Roh Kudus Menyemangati Kita untuk Berkarya Nyata Khotbah Minggu 8 Juni 2025

26 May 2025

Minggu Pentakosta | Bulan  Kespel
Stola Merah

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21
Mazmur:  Mazmur 104 : 24 – 34, 35b
Bacaan 2: Roma 8 : 14 – 17
Bacaan 3: Yohanes 14 : 8 – 17

Tema Liturgis:  Generasi GKJW Bersaksi dan Beraksi
Tema Khotbah: Roh Kudus Menyemangati Kita untuk Berkarya Nyata

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21
Peristiwa Pentakosta diyakini terjadi 50 hari setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, itu sebabnya disebut pentakosta (hari kelima puluh). Pada saat itu, para murid Yesus berkumpul dan berdoa di Yerusalem menantikan Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan Yesus. Kemudian terdengarlah suara gemuruh laksana angin ribut memenuhi ruangan tempat mereka berkumpul. Lidah api muncul hinggap di atas kepala mereka, yang merupakan gambaran Roh Kudus turun menyertai mereka. Merekapun berani berbicara dan bersaksi mengabarkan berita Injil ke berbagai bangsa yang sedang berada di Yerusalem. Peristiwa ini adalah  pemenuhan  janji Yesus sendiri untuk mengutus Roh Kudus menolong dan memberikan keberanian kepada para murid-Nya untuk bersaksi memenuhi amanat-Nya : Wartakanlah Injil!

Peristiwa Pentakosta inilah yang menandai bermulanya gereja Tuhan, memberanikan para murid yang sebelumnya takut dan bersembunyi, kini keluar dan memberitakan Injil kepada semua orang dengan penuh kuasa yang mengherankan banyak orang. Roh Kudus itulah yang memberdayakan para murid untuk berani melakukan karya Tuhan di dunia ini.

Roma 8 : 14 – 17
Surat Roma yang ditulis Paulus, terutama pada pasal 8 ini merupakan puncak dari pemikiran bahkan teologi Paulus tentang kehidupan baru oleh Roh Kudus. Ada identitas baru bagi orang percaya, yaitu menjadi anak-anak Allah. Ini merubah status mereka dari hamba dosa yang sebelumnya menjadi anak-anak Allah. Semua orang yang dipimpin Roh Kudus diberikan kekuatan untuk hidup sesuai kehendak Allah. Itulah identitas baru, siapapun yang menjadi pengikut Kristus disebut sebagai anak-anak Allah, yaitu mereka yang  percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Sebelumnya mereka adalah orang-orang yang hidup dalam perbudakan dosa, namun setelah mereka menerima Roh Kudus terjadilah pembebasan atas perbudakan itu, sehingga semua orang yang menerima-Nya dimampukan berseru : ABBA, BAPA, seperti anak kepada bapanya sendiri.

Inilah ayat paling tegas untuk pembebasan kita dari kuasa dosa menuju harapan atas kehidupan kekal bersama Tuhan, dan anugerah Tuhan untuk mereka yang menjadi Anak-anak-Nya sekaligus identitas baru bagi siapapun yang menerima Kristus sebagai penyelamatnya.

Yohanes 14 : 8 – 17
Dalam perikop ini Yesus memberikan penguatan kepada para murid-Nya sebelum kematian-Nya. Ia berjanji : akan ada penolong yang menuntun mereka setelah Ia tidak bersama mereka lagi. Penguatan ini sekaligus perintah untuk para murid untuk melakukan tugasnya, yaitu mengasihi-Nya meski harus menghadapi tantangan dan penganiayaan. Roh Kudus sebagai penolong itulah yang akan memberikan kekuatan, hikmat, serta keberanian untuk bersaksi dan beraksi tentang perbuatan Tuhan dan kasih-Nya kepada umat-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Roh Kuduslah yang memimpin semua orang percaya untuk berani dan percaya serta menunjukkannya kepada dunia tentang kasih Allah. Mewartakan Injil adalah panggilan orang percaya, tidak sekedar percaya namun berani menunjukkan iman melalui tindakan nyata dalam hidup. Tuhan Yesuslah yang menjanjikan penyertaan melalui Roh Kudus untuk menuntun hidup umat-Nya dalam kebenaran, percaya, dan berani bersaksi serta beraksi membagikan kasih Allah itu kepada dunia.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
”Selamat hari Pentakosta ibu dan bapak serta saudaraku…” (diucapkan seperti ucapan: selamat Natal atau selamat pagi, dan lihat jawaban umat/ pendengar). Mungkin akan ada yang menjawab : Selamat Hari Pentakosta, Sugeng Pentekosta (Jawa), Selamat Hari Pencurahan Roh Kudus, atau yang lainnya. Meski mungkin kurang lazim atau umum, ungkapan seperti ini harusnya menjadi penyemangat bahwa kita sungguh diberkati di hari pencurahan Roh Kudus saat ini. Namun di desa-desa yang dulu mayoritas Kristiani ucapan ini sangat familier dan biasa diungkapkan saat hari Pentakosta tiba. Sugeng Pentekosta atau selamat Pentakosta, keduanya sama saja artinya, yaitu selamat merayakan hari pencurahan Roh Kudus.

Isi
Semua orang percaya pastilah mengenal hari Pentakosta, dan gereja merayakannya tepat 10 hari setelah Tuhan Yesus naik ke sorga. Sebelum hari Pentakosta itu Tuhan Yesus memberi penguatan kepada para murid-Nya sekaligus perintah dalam bacaan 1. Kisah Para Rasul 1:8 adalah pokok utama dari penguatan itu : ”Tetapi, kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”  Adalah kebahagiaan luar biasa saat Roh Kudus dicurahkan dan diterima oleh para murid, namun sekaligus hal itu juga adalah perintah untuk menjadi saksi dari yang terdekat (lokal di Yerusalem), meluas ke seluruh Yudea dan Samaria (regional), bahkan sampai ke ujung bumi (dunia, dimana daerah yang terjauh waktu itu adalah batas negara Romawi).

Sebelum Roh Kudus dicurahkan para murid tetap setia berkumpul dan bersehati untuk berdoa termasuk dengan Maria Ibu Tuhan Yesus bersama saudara-saudara-Nya (Ay. 14).  Bahkan untuk memperlengkapi pelayanan, para murid sepakat untuk memilih Matias (bdk: ayat selanjutnya yaitu Kisah Para Rasul 1:23-26) untuk menggantikan Yudas, murid yang mengkhianati Tuhan Yesus, yang mati mengenaskan (Kisah Para Rasul 1:18). Sehingga murid Tuhan Yesus tetap berjumlah 12 orang dan merupakan kegenapan sebagaimana jumlah suku bangsa Israel yang juga 12.

Pentakosta bukanlah hanya milik para murid di zaman Tuhan Yesus, namun diberikan kepada setiap orang yang mau hidup dipimpin oleh Roh Kudus untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Itu yang diungkapkan oleh Paulus dalam bacaan kedua (Roma 8:14). Roh Kudus itulah yang memberikan keberanian kepada mereka yang mau dibimbing-Nya untuk menjadi anak-anak Allah. Istilah Anak Allah adalah sebutan bagi mereka yang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Sebelumnya mereka adalah orang yang hidup dalam perbudakan dosa, namun setelah mereka  menerima Roh Kudus, mereka bebas atas perbudakan itu, sehingga semua orang yang menerima Yesus sebagai Juruselamatnya dimampukan berseru : ABBA, BAPA, seperti anak kepada bapanya sendiri (Roma 8:15). Inilah dasar paling tegas untuk pembebasan kita dari kuasa dosa menuju harapan atas kehidupan kekal bersama Tuhan Yesus Kristus. Sebuah anugerah Tuhan sekaligus identitas yang baru bagi siapapun termasuk kita yang menerima Yesus Kristus sebagai penyelamat kita, dan kita pun turut disebut sebagai anak-anak Allah.

Anak-anak Allah ini akan disertai oleh Penolong, yaitu Roh Kebenaran dari Bapa sendiri sebagaimana diminta Tuhan Yesus Kristus pada bacaan ketiga (Yohanes 14:16). Roh Kuduslah yang akan menyertai dan tinggal di dalam diri para murid dan termasuk orang percaya sampai saat ini. Peristiwa pencurahan Roh Kudus pada saat hari Pentakosta adalah penggenapan atas janji Tuhan Yesus sendiri kepada para murid-Nya. Roh Kudus itulah yang memampukan dan memberanikan para anak Allah untuk bersaksi dan melayani dengan aksi nyata.

Kesaksian kita pada dunia ini bukan hanya beribadah bersama, atau persekutuan doa, atau kegiatan lain yang bersifat ritual saja. Namun kesaksian harus lebih daripada itu semua, karena Tuhan Yesus sendiri menegaskan kepada para murid-Nya, bahwa siapapun yang percaya kepada-Nya ia akan melakukan pekerjaan yang Tuhan lakukan, bahkan yang lebih daripada itu (Yohanes 14:12). Artinya melakukan apa yang dulu Tuhan Yesus lakukan saat Ia bersama umat Israel kala itu, bahkan lebih lagi yang Tuhan sendiri mengakui dan menyatakan kepada para murid.

Janji Tuhan berupa penyertaan yang luar biasa itu diberikan kepada para murid dan kepada kita pula sebagai umat percaya. Asal saat kita meminta apapun juga di dalam nama-Nya, permintaan itu untuk kemuliaan Bapa di dalam Kristus, maka penyertaan itu akan diberikan, sejauh kita meminta di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Bukankah ini penguatan yang luar biasa bagi semua pengikut Tuhan Yesus Kristus? 

Namun terkadang kita tidak berani mengucap dalam nama Tuhan Yesus Kristus dalam doa-doa kita saat di forum-forum besar atau bahkan dalam doa keseharian kita, padahal itulah yang dikehendaki-Nya dan menjadi identitas kita sebagai milik-Nya. Mari kita berani bersaksi dengan berdoa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, karena di dalam doa tersebut terdapat tindakan kesaksian nyata dimana Bapa dimuliakan di dalam anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus.

Biasanya bersaksi dilakukan dengan banyak kata atau komunikasi kata-kata, seperti berkotbah dan menyampaikan renungan dalam ibadah itu adalah salah satu bentuk bersaksi. Sayangnya tidak semua orang mampu untuk berkata-kata dan menyampaikannya dalam forum yang besar dan luas. Dan jika hanya itu adalah ukuran bersaksi, maka banyak sekali orang yang tidak mampu untuk melakukannya. Padahal bersaksi jauh lebih daripada sekedar mengucap kata-kata namun lebih dari itu. Bersaksi adalah menyaksikan karya Tuhan atas hidup yang kita jalani, baik secara pribadi maupun komunal dan membuat kita berubah atas peristiwa tersebut ke arah yang lebih baik. Kesaksian hidup melalui kata juga karya adalah kesaksian yang sebenar-benarnya.

Melalui pemahaman inilah kita melihat peristiwa pentakosta yang dialami oleh para murid Tuhan Yesus Kristus. Sebuah peristiwa yang menjadi tonggak sejarah kekristenan sekaligus dasar dari semua kesaksian Injil di manapun yang dilakukan oleh orang percaya. Mereka semua para murid Tuhan Yesus yang pertama, semua berakhir hidupnya dengan menderita bahkan mengenaskan. Yakobus dibunuh oleh Herodes Agripa I, Petrus disalibkan terbalik dengan kepala di bawah di Roma, dan Andreas disalibkan dengan salib berbentuk X. Kematian mereka menjadi bukti kasih mereka yang sejati kepada Tuhan Yesus dan kesediaan mereka untuk menderita demi Injil. Keberanian mereka setia sampai mati mempertahankan cinta kepada Tuhan Yesus adalah aksi nyata tentang kesaksian Injil yang menjadi teladan bagi kita semua.

Tentu kita tidak mesti menderita seperti para murid itu, namun kesiapan lahir dan batin untuk mengikut Tuhan Yesus itu menuntut pengorbanan sampai akhir. Bukankah kita juga bersedia berkorban apapun untuk orang yang kita cintai di dunia ini? Apalagi kepada Tuhan Yesus Sang Juru Selamat kita yang membawa janji kehidupan kekal bersama-Nya. 

Pentakosta adalah karunia sekaligus panggilan kita bersama untuk berani bersaksi dan juga beraksi nyata membawa kehidupan ini menjadi lebih indah dan bermakna. GKJW masih berusaha mewujudkan visinya mandiri dan menjadi berkat. Yang pertama saja masih harus berusaha keras, apalagi menjadi berkat bagi sesama bahkan sesama makhluk, itulah visi besar kita. Mari melakukan panggilan Tuhan Yesus, mengasihi-Nya dengan mengasihi sesama juga lingkungan di mana kita berada. Mari kita belajar mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, misalnya dengan menggunakan tas belanja yang dapat digunakan kembali, sedotan stainless steel, dan botol minum yang dapat diisi ulang seperti yang kini sering digunakan dalam persidangan Majelis Daerah di GKJW dengan menggunakan botol tumbler untuk mengurangi minuman dalam kemasan plastik. Bisa juga hal ini dimulai dalam keluarga kecil kita terlebih dahulu. Bila satu keluarga GKJW bisa melakukannya, maka akan lebih dari 150.000 orang bisa mengurangi sampah plastik yang merusak lingkungan ini.

Hal berikutnya yang bisa dilakukan, yaitu aksi memilah sampah dari sumbernya yang memudahkan proses daur ulang. Di Kota Malang dan juga kota-kota lainnya kini ada budaya Bank Sampah, selain mengurangi sampah bisa menyelamatkan lingkungan dengan daur ulang, hal itu juga mendatangkan keuntungan dari penjualan sampah tersebut. Mari kita lakukan hal yang sederhana namun bisa dijalani serta bermakna bagi kehidupan. (Dipersilakan mencari contoh lain sesuai konteks ibu bapak berada, misalnya pupuk kompos, kotoran sapi, kambing dll).

Penutup
Masih banyak kesaksian kita yang perlu ditunjukkan melalui karya nyata. Kita dengan gegap gempita menyanyikan lagu KJ. 432 : Jika padaku ditanyakan apa akan kusampaikan pada dunia yang penuh dengan cobaan, aku bersaksi dengan kata, tapi juga dengan karya menyampaikan kasih Allah yang sejati.  Lagu ini memang menyemangati, namun jika dilakukan akan lebih baik lagi. Mari kita rayakan Pentakosta dan bulan Kespel ini dengan keyakinan bahwa penyertaan Roh Kudus memampukan kita menuju kehidupan lebih baik dan sehat. Kita bersaksi sekaligus melayani dengan beraksi nyata di tempat kita kini berada.

Selamat hari Pentakosta, Roh Kudus menguatkan dan memampukan kita menjadi berarti bagi dunia untuk kemuliaan Bapa. Amin. [LUV].

 

Pujian: KJ. 432 : 1, 2  Jika Padaku Ditanyakan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
”Sugeng Pentekosta ibu lan bapak lan ugi sedherek sadaya.” (Dipun ungelaken kados menawi kita ngaturaken Sugeng Natal, sugeng enjang, lan mangga dipun tengga wangsulanipun pasamuwan). Tamtu wonten ingkang mangsuli : Sugeng Pentekosta, Sugeng tumedhaking Roh Suci lan sapanunggalipun. Senaosa pangucap punika mboten biasa, salam mekaten ndadosaken semangat bilih kita estu dipun berkahi Gusti wonten ing dinten tumedhaking Roh Suci punika. Wonten ing Desa Peniwen, Swaru, lan sanesipun ingkang dados pasamuwan ageng, limrah ngaturaken Sugeng riyadin Pentakosta, utawi Pentekosta, kekalihipun sami tegesipun inggih punika Sugeng riyadin tumedhaking Roh Suci.

Isi
Para pitados estu mangertosi dinten Pentakosta, saben 10 dinten saksampunipun mekradipun Gusti Yesus Kritus dhateng Swarga dipun wontenaken pahargyan Pentakosta wonten ing Greja. Lelampahan punika ngengetaken kita bilih para sekabatipun Gusti nalika semanten saderengipun Gusti Yesus mekrad dhateng swarga ugi sampun diparingi pangertosan bab  Sang Roh Suci. Lelakone Para Rasul 1:8 nyerat, Nanging kowe bakal padha tampa kasekten, samangsa Sang Roh Suci wus nedhaki marang kowe kabeh sarta kowe bakal padha dadi seksi-Ku ana ing Yerusalem lan ing satanah Yudea kabeh, sarta ing tanah Samaria tuwin tumeka ing pungkasaning bumi.”

Estu punika prasetyanipun Gusti ingkang mbingahaken para sekabat, nanging ugi dados printahipun Gusti, inggih punika dados seksiniPun wiwit saking Yerusalem ngantos ing saindenging bumi. Mila ing waosan sepisan punika para sakabatipun Gusti tetap setya nglempak ing kumpulan pandonga sesarengan ugi kalayan Maryam ibunipun Gusti Yesus lan ugi sedherek-sedherekipun (Lelakone Para Rasul 1:14). Malah ugi sampun nyawisaken palados ingkang nggantos Yudas Iskariot ingkang khianati Gusti Yesus lan pejah nglalu (bunuh diri) kados ingkang katelakaken ing ayat 18. Punika kalampahan supados sakabatipun Gusti punika tetap 12 cacahipun lan nggambaraken suku Israel ingkang cacah 12.

Pentakosta mboten namung gadahanipun para sakabatipun Gusti Yesus, nanging ugi kaparingaken tumrap sok sintena ingkang gesang ndherek Gusti Yesus lan kairit dening Sang Roh Suci ing gesang kebak kaleresan. Punika katelakaken  dening Rasul Paul wonten ing waosan kapindo (Rum. 8:4). Sang Roh Suci punika ingkang njalari kita dipun kanthi dados putraning Allah. Putraning Allah inggih punika sok sintena ingkang purun nampi Gusti Yesus Kristus minangka Juru Wilujengipun.

Sakderengipun tiyang punika taksih wonten ing pepeteng lan dosa, saksampunipun pinaringan Sang Roh Suci temahan kauwalaken dening pangawak dursila lan dosa. Selajengipun kakiyataken klayan sora nglairaken  paseksi  lan nyebut Abba, Rama! (Rum. 8:15) kados dene anak dhateng ramanipun piyambak. Punika ingkang ndhasari uwaling kita saking dosa lan pangajeng-ajeng gesang langgeng sesarengan Gusti Yesus Kristus. Ugi minangka kanugrahanipun Gusti tumrap kita lan tetenger ingkang enggal kangge kita sadaya ingkang ngakeni lan nampi Gusti Yesus Kristus minangka Juru Wilujeng ing gesang. Kita kanugrahan tetenger minangka para putraning Allah.

Para putraning Allah punika dipun prasetyani Gusti klayan panganthining Rohipun Sang Rama kados dene ingkang kaserat ing waosan ketiga, Yokanan 14:16. Roh punika ingkang adedalem ing para pendherekipun Gusti ngantos dumugi sakmangke. Pentakosta punika dados wujuding prasetyanipun Gusti Yesus dhateng para sakabatipun, ingkang njalari kiyat lan wantunipun para pendherekipun Gusti nandukaken paseksi ngabaraken Injil lan ugi leladi kanthi tindakan ingkang nyata.

Prasetyanipun Gusti ingkang ngedap-edapi punika dipun paringaken dhateng para sakabat lan malah kita ugi para pitados. Uger tetap pitados lan nyuwun sadaya panganthi punika ing asmanipun Gusti Yesus Kristus. Punika estu ngiyataken gesanging para pitados anggenipun mlampah ing margining Gusti. Ananging asring kelampahan kita mboten wantun ngucap ing dalem asmanipun Gusti Yesus Kristus wonten ing pandonga nalika ing forum ageng dalasan ugi wonten ing gesang padintenan kita. Kamangka punika ingkang dipun kersakaken dening Gusti piyambak lan dados tetenger kita punika putra kagungan Gusti.

Mangga ing wiwitaning wulan Kespel punika, kita wiwiti nindakaken ingkang dados karsaniPun, dedonga ing asma Gusti Yesus Kristus ing saben wewengan. Krana pandonga punika minangka paseksi nyata anggen kita ngluhuraken Sang Rama wonten ing Sang Putra, inggih Gusti Yesus Kristus.

Limrahipun nelakaken paseksi punika lumantar pangandika utawi komunikasi kata-kata, kados dene khotbah utawi lelados renungan ing ibadah brayat, emanipun mboten sadaya tiyang punika saged nindakaken punapa malih sesorah ing ngajengipun tiyang kathah. Kamangka nelakaken paseksi mboten namung punika, langkung jembar katimbang nelakaken pangandikan srana wicantenan.  Paseksi punika ngraosaken lan ningali pakaryanipun Gusti wonten gesang ingkang kita alami saben wekdal sae ing patunggilan utawi pribadi. Lelampahan punika njalari kita saya sae lan celak klayan Gusti. Paseksi lumantar pandonga, wicara lan ugi pakaryan punika paseksi ingkang estu-estu nyata.

Pangertosan punika ingkang dipun tingali lan dipun raosaken dening para sakabatipun Gusti anggenipun mapag Pentakosta, tumedhakipun Sang Roh Suci. Inggih lelampahan ingkang ndhasari para pitados wonten ing pundi kemawon anggenipun martosaken Injil, kabar kabingahan saking Gusti Yesus Kristus. Kados dene para sakabatipun Gusti, sadaya setya ngantos dumugeng janji. Sadaya ngalami kasangsaran lan aniaya, Yakobus dipun pejahi dening Herodes Agripa I, Petrus dipun salib kuwalik kanthi mustaka ing ngandhap wonten kitha Rum, Andreas dipun salib kanthi bentuk huruf X. Katresnanipun dhateng Gusti Yesus lan kabar kabingahan Injil punika kabuktekaken klayan setya ngantos ing wekasan senaosa ngalami kasangsaran ngantos dumugi sedanipun. Punika estu minangka aksi nyata tumrap paseksi Injil ingkang dados tuladha kangge kita sadaya.

Kita tamtu mboten kedah ngalami kasangsaran kados dene para sakabatipun Gusti Yesus, nanging pancen mbetahaken kasiapan lan pangurbanan lair lan batos kangge ndherek Gusti Yesus ngantos pungkasaning gesang. Kados dene kita ugi mboten eman-eman menawi asung pangurbanan tumrap tiyang ingkang kita tresnani wonten ing donya punika, punapa malih dhateng Gusti Yesus Kristus ingkang sampun nampi kita minangka para kagunganiPun, ingkang nanggel gesang kita wonten ing gesang langgeng.

Pentekosta punika kanugrahan ageng, nanging ugi timbalan tumrap kita sadaya anggen kita wantun Paseksi lan ugi ber-AKSI inggih tumindak nyata damel endahing gesang punika lan maedahi ing sesami. Wulan Kespel punika GKJW taksih mbudidaya mujudaken visi Mandiri lan dados Berkah. Ingkang sepisanan punika taksih kedah mbudidaya kanthi adreng, punapa malih ingkang kapindho dados berkah tumraping sesami makhluk ing jagad punika.

Sumangga kita nelakaken timbalanipun Gusti Yesus, nresnani Panjenenganipun kanthi nresnani sesami lan ugi lingkungan ing pundi kita gesang. Kita kirangi ginakaken plastik sekali pakai, kanthi ngangge tas belanja ingkang saged dipun angge malih sanes wekdal. Mboten tumbas toya kemasan plastik, nanging ngangge tumbler (wadhah toya ingkang saget diagem malih) kados ingkang dipun angge wonten ing persidangan Majelis Daerah GKJW sakmangke. Kita wiwiti wonten ing brayat kita piyambak rumiyan, menawi sadaya warga GKJW nindakaken AKSI punika wonten wetawis 150.000 warga, sampun estu njagi lingkungan inggih punika ngirangi sampah plastik ingkang estu ngrisak  lingkungan punika.

Saged ugi klayan AKSI : memilah sampah temahan ndadosaken gampil anggenipun proses daur ulang. Ing kutha Malang lan ugi kutha sanesipun sakmangke wonten Bank Sampah. Estu punika sanget ngirangi sampah, nylametaken lingkungan lan angsal keuntungan saking sadean daur ulang sampah punika. Kita lampahi ingkang prasaja nanging estu migunani kangge kesehatan lingkungan kita piyambak-piyambak. (Mangga menawi  wonten conto kongkret miturut kawontenan ibu lan bapak : pupuk kompos, kotoran sapi, wedhus lan sanes-sanesipun).

Panutup
Tamtu taksih kathah paseksi ingkang prelu kita wujudaken wonten ing pakaryan nyata ing gesang punika. Miwiti ing wulan Kespel punika sumangga dinten pengetan Pentekosta punika estu dados kakiyatan anggen kita leladi wonten ing wewengan punapa kemawon lan wantun ber-AKSI klayan karya ingkang nyata ing gesang punika.  Sugeng dinten Pentekosta, Sang Roh Suci ngiyataken kita sadaya wantun dados seksinipun kabar kabingahan lan sadaya punika namunga kagem kamulyanipun Gusti Yesus Kristus piyambak. Amin. [LUV].

 

Pamuji: KPJ. 346 : 1, 2, 3  Ndedonga lan Makarya

Renungan Harian

Renungan Harian Anak