Bacaan: Wahyu 19 : 1 – 10 | Pujian: KJ. 338
Nats: “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” (Ayat 7)
Kurang beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Desember, artinya kita sudah mendekati hari Natal. Gereja-gereja terlebih panitia Natal sudah mulai mengkonsepkan dekorasi, acara, konsumsi, tamu undangan, dsb. Kelompok-kelompok mulai berlatih paduan suara untuk memeriahkan perayaan Natal yang akan segera tiba. Anak-anak sekolah juga mempersiapkan diri untuk hari liburan Natal. Keluarga-keluarga yang jauh pun juga mempersiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman, untuk bertemu keluarga besar. Memang peristiwa Natal sangat dinantikan oleh umat Kristiani di seluruh dunia terlebih kita karena sangat mengesankan.
Dalam penglihatan Yohanes di pulau Patmos, ia melihat tanda yang sangat mengesankan. Ia mendengar suara orang banyak yang memuliakan Allah: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,” (Ay. 1b). Seruan ini diulang-ulang pada perikop ini. Selanjutnya di ayat 7, “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” Inilah hari yang penuh sukacita ketika Kristus (Sang Anak Domba) dan umat-Nya (pengantin-Nya) akan bersatu. Perkawinan ini juga sebagai penanda bahwa Allah telah mengalahkan Iblis untuk selama-lamanya. Apa yang disaksikan Yohanes, menunjukkan hubungan baik antara Allah dengan manusia yang saling menyatu. Allah sungguh mencintai umat-Nya dan Ia ingin selalu bersatu dengan umat-Nya. Lantas bagaimana dengan kita manusia masa kini, apakah kita mau bersatu dengan Allah?
Kita yang masih diberi kesempatan hidup saat ini dapat menyatu dengan Allah jika kita senantiasa memuliakan-Nya. Jika kita bisa menyatu dengan Allah, kita juga diajak untuk menyatu dengan sesama kita. Di setiap tempat tinggal kita pasti mempunyai adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda, apakah dengan perbedaan itu bisa membuat kita bersatu? Tentunya tidak mudah bagi kita untuk menerima perbedaan. Lakon dalam pewayangan, yaitu “Semar Mbangun Kayangan”, mengajarkan kepada kita bahwa “mbangun kayangan” bukanlah hal membangun surga atau bangunan di atas bumi, melainkan membangun jiwa. Jika jiwa manusia sudah terbangun dalam satu tujuan serta menyatu dengan Allah dan sesama, maka kita dapat saling menerima satu dengan yang lain. Mari kita rawat perbedaan yang ada dengan hidup saling menghargai dan menghormati yang lain demi terciptanya kedamaian. Amin. [LEN]
“Membangun jiwa persatuan untuk keindahan.”