Minggu Biasa 8 | Penutupan Bulan Kespel
Stola Hijau
Bacaan 1: 1 Raja-raja 19 : 15 – 16, 19 – 21
Mazmur: Mazmur 16
Bacaan 2: Galatia 5 : 1, 13 – 26
Bacaan 3: Lukas 9 : 51 – 62
Tema Liturgis: Generasi GKJW Bersaksi dan Beraksi
Tema Khotbah: Bersaksi dan Beraksi adalah Salah Satu Wujud Lepas dari Kuk Perhambaan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Raja-raja 19 : 15 – 16, 19 – 21
Secara historis bacaan kita saat ini dalam periode raja-raja Israel dan Aram, dengan kondisi Kerajaan Israel terpecah menjadi dua: Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan. Secara khusus pada 1 Raja-raja 19, nabi Elia hidup pada masa pemerintahan Raja Ahab yang berkuasa pada saat itu di Israel Utara. Perkawinan Raja Ahab dengan Izebel membawa dampak buruk terhadap kehidupan religius orang Israel saat itu. Izebel membawa tata cara beribadahnya dengan menyembah Baal yang kemudian diikuti oleh orang Israel, dan banyak dari mereka yang meninggalkan perjanjian TUHAN, meruntuhkan mezbah-mezbah-Nya dan membunuh nabi-nabi TUHAN. Sampai akhirnya Elia yang tersisa dari perburuan terhadap para nabi. Dalam kesendiriannya Elia ketakutan dan putus asa, dia menyerah dengan keadaan, lalu dia lari mengamankan nyawanya. Dalam kondisi krisis tersebut TUHAN menampakkan kuasa-Nya, Dia memulihkan Elia serta memberinya tugas untuk mengurapi beberapa orang sebagai sarana untuk mewujudkan karya TUHAN (Ay. 15, 16).
Oleh karena kasih setia Tuhan terhadap Elia, Dia juga memerintahkan Elia untuk mengurapi Elisa yang akan ditunjuk sebagai penggantinya (Ay. 19-21). Hal menarik dalam pemanggilan Elisa adalah ketika dia menerima panggilannya dalam kondisi bekerja / membajak. Elia melemparkan jubah terhadap Elisa, dalam bahasa Ibrani “jubah” adalah adderet, yang menggambarkan pakaian luar yang megah dan penting, hal ini berhubungan dengan makna simbolis bahwa jubah merupakan simbol tanggung jawab dan panggilan kenabian Elia akan diteruskan kepada Elisa. Menanggapi pemanggilan tersebut, Elisa meninggalkan harta benda dan kehidupan lamanya dengan wujud menyembelih lembu dan bajaknya (yang semula sebagai sarana untuk bekerja) sebagai kayu apinya (Ay. 21).
Galatia 5 : 1, 13 – 26
Dalam suratnya ke jemaat di Galatia, Paulus sedang memberikan kekuatan kepada jemaat perihal ajaran-ajaran yang dibawa oleh guru-guru Yahudi kepada orang Kristen yang bukan berasal dari Yahudi. Dalam pengajarannya, mereka membenturkan ajaran Paulus tentang pembebasan dalam Kristus dengan hukum-hukum Taurat. Dalam kebingungan tersebut, Paulus menegaskan bahwa dengan beriman kepada Kristus maka mereka akan mendapatkan keselamatan bukan karena ketaatan terhadap hukum Taurat. Oleh karena itu, Paulus menekankan pentingnya hidup oleh Roh. Demikian juga Paulus mengingatkan bahwa kebebasan yang diberikan oleh Kristus bukan untuk melakukan hidup seenaknya sendiri dengan menuruti hawa nafsu manusia, melainkan hidup dengan penyerahan diri penuh dalam kuasa Roh Kudus. Hal ini akan menumbuhkan kebijaksanaan dalam menghayati kebebasan yang kemudian menghasilkan kasih dan pelayanan kepada sesama.
Surat Paulus dengan lugas menerangkan keadaan hidup dikuasai oleh keinginan daging (penghayatan yang salah tentang kebebasan). Bahwasanya dalam hidup yang dikuasai oleh keinginan diri akan menjauhkan karya kasih Tuhan dalam kehidupan umat. Paulus menitikberatkan kehidupan dalam kesetiaan terhadap karunia Kristus yang sudah diberikan kepada manusia dengan respons, setia mengikuti kuasa Roh Allah, menyediakan diri untuk dikuasai oleh Roh Allah. Tentunya kesemuanya itu membawa kesukarannya tersendiri di antaranya tahan akan ajakan ajaran dari guru-guru Yahudi dan yang paling penting kesetiaan dalam penguasaan diri agar tidak dengan bebas menurut kehendak diri/daging (Ay. 19-23).
Lukas 9 : 51 – 62
Bacaan injil saat ini menurut LAI dibagi menjadi dua perikop:
- Lukas 9:51-56, perikop ini menerangkan bagaimana Yesus ditolak oleh orang Samaria. Seperti yang kita ketahui bahwa orang Samaria dan orang Yahudi dari semuanya tidak pernah akur, mereka selalu bersitegang. Terlebih ketika mereka mengetahui bahwa Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem yang merupakan pusat peribadatan orang Yahudi, mereka malah tidak akan mengindahkannya. Penolakan yang dilakukan oleh orang Samaria tentunya mendapatkan reaksi keras dari murid Yesus, Yakobus dan Yohanes (Ay. 54). Tetapi Yesus menegur mereka, Yesus tidak mengizinkan tindakan balas dendam, Yesus mengajarkan secara langsung ajaran kasih terhadap para murid-Nya. Meskipun ditolak Yesus tetap mengasihi mereka yang menolaknya dan tetap melanjutkan karya kasih Allah.
- Lukas 9:57-62, mengambil pengajaran dari Agustinus dari Hippo, ia menerangkan bahwa dalam percakapannya dengan setiap orang yang mengikutinya, bawah dalam mengikuti-Nya Yesus mengajarkan tentang pengorbanan. Dia mengingatkan bahwa dalam mengikuti-Nya tidak boleh terikat dengan hal duniawi, yang artinya mengikuti dengan kesungguhan diri dan sepenuhnya. “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Ay. 58), Agustinus menafsirkan ini sebagai pernyataan bahwa hidup Kristiani seringkali penuh dengan penderitaan dan kekurangan duniawi. Namun, pengorbanan ini bukanlah tanpa tujuan melainkan bagian dari jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan abadi. Sama halnya dalam ayat 59-62, terkadang dalam membacanya kita langsung mengkritisinya bahwa orang Kristen tidak boleh menyentuh hal duniawi padahal masih hidup dalam dunia. Sejatinya Tuhan Yesus mengkritisi perilaku manusia yang mendewakan keduniawiannya, keterikatan yang membutakan, sehingga lupa bahwasanya kesemuanya itu datangnya dari Dia. Oleh karenanya, keteguhan hati dalam komitmen mengikut kristus tanpa kompromi inilah yang menjadi warta bagi pembaca, pun juga menjaga kesetiaan dalam mengikut-Nya untuk menjadi pewarta dalam kasih-Nya.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan kita saat ini mengajak kita untuk melihat bagaimana proses diri dalam mengikut Tuhan, dalam iman percaya kita. Keputus-asaan, kemarahan, penolakan, dan ketidaknyamanan yang dihadapi dalam mengikut Tuhan adalah sarana setiap orang yang beriman kepada-Nya menyadari akan karya kasih-Nya yang senantiasa ada bagi setiap umat-Nya yang setia. Menyediakan diri dalam kesetiaan dan menyerahkan diri agar dikuasai oleh Roh itulah panggilan kita, agar dengan sukacita bersaksi dan beraksi di dalam Tuhan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Pada tanggal 3-6 September 2025, Bangsa Indonesia dikunjungi oleh pimpinan umat Katolik se dunia dan sekaligus kepala negara Vatikan. Banyak hal menarik yang terjadi selama kunjungan Paus Fransiskus di Indonesia. Yang pertama kendaraan yang dipakai untuk penjemputan, Paus Fransiskus memilih memakai Inova Zenix daripada mobil mewah yang sudah disiapkan sebagai standar protokol menyambut kunjungan kepala negara. Jam tangan yang dipakainya, Paus tidak memakai jam tangan mewah melainkan jam tangan dengan harga 200 ribuan. Itu semuanya yang tampak terlihat, lebih dari itu pesan yang tersampaikan oleh Paus Fransiskus terasa damai meskipun menohok. Kesederhanaan inilah pesan yang langsung terbaca dalam kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Padahal sebagai pemimpin negara, pelayanan VVIP menjadi fasilitas yang melekat baginya, namun Paus Fransiskus tidak mengambil jalan tersebut.
Hal ini tentunya menjadi pembeda yang kontras dengan kehidupan kebanyakan orang saat ini yang semakin melekat dengan keangkuhan atas apa yang ada dalam diri, baik jabatan, harta benda, ataupun kekuasaan. Juga rasa sensitif atas keadaan sosial di sekitarnya pun menjadi tumpul sehingga bersaksi dan beraksi pun sejauh ucapan kalimat semata. Oleh karena itu, mari bersama kita memaknai ketiga bacaan kita saat ini dengan hati yang terbuka agar kita dapat merefleksikannya dalam kehidupan bersama dengan yang lain.
Isi
Dalam bacaan kita yang pertama, menyuguhkan cerita yang menarik atas kondisi Nabi Elia yang menjadi sarana pewarta-Nya. Pada masa pemerintahan Raja Ahab, istrinya, yaitu Izebel membawa dampak buruk terhadap kehidupan religius orang Israel bahkan sampai melakukan perburuan terhadap nabi Tuhan. Elia yang saat itu tersisa dari perburuan para nabi. Elia merasa takut dan putus asa sampai dia ingin menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Dalam kondisi krisis tersebut, Tuhan menampakan kuasa-Nya, Dia memulihkan Elia serta memberinya tugas kembali untuk mengurapi beberapa orang sebagai sarana mewujudkan karya-Nya. Dari putus asa sampai Tuhan menguatkan dan mengutusnya kembali untuk melakukan tugas kenabiannya, ini semuanya adalah wujud bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan setiap utusan-Nya. Juga dalam menanggapi tugas dan perutusan-Nya, seperti yang diterima oleh Elisa yang telah diurapi oleh Elia, Elisa merespon dengan kesungguhan hati, kesetiaan, dan menanggalkan semua yang melekat dalam dirinya. Elisa meninggalkan harta benda dan kehidupan lamanya dengan wujud menyembelih lembu dan bajaknya (yang semula sebagai sarana untuk bekerja) sebagai kayu apinya (Ay. 21).
Surat Paulus kepada jemaat di Galatia yang menjadi bacaan yang kedua mengingatkan bahwa kebebasan yang diberikan oleh Kristus bukan untuk hidup seenaknya sendiri dengan menuruti hawa nafsu manusia, melainkan hidup dengan penyerahan diri penuh dalam kuasa Roh Kudus. Hal ini akan menumbuhkan kebijaksanaan dalam menghayati kebebasan yang kemudian menghasilkan kasih dan pelayanan kepada sesama. Paulus menitikberatkan kehidupan dalam kesetiaan terhadap karunia Kristus yang sudah diberikan kepada manusia dengan respon, setia mengikuti kuasa Roh Allah, menyediakan diri untuk dikuasai oleh Roh Allah. Tentunya kesemuanya itu membawa kesukarannya tersendiri diantaranya tahan akan ajakan ajaran dari guru-guru Yahudi dan yang paling penting kesetiaan dalam penguasaan diri agar tidak menuruti kehendak diri/daging.
Demikian pula dalam bacaan injil, bagaimana Tuhan Yesus ditolak oleh orang Samaria ketika melintasi wilayah Samaria dalam perjalanan ke Yerusalem. Penolakan tersebut menimbulkan reaksi dari murid Yesus, Yakobus dan Yohanes Mereka menawarkan pembalasan terhadap orang Samaria tetapi Yesus menegur mereka. Yesus tidak mengizinkan tindakan balas dendam, Yesus mengajarkan secara langsung ajaran kasih terhadap para murid-Nya. Meskipun ditolak, Yesus tetap mengasihi mereka yang menolak-Nya dan tetap melanjutkan karya kasih Allah. Jalan kesetiaan inilah yang diteladankan Tuhan Yesus bagi para murid dan para pengikut-Nya. Lebih dari itu, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa dalam mengikuti-Nya tidak boleh terikat dengan hal duniawi. Artinya mengikuti Tuhan dengan kesungguhan diri dan sepenuhnya. Tuhan Yesus menegur perilaku manusia yang mendewakan keduniawiannya, keterikatan yang membutakan, sehingga lupa bahwasanya kesemuanya itu datangnya dari Dia.
Penutup
Dalam perenungan kita selama bulan Kespel ini apa saja yang sudah kita lakukan sebagai wujud kesaksian dalam kehidupan kita? Tentunya ada suka dan duka menjadi saksi Tuhan dalam hidup. Sebagaimana yang diteladankan oleh Paus Fransiskus dalam kesederhanaannya yang bersolidaritas terhadap orang miskin, terlantar, terabaikan dan menderita. Kitapun dipanggil untuk bersaksi dan beraksi senantiasa sebagai tanggapan atas panggilan Tuhan terhadap kita. Bersaksi dan beraksi merupakan respon iman kita terhadap panggilan Tuhan, respon kita untuk dengan bertahap menanggalkan kuk perhambaan keduniawian. Memang dalam praktiknya tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi dengan kesungguhan kita menyediakan diri dalam kesetiaan dan menyerahkan diri agar dikuasai oleh Roh, tentunya Tuhan tidak akan meninggalkan kita seperti yang dialami oleh Nabi Elia. Dia menolong, Dia menguatkan dan Dia memulihkan. Oleh karenanya, keteguhan hati dalam komitmen mengikut Dia tanpa kompromi inilah yang menjadi warta bagi kita. Mari kita menjadi saksi-Nya dan memiliki kesungguhan hati untuk bersaksi dan beraksi. Amin. [GFC].
Pujian: KJ. 426 : 1, 4 Kita harus Membawa Berita
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Nalika tanggal 3 – 6 September 2025, Bangsa Indonesia dipun rawuhi dening manggalaning umat Katolik saindhenging jagad, ingkang ugi minangka pangarsaning Nagari Vatikan. Kathah bab wigatos ingkang dumados ing saklebetipun Paus Fransiskus rawuh wonten ing Indonesia. Ingkang sepisan, kendaraan ingkang dipun agem mapag Paus Fransiskus ngginakaken Inova Zenix, sinaosa sampun kacawisaken kendaraan ingkang langkung sae, manut standar protokol ingkang padatan kaginakaken kangge mahargya rawuhipun para manggalaning nagari. Jam tangan ingkang dipun agem dening Paus Fransiskus ugi sanes jam tangan mewah, nanging jam tangan ingkang reginipun namung watawis kalih atus ewunan. Gegambaran punika ngemu suraos bilih Paus Fransiskus ngetingalaken prasajaning dhiri, kamangka minangka Pangarsaning Nagari, Paus Fransiskus kagungan hak nampi saha ngginakaken fasilitas VVIP, nanging sadaya punika mboten dipun agem.
Bab punika tamtunipun benten kaliyan padatan, lan katingal njomplang sanget kaliyan pagesanganipun tetiyang ing wekdal punika, ingkang sami ngagung-agungaken dhiri awit inggiling drajat, pangkat, bandha donya tuwin kalenggahan, ingkang jalari icaling raos jiguh lan pakewuh, mboten migatosaken kawontenan panggesangan ing sakiwa tengenipun, satemah saged dipun wastani bilih sadaya niat anekseni saha makarti namung kandheg ing kedaling lathi. Mila saking punika, mangga sesarengan ngraos-raosaken tigang waosan ing wekdal punika kanthi manah ingkang lejar tinarbuka, murih kula lan panjenengan sadaya sageda sembada ngetrapaken tumindak ingkang laras lan leres menggahing bebrayan agung.
Isi
Ing waosan kula lan panjenengan sadaya, ingkang sepisan ngandharaken cariyos wigati bab Nabi Elia ing saklebetipun pinatah minangka sarana wartaning Gusti. Nalika jaman paprentahan Raja Ahab, garwanipun inggih punika Izebel ngrojongi piawon tumrap watak wantuning bangsa Israel, ngantos tega mbujung lan merjaya dhateng utusaning Gusti. Elia ingkang rikala semanten uwal saking pambujunging Israel rumaos ajrih lan namung saged sumendhe pasrah sumarah dhateng Gusti Allah. Ing kawontenan tintrim punika, Gusti Allah ngetingalaken kuwaos-Ipun. Gusti Allah paring kakiyatan dhateng Elia, sarta paring dhawuh, kinen datan kendhat ngurapi sawetawis tetiyang minangka sarana mujudaken karyaning Gusti Allah. Saking kawontenan gesang ingkang kebak ing panandhang, Gusti Allah paring kakiyatan lan dhawuh dhateng Elia kangge nglajengkaken lampah minangka utusan-Ipun. Sadaya punika mujudaken gegambaran bilih Gusti Allah tansah mayungi, saha mboten nate ngoncati dhateng utusan-Ipun. Tuladhanipun : Elisa dipun urapi dening Elia. Elisa satemah rumagang kanthi tulusing manah, tansah setya bekti, nglolosi sadaya ingkang siningit ing badanipun. Elisa ngungkuraken kadonyanipun, kanthi sasmita wragad lembu, tuwin luku ingkang sekawit minangka sarana makarya, kalilakaken dados kayu obongipun kangge ngolah lembu punika.
Serat Paulus dhateng pasamuwan ing Galatia, ingkang dados waosan kaping kalih, ngemutaken bilih kamardikan ingkang dipun paringaken Sang Kristus punika sampun ngantos dados gegaman satemah lajeng nindakaken gesang anut karsaning priyangga tuwin ngumbar hardaning kanepson, nanging saged ta gesang kanthi mardika lan tansah enget purbaning kawasa, lila legawa sumarah dhateng kuwaosing Roh Suci. Bab punika nuwuhaken kawicaksanan saklebetipun nanggapi suraosing kamardikan tuwin kamulyan, satemah saged nimbulaken raos asih tresna, ngajeni, tuwin leladi mring sesami gesang. Paulus nandhesaken pigesangan kanthi setya bekti dhumateng rahmating Sang Kristus ingkang sampun kaparingaken dhateng titahipun, kanthi setya bekti sumarah purbaning Roh Allah, nyawisaken dhiri murih kapurba dening Roh Allah. Tamtu kemawon sadaya punika kedah mawi lampah mesu dhiri, salah satunggalipun inggih punika kedah saged nolak ajakan lan ajaran guru-guru Yahudi, tundhonipun tetep setya bekti ing purbaning dhiri murih mboten keli lan nuruti karsaning dhiri/daging.
Semanten ugi ing waosan Injil, kados pundi Gusti Yesus rikala semanten mboten dipun tolak dening tiyang Samaria tatkala lumampah tumuju Yerusalem lan nglangkungi Samaria. Kawontenan kados mekaten nuwuhaken bramantyanipun para sakabat, Yakobus tuwin Yohanes. Yakobus tuwin Yohanes nedya males ngudi tuwuh lara wirang dhateng tiyang Samaria punika, nanging Gusti Yesus paring pangenget dhateng kekalihipun. Gusti Yesus mboten ngeparengaken Yakobus lan Yohanes tumindak mekaten. Gusti Yesus paring piwucal dhateng para sakabatipun, sinaosa nampi pakarti ingkang kirang sae, kedah tetep kagungan raos tresna lan asih dhateng tiyang ingkang tumindak awon, lan tetep nglajengaken pakaryaning Gusti. Lampah kasetyanipun Gusti Yesus punika ingkang dipun tuladhani dening para sakabat lan pandherek-Ipun. Kejawi saking punika, Gusti Yesus ugi ngengetaken bilih sinten kemawon ingkang ndherek Panjenenganipun, mboten pareng nengenaken kadonyanipun, ingkang tegesipun ndherek Gusti Yesus kanthi tulusing manah lan lila legawa. Gusti Yesus ngengetaken dhateng tiyang ingkang lampahing gesangipun ngegungaken kadonyanipun, sampun ngantos supe bilih sadaya punika awit peparingipun Gusti.
Panutup
Kula lan panjenengan sadaya mesthinipun saged nyuraos, ing salebetipun Wulan Kespel punika, punapa kemawon ingkang sampun kita tindakaken minangka wujud kesaksian ing kita? Mesthinipun wonten suka lan duka saklebetipun kita anyekseni Gusti ing gesang kita. Prasajanipun Paus Fransiskus ingkang nresnani dhateng tiyang ingkang papa lan cintraka, sayektos saged dados tuladha kangge kita. Kita ugi kadhawuhan kinen tansah anyekseni lan makarti, ngestokaken dhawuhipun Gusti. Sekedhik mbaka sekedhik saged ta lila lan legawa nyingkur kadonyan. Pancen mboten gampil, nanging kanthi tulusing manah mangga kita nyawisaken dhiri kita ing kasetyan tuwin sumarah dhumateng Gusti. Mugi Gusti mboten ngoncati kita. Kados lelampahanipun Elia, kasunyatan Gusti tansah mayungi, paring kakiyatan lan kanugrahan. Mila saking punika, teguhing jiwa lan tulusing wardaya ing saklebetipun ndherek karsaning Gusti punika ingkang dados warta kangge kita. Mangga kita setia dados seksinipun Gusti. Mangga kanthi tulusing manah, kita anyekseni saha makarti karsa-Nipun Gusti. Amin. [GFC].
Pamuji: KPJ. 160 : 1, 3 Gusti, Kawula Ngaturken Badan – Nyawa