Dengar, Kenal, dan Mengikuti-Nya Khotbah Minggu 11 Mei 2025

28 April 2025

Minggu Paskah 4 | Masa Undhuh-Unduh
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 9 : 36 – 43
Mazmur: Mazmur 23
Bacaan 2: Wahyu 7 : 9 – 17
Bacaan 3: Yohanes 10 : 22 – 30

Tema Liturgis: Budaya Syukur dalam Aksi dan Tutur
Tema Khotbah: Dengar, Kenal, dan Mengikuti-Nya

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 9 : 36 – 43
Bagian bacaan kita merupakan kesaksian iman tentang pelayanan Petrus yang sedang melakukan perkunjungan dan berjalan keliling di beberapa tempat. Dalam kisah sebelumnya, Petrus berada di Lida, tempat dimana didapati seorang bernama Eneas, sakit lumpuh dan tidak bisa berjalan selama delapan tahun. Lalu, Petrus berkata supaya Eneas berjalan dan terjadilah demikian. Peristiwa ini menjadi kesaksian bagi penduduk di Lida dan Saron, sehingga mereka berbalik kepada Tuhan. Hal ini membantu perkembangan iman Kristen. Selanjutnya, peristiwa kedua beralih di Yope. Saat di Yope, ada seorang murid perempuan bernama Dorkas (Yun) atau Tabitha yang sedang sakit dan meninggal. Para murid tahu bahwa Petrus ada di Lida, maka ada yang menjemput Petrus untuk datang ke Yope. Saat Petrus sampai di Yope, dia diantarkan ke ruang atas, tempat dibaringkannya Dorkas. Disana ada beberapa janda yang membawa baju dan pakaian yang dibuat Dorkas saat masih hidup. Kemudian, semua orang diminta keluar oleh Petrus, kemudian ia berlutut dan berdoa. Setelah itu Petrus berkata supaya Tabitha bangkit dan Tabitha membuka mata, bangun, dan duduk. Hal ini menjadi kesaksian iman yang luar biasa di Yope. Dua peristiwa yang saling terkait tersebut menjadi kesaksian iman yang luar biasa bagi banyak orang. Kedua kisah tersebut memakai kata kerja bangunlah (Ay. 34) dan bangkitlah (Ay. 40), yang mengingatkan akan kebangkitan Yesus.

Wahyu 7 : 9 – 17
Tulisan di kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes dalam penyingkapan atau peristiwa apokaliptis di Pulau Patmos. Teks ini terkait erat dengan jemaat Smirna atau Turki sekarang. Teks ini, terkait hubungan umat Yahudi dan Kristen yang tidak harmonis. Banyak terjadi kekerasan, penganiayaan, dan penderitaan yang dialami oleh orang Kristen. Secara umum, konteks kitab Wahyu ini berbicara tentang kekuatan baik melawan kekuatan jahat. Terkait teks, bertujuan memberikan kekuatan dan pengharapan iman, sehingga umat Tuhan mampu menghadapi segala tantangan dan pergumulan yang dihadapi saat itu. Ayat 15, menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Allah akan memberikan kelegaan, karena hanya melalui pengorbanan Yesus Kristus, ada keselamatan. Lalu, di ayat 16-17 ditunjukkan dengan sebuah narasi bahwa orang yang percaya kepada Allah tidak akan merasa lapar, haus, dan tidak kepanasan. Ada mata air kehidupan yang tidak akan membuat haus lagi. Dan Allah, akan menghapus segala air mata di dalam hidup. Seruan Yohanes tersebut menjadi kesaksian iman yang membawa pengharapan bagi umat di dalam berbagai pergumulan yang dialami dalam kehidupan.

Yohanes 10 : 22 – 30
Narasi saat ini masih dalam konteks besar tentang Yesus sebagai gembala yang baik. Gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan domba-dombanya mengenal sang gembala. Teks saat ini, berkisah tentang Yesus saat berada di Bait Allah, yaitu di Serambi Salomo. Saat itu, akan ada hari raya penahbisan Bait Allah di Yerusalem. Hari raya ini bertujuan memperingati kembali penyucian Bait Allah dengan menghidupkan banyak lilin dan hiasan dekorasi terang seperti pesta Pondok Daun. Keterangan lebih lengkapnya bisa diakses Hari raya Pentahbisan – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Setelah itu, Yesus dikelilingi oleh orang-orang Yahudi yang menanyakan tentang status kemesiasan-Nya. Namun, Yesus menjawabnya dengan ungkapan bahwa keberadaan Yesus bisa dipahami melalui pekerjaan-pekerjaan Allah yang telah dinyatakan melalui diri-Nya. Tetapi, orang-orang Yahudi itu tidak percaya, menolak Yesus. Yesus menekankan bahwa mereka yang tidak percaya bukanlah domba-domba milik-Nya karena domba-domba milik-Nya, mendengar, mengenal, dan mengikut sang gembala. Pertanyaan lain, apakah Yesus anak Allah yang tunggal? Apakah Allah dengan cara yang istimewa adalah Bapa-Nya? Dalam bagian yang pendek ini, Yesus menyebut Bapa sebanyak 9x, antara lain di ayat 25, ayat 29 (2x), ayat 30, 32 (2x), ayat 36, ayat 37, dan ayat 38(2x). Ia menyebut diri-Nya Anak Allah hanya muncul di ayat 36. Apalagi yang dapat dikemukakan Yesus sebagai bukti bahwa karya-Nya dilaksanakan melalui Bapa, bahwa pekerjaan-pekerjaan-Nya adalah firman yang mewahyukan Bapa? Tetapi, lawan-lawan Yesus tidak percaya terhadap pernyataan karya ilahi Yesus, bahwa Ia dan Bapa adalah satu (Ay. 30), bahwa Bapa di dalam diri-Nya dan Ia di dalam Bapa (Ay. 38).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dalam banyak peristiwa dan pergumulan dalam hidup, ada hal penting yang membuat orang terus berjuang dan bertahan, yaitu pengharapan. Harapan itu telah menjadi kesaksian iman bagi Petrus, Eneas, orang banyak, juga Dorkas. Pengharapan itu juga ditanamkan oleh Yohanes bagi jemaat di Smirna yang sedang dalam tekanan dan pergumulan sehingga mereka bertahan dan terus berjuang dalam iman Kristen mereka. Pengharapan itu hendaknya juga terus dimiliki oleh domba-domba milik Tuhan, dalam menjalani setiap peristiwa dalam hidup. Pengharapan itu akan terus ada saat domba-domba itu mau mendengar, mengenal, dan mengikut Sang Gembala. Pengharapan itulah yang menguatkan manusia untuk terus memiliki rasa syukur dalam hidup yang dianugerahkan-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Di sekitar peralihan abad ke-20, sebuah perusahaan pembuat sepatu mengirimkan seorang tenaga pemasarannya ke benua Afrika untuk mencoba memperluas pasar mereka. Setelah beberapa minggu di negeri asing, pemasar (marketing) sepatu tersebut mengirimkan pesan kepada perusahaannya, sambil memberikan peringatan: “Bencana! Bencana! Orang-orang disini tidak menggunakan sepatu. Segera batalkan produksi!”. Beberapa waktu kemudian pada tahun yang sama, seorang pemasar dari perusahaan sepatu yang lainnya bepergian ke wilayah yang sama, juga dengan harapan dapat meningkatkan basis pelanggan sepatu dari perusahaannya. Tidak lama kemudian, ia juga mengirim pesan ke perusahaannya yang berbunyi : “Peluang! Peluang! Orang-orang di sini tidak memakai sepatu. Segera tingkatkan produksi hingga tiga kali lipat!”. Kisah singkat di atas sejalan dengan semangat teks hari ini tentang harapan yang menguatkan dan meneguhkan.

Isi
Teks hari ini mengajak kita untuk melihat pengharapan dari berbagai macam peristiwa sehingga semua itu memberikan kekuatan, keteguhan, dan rasa syukur dalam hidup. Saat tulisan ini ditulis, kondisi demokrasi Indonesia sedang tidak baik-baik saja, sehingga pada tanggal 26-27 Agustus 2024 lalu, para mahasiswa turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi terkait konstitusi bangsa Indonesia yang sedang terancam. Pertanyaannya, apa yang membuat mahasiswa, komika, aktor/aktris, pengiat media sosial, dosen, dan berbagai elemen anak bangsa mau turun ke jalan untuk melakukan aksi demonstrasi seperti Mei 98? Tidak lain, karena masih banyak orang yang memiliki harapan untuk Indonesia supaya tetap memiliki semangat reformasi dan membuat Indonesia menjadi semakin lebih baik dalam hal demokrasi, bukan dikebiri oleh kekuasaan. Oleh karena itu, melalui teks hari ini, kita belajar tiga hal :

  1. Dengar
    Kata “dengar atau mendengar” merupakan kata kerja yang menunjukkan sikap aktif dalam mendengar. Mendengar bukanlah hal yang mudah, ada beberapa sikap orang dalam mendengar. Ada yang mendengar dengan sambil lalu, akhirnya pesannya tidak bisa ditangkap dengan baik dan bisa menjadi salah paham. Ada yang mendengar, tetapi pikirannya ada dimana-mana sehingga pesannya tidak tersampaikan karena pikirannya tidak fokus pada apa yang disampaikan. Namun, ada juga orang yang mendengar dengan sepenuh hati dan pikiran sehingga pesan yang disampaikan dan ia dengar dapat ditangkap dengan baik dan ia mengerti akan maksud dari pesan yang disampaikan tersebut.
    Kisah perkunjungan Petrus yang didengar oleh banyak orang, membuat banyak orang antusias. Juga ungkapan Petrus ke Eneas supaya ia berjalan, dihayati dengan iman oleh Eneas, sehingga ia dapat berjalan. Juga orang banyak yang ada di ruang atas tempat disemayamkannya tubuh Dorkas, mereka mau mendengarkan Petrus untuk keluar. Begitu juga, Jemaat Smirna yang mendengar seruan Yohanes, memberikan pengharapan dan kekuatan baru bagi mereka. Bahasa dari Injil Yohanes, kita sebagai domba-domba kepunyaan Allah hendaknya mendengar suara Sang Gembala. Mendengar suara Sang Gembala memerlukan kerendahan hati untuk mendengar perintah Sang Gembala. Suara Gembala yang lembut itu akan menguatkan bagi kita yang putus asa, berbeban berat, dan memberi kita harapan yang baru. Jangan pernah mengeraskan hati, tapi lembutkan hati kita untuk mendengar suara-Nya melalui kebenaran firman-Nya yang hidup.
  2. Kenal
    Dalam hidup, menjadi domba-domba milik Tuhan tentu menjadi sesuatu yang berharga. Tetapi, apakah kita yang sudah menjadi domba-domba milik-Nya yang mengenal Sang Gembala? Seringkali kita hidup dalam ritus keagamaan dan melakukannya sebagai peristiwa yang rutin dilakukan. Sedangkan Sang Gembala, meminta supaya kita sebagai domba-Nya mengenal Dia. Kenal menjadikan hubungan kita semakin dekat, erat, dan berani mempercayakan hidup kita kepada-Nya. Mempercayakan hidup kepada Sang Gembala berarti kita mengandalkan Tuhan di dalam hidup, sehingga kita terus memiliki pengharapan untuk dapat menjalani setiap proses kehidupan yang naik turun dengan baik.
    Ingatlah, ungkapan Daud dalam Mazmur 23 yang menunjukkan pengenalannya kepada Sang Gembala. Dalam pengakuan dan pengenalannya akan Tuhan sebagai gembala yang baik, Daud meyakini bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan domba-domba-Nya kelaparan, sendiri, dan terancam bahaya. Sang Gembala akan melindungi dan merawat kehidupan kita, seturut dengan yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, kita perlu mengenal Tuhan secara pribadi di dalam setiap dinamika kehidupan. Tidak cukup hanya melalui rutinitas ritual yang kita lakukan tetapi juga melalui setiap pergumulan dan pergulatan di dalam hidup kita. Kenali Tuhan Sang Gembala itu supaya kehidupan kita terus memiliki pengharapan dan rasa syukur atas segala yang terjadi di dalam hidup.
  3. Mengikuti-Nya
    Seringkali kita seperti para murid dan orang banyak yang selalu mengikuti Tuhan Yesus kemana-mana, namun belum mengenal Tuhan Yesus dengan baik. Bahkan Tuhan Yesus ditolak karena menyatakan bahwa Bapa dan Aku adalah satu. Mengikut Yesus, tentu tidak asal-asalan ikut atau ikut-ikutan, tetapi diperlukan kesadaran diri yang utuh supaya mengikut Yesus menjadi semakin bermakna di dalam hidup. Mengikut Yesus, bukan menjadi jaminan hidupnya akan menjadi sukses, penuh berkat berlimpah, dan semua menjadi baik-baik saja, seperti doktrin Teologi Sukses. Tetapi, mengikut Yesus juga akan mengalami berbagai banyak tantangan, pergumulan, dan kesulitan di dalam hidup seperti orang-orang Kristen yang berada di Jemaat Smirna yang mengalami tekanan yang luar biasa. Lalu, apa yang membuat mereka dapat bertahan? Iya, karena mereka mampunyai pengharapan!
    Pengenalan diri akan Kristus membuat kita mengikuti-Nya dengan sepenuh hati, bukan setengah hati. Dalam pergumulan apapun, masih ada pengharapan untuk terus hidup dan bertumbuh. Modal utama hidup kita adalah pengharapan. Kita berpengharapan selama kita hidup, dan kita hidup selama berpengharapan. Mengikut Yesus merupakan harapan baru bagi hidup, pengharapan bukan hanya tertuju ke depan atau kepada yang akan terjadi; melainkan juga kepada yang sudah terjadi. Dalam iman Kristen, kebangkitan Yesus Kristus Sang Gembala itulah yang menjadikan hidup kita penuh syukur hingga saat ini. Teologi Pengharapan yang dikembangkan oleh Jurgen Molman, menyatakan bahwa pengharapan membuat orang menemukan kendala baru dan peluang baru dan ini membuat dia hidup kembali. Namun, di lain pihak pengharapan menjadikan orang resah, sebab ia tidak bisa lagi menerima keadaan, sehingga pengharapan mengandung resiko yang menimbulkan kekecewaan dan kejutan. Hal ini senada dengan ilustrasi di awal tentang melihat sebuah persoalan atau pergumulan dengan tetap berpengharapan maka akan menjadi peluang yang baik. Maka, mengikut Yesus menjadikan hidup kita penuh dengan pengharapan.

Penutup
Melalui uraian di atas, kita dapat menghayati bersama tentang hari raya persembahan Undhuh-undhuh sebagai penghayatan rasa syukur kita atas segala berkat Tuhan di dalam hidup. Sebagai domba-domba milik Tuhan setelah kita mendengar, mengenal, dan mengikuti-Nya, maka hendaknya rasa syukur itu selalu terwujud dalam hidup kita. Dalam tradisi Unduh-unduh, kita belajar untuk memberikan yang terbaik sebagai rasa syukur. Namun, kita juga perlu waspada supaya ucapan syukur kita tidak merosot dan berubah menjadi mengikat (dengan pesan tertentu), menyuap (supaya Tuhan memberikan berkat lebih), membayar (seperti iuran), dls. Oleh karena itu, dalam menghayati hari raya persembahan unduh-unduh, kita belajar membangun tradisi dan budaya syukur dalam aksi, yaitu pengorbanan dan cinta. Menurut Yesus, kita memberi bukan hanya kalau kita kelebihan, melainkan juga pada waktu kita kekurangan. Dan semua perbuatan memberi itu dijiwai oleh perasaan sukacita, bukan perasaan terpaksa, keharusan, khawatir, atau sedih hati.

Pengharapan di dalam Tuhan Yesus memberikan kekuatan dan semangat di dalam hidup. Oleh karena itu, teruslah Dengar, Kenal, dan Mengikut-Nya di dalam segala pergumulan dan tantangan kehidupan yang ada. Dan kiranya Kristus Sang Gembala terus menjadi pusat kehidupan kita dari hari ke hari, yang menjadikan hidup penuh syukur. Tuhan Yesus Memberkati. Amin. [Kulz].

 

Pujian:

  1. KJ. 450  Hidup Kita yang Benar
  2. PKJ. 147  Di Sini Aku Bawa

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing antawis abad 20, wonten perusahaan sepatu ingkang ngirim tenaga pemasaran dhateng benua Afrika kangge njembaraken pasaripun. Saksampunipun wetawis pinten minggu wonten ing negara Afrika punika, tenaga pemasaran punika ngirim pesen dhateng perusahaanipun kanthi pawartos: ”Prahara! Prahara! Para tiyang ing ngriki mboten wonten ingkang damel sepatu. Nyuwun supados produksi sepatu dipun batalaken!” Sawetawis wekdal selajengipun ing taun ingkang sami, wonten tenaga pemasaran sanesipun ugi tindak dhateng wilayah ingkang sami, kanthi pangajeng-ajeng saged ningkataken produksi sepatu perusahaan punika. Mboten dangu saking punika, piyambakipun kirim pesan dhateng perusahaanipun kanthi pawartos: ”Kesempatan! Kesempatan! Katha tiyang ing ngriki mboten ngagem sepatu. Nyuwun tulung supados produksi sepatu dipun tingkataken ngantos tigang lipat.” Cariyos singkat punika, laras kaliyan punapa ingkang kaserat ing sabda pangandikanipun Gusti dinten punika, bab pangajeng-ajeng ingkang ngiyakaten lan neguhaken.

Isi
Sabda pangandikanipun Gusti ing dinten punika ngajak dhateng kita supados nggadhahi pangajeng-ajeng wonten ing sadaya prekawis, saengga kita kiyat, teguh, lan raos sokur ing gesang punika. Wekdal Rancangan Khotbah punika dipun serat, kawontenanipun demokrasi ing Indonesia punika ing kahanan ingkang mboten sae. Ing tanggal 26-27 Agustus 2024 kepengker, para mahasiswa sami gelar demonstrasi kangge nyuantenaken aspirasi bab konstitusi Bangsa Indonesia ingkang kaancam. Pitakenanipun, punapa ingkang dadosaken mahasiswa, komika, aktor/aktris, pengiat media sosial, dosen, lan sadaya elemen masyarakat ndherek demonstrasi kados Mei 98? Mboten sanes, amargi taksih kathah tiyang ingkang nggadah pangajeng-ajeng kangge bangsa Indonesia supados semangat reformasi lan upaya ndadosaken demokrasi Indonesia langkung sae punika tuwuh, mboten dipun potong kaliyan panguawasa. Awit saking punika, waosan kita dinten punika ngajak kita sami sinau tigang prekawis:

  1. Mireng
    Tembung “mireng utawi mirengaken” punika tembung kerja ingkang nedahaken sikep aktif kangge mirengaken. Mirengaken punika mboten gampil, wonten maneka werna sikep anggenipun tiyang mirengaken. Wonten tiyang ingkang mirengaken sambil lalu, pungkasanipun pesan punika mboten saged dipun mangertosi lan malah saged salah paham. Wonten ingkang mireng, nanging pikiranipun wonten ing pundi-pundi lan dadosaken pesan punika mboten dipun mangertosi amargi mboten fokus. Nanging, wonten ugi tiyang ingkang mirengaken kanthi saklebeting manah lan pikiran ingkang dadosaken pesan punika katampi kanthi sae lan piyambakipun mangertos punapa ingkang dados maksud saking pesan punika.
    Cariyos kunjunganipun Rasul Petrus ingkang dipun mangertosi tiyang kathah, dadosaken katha tiyang sami antusias. Punapa ingkang dipun dawuhaken Petrus dhateng Eneas supados piyambakipun mlampah, dipun hayati srana iman kaliyan Eneas, seengga Enesa saged mlampah. Mekaten ugi para tiyang ingkang wonten ruang inggil, papan kangge nyalap layonipun Dorkas, para tiyang punika purun mirengaken Petrus lan medal saking ruangan punika. Mekaten ugi, pasamuan Kristen ing Smirna ingkang mirengaken dawuhipun Yokanan, dawuh punika paring pangajeng-ajeng lan kakiyatan ingkang enggal kangge pasamuwan Smirna. Basa saking Injil Yokanan, kita punika kados mendha-medhanipun Gusti Allah ingkang kedahipun tansah mirengaken suanten saking Sang Juru Pangon. Mirengaken suanten Juru Pangon ingkang lembut punika ingkang paring kakiyatan dhateng tiyang ingkang putus asa, nanggel beban awrat, lan nuwuhaken pangajeng-ajeng ingkang enggal. Kita kedah andhap asor ing manah, lan purun mireng suantenipun Gusti Allah lumantar sabda pangandikanipun Gusti Allah ingkang gesang.
  2. Tepang
    Wonten ing gesang, dados mendha kagunganipun Gusti Allah punika tamtu aji lan ndadosaken raos bingah. Nanging, punapa kita ugi sampun dados mendha ingkang sampun tepang kaliyan Juru Pangon kita? Asring kita nindakaken ritual pangabekti lan kita lampahi kanthi rutin. Nanging, Juru Pangon kita nyuwun supados kita ingkang dados mendha ingkang tepang kaliyan Pangonipun. Tepang punika dadosaken hubungan kita tansah celak, raket, lan wantun ngaturaken sadaya gesang kita wonten ing ngarsanipun Gusti Allah. Ngaturaken sadaya gesang kita punika artosipun kita ngandelaken Gusti Allah wonten ing gesang kita, kita tansah nggadhah pangajeng-ajeng kangge nindakaken sadaya proses gesang ingkang mboten tamtu.
    Kita sami dipun ingetaken, punapa ingkang dados dawuhipun prabu Dawud ing Jabur 23, ingkang dados pengakenipun bilih Dawud tepang kaliyan Sang Pangon. Ingkang pengakenipun Dawud pitados bilih Sang Pangon mboten badhe nilar mendha-mendhanipum keluwen, piyambakan, lan kaancam marabaya. Sang Pangon tamtu badhe nglindungi lan ngrimati gesang kita sami, miturut punapa ingkang dipun kersakaken Gusti Allah. Awit saking punika, kita kedah tansah tepang kaliyan Gusti Yesus secara pribadi wonten ing sadaya dinamika gesang kita. Mboten namung sacara ritual kemawon, nanging ugi wonten ing sadengah pergumulan gesang kita. Sumangga kita sami tepang kaliyan Gusti Yesus, Sang Juru Pangon kita supados gesang kita tansah nggadah pangajeng-ajeng lan saos sokur wonten ing sadaya lampah gesang kita.
  3. Nderek
    Asring kita punika kados para sakabat lan tiyang katha ingkang ndherek Gusti Yesus tindak dhateng pundi-pundi, nanging mboten tepang lan mangertos punapa ingkang dipun karsaaken Gusti Yesus. Saking punika, Gusti Yesus ugi dipun tolak amargi ngendika bilih Bapa lan Panjenenganipun punika satunggal. Nderek Gusti Yesus punika tamtu mboten namung asal-asalan nanging kedah kesadaran dhiri supados kagungan makna ing gesang. Ndherek Gusti Yesus, mboten dados jaminan bilih gesang punika tansah sukses, sadaya kebak berkah lan sae-sae kemawon, kados doktrin Teologi Sukses. Ndherek Gusti Yesus punika, kita ugi badhe ngalami tantangan, pergumulan, lan pakewed kados pasamuwan ing Smirna ingkang ngakami pekeweding gesang ingkang luar biasa. Lajeng, punapa ingkang dadosaken pasamuwan punika bertahan? Nggih, punika amargi kagungan pangajeng-ajeng!
    Pitepangan kita kaliyan Gusti Yesus dadosaken kita tansah ndherek Gusti Yesus kanthi gumolonging manah, mboten setengah-setengah. Satengahing pergumulan gesang ingkang kita adepi, taksih wonten pangajeng-ajeng ingkang tuwuh lan gesang. Modal utami gesang kita punika pangajeng-ajeng. Kita tansah kagungan pangajeng-ajeng selami kita taksih gesang, lan kita gesang kanthi pangajeng-ajeng. Ndherek tut wingking Gusti Yesus ndadosaken kita nggadhah pangajeng-ajeng ingkang enggal, pangajeng-ajeng mboten namung tertuju ing ngajeng utawi ingkang badhe kelampahan, nanging ugi ingkang sampun kelampahan. Wonten ing iman kristen, wungunipun Kristus Sang Pangon punika ingkang dadosaken gesang kita kebak saos sokur ngantos ing dinten punika. Teologi Pengharapan ingkang dipun kembangaken Jurgen Moltman, paring seratan bilih pangajeng-ajeng punika dadosaken tiyang manggihi masalah enggal lan kesempatan enggal, ingkang dadosaken piyambakipun gesang. Nanging, wonten ing bab sanesipun, pangajeng-ajeng punika dadosaken tiyang punika gamang, amargi piyambakipun mboten saged nampi kahanan ingkang kita alami, saengga pangajeng-ajeng punika kagungan resiko ingkang dadosaken manah kuciwa lan kaget. Pemanggih punika, laras kaliyan ilustrasi wonten ing ngajeng kalawau, ing pundi kita mangertos persoalan lan pergumulan, nanging kita nggadhah pangajeng-ajeng ingkang dadosaken kesempatan ingkang sae. Mila, ndherek Gusti Yesus punika ndadosaken gesang kita kebak kaliyan pangajeng-ajeng.

Panutup
Saking seratan ing inggil punika, kita saged mangertos bilih riyadi unduh-unduh punika dados penghayatan saos sokur kita amargi sadaya berkat ingkag sampun kita tampi ing gesang punika. Kita minangka mendha kagunganipun Gusti ingkang sampun mireng, tepang lan nderek tut wingking Sang Pangon, kedah saos sokur ing sauruting lampah gesang kita. Wonten ing tradisi unduh-unduh, kita sami sinau ngaturaken pisungsung ingkang paling sae minangka saos sokur kita. Nanging, kita ugi perlu waspada supados saos sokur kita punika mboten mandap lan owah dados ngiket kita (kanthi pesan tertentu), menyuap (supados Gusti Allah kersa paring berkah linuwih), mbayar (kados iuran), lsp. Awit saking punika, sumangga anggen kita mahargyan riyadi unduh-unduh punika, kita purun mbangun tradisi lan budaya sokur wonten ing aksi, inggih punika pangurbanan lan tresna. Lan sadaya ingkang kita tindakaken saha kita aturken dhumateng Gusti punika, kita dipun landesi kanthi manah saos bingah lan tresna, mboten amargi kapeksa, kuatos utawi sedih.

Pangajeng-ajeng ing Gusti Yesus punika tansah ngiyataken lan nyemangati gesang kita. Karana punika, kita kedah terus Mireng, Tepang, lan Nderek Gusti Yesus wonten ing sadaya pergumulan lan tantangan gesang kita. Mugi Gusti Yesus Kristus Sang Pangon tansah dados pusat pigesangan kita wonten ing padintenan, ingkang dadosaken gesang kita kebak ing saos sokur. Gusti Yesus mberkahi kita. Amin. [Kulz].

 

Pamuji: KPJ. 161  Jiwa Raga Kawula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak