karena kita enggan berubah.
Oleh: Pdt. Abednego Adinugroho
BEBERAPA REFERENSI:
Hall, Douglas John. The Cross in Our Context: Jesus and the Suffering World. Fortress Press, 2003.
Volf, Miroslav. A Public Faith: How Followers of Christ Should Serve the Common Good. Brazos Press, 2011.
Carver, John. Boards That Make a Difference: A New Design for Leadership in Nonprofit and Public Organizations. Jossey-Bass, 2006.
Detik.com. “Presiden Izinkan RS Asing, IDI Jatim: Ada yang Berjaya dan Kolaps.” 24 Juli 2025.
Kompas.id. Berbagai artikel tentang tantangan rumah sakit dan pelayanan kesehatan nirlaba di Indonesia.