Tahun Gerejawi: Bulan Budaya
Tema: Budaya Gotong-Royong
Judul: Bekerja Sama dengan Cara yang Tepat
Bacaan: Nehemia 3:1-32
Ayat Hafalan: “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)
Lagu Tema: Kerja Sama-Sama
Tujuan:
- Anak dapat menunjukkan bahwa pembangunan tembok Yerusalem melibatkan banyak orang dan banyak bangsa.
- Anak dapat menjelaskan hilangnya budaya gotong royong di lingkungannya.
- Anak menerapkan sikap hidup gotong royong dalam kehidupannya sehari-hari.
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Nehemia, seorang gubernur Yerusalem, dipercaya oleh Raja Artahsasta untuk membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem yang runtuh dan tersisa puing-puingnya saja. Nehemia telah mengetahui secara pasti dalam iman, dari kesaksian Hanani, bahwa bangsa Israel yang telah kembali dari masa pembuangan di Babel itu sedang terancam bahaya, karena tembok Yerusalem telah terbongkar dan tidak memiliki pintu gerbang untuk menutup kota dengan baik. Apabila dibiarkan demikian, maka sewaktu-waktu musuh dapat menjarah dan menawan orang-orang yang lengah di dalam kota Yerusalem. Sebagai seorang pemimpin kota tersebut, Nehemia pun akhirnya mengambil tindakan dengan mengerahkan orang-orang sebangsanya untuk membangun kembali seluruh tembok dan gerbang-gerbang kota.
Nehemia membagi-bagi pekerjaan dengan merata, sehingga setiap orang dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Beberapa wanita juga terlibat dalam upaya pembangunan ini, salah satunya adalah Salum bin Halohesh. Semua peserta yang terlibat berasal dari berbagai kalangan dan status sosial beraneka ragam. Para pemuka agama maupun pemuka masyarakat melibatkan diri secara langsung (ay. 1, 9, 12, 16). Selain itu juga berbagai profesi terlibat dalam pembangunan tersebut, di antaranya seperti tukang emas dan juru rempah-rempah. Mereka semua bersatu hati tidak hanya mengerjakan bagian mereka masing-masing namun juga bagian yang perlu dikerjakan bersama. Karena adanya pembagian tugas yang jelas, pengerjaan yang dilakukanpun menjadi saling berkesinambungan dari satu bagian ke bagian yang lain, seperti halnya para imam yang sesuai dengan fungsinya, menahbiskan pintu-pintu gerbang yang didirikan (ay.1). Para tukang bangunan juga membangun sesuai keahlian mereka. Demikian halnya orang-orang lain yang mungkin tidak memiliki keahlian sebagai tukang batu pun tetap memiliki tugasnya sendiri, yaitu merubuhkan sisa-sia tembok lama dan menyingkirkan puing-puing tersebut.
Kerjasama dan kesatuan setiap peserta pembangunan tembok serta gerbang-gerbang Yerusalem yang tidak mempedulikan status sosial tinggi atau rendah, bangsawan atau rakyat jelata, kaya atau miskin, besar atau kecil, menjadi salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan pembangunan tembok tersebut, meskipun dalam prosesnya tidak terlepas dari pertentangan dan keluhan-keluhan. Hingga pada akhirnya proses pembangunan pun dinyatakan selesai pada tanggal 25 bulan Elul, dengan waktu pengerjaan selama 52 hari (6:12).
Refleksi Untuk Pamong
Mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pamong remaja terkadang terasa tidak mudah karena setiap anak yang Tuhan titipkan pasti memiliki beraneka ragam karakter, latar belakang dan pergumulannya masing-masing.
Remaja adalah generasi penerus sekaligus pilar-pilar yang suatu saat akan semakin memperkokoh persekutuan kita. Namun, tak selamanya hidup mereka baik-baik saja dan sesuai dengan harapan kita. Perlu kita sadari bahwa mungkin ada banyak di antara mereka yang saat ini sedang “runtuh” karena pergumulan yang mereka hadapi. Ibarat anak-anak kita adalah tembok Yerusalem, marilah kita belajar dari Gubernur Nehemia dan juga para peserta pembangunan. Semangat kebersatuan yang tumbuh ditengah-tengah perbedaan status sosial, profesi maupun kemampuan mereka masing-masing justru menjadi kunci keberhasilan dibangunnya kembali tembok Yerusalem.
Sebagai pamong, jika kita mengerjakan bagian masing-masing dengan kesungguhan hati sekaligus saling bahu-membahu satu sama lain, maka tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah itu pasti bisa dihadapi dan menjadi berkat. Jangan biarkan iman, mental, potensi dan kehidupan anak-anak kita semakin “runtuh”, tapi marilah kita bekerja sama dengan cara yang efektif dan efisien menyesuaikan konteks jemaat kita masing-masing, untuk terus membangun iman, kehidupan dan masa depan mereka.
Alat Peraga
Pamong menyiapkan gambar di bawah ini dengan membuka link yang telah disediakan :

Gambar dapat diunduh melalui link berikut:
Pendahuluan
- Ajak teman-teman remaja untuk membaca Nehemia 3:1-32 secara bergantian!
- Ajak mereka untuk bermain dalam kelompok, dengan persiapan dan instruksi sebagai berikut:
- Siapkan kertas koran bekas atau kertas-kertas bekas lainnya, gunting dan lem.
- Bagi teman-teman remaja menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota kurang lebih 4-5 orang.
- Tugaskan mereka untuk membuat sebuah bangunan yang kokoh dari koran tersebut sekreatif mungkin selama 10-15 menit
- Setelah selesai, Tanyakan pada mereka pelajaran apa yang didapatkan dari dari pengalaman tersebut!
Cerita
Halo teman-teman remaja! Bagaimana kabar kalian hari ini? Apakah semua baik-baik saja? Semoga selalu begitu ya!
Teks yang kita baca hari ini cukup panjang dan terasa seperti hanya menyebutkan nama-nama orang yang sedang bekerja sama membangun pintu gerbang atau memperbaiki bagian-bagian yang rusak, dengan tugasnya masing-masing. Eits, tapi tunggu dulu… Dibalik nama-nama dan tugas-tugas ini, ada sebuah cerita yang menarik dan bisa menjadi pelajaran yang baik untuk hidup kita.
Ada seorang Gubernur bernama Nehemia. Ia diutus oleh Raja Artahsasta untuk membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem yang runtuh dan tersisa puing-puingnya saja. Apabila tembok tersebut dibiarkan saja demikian, maka seluruh penduduk akan terancam bahaya karena sewaktu-waktu musuh dapat menjarah dan menawan orang-orang yang lengah di dalam kota Yerusalem. Sebagai seorang pemimpin kota tersebut, Nehemia pun akhirnya mengerahkan penduduk untuk membangun kembali seluruh tembok dan gerbang-gerbang kota.
Sebagai pemimpin yang baik, Nehemia harus bisa membagi tugas dengan merata dan sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta. Melalui pembagian tugas ini, akhirnya setiap orang jadi tahu apa tanggung jawab mereka masing-masing. Meskipun terkesan bekerja sendiri-sendiri menurut kemampuan mereka, namun sebetulnya mereka sedang bergotong-royong loh! Mereka saling bahu membahu satu sama lain. Mereka yang menjadi peserta pembangunan pun tidak hanya laki-laki, tetapi juga ada yang perempuan. Tidak hanya para tukang bangunan, tetapi juga pemuka agama dan pemuka masyarakat, tukang emas dan tukang juru rempah-rempah, tidak hanya mereka yang miskin tetapi juga yang kaya.
Wow… luar biasa bukan? Mereka bersatu hati tidak hanya mengerjakan bagian mereka masing-masing namun juga bagian yang perlu dikerjakan bersama, demi keselamatan dan keamanan mereka dan seluruh penduduk kota Yerusalem. Inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan pembangunan tembok tersebut sampai selesai. Karena dikerjakan dengan gotong-royong dan dengan kesungguhan hati, seluruh tembok dan pintu gerbang pun bisa selesai hanya dalam waktu 52 hari.
Nah teman-teman, kerjasama dengan cara yang tepat adalah hal yang menyenangkan. Cara yang tepat itu sudah tergambar dari cara kerja para peserta pembangunan tembok Yerusalem. Bila suatu saat kita menjadi pemimpin kelompok, jadilah pemimpin seperti Nehemia yang bisa membagi tugas secara merata, sesuai dengan kemampuan masing-masing dan mementingkan kepentingan bersama. Demikian halnya ketika kita hidup bersama dengan orang lain, bayangkan bila semua orang menjadi individualis dan tidak punya rasa peduli… apa yang terjadi? Tentunya hidup ini akan kacau balau. Yuk membiasakan hidup gotong royong, bekerja sama dengan kesungguhan hati, mengerjakan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab dan juga saling tolong menolong tanpa pandang bulu. Amin.