Kritis terhadap Bahaya Ketamakan dalam Gereja Khotbah Minggu 3 Agustus 2025

21 July 2025

Minggu Biasa | PK. Pembangunan GKJW
Stola Putih

Bacaan 1: Pengkhotbah 1 : 2, 12 – 14; 2 : 18 – 23
Mazmur : Mazmur 49 : 1 – 13
Bacaan 2: Kolose 3 : 1 – 11
Bacaan 3: 
Lukas 12 : 13 – 21

Tema Liturgis: Membangun Budaya Kritis Apresiatif
Tema Khotbah: Kritis terhadap Bahaya Ketamakan dalam Gereja

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Pengkhotbah 1 : 2, 12 – 14; 2 : 18 – 23
Kitab Pengkhotbah sering disebut sebagai karya sastra filosofis-reflektif. Karena isinya yang filosofis maka sering bahasanya menyamarkan makna sebenarnya. Jika ini tidak disadari maka ini sering menjadikan kita salah memberi makna. Karena sifatnya reflektif maka bahasanya selalu bersifat permenungan. Demikian juga dalam perikop kita kali ini. Dalam Pengkhotbah 1:2, kita langsung disuguhi pernyataan: kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Ungkapan ini berlanjut dan lebih mendalam lagi di ayat 14 bahwa segala sesuatu yang diusahakan dan dilakukan manusia di bawah matahari (di dunia ini) adalah kesia-siaan seperti menjaring angin.

Menjaring angin, dapat kita bayangkan apa yang didapat, tidak ada. Energi dikuras habis tetapi tidak ada satupun yang didapat. Demikianlah gambaran Pengkhotbah tentang kehidupan manusia. Ini artinya menyibukkan diri, sering menjatuhkan diri sebagai orang yang merasa penting, saking pentingnya ia sering terjebak pada tuntutan untuk dihormati dan dihargai. Maka ketika semua itu tidak didapat akan timbul rasa kecewa, putus asa, bahkan kehilangan iman dan Tuhan.

Kolose 3 : 1 – 11
Bertolak dari Kitab Pengkhotbah maka Kolose 3 justru mengajak manusia untuk memikirkan “perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol. 3:2). Apakah ini berarti tidak perlu manusia di dunia memikirkan dan mencari hal-hal duniawi? Bukankah segala sesuatu yang ada di bumi sangat perlu bagi kehidupan ini? Maksud dari Kolose ternyata bukan hidup anti segala yang duniawi, tetapi dibalik yang duniawi ini ada rahasia yang tidak semua orang ketahui, dan itu terjadi kepada orang percaya, yaitu setiap orang percaya telah mengalami hidup baru. Kehidupan lama (seperti dunia) sudah mati bersama kematian Kristus dan kehidupan yang dijalani hari ini adalah kehidupan yang baru karena dibangkitkan oleh Kristus (Kol. 3:3)

Menyadari bahwa kehidupan orang percaya adalah hidup baru maka kini kehidupannya tidak lagi diarahkan kepada dunia dengan segala kemegahan dan kenyamanannya. Tetapi kehidupan semua orang percaya adalah untuk Tuhan yang adalah Raja Sorgawi. Oleh sebab itu, memikirkan hal-hal sorgawi berarti kehidupannya tidak lagi menuruti dosa. Dan itulah yang dijelaskan secara panjang lebar oleh Paulus dalam surat Kolose 3:6-11.

Lukas 12 : 13 – 21
Lukas 12 ini menarik untuk dianalisa secara mendalam. Sebab di antara beribu-ribu orang yang berdesak-dasakan mengikut Tuhan Yesus (Luk. 12:1) tiba-tiba ada satu orang yang datang kepada-Nya membawa masalah personalnya. Bayangkan ribuan orang datang kepada Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus memberikan nasihat dan pengajaran. Bahkan pengajaran dan nasihat Tuhan Yesus kemudian pertama-tama diarahkan khusus kepada para murid-Nya.

Pada saat yang khusus disampaikan, tiba-tiba ada orang yang bukan  golongan murid Tuhan Yesus menyampaikan permintaan personalnya, yaitu berkaitan dengan masalah warisan. Tradisi orang Yahudi, warisan akan dibagikan jika orang tua sudah tiada. Sehingga sangat wajar jika kemudian orang ini mendatangi Tuhan Yesus dan meminta-Nya menjadi hakim atas warisan sebab tidak ada lagi orang yang bisa mengadili pembagian warisan. Menariknya adalah yang diminta kepada Tuhan Yesus supaya meminta saudaranya mau berbagi warisan dengannya. Seremeh itukah Tuhan Yesus?

Ada dugaan kuat bahwa orang tersebut bukan karena tidak mendapat warisan tetapi warisan yang ia terima tidak sesuai yang ia harapkan. Pada kondisi itulah orang ini berharap Tuhan Yesus membantu mewujudkan keinginannya. Dan Tuhan Yesus justru menukik kepada masalah utama dari kepemilikan harta, yaitu ketamakan. Orang yang gila harta pasti tamak. Dan orang yang tamak pasti mengukur hidupnya dari harta. Kata tamak berasal dari bahasa Yunani “πλεονεξία” (pleonexia) yang secara harfiah berarti “keinginan berlebihan” atau “keserakahan.” Keserakahan menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena sering menjadikan manusia termasuk Gereja kehilangan iman dan Tuhannya. Oleh sebab itulah, Tuhan Yesus mengingatkan dan memberi teguran keras tentang kepemilikan harta. Tentu ini bukan dimaksudkan bahwa Tuhan Yesus melarang manusia mencari harta, tetapi jangan sampai harta menjadikan kita kehilangan fokus kepada Tuhan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Sifat tamak menjadi masalah yang sangat serius bagi kehidupan bersama. Karena dalam ketamakan itu hidup diisi dengan pementingan diri sendiri, keinginan memperoleh semua secara berlebih dan kehilangan rasa peduli. Antara saudara bisa saling membunuh, antara Gereja bisa kehilangan rasa percaya. Bagi orang tamak seolah semua hal adalah harta dan kepemilikan saja. Sampai lupa bahkan demi memuaskan diri, iman dan Tuhan diabaikan. Padahal sejatinya semua yang dilakukan dalam hidup adalah sia-sia, tidak berguna. Karena itu, hidup mesti diarahkan kepada hal-hal sorgawi sehingga kalaupun kita mencari harta maka kita tidak sampai diracuni ketamakan namun selalu menyerahkan diri kepada Tuhan saja.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Hari ini kita akan memulai perayaan liturgi khas GKJW yang disebut Bulan Pembangunan GKJW. Khas GKJW karena hanya GKJW yang memilikinya. Dan, melalui perayaan liturgis ini kita mengenang salah satu sejarah penting bagi kehidupan GKJW. Namanya sejarah kadang memang tidak semua hal dapat diceritakan secara detail, tergantung penuturnya. Pun ketika bicara tentang latar belakang perisitiwa Bulan Pembangunan, kita selalu mendapat kolase cerita yang variasinya tidak sama. Namun di antara itu semua yang pasti Pembangunan GKJW menjadi tonggak menyatunya kembali puing-puing GKJW dalam bangunan besar bernama Majelis Agung GKJW.

Menariknya, bertepatan dengan mengenang peristiwa Pembangunan GKJW tahun ini kita dipertemukan dengan teks bacaan yang bernada lain. Bukankah dalam membangun GKJW kita butuh semangat, duit, koneksi, dan relasi? Rasanya, Lukas 12:13-21 yang kita baca hari ini kok tidak nyaman kalau digunakan untuk menyemangati GKJW yang butuh banyak harta, relasi, koneksi untuk pembangunan. Atau mungkin justru teks ini sangat tepat supaya Pembangunan GKJW tidak salah lagi? Apalagi ketika Lukas 12:13-21 ini diteropong dengan Kitab Pengkhotbah yang menjadi bacaan pertama. Maka pasti kita sudah memiliki opini tersendiri. Sebelum beropini mari kita periksa yang menjadi pesan firman Tuhan untuk Pembangunan GKJW tahun ini.

Isi
Dalam teks Lukas 12 kita berjumpa dengan percakapan Tuhan Yesus dengan seseorang yang tidak disebutkan namanya sedang menghadapi masalah warisan. Pada Lukas 12:13, kita mendapatkan informasi bahwa orang tersebut tidak mendapatkan warisan sebagaimana yang ia inginkan. Bisa saja karena dia tidak diberi bagian atau kalaupun diberi tidak sesuai harapannya, makanya orang tersebut meminta kepada Tuhan Yesus supaya menyuruh saudaranya berbagi warisan dengannya.

Dari jawaban terbuka Tuhan Yesus di ayat 15, kita melihat bahwa ada hal yang berbahaya terhadap kepemilikan harta, yaitu ketamakan. Kata tamak dalam bahasa Yunani ”πλεονεξία” (pleonexia) yang secara harfiah berarti ”keinginan berlebihan” atau ”keserakahan.” Kata ini merujuk pada hasrat yang tidak terkendali untuk memiliki lebih banyak, terutama dalam konteks materi atau kekayaan. “Tamak” tidak hanya menggambarkan keinginan untuk memiliki lebih banyak harta, tetapi juga menyebabkan kita kehilangan iman, karena orang yang tamak bisa berbuat nekat dan jahat. Oleh sebab itulah, Tuhan Yesus memberikan penjelasan bahwa hidup manusia tidak bergantung kepada kekayaannya itu.

Bahkan Tuhan Yesus menegaskan kembali bahwa sebuah kesia-siaan mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri jikalau dia tidak kaya di hadapan Tuhan (Luk. 12:21). Kesimpulan ini diawali sebuah perumpamaan tentang orang kaya yang hasil tanahnya berlimpah-limpah sehingga dia membuat lumbung yang besar untuk menumpuk hasil tanahnya itu. Artinya orang kaya ini mendapatkan harta untuk dimiliki bagi kepentingannya sendiri. Tidak ada masalah sebenarnya, namun kekayaannya itu justru menjadikan hidupnya hanya berfokus kepada kekayaan dan dirinya sendiri sampai tidak berbagi kepada sesamanya. Dari kondisi ini, kita diingatkan kembali peringatan Tuhan Yesus tentang hal mengumpulkan harta di dalam Lukas 12:34: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Jadi harta itu penting dan berguna. Menjadi kaya juga penting dan baik-baik saja. Namun ketika ketamakan sudah meracuni kehidupan maka yang baik dan berguna pun akan sirna dan tidak lagi ada manfaatnya. Ketamakan itu seperti virus yang ada dan menulari siapapun saja. Ketamakan bukan hanya menjangkiti orang kaya bahkan yang tidak kaya pun dapat juga memiliki sifat tamak. Bukan hanya orang tertentu dan usia tertentu saja karena siapapun dapat bersikap tamak.

Bahaya terbesar dari ketamakan adalah kehilangan kebaikan, kepedulian, berganti menjadi tindakan yang tega. Lebih berbahaya lagi dari ketamakan adalah kita kehilangan fokus kepada Tuhan bahkan merasa tidak butuh Tuhan dalam kehidupan ini. Semua seolah dapat dijalani dengan harta. Hidup penuh dengan angka-angka dan rupiah-rupiah saja. Semua hal diukur dari kekayaan dan uang saja. Sebab bagi orang tamak, harta adalah juru selamatnya.

Padahal jika kita membaca Pengkhotbah 1:2, segala sesuatu adalah sia-sia. Bahkan setiap usaha dan segala yang dilakukan manusia adalah sia-sia seperti menjaring angin (Pengkhotbah 1:14). Seolah-olah mendapat dan memiliki banyak namun sejatinya tidak ada satupun yang kita miliki. Lalu apakah kita berhenti berusaha dan tidak melakukan apa-apa dalam kehidupan ini? Kalau kita membenci orang tamak harta dan kita kemudian mengambil sikap sebaliknya tidak peduli harta, maka kita sama tamaknya dengan orang yang gila harta. Sebab pesimis dan apatis juga sia-sia. Malah menyusahkan diri dan orang-orang sekitar kita. Gereja bisa saja terjangkiti sifat tamak. Tandanya adalah Gereja mementingkan dirinya sendiri, penuh strategi supaya tidak berkurang apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Direka-reka apapun supaya Gerejanya sendiri yang paling dari yang lainnya. Apakah demikian dengan Jemaat-jemaat GKJW? Andalah yang dapat menjawabnya.

Penutup
Di Bulan Pembangunan GKJW, di seluruh GKJW ditandai dengan Perjamuan Kudus. Itu bukan hanya sekadar seremonial semata. Setiap Pembukaan Bulan Pembangunan ditandai Perjamuan Kudus karena kita diingatkan kembali tentang sumber kehidupan Gereja. Bukan harta, bukan nama yang menjadikan Gereja ini ada, tetapi karena Kristus yang mengorbankan diri-Nya bagi kehidupan semua. Tidak masalah kita mencari harta, tidak salah kita ingin menjadi kaya. Tetapi jangan sandarkan hidup kita hanya kepada itu semua, sebab sejatinya sumber kehidupan kita adalah Kristus yang memberikan diri yang kita kenang melalui Sakramen Perjamuan Kudus saat ini. Karena kita menyadari bahwa sumber kehidupan kita adalah Kristus, marilah kita arahkanlah hati kita kepada Kristus. Dalam Kolose 3:2 disebutkan: “pikirkanlah perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Dengan cara hidup benar dan kudus, mari kita tidak menduakan Tuhan dan bersikap penuh kasih kepada semua orang.

GKJW pernah salah jalan, GKJW sering kali gagal, GKJW mengecewakan. Semua itu benar. Tetapi satu hal yang jangan dilupakan bahwa GKJW adalah milik Kristus yang Kudus, GKJW ini adalah tubuh Kristus yang diserahkan kepada dunia untuk membawa warta kehidupan. Karenanya, jika GKJW ini tamak pasti sudah kehilangan ruh Gereja yang demikian itu. Generasi boleh bergonta-ganti, pemimpin me-regenerasi namun Kristus tidak pernah berubah menjagai Gereja-Nya. Jadi kehidupan persekutuan ini bukan bergantung kepada siapa yang menata apa atau siapa melakukan apa, karena GKJW ini sepenuhnya bergantung dan hidup di alam Kristus. Sampai pada perjamuan yang kita rayakan hari ini, itu karena kesadaran bahwa Kristus sumber hidup GKJW. Sebab pada zaman lampau godaan GKJW supaya tetap hidup dengan memilih berpihak kepada Belanda atau Jepang justru menjadikan GKJW terpecah dan saling bermusuhan. Tugas kita hari ini adalah: jangan tamak. Tamak harta, tamak pujian, tamak pelayanan, tamak menjadi pahlawan bahkan tamak menjadi yang paling GKJW. Karena semua ketamakan itu sering menyebabkan kita kehilangan dan mengabaikan Tuhan. Amin. [to2k].

 

Pujian: PKJ. 103  Carilah Dahulu Kerajaan Allah

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Dinten punika kita badhe mbukani pahargyan mirunggan ing GKJW, inggih punika wulan Pambangunan GKJW. Mirunggan krana wanci namung GKJW ingkang mahargya. Ing pahargyan liturgis punika kita sami ngemut-emut perangan lelampahanipun GKJW ingkang sejarahipun Greja. Ingkang naminipun sejarah tamtu perangan kacariosaken kanthi cetha lan runut. Punika gumantung sanget kaliyan sinten ingkang paring cariyos. Semanten ugi menawi kita gatosaken punapa ingkang kelampahan ing zaman kepengker, kita tamtu pikantuk kolase cariyos ingkang kathah sanget babagan punapa ingkang kelampahaman lan dereng tamtu seragam. Wondene ing sedaya cariyos punika underanipun satunggal inggih punika rukun lan nunggilipun GKJW ing salebetipun Majelis Agung.

Elokipun, nalika mahargya pengetan wulan Pambangunan GKJW warsa punika, kita pinanggih kaliyan waosan Kitab Suci ingkang kapirengipun radi minor bilih Pambangunan punika kedah magepokan kalian semangat, optimisme lan gesang ingkang sarwi cekap. Cekap dana, cekap koneksi, cekap relasi. Awit, waosan kita tetiganipun punika nadanipun pesimis lan malah nggembosi semangat mbangun. Ananging menawi dipun galih estunipun punika pepeling kangge kita anggen mbangun GKJW supados mboten dawah ing lepat lan klinthu. Punapa malih bilih Injil Lukas punika dipun gandhengaken kaliyan Kitab Kohelet ingkang dados waosan sepisan. Wah, raosipun sedaya sami muspra ingkang sami kita lampahi. Punapa wanci makaten? Sumangga samangke kita sinaoni waosan Kitab Suci dinten punika.

Isi
Wonten ing Injil Lukas 12, kita sami pinanggih cariyos ingkang dipun tindhakaken dening Gusti Yesus. Kacarita ing waosan punika, wonten piyantun ingkang sowan dhumateng Gusti Yesus, ingkang saweg nggadahi pambengan gegayutan kaliyan warisan. Wonten ing Lukas 12:13, kacariosaken piyantun punika mboten pikantuk warisan kados dene ingkang dipun pingini. Pramila piyambakipun sami wadul dhumateng Gusti Yesus kanthi pangangkah supados sedherekipun sumadya andum warisan kaliyan piyambakipun. Saking katrangan punika cetha bilih underan masalahipun mboten krana piyambakipun mboten pikanthuk bagean ananging saged ugi pikantuk bagean nanging mboten kados pangajeng-ajengipun.

Dawuhipun Gusti Yesus minangka wangsulan panyuwunanipun piyantun punika katawis ing ayat 15 kanthi ukara kunci budi ketaha (tamak). Budi ketaha punika saking basa Yunani “πλεονεξία” (pleonexia) ingkang ngemu teges: ”pepinginan ingkang sarwa luwih” utawi  ”serakah.” Serakah punika mbebayani sanget tumrap tiyang awit yen manungsa sampun kabereg sifat serakah punika tamtu badhe koncatan katresnan lan iman. Piyambakipun badhe tega kaliyan liyan lan sedaya ing gesangipun punika namung kepingin dipun kuasai. Pramila Gusti Yesus ngemutaken bilih gesangipun manungsa punika mboten gumantung kaliyan banda-donya.

Sedaya banda-donya muspra tanpa gina. Pramila menawi gesangipun manungsa punika namung mburu kadonyan kangge dhiri pribadi, punika mboten wonten ginanipun awit mboten saged paring kawilujengan. Pramila ingkang utami tumrap lelampahan gesangipun manungsa punika kedah mburu donya kasuwargan supados kawastanan sugih ing ngarsanipun Gusti (Luk. 12:21). Anggenipun jlentreaken babagan punika Gusti Yesus paring piwucal lantaran pasemon tiyang ingkang sugih kebonan ingkang asilipun kathah. Krana asilipun kathah pramila tiyang punika saweg gedhekaken lumbungipun. Pasemon punika ngemu teges bilih tiyang punika mboten purun weweh dhateng tiyang sanes sanadyan asil kebonipun kathah. Gesangipun namung katujokaken kangge mburu kadonyan, mung kangge dhirinipun piyambak. Pramila ing Lukas 12:34, Gusti Yesus dawuh, “Amarga ing ngendi dununge bandhamu, iya ing kono dununging atimu.”

Estunipun saking dawuhipun Gusti Yesus punika nedhahaken bilih raja-brana punika penting . Dados tiyang sugih punika prayogi. Ananging menawi sugih serakah punika ingkang mbebayani kangge gesangipun manungsa. Serakah punika kados dene virus, dunung lan panggenipun wonten ing pundi-pundi, sae ing tiyang sugih utawi mlarat, tiyang sepuh ugi saged tiyang enem. Manggenipun saged ing brayat, pandamelan, ugi wonten ing greja.

Tiyang ingkang nggadhahi patrap serakah punika badhe koncatan kasaenan, raos peduli, lan badhe kagantos raos tega dhateng tiyang sanes. Langkung mbebayani malih patrap serakah punika dadosaken kita koncatan fokus dhumateng Gusti krana sedaya gesang kita namung mikiraken banda-donya lan rumaos mboten betahaken Gusti Allah. Kados-kados anggenipun nglampahi gesang punika namung sarwa etung-etungan. Sedaya sami dipun regani kaliyan arta. Awit tumrapipun tiyang serakah punika banda-kadonyan punika ingkang dados gustinipun.

Menawi kita waos Kohelet 1:2, kita dipun engetaken bilih samukawis punika muspra. Malah sedaya ingkang dipun lampahi dening manungsa wonten ing alam ndonya punika kados dene njaring angin kemawon (Koh. 1:14). Kados-kados sampun pikantuk lan dipun kuasani ananging sejatosipun mboten wonten satunggal kemawon ingkang dados kagunganipun. Lajeng punapa kita saweg mandeg anggenipun ngudipaya lan usaha? Menawi kita sengit kaliyan tiyang serakah ananging kita mboten peduli dhateng banda-donya, estunipun ugi sami bahayanipun. Awit tiyang ingkang makaten punika ugi ngrisak lan dados momotan tiyang sanes. Pesimis lan apatis nglampahi gesang punika ugi sami mbebayani pigesanganipun manungsa.

Panutup
Wonten ing wulan Pambangunan punika, kita bikak srana mangun Bujana Suci. Punika mboten namung seremonial kemawon. Bujana Suci punika dados pepeling kangge sedaya warga GKJW bilih sumbering gesang ingkang utami tumrap GKJW, inggih punika Sarira lan Rah-ipun Gusti Yesus. Sanes banda-kadonyan, sanes asma ingkang moncer. Mboten wonten salahipun kita mburu kadonyan, ananging bilih kita nglampahi gesang namung kangge mburu kadonyan estunipun punika mbebayani sanget tumrap gesang kita, awit kita badhe koncatan pangandel lan kapitadosan kita. Kita ngakeni bilih sumber gesangipun tiyang pitados lan GKJW punika namung Sang Kristus, pramila sedaya lampahing gesang kita kedah katujukaken dhumateng Gusti Yesus kemawon. Kolose 3:2 nyebataken, ”Padha nggatekna prakara kang ana ing ngaluhur aja kang ana ing bumi.” Mila kita lampahi gesang kita punika kanthi gesang ingkang bener, suci, lan namung manembah dhumateng Gusti Allah.

GKJW minangka greja nate salah ngambah margi, nguciwakaken, lan ugi kadlarung ing dosa. Sedaya tamtu nate dipun lampahi dening GKJW. Ananging satunggal prekawis ingkang kedah kita gatosaken, inggih punika GKJW punika kagunganipun Gusti Yesus ingkang Maha Suci, GKJW punika Sariranipun Gusti Yesus ingkang kedah dipun andumaken murih lestantunipun pigesangan. Pramila menawi GKJW punika serakah, estu punika tebih kaliyan ruhipun Greja ingkang sejati. Para pelados gilir-gumanti ananging Gusti Yesus tan nate ewah nresnani Greja lan ugi sedaya warganipun. GKJW punika mboten gumantung kaliyan sinten ingkang mranata punapa utawi sinten ingkang ngayahi pandamelan punapa ananging namung gumantung kaliyan Gusti Yesus ingkang kagungan Greja punika. Ngantos dumugi Bujana Suci dinten punika, kita sami ngakeni bilih namung Gusti Yesus sumbering gesang kita sami. Sampun mangu-mangu lan sumelang malih. Kiblat gesang kita namung Gusti Yesus kemawon. Ing zaman kepengker GKJW nate kagoda kiblat Jepang utawi Walandi, lan dampakipun Greja kita malah pecah. Pramila tugas kita namung mandeng Gusti Yesus, sampun ngantos kadunungan sifat serakah. Amin. [to2k].

 

Pamuji: KPJ. 416  Saprakara Kang Pantes

Renungan Harian

Renungan Harian Anak