Budaya Damai Pancaran Air Hidup 22 November 2024

22 November 2024

Bacaan: Yehezkiel 28 : 20 – 26 | Pujian: KJ. 343
Nats: “Mereka akan tinggal di sana dengan tenteram, membangun rumah dan membuat kebun anggur. Ya, mereka akan tinggal dengan aman tentram pada saat Aku menjatuhkan hukuman atas semua tetangganya yang menghina mereka. Mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka.” (Ayat 26)

Menurut resolusi  PBB nomor 243 tahun 1999, budaya damai adalah budaya yang mencegah penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik, dan dibangun berdasarkan pendidikan perdamaian, promosi pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan menurut UNESCO, budaya damai merupakan proses aktif, positif, partisipatif dalam menghargai keberagaman, toleransi terhadap perbedaan, mendorong upaya dialog, dan menyelesaikan konflik dengan semangat saling pengertian dan kerjasama. Oleh karena itulah, budaya damai dan nir-kekerasan merupakan komitmen bersama untuk perdamaian, mediasi, dan pencegahan konflik. Penanaman budaya damai itu bisa kita lakukan di lingkup kehidupan kita yang paling kecil, yaitu keluarga. Dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya dengan selalu bertutur kata santun di antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain.

Di dalam kitab Yehezkiel dikatakan bahwa setiap orang yang membangun relasi yang intim dengan Tuhan akan mengalami kedamaian, aman dan tentram. Dalam hubungan manusia dengan Tuhan, damai sejahtera berarti keadaan yang mengalir dari persekutuan yang intens dan dekat dengan Tuhan. Ketika seseorang hidup dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan, ia akan merasakan kedamaian batin dan kesejahteraan yang seutuhnya. Sehingga ketika kita merasakan damai sejahtera itu, maka kitapun bisa membawa pengaruh positif  dan hal-hal baik kepada setiap orang yang ada di sekitar kita. Jika hubungan kita dengan Tuhan baik, maka hubungan kita dengan sesama pun baik adanya.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan agar hidup kita damai dan bahagia, yaitu: (1) Meyakini bahwa Kristus selalu menyertai kita, sehingga kita tidak khawatir tentang apapun juga. (2) Bersyukur setiap waktu apapun kondisi kita. (3) Bersosialisasi dengan sesama secara positif. (4) Menghindari hal-hal yang dapat membuat kita menjadi stress atau cemas. Marilah kita sebagai umat pilihan Kristus menjadi pendamai bagi siapapun dan bisa membawa damai dimanapun kita berada. Hidup rukun dengan siapapun akan menciptakan sikap dan perilaku saling tolong menolong. Hal ini akan meminimalisir perselisihan, konflik, friksi dan permusuhan. Amin. [Kulz].

“Orang Kristen adalah umat yang suka damai dan pembawa damai bagi siapapun.”

 

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak