Minggu Biasa | Pembukaan Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1: Mikha 3 : 5 – 12
Bacaan 2: 1 Tesalonika 2 : 9 – 12
Bacaan 3: Matius 23 : 1 – 12
Tema Liturgis: Budaya sebagai Jalan Pewartaan Kerajaan Allah secara Kontekstual
Tema Khotbah: Menjauhi Kemunafikan dengan Membudayakan Hidup Benar
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Mikha 3 : 5 – 12
Bagian Mikha 3:5-12 ini ditujukan kepada para pemimpin Yehuda. Sebagai pemimpin umat seharusnya mereka melakukan keadilan bagi umat dan mengarahkan umat kepada jalan yang benar. Namun tidak demikian dengan para pemimpin Yehuda ini. Mereka memutar balikkan kebenaran (Ay. 9b). Mereka mengabaikan keadilan dan melakukan kejahatan (Ay. 1-3). Mereka tidak lagi melindung rakyat, melainkan menyiksa rakyat (Ay. 2-3, 10). Semua ini terjadi karena ketamakan dan ketidakpedulian mereka. Tidak ada sedikitpun dari mereka yang bertindak demi kepentingan dan kesejahteraan umat. Baik para pemimpin politik maupun pemimpin rohani, mereka bekerja atas dasar mencari keuntungan diri sendiri, dengan mencari kekayaan bagi diri mereka sendiri. (Ay. 5, 11). Seolah-olah mereka telah melakukan suatu kebenaran, mereka terlalu sombong, sehingga merasa bahwa Tuhan tidak akan menghukum mereka (Ay. 11). Ini adalah suatu kemunafikan. Di satu sisi, mereka menolak keadilan Allah, tetapi di sisi lain, mereka mengharapkan perlindungan-Nya. Di sinilah Tuhan menyatakan kuasa-Nya. Tuhan berdiri di atas kebenaran. Semua pemimpin bangsa Yehuda yang korup akan dihukum (Ay. 4, 6-7, 12).
Kelaliman para pemimpin bangsa Yehuda ini tidak hanya membuat umat menderita secara fisik, tetapi juga menderita mental dan rohani. Para nabi yang diharapkan membela, menghibur umat dan menentang tindakan para pemimpin yang jahat dengan mewartakan firman, bertindak sebaliknya. Firman yang harusnya memberitakan kebenaran dan keadilan, tetapi justru digunakan untuk membenarkan tindakan para pemimpin yang korup. Mereka melakukan hal itu demi keuntungan dan kekayaan pribadi (Ay. 9-11). Mikha menggambarkan umat seperti daging yang dipotong-potong. Umat tidak lagi memiliki pengharapan, karena mereka merasa keadaan mereka sudah hancur. Oleh karena itulah, Tuhan Allah yang akan menghukum para nabi palsu ini. Mereka akan ditimpa malapetaka dan kehilangan semua materi yang mereka miliki. (Ay. 12).
1 Tesalonika 2 : 9 – 12
Kedatangan Paulus ke kota Tesalonika adalah untuk memberitakan Injil. Perberitaan Injil yang ia lakukan berhasi. Di Tesalonika, ia disambut dengan hangat oleh jemaat di sana. Mereka dapat menerima berita Injil yang disampaikan oleh Paulus, karena Paulus memberitakan Injil dengan tulus, tanpa ada maksud atau motivasi yang tersembunyi (Ay. 3). Paulus menyadari bahwa Allah telah memanggilnya dan mempercayakan tugas pelayanan ini kepadanya (Ay. 4). Dalam pewartaan Injilnya, Paulus tidak mencari pujian atau keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan (Ay. 6). Paulus memberitakan Injil, melayani, dan mengajar jemaat Tesalonika dengan kasih, keramahan, dan kerelaan untuk berbagi dengan jemaat Tesalonika (Ay. 7). Paulus berusaha memberikan teladan yang baik. Ia berusaha dan berkerja memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja membuat kemah, agar dalam pemberitaan Injil yang ia lakukan, ia tidak membebani Jemaat Tesalonika (Ay. 8-9).
Paulus menunjukkan bahwa ia layak melayani jemaat Tesalonika. Ia benar-benar menyampaikan firman Tuhan bukan untuk menyukakan mereka, melainkan menyukakan hati Allah (Ay. 4-6). Ia menyampaikan firman Tuhan itu dengan ramah bagaikan seorang ibu yang membagi hidupnya untuk anak-anaknya (Ay. 7-8). Ia juga menjaga hidupnya sedemikian rupa, sehingga ia dapat menjadi saksi Injil yang tiada bercacat (Ay. 9-10). Paulus juga sikap sebagai seorang bapa, ia menasihati Jemaat Tesalonika untuk hidup setia sesuai dengan kehendak Allah (Ay. 11-12). Paulus menunjukkan kelayakannya menjadi saksi Kristus.
Matius 23 : 1 – 12
Yesus menunjukkan sikap yang positif terhadap Taurat. Ia mengakui bahwa Musa adalah tokoh penting dalam kaitannya dengan Taurat (Ay. 2). Ia juga memberikan pembenaran terhadap isi Taurat (Ay. 3). Yesus sendiri tidak menentang posisi ahli Taurat dan orang Farisi yang menduduki kursi Musa. Yang Yesus tentang adalah sikap dan perbuatan mereka yang munafik. Para ahli Taurat dan orang Farisi sangat pandai mengajarkan Taurat, tetapi mereka tidak melakukan dan menghidupi apa yang menjadi kehendak Allah di dalam Taurat itu sendiri (Ay. 3-4). Ajaran mereka palsu, hidup mereka sangat jauh dari apa yang mereka ajarkan. Demikian pula apa yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi dimotivasi hanya demi mendapatkan pujian dari orang lain (Ay. 5-7). Perbuatan baik yang mereka lakukan, tidak mereka lakukan dengan tulus, melainkan dengan motivasi tersembunyi agar menjadi orang yang terkemuka. Itulah kemudian Yesus mengajarkan 2 karakter utama kepemimpinan kristiani, yaitu sungguh-sungguh melayani tanpa pamrih dan rendah hati.
Benang Merah Tiga Bacaan
Bacaan 1 dan 3 memiliki benang merah yang sama yaitu Tuhan membenci kemunafikan. Mikha diutus Tuhan Allah untuk mengingatkan para pemimpin Yehuda akan kemunafikan mereka. Sebagai pemimpin bangsa (jasmani) dan pemimpin umat (rohani), seharusnya mereka menjadi teladan yang baik, dan memikirkan kesejahteraan bangsa, namun justru mereka berlaku korup dan hanya menyenangkan diri mereka sendiri. Demikian pula Tuhan Yesus menelanjangi kemunafikan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka mengajarkan hukum-hukum Taurat kepada bangsa Yahudi, tetapi dalam praktik hidup mereka sehari-hari, seringkali mereka jauh dari apa yang mereka ajarkan. Sedangkan bacaan 2 berkebalikan dari inti bacaan 1 dan 3. Bacaan 2 memberikan gambaran hidup Rasul Paulus, yang sungguh-sungguh berkenan kepada Allah. Paulus melakukan pelayanannya kepada Jemaat Tesalonika bukan untuk mendapatkan materi ataupun pujian, ia tulus melakukan pekabaran Injil. Oleh karena hidup benar dihadapan Tuhan, Jemaat Tesalonika dapat menerima kehadirannya di tengah-tengah komunitas dengan sukacita.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Sebuah situs berita online Shipper menuliskan sebuah artikel yang berjudul: “8 Cara Membedakan Barang Ori dan Palsu yang Harus Diketahui Penjual Online. Tulisan ini ditujukan kepada para penjual online agar mereka waspada lebih berhati-hati dalam memilih supplier barang yang dapat dipercaya. Tentunya dengan harapan para penjual ini dapat menjual barang dagangannya dengan kualitas yang ori bukan kw. Dalam artikel tersebut dituliskan beberapa tanda yang harus diwaspadai untuk membedakan barang ori dan kw. Di antaranya: 1. Diskon yang tidak realistis; 2. Kemasan tipis; 3. Kesalahan tata bahasa dan ejaan; 4. Situs web palsu; 5. Kualitas produk buruk; 6. Huruf dan logo cacat; 7. Tidak ada detail kontak; 8. Aksesoris yang hilang. Dengan mengetahui tanda tersebut, penjual online akan dapat lebih aman menentukan barang yang akan dia jual kembali kepada konsumen.
Hidup pada zaman ini, bukanlah hal yang mudah. Ada banyak orang mengalami perubahan sikap dan perilaku hidup demi bertahan hidup. Ada berbagai cara yang dilakukan orang untuk melakukan penipuan. Mulai dengan mememangkan hadiah undian, mengatasnamakan suatu bank, lembaga bahkan instansi pemerintah, hingga berkedok investasi bodong yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda. Hal ini menunjukkan bahwa masa kini sedang tidak baik-baik saja, sebab ada banyak orang yang hidup penuh dengan kemunafikan dan tipu muslihat, yang mana semua itu dia lakukan demi memenuhi kebutuhan hidupnya atau oleh karena ketamakan dan keserakahaan mereka. Orang hidup hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli lagi dengan orang lain di sekitarnya. Lantas bagaimanakah sikap kita sebagai gereja di tengah-tengah masyarakat?
Isi
Realitas kehidupan masa kini, sudah terjadi sejak zaman nabi Mikha dan Tuhan Yesus. Pada zaman nabi Mikha, para pemimpin umat yang seharusnya melakukan keadilan dan mengarahkan umat kepada kebenaran. Nyatanya mereka malah mengabaikan keadilan dan melakukan kejahatan. Baik para pemimpin politik maupun pemimpin rohani, mereka bekerja atas dasar mencari keuntungan diri sendiri, dengan mencari kekayaan bagi diri mereka sendiri. Mereka merasa telah melakukan suatu kebenaran, sehingga mereka berpikir bahwa Tuhan tidak akan menghukum mereka. Ini adalah kemunafikan mereka. Di satu sisi, mereka menolak Allah, tetapi di sisi lain, mereka mengharapkan perlindungan-Nya. Di sinilah Tuhan menyatakan kuasa-Nya, semua pemimpin bangsa Yehuda yang korup akan dihukum.
Demikian halnya para nabi yang diharapkan membela, menghibur umat dan menentang tindakan para pemimpin yang korup dan jahat dengan mewartakan firman, mereka malah berlaku sebaliknya. Firman yang harusnya memberitakan kebenaran dan keadilan, justru digunakan untuk membenarkan tindakan para pemimpin yang korup. Mikha menggambarkan umat Tuhan seperti daging yang dipotong-potong. Umat tidak lagi memiliki pengharapan, karena keadaan mereka yang sudah hancur. Oleh karena itulah, Tuhan Allah akan menghukum para nabi palsu ini. Mereka akan ditimpa malapetaka dan kehilangan semua materi yang mereka miliki.
Sedangkan pada masa Tuhan Yesus, Dia berhadapan langsung dengan ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus menunjukkan sikap yang positif terhadap Taurat. Ia mengakui bahwa Musa adalah tokoh penting dalam kaitannya dengan Taurat. Ia juga memberikan pembenaran terhadap isi Taurat. Yesus sendiri tidak menentang posisi ahli Taurat dan orang Farisi yang menduduki kursi Musa. Tetapi Yesus menentang sikap dan perbuatan mereka yang munafik. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sangat pandai mengajarkan Taurat, tetapi mereka tidak melakukan dan menghidupi apa yang menjadi kehendak Allah di dalam Taurat itu. Ajaran mereka palsu, hidup mereka sangat jauh dari apa yang mereka ajarkan. Apa yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi hanya demi mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain. Perbuatan baik yang mereka lakukan, tidak mereka lakukan dengan tulus, melainkan dengan motivasi tersembunyi agar menjadi orang yang terkemuka.
Berbeda dengan para pemimpin Yahudi yang berlaku korup dan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang munafik, Paulus menjadi teladan hidup benar dan berkenan dihadapan Tuhan. Bukan hanya dihadapan Tuhan, Paulus juga membuktikan bahwa ia layak disebut seorang rasul bagi Jemaat Tesalonika yang ia layani. Paulus menyadari panggilan pelayanannya, dalam pewartaan Injilnya, ia tidak mencari pujian atau keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan. Ia memberitakan Injil, melayani, dan mengajar jemaat Tesalonika dengan kasih, keramahan, dan kerelaan. Ia juga berusaha memberikan teladan yang baik. Ia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja membuat kemah, agar dalam pemberitaan Injil yang ia lakukan, ia tidak membebani Jemaat Tesalonika. Ia menyampaikan firman Tuhan itu dengan ramah, bagaikan seorang ibu yang membagi hidupnya untuk anak-anaknya. Paulus juga sikap seperti seorang bapa, yang menasihati Jemaat Tesalonika untuk hidup setia sesuai dengan kehendak Allah. Paulus mampu menjaga hidupnya sedemikian rupa, sehingga ia dapat menjadi saksi Injil yang tiada bercacat.
Penutup
Secara khusus, ibadah pada minggu ini adalah ibadah pembukaan bulan budaya di GKJW. Ada sebuah ajakan bagi kita bersama sebagai mana judul khotbah pada saat ini: “Menjauhi kemunafikan dengan membudayakan hidup benar.” Mengawali bulan budaya saat ini, kita diingatkan agar selalu waspada terhadap budaya kemunafikan yang ada di sekitar kita, baik itu dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Kita diajak untuk lebih cermat dan berhati-hati dengan orang-orang yang ada di sekitar kita saat ini. Hidup di dunia yang semakin penuh dengan tekanan dan himpitan menyebabkan banyak orang harus berpura-pura baik, agar dia dihargai dan dihormati. Orang harus berpura-pura kaya dan pandai, agar orang lain memperhitungkan dia sebagai orang yang penting. Namun marilah kita menyadari bahwa hidup dalam kepura-puraan atau kemunafikan adalah hidup yang melelahkan. Tidak ada damai sejahtera bagi mereka yang hidup dalam kepura-puraan atau kemunafikan.
Mari kita sebagai umat Allah menjalani hidup seperti yang diteladankan oleh Paulus dan Tuhan Yesus. Paulus menjalani hidupnya dengan benar dan sungguh-sungguh dihadapan Allah dan sesama, karena dia merasakan kasih dan penyertaan Allah sepanjang hidupnya. Dia tidak merasa takut, kuatir, dan merasa tertolak ketika ia memberitakan firman kepada Jemaat-jemaat yang dia layani. Hal ini karena Paulus memiliki motivasi yang benar, yaitu melayani untuk memuliakan Allah, bukan diri sendiri. Memang tidaklah selalu mudah melakukan kebenaran di tengah umat yang jauh dari kebenaran, namun bukankah itu yang menjadi panggilan kita, menjadi terang di tengah gelapnya dunia. Maka di bulan budaya yang akan kita jalani bersama, mari kita membudayakan hidup benar, yaitu hidup yang otentik, hidup yang sungguh-sungguh melayani, bukan berpura-pura melayani. Hidup yang ramah, penuh kasih, setia kepada Tuhan dan tugas panggilan sebagai umat-Nya. Membudayakan hidup benar haruslah nyata dalam ucapan, sikap dan tingkah laku hidup kita, sehingga orang lain akan tidak tertipu oleh penampilan, kebaikan, maupun keramahan kita, sebab semua yang kita lakukan dengan satu tujuan untuk memuliakan Allah. Selamat membudayakan hidup benar. Amin. [AR].
Pujian: PKJ. 279 : 1, 3 Semua Orang Inginkan Kebenaran
Rancangan Khotbah : Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Wonten satunggal situs berita online Shipper ingkang nyerat tulisan kanthi irah-irahan: “8 Cara Membedakan Barang Ori dan Palsu yang Harus Diketahui Penjual Online.” Seratan punika dipun tujuaken kangge para pedagang online supados waspada lan ngati-ati anggenipun milih supplier barang ingkang sae. Pengajeng-ajengipun para pedagang punika saged nyade barang daganganipun kanthi kualitas barang ori sanes kw. Ing seratan punika dipun sebataken perangan tandha ingkang kedah dipun waspadani kangge bentenaken barang ori lan kw. Tandha punika: 1. Diskon ingkang boten masuk akal; 2. Bungkusipun tipis; 3. Wonten salah tata basa lan ejaan; 4. Situs web palsu; 5. Kualitas barang awon; 6. Huruf lan logonipun cacat; 7. Boten wonten detail kontakipun; 8. Wonten aksesoris ingkang ical. Sarana mangertosi tandha punika, para pedagang online langkung aman anggenipun milih barang ingkang badhe dipun sade malih dhateng para konsumen.
Gesang ing jaman sapunika, sanes prekawis ingkang gampil. Kathah tiyang ingkang ngalami ewah-ewahan sikep lan tumindakipun supados saged tahan ngadepi gesang. Wonten tiyang ingkang ngupaya maneka werni cara kangge ngapusi tiyang sanes. Kados ta: ngapusi tiyang sanes bilih piyambakipun menang hadiah undian, wonten tiyang ngapusi ngangge nami bank, lembaga, ugi instansi pemerintah, ngantos ingkang ngapusi ngangge cara investasi bodong ingkang janjiaken kauntungan ingkang kathah. Bab punika nedahaken bilih gesang kita samangke boten sae-sae kemawon, awit kathah tiyang ingkang gesangipun kebak kamunafikan lan apus-apus, ing pundi sadaya punika katindakaken kangge nyekapi kabetahan gesangipun utawi karana namung serakah. Tiyang gesang namung mikiraken gesang kangge gesangipun piyambak lan boten peduli kaliyan tiyang sanes ing sakiwa tengenipun. Lajeng kados pundi sikep kita minangka greja ingkang wonten ing satengah-tengahipun masyarakat.
Isi
Kasunyatan gesang ing kelampahan sapunika, nyatanipun sampun kelampahan nalika jamanipun nabi Mikha lan Gusti Yesus. Nalika jaman nabi Mikha, para pimpinaning umat ingkang kedahipun tumindak adil lan nuntun umat dhateng kabeneran, nyatanipun malah nebihi tumindak adil lan tumindak jahat. Para pamimpin politik ugi pamimpin rohani sami makarya alandesan pados kauntunganipun piyambak, sami pados kasugihan kangge dhirinipun piyambak. Tiyang-tiyang punika rumaos sampun tumindak bener karana punika pemanggihipun: Gusti Allah boten badhe ngukum tiyang-tiyang punika. Punika wujud kamunafikanipun tiyang-tiyang punika. Ing sasisih nolak Gusti Allah, ing sisih sanesipun, ngajeng-ajeng pitulunganipun Gusti Allah. Saking ngriki Gusti Allah ngetingalaken panguwaosipun, Panjenenganipun badhe ngukum sadaya pamimpin bangsa Yehuda ingkang tumindak korup.
Mekaten ugi kawontenanipun para nabi, tiyang ingkang dipun ajeng-ajeng saged mbela, nglipur para umat lan nglawan tumindakipun para pamimpin ingkang korup lan awon srana pawartos sabda, ing nyatanipun para nabi punika tumindak kados para pamimpin punika. Sabdanipun ingkang kedahipun kagem martosaken kabeneran lan kaadilan, malah dipun damel kangge mbeneraken tumindak korup ipun para pamimpin bangsa Yahudi punika. Umatipun Gusti dipun gambaraken kaliyan nabi Mikha kados daging ingkang katugel-tugel. Para umat sampun kecalan pangajeng-ajeng. Awit kawontenanipun sampun acur. Karana punika Gusti Allah badhe ngukum para nabi palsu punika. Para nabi palsu punika badhe nampi kacilakan lan sadaya raja brananipun bakal sirna.
Ing jamanipun Gusti Yesus, Gusti Yesus piyambak ingkang ngadepi para ahli Toret lan tiyang-tiyang Farisi. Gusti Yesus nedahaken sikep ingkang positif tumrap Toret. Panjenenganipun ngakeni menawi nabi Musa punika tokoh ingkang penting salebeting Toret. Panjenenganipun ugi mbeneraken isinipun Toret. Panjenenganipun ugi boten kawratan nalika para ahli Toret lan tiyang Farisi sami nglenggahi kursinipun Musa. Nanging Gusti Yesus nentang sikep lan tumindakipun para ahli Toret lan tiyang Farisi ingkang munafik. Tiyang-tiyang punika pinten anggenipun memucal Toret, nanging kangge nindakaken Toret lan punapa ingkang dados karsanipun Gusti Allah, tiyang-tiyang punika boten nindakaken kados samesthinipun. Piwucalipun tiyang-tiyang punika piwucal palsu, awit gesangipun tebih saking punapa ingkang dipun wucalaken. Punapa ingkang dipun tindakaken dening para ahli Toret lan tiyang Farisi punika namung kangge pados pepujian lan pangaken saking tiyang sanes. Tumindak sae ingkang dipun lampahi, boten dipun tindakaken kanthi tulus, nanging kanthi motivasi supados dipun tepang minangka tiyang ingkang misuwur.
Punapa ingkang dipun tindakaken Rasul Paulus benten kaliyan tumindakipun para pamimpin Yahudi ingkang korup lan tumindakipun ahli Toret lan tiyang Farisi ingkang munafik. Rasul Paulus dados patuladhan gesang kangge tiyang sanes awit piyambakipun tumindak bener lan layak ing ngarsanipun Gusti. Rasul Paulus saged mbuktekaken bilih piyambakipun pantes dipun sebat rasulipun Gusti dhateng Pasamuwan Tesalonika. Piyambakipun sadar bilih timbalanipun Gusti kangge martosaken Injil, sanes kangge pados pamuji lan kauntungan kangge dhirinipun piyambak, nanging sadaya punika kagem ngluhuraken lan mulyakaken Gusti kemawon. Piyambakipun martosaken Injil, ngladosi, dan mucal Pasamuwan Tesalonika srana katresnan, andhap asor lan rila. Piyambakipun tansah ngupaya sadeg dados tuladha ingkang sae kangge warga pasamuwan. Karana punika Paulus nyekapi kabetahan gesangipun kanthi nyambut damel masang kemah, supados ing salebeting pawartos Injil ingkang dipun tindakaken boten dados tanggungan pasamuwan Tesalonika. Piyambakipun martosaken Injil kanthi andhap asor, kados ibu ingkang rila mbagi gesangipun kangge para anakipun. Paulus ugi tumindak kados bapak ingkang ngegetaken pasamuwan Tesalonika supados gesang kanthi setya miturut karsanipun Gusti Allah. Paulus saged njagi lampah gesangipun kados mekaten punika, saengga piyambakipun saged dados saksining Injil Kristus ingkang tanpa cacat.
Panutup
Pangabekti kita ing dinten Minggu punika minangka pangabekti pambuka wulan budaya ing GKJW. Wonten satunggal pangajak kangge kita, kados dene lamating khotbah Minggu punika: “Nebihi kamunafikan kanthi mbudayakaken gesang ingkang bener.” Karana punika, miwiti wulan budaya sapunika, kita dipun engetaken supados waspada tumrap budaya kamunafikan ing antawis kita, sae ingkang wonten ing brayat, greja lan masyarakat. Kita dipun ajak langkung ngati-ati dhateng tiyang-tiyang ing sakiwa tengen kita sapunika. Gesang ing donya ingkang sangsaya sesek kaliyan tekanan lan karibetan dadosaken kathah tiyang ingkang kedah ngapusi dados tiyang sae, supados piyambakipun dipun ajeni lan dipun urmati tiyang sanes. Tiyang kedah ngapusi bilih piyambakipun punika sugih lan pinter, supados piyambakipun dipun pandeng minangka tiyang ingkang penting. Nanging saking sadaya kawontenan ingkang mekaten punika, swawi kita sadar bilih gesang ing kawontenan ingkang apus-apus utawi munafik punika gesang ingkang nguras tenaga lan pikir kita. Boten wonten raos tentreming manah kanggene tiyang ingkang gesangipun ngapusi lan munafik.
Sumangga kita minangka umatipun Allah, nindakaken gesang kita kados ingkang dipun tuladhakaken Rasul Paulus lan Gusti Yesus. Paulus nglampahi gesangipun kanthi bener lan temen wonten ing ngarsanipun Gusti Allah lan sesami. Punika karana piyambakipun saged ngraosaken sih katresnan lan panganthinipun Gusti Allah ing salebeting gesangipun. Piyambakipun boten rumaos ajrih, kuwatos, lan katolak nalika martosaken sabdanipun Gusti dhumateng pasamuwan-pasamuwan ingkang dipun ladosi. Sadaya punika kalampahan, karana Paulus kagungan motivasi ingkang bener, inggih punika ngladosi kagem kamulyanipun Gusti Allah, sanes kangge dhirinipun piyambak. Pancen boten gampil kangge nindakaken kabeneran ing satengah-tengahing umat ingkang tebih saking kabeneran. Karana punika kita tansah dipun engetaken timbalan kita supados dados pepadhang ing satengah-tengahing donya ingkang peteng. Pramila ing wulan budaya ingkang badhe kita lampahi sesarengan punika, sumangga kita mbudayakaken gesang ingkang bener, inggih punika gesang ingkang satemenipun, gesang srana ngladosi Gusti ing satemenipun, boten apus-apus ngladosi. Sumangga kita gesang kanthi ramah, kebak katresnan, setya dhumateng Gusti Allah lan tugas timbalan kita minangka umat kagungannya. Mbudayakaken gesang ingkang bener punika kedah nyata ing pangucap, sikep lan tumindak gesang kita, saengga tiyang sanes boten kaapusan kaliyan penapilan, kasaenan lan karamahan kita. Awit sadaya punika kita tindakaken kanthi setunggal tujuan inggih punika mulyakaken Gusti Allah. Sugeng mbudayakaken gesang ingkang bener. Gusti tansah mberkahi kita. Amin. [AR].
Pamuji: KPJ. 416 : 1, 2 Saprakara Kang Pantes