Supaya Mereka Semua Menjadi Satu Khotbah Minggu 1 Juni 2025

19 May 2025

Minggu Paskah 7 | Pekan Uem
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 16 : 16 – 34
Mazmur: Mazmur 97
Bacaan 2: Wahyu 22 : 12 – 14, 16 – 17, 20 – 21
Bacaan 3: Yohanes 17 : 20 – 26

Tema Liturgis: Supaya Mereka Semua Menjadi Satu
Tema Khotbah: Supaya Mereka Semua Menjadi Satu

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 16 : 16 – 34
Kitab Kisah Para Rasul menjadi sebuah kelanjutan dan sebuah catatan penting tentang karya Yesus yang dikerjakan oleh murid-murid-Nya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Yesus. Kitab ini memberikan kesaksian tentang bagaimana gereja bergerak tanpa batas dengan kuasa Roh Kudus dan melintasi batas Yudaisme serta menembus keragaman konteks kehidupan dan budaya. Keselamatan dapat diterima oleh semua orang dan semua orang bisa mengerjakan keselamatan. “Gereja“ pada masa itu begitu kuat dan semangat dalam menjalankan misi sehingga orang-orang percaya pada saat itu disebut sebagai “gereja yang bergerak”.

Upaya untuk menghidupi “gereja yang bergerak“ tidak pernah terlepas dari kesulitan. Dikisahkan Paulus dan Silas berjumpa dengan orang-orang yang merasa dirugikan karena kehadiran mereka dan kemudian menjebloskan mereka ke dalam penjara. Tetapi semangat dan kesetiaan mereka tidak pernah pudar, justru pengharapan mereka semakin kuat di dalam Tuhan tatkala diperhadapkan dengan penderitaan. Kesetiaan dan kesungguhan hati Paulus dan Silas dijawab oleh Tuhan melalui pertolongan yang menjadi sarana bagi mereka untuk menyatakan kesaksian kuasa Tuhan yang nyata.

Wahyu 22 : 12 – 14, 16 – 17, 20 – 21
Kitab Wahyu dalam Bahasa Yunani disebut: apokalypse, artinya pewahyuan, penyingkapan, dan penyataan. Bila dalam kata kerja, maka kata yang dipakai ialah apokalupto yang dapat diartikan sebagai membuka, menyatakan, menyingkapkan sesuatu yang tadinya tersembunyi sehingga menjadi nampak. Kekhasan gaya sastra Apokaliptik ialah memunculkan penggambaran akan kuasa jahat yang kemudian dikalahkan oleh kuasa kebaikan dan terang – kuasa Allah. Narasi-narasi Apokaliptik juga seringkali disampaikan melalui kiasan yang disertai dengan berbagai lambang atau simbol yang diberikan makna. Oleh karena itu, seringkali Kitab Wahyu disalahartikan sebagai kitab yang hanya berisikan nubuatan atau ramalan mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Padahal sama halnya dengan kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru, kitab Wahyu juga dialamatkan bagi orang-orang percaya yang sedang bergumul, kesulitan, dan mengalami banyak penderitaan.

Pesan utama yang ingin disampaikan oleh bagian kitab ini ialah hal penguatan dan pengharapan bagi orang Kristen dan gereja saat itu yang tengah mengalami begitu banyak kekecewaan dan penganiayaan di bawah pemerintahan Romawi. Orang-orang percaya harus tetap bertahan dan tabah dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan karena akan ada waktunya bagi kuasa kebaikan Allah mengalahkan berbagai kuasa jahat sehingga akan memberikan kelegaan yang luar biasa bagi mereka yang tetap memilih untuk setia. Kesetiaan itu haruslah diwujudkan dalam karsa dan karya dalam menjalankan misi kebaikan Allah bagi dunia. Meskipun pada saat itu mereka “kecil” dan didera penderitaan, tetapi mereka tidak boleh kehilangan gairah untuk terus menunaikan tugas sebagai gereja.

Yohanes 17 : 20 – 26
Yohanes 17:20-26 merupakan bagian dari doa Yesus. Ia berdoa untuk orang-orang yang percaya oleh karena pemberitaan para murid. Doa Yesus adalah doa yang sangat luas, mencakup semua orang percaya. Doa Yesus dalam Yohanes 17 ini menjadi dasar untuk mewujudkan adanya persatuan sebab dengan jelas Yesus mengatakan, “Supaya semua menjadi satu” (Yoh. 17:21a). Ungkapan ini mengandung makna yang sangat penting untuk dipahami antara lain:

  • Pertama, manusia sebagai gambar dan rupa Allah hubungannya terjalin kembali seperti pada waktu Allah menciptakan manusia. Ada persekutuan yang erat antara manusia dengan Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.
  • Kedua, Tuhan Yesus tidak menghendaki adanya perpecahan di antara orang percaya karena Yesus sudah mendamaikan manusia dengan Allah melalui kematian-Nya di Golgota. Walter Mohr mengatakan: “Semua jemaat Kristus di seluruh dunia adalah tubuh-Nya dan tubuh Kristus atau jemaat itu sebenarnya adalah satu.”

Kesatuan orang percaya atau gereja, sesungguhnya merupakan suatu kesatuan yang sempurna, meskipun tetap terdapat keanekaragaman dalam tubuh gereja. Menurut Konstenberger, kesatuan orang percaya atau gereja merupakan dasar bagi kesatuan dalam memaknai dan menjalankan misi Allah. Dalam kesatuan, gereja diharapkan dapat saling menguatkan dan menolong tatkala diperhadapkan dengan kesulitan maupun penderitaan. Kesatuan dalam semangat dan misi akan menjauhkan gereja dari keinginan untuk memperbesar “kerajaannya sendiri”, untuk kemudian lebih berfokus memperbesar “Kerajaan Allah” dalam kebersamaan.

Benang Merah Tiga Bacaan :

  1. Tuhan mengutus seluruh umat dan Gereja untuk mewartakan kabar sukacita melampaui batasan-batasan budaya, bangsa, dan negara.
  2. Persekutuan orang percaya dan gereja tidak pernah terlepas dari kesulitan dan penderitaan.
  3. Oleh karena itu dalam kegerakan yang dijalankan, Gereja haruslah bersatu supaya segala misi yang diemban dapat menjadi wujud aksi nyata yang melawan dan mengatasi segala kesulitan dan penderitaan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Gereja hadir di dunia dengan dua elemen diri, yaitu “gereja yang kelihatan” (ekklesia visibilis) dan “gereja yang tidak kelihatan” (ekklesia invisibilis). Gereja yang kelihatan adalah kita, manusia yang bersekutu dengan semua aktivitasnya. Sedangkan gereja yang tidak kelihatan adalah Allah yang bekerja di dalam diri manusia. Ekklesia visibilis menampakkan sisi insani, sementara ekklesia invisibilis menampakkan sisi ilahi dari gereja, keduanya harus hidup bersama-sama dan tidak boleh saling meniadakan. Sebab, ekklesia invisibilis adalah nyawa dari ekklesia visibilis, “yang tidak kelihatan” menghidupkan “yang kelihatan”.

Ketika “gereja yang kelihatan” terjebak dalam ragam rutinitas permukaan, maka tanpa disadari “gereja yang tidak kelihatan” akan menjadi kabur. Secara perlahan tetapi pasti, gereja akan mengalami disorientasi dalam hal pemaknaan diri serta fungsi yang diemban sehingga kehilangan gairah dan arah dalam mengupayakan berbagai misi yang diterima. Sebaliknya, ketika ekklesia invisibilis menerangi langkah hidup ekklesia visibilis maka gereja akan bergerak dengan dinamis dan gigih dalam menjalankan misi yang menjadi tujuan kehadirannya di tengah-tengah dunia.

Isi
Melalui bacaan pertama, kita bisa merasakan betapa kuatnya ekklesia invisibilis dalam setiap kegerakan ekklesia visibilis. “Gereja“ pada masa itu begitu kuat dan semangat dalam menjalankan misi sehingga orang-orang percaya pada saat itu disebut sebagai “gereja yang bergerak”. Mereka bergerak dengan begitu dinamis untuk membagikan kabar sukacita, menembus berbagai batas-batas budaya dan wilayah yang ada. Kedinamisan ini juga senantiasa dibarengi dengan kegigihan, sehingga mereka menjadi “gereja” yang tahan uji dan tidak kehilangan arah serta semangat tatkala diterpa berbagai penderitaan. Paulus dan Silas merepresentasikan hal ini dengan sangat luar biasa.

Paulus dan Silas tidak tinggal diam dalam penderitaan, tetapi mereka tetap melakukan kegerakannya melalui doa serta puji-pujian. Kegigihan semacam ini pulalah yang ingin diwartakan melalui bacaan kita yang kedua, khususnya bagi orang-orang Kristen dan gereja yang pada saat itu tengah mengalami begitu banyak kekecewaan dan penganiayaan di bawah pemerintahan Romawi. Ketika kehidupan terasa begitu sulit dan berat, orang-orang percaya dihimbau untuk terus bertahan dan tabah dalam pengharapan. Kuasa Allah akan menghadirkan kelegaan bagi mereka yang tetap memilih untuk setia. Tetapi kesetiaan yang dimaksudkan dalam bacaan ini bukanlah sesuatu yang pasif. Kesetiaan itu haruslah diwujudkan dalam karsa dan karya dalam menjalankan misi kebaikan Allah bagi dunia. Meskipun pada saat itu mereka “kecil” dan didera penderitaan, tetapi mereka tidak boleh lengah dan lemah. Mereka dipanggil untuk bersaksi dalam kelemahannya supaya dapat memberikan kekuatan kepada yang lain.

Perlunya memberikan topangan bagi mereka yang menderita, merupakan dasar yang kuat untuk mewujudkan kesatuan dalam kehidupan. Kesatuan yang menguatkan inilah yang didoakan oleh Yesus dalam bacaan kita yang ketiga. Yesus berdoa bagi pemberitaan para murid dan semua orang yang telah menjadi percaya. Ia menghendaki supaya seperti Ia dan Bapa yang bersatu kemudian bersama-sama melakukan misi di tengah-tengah dunia, demikian pula Ia bersama seluruh orang-orang yang percaya. Ketika setiap orang percaya telah bersatu dengan Kristus, maka pada saat yang bersamaan setiap orang percaya telah dipersatukan di dalam Kristus. Mereka melebur menjadi satu dalam upaya melaksanakan misi Allah bagi dunia, dalam ekklesia invisibilis seluruh ekklesia visibilis adalah satu!

GKJW, sebagai perwujudan ekklesia visibilis, senantiasa menghayati kesatuannya dengan gereja-gereja lain, salah satunya melalui United Evangelical Mission (UEM). Senantiasa disadari bahwa elemen invisibilis itulah yang telah mempersatukan GKJW dengan gereja-gereja di Asia, Afrika dan Eropa melalui UEM. Oleh karena itu, GKJW terus berusaha merespons setiap panggilan dalam semangat kesungguhan. Saat ini, kita merayakan kebersamaan melalui Pekan UEM. Terdapat berbagai aksi yang dapat kita lakukan dan ikuti untuk menyatakan dukungan dan bantuan kepada saudara-saudari kita di Asia, Afrika, dan Eropa, salah satunya melalui persembahan syukur yang akan kita himpun untuk mendukung United Action. Selama ini, di tengah berbagai perjuangan, kita telah menerima banyak dukungan dan bantuan dari saudara-saudari kita melalui UEM. Kini, saatnya bagi kita untuk memberikan hal yang sama, sehingga bantuan dan pertolongan yang telah kita terima juga dapat dirasakan oleh saudara-saudari kita yang lainnya.

Penutup
Pada akhirnya, kita menyadari bahwa kehidupan ini tidak pernah lepas dari kesusahan dan penderitaan. Setiap perjuangan juga dihadapkan pada tantangan dan ujian. Realitas ini mengungkapkan bahwa misi ekklesia visibilis – gereja yang tampak belum mencapai kesudahannya. Perjalanan masih sangat panjang! Oleh karena itu, hendaknya ekklesia visibilis tidak kehilangan elemen invisibilis dalam dirinya. Sebaliknya, gereja harus semakin menghayati bahwa di dalam “yang tidak kelihatan” itu, segala “yang kelihatan” menemukan makna dan kehidupan yang dipersatukan. Dalam kesatuan ini, gereja dipanggil untuk saling hadir dan mendukung satu sama lain. Saling bertolong-tolongan dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan serta bergandengan tangan dalam menghadirkan kebaikan bagi dunia. Amin. [xie].

 

Pujian: KJ. 256   Kita Satu di dalam Tuhan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Greja ing papan donya punika nggadahi kalih elemen dhiri, inggih punika “greja ingkang katingal” (ekklesia visibilis) kaliyan “greja ingkang mboten katingal” (ekklesia invisibilis). Ingkang dipun wastani “greja ingkang katingal” inggih punika kita sami, para manungsa ingkang nyatunggil lan maneka werna kegiatanipun. Lan ingkang dipun wastani “greja ingkang mboten katingal” inggih punika Gusti Allah ingkang makarya ing salebeting dhirinipun para manungsa. Ekklesia visibilis ngatingalaken sisi insani, lan ekklesia invisibilis ngatingalaken sisi ilahi saking greja, kekalihipun kedah gesang sesarengan lan mboten pareng ngasoraken satunggal lan sanesipun. Amargi, ekklesia invisibilis punika nyawa saking ekklesia visibilis, “ingkang mboten katingal” nguripi “ingkang katingal”.

Nalika “greja ingkang katingal” namung nglampahi rutinitas ing tataran njawi kemawon, tanpa disadari “greja ingkang mboten katingal” badhe sirna. Kanthi alon nanging saged dipun pesthi, greja punika saged ngalami disorientasi ing prekawis pemaknaan dhiri lan ugi fungsi ingkang kaemban satemah kaicalan kakiyatan lan ugi dunung nalika mbudidaya maneka werna misi ingkang katampi. Kosokwangsulipun, menawi ekklesia invisibilis tansah madhangi lelampahan gesang ekklesia visibilis tamtu greja badhe tansah obah kanthi luwes lan tatag tuwin semangat nalika nglampahi misi ingkang dados tujuanipun ing satengahing donya.

Isi
Lumantar waosan kita ingkang kapisan, kita saged ngraosaken kadospundi ekklesia invisibilis makarya ing lelampahan saking ekklesia visibilis. “Greja” ing wekdal punika sami kiyat lan semangat nalika mbudidaya misi satemah para tiyang pitados kawastanan “greja ingkang tansah obah”. Para tiyang pitados punika obah kanthi luwes nalika martosaken kabar kabingahan, nglangkungi maneka werna wates kabudayan lan papan. Kaluwesan punika ugi tansah kairing kaliyan manah ingkang tatag tuwin semangat, satemah saged dados wujudipun “greja” ingkang mboten kaicalan kakiyatan lan ugi dunung nalika ngadhepi maneka werna kasisahan. Paulus lan Silas dados tuladha ingkang sae ing bab punika.

Paulus lan Silas mboten namung mendel kemawon nalika nandhang kasisahan, nanging tansah “obah” lumantar pandonga lan pepujian. Kakiyatan ingkang kados mekaten ugi ingkang kawartosaken lumantar waosan kita ingkang kaping kalih, mliginipun kangge para tiyang Kristen lan greja ingkang ing wekdal punika nampi kuciwa lan ugi pulasara saking para pemerentah Romawi. Nalika pigesangan karaosaken awrat, para tiyang pitados kaajak tansah bakuh lan kiyat ing sajroning pangajeng-ajeng. Kuwaosipun Gusti Allah badhe paring kalegan kangge para tetiyang ingkang tansah setya tuhu. Nanging kasetyan ingkang dipun maksudaken waosan kita punika sanes prekawis ingkang sipatipun pasif. Kasetyan punika kedah kawujudaken lumantar tekad lan kasedyan kangge mbudidaya misi Allah ingkang becik kangge alam donya. Sanadyan ing wekdal punika para tiyang pitados namung “alit” lan nandhang maneka werna kasangsaran, nanging para tiyang pitados mboten pareng semplah lan lungkrah. Nanging, nampi timbalan kangge paring paseksi ing satengahing kasangsaran punika supados saged paring kakiyatan kangge sedherek sanesipun.

Pentingipun paring kakiyatan tumpraping para sedherek ingkang nandhang kasangsaran, saged dados dhasar ingkang kiyat kangge mawujudaken pigesangan ingkang nyatunggil. Patunggilan ingkang paring kakiyatan punika ingkang dipun asta dening Gusti Yesus ing salebeting pandonga ing waosan kita ingkang kaping tiga. Gusti Yesus ndedonga kangge para sakabat ingkang martoskaen Injil Suci lan sadaya tiyang pitados. Panjenenganipun ngersakaken supados kadosdene Gusti Yesus kaliyan Sang Rama ingkang nyatunggil lajeng nglampahi misi sesarengan ing papan donya, mekaten ugi Gusti Yesus kaliyan para tiyang pitados. Nalika para pitados sampun nyatunggil kaliyan Sang Kristus, ing wekdal ingkang sami para pitados ugi sampun katunggilaken ing salebeting Sang Kristus. Para tiyang pitados lebur lan nyawiji nalika mbudidaya misi Allah kangge alam donya, ing sajroning ekklesia invisibilis sadaya perangan ekklesia visibilis nyawiji!

GKJW, wujuding ekklesia visibilis, tansah ngrumaosi bilih nyatunggil kaliyan greja-greja sanes, salah satunggalipun lumantar United Evangelical Mission (UEM). GKJW tansah pitados bilih elemen invisibilis punika ingkang sampun nyatunggilaken GKJW kaliyan greja-greja ing Asia, Afrika, lan Eropa lumantar UEM. Satemah, GKJW ugi tansah mbudidaya nyambeti timbalan punika kanthi tumemen. Ing wekdal punika, kita sami ngraosaken kanthi sukarena bab nyatunggilipun greja-greja punika lumantar Pekan UEM. Kita saged tumut lan ngupadi maneka werna aksi ingkang dados wujuding sengkuyungan lan ugi bantuan tumraping para sedherek kita ing Asia, Afrika, lan Eropa, salah satunggalipun lumantar pisungsung sokur  ingkang badhe kita kempalaken kangge United Action. Ngantos ing wekdal punika, ing satengahing maneka werna perjuangan, kita sampun nampi maneka werna wujuding sengkuyungan lan bantuan saking para sedherek kita lumantar UEM. Sapunika, giliran kita kangge paring dukungan lan pitulungan, satemah para sedherek kita sanesipun ugi saged ngraosaken kabingahan kadosdene ingkang sampun kita tampi.

Panutup
Ing pungkasan, kita langkung nyumerepi bilih pigesangan kita punika mboten nate uwal saking kasisahan lan kasangsaran. Maneka werna pambudidaya ugi tansah ngadhepi tantangan lan ugi pacoben. Kasunyatan punika nedahaken bilih misi saking ekklesia visibilis – greja ingkang katingal dereng manggihi pungkasan. Lelampahan taksih tebih! Satemah, kedahipun ekklesia visibilis mboten kaicalan elemen invisibilis ing sajroning dhirinipun. Greja kedah sansaya ngraosaken bilih ing sajroning “ingkang mboten katingal” punika, sadaya “ingkang katingal” manggihi artos lan pigesangan ingkang nyatunggil. Ing salebeting patunggilan punika, greja nampi timbalan kangge paring sengkuyungan satunggal lan sanesipun. Tansah paring pitulungan nalika ngadhepi kasisahan lan kasangsaran sarta tansah kekanthen asta nalika mbudidaya kasaenan kangge alam donya. Amin. [xie].

 

Pamuji: KPJ. 348  Pasamuwan Kang Nyawiji

Renungan Harian

Renungan Harian Anak