Tidak Tahu Diri! Pancaran Air Hidup 8 Oktober 2023

8 October 2023

Bacaan: Matius 21 : 33 – 46 | Pujian: KJ. 246 : 1, 2
Nats: “Sebab itu, aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Ayat 43)

Sering kita mendengar sebuah kalimat: “Diwenehi ati, ngrogoh rempela.” Ungkapan bahasa Jawa ini sering diutarakan kepada seseorang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu yang baik masih meminta lebih. Ada rasa kurang puas, hingga  ia meminta lebih. Peribahasa Jawa ini  cocok dengan situasi perumpamaan penggarap kebun anggur dalam bacaan kita. Perumpamaan yang menggambarkan penggarap kebun anggur yang tidak tahu diri. Mereka adalah penyewa dari seorang tuan tanah yang membuka kebun anggur dengan fasilitas yang memadai. Sehingga para penyewa dapat mengerjakan kebun tersebut dengan mudah dan menghasilkan buah yang baik (Ay. 33). Ketika musim panen tiba, pemilik kebun anggur meminta bagian hasil kebun tersebut dengan mengirimkan hamba-hambanya datang kepada para penyewa tersebut. Namun hamba-hamba tersebut disiksa, dilempari batu, dan dibunuh. Kemudian tuan itu mengirim lagi hambanya yang lain dengan jumlah yang lebih banyak. Akan tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti hamba-hamba sebelumnya. Tak berhenti disitu si tuan pun juga mengirimkan anaknya, dan diperlakukan sama, terbunuh juga (Ay. 34-39). Sungguh mereka adalah orang yang tidak tahu diri!

Perumpamaan ini menjadi sebuah kisah yang menunjuk kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi saat itu. Seharusnya mereka adalah sosok yang memiliki peran untuk membawa umat Allah mengenal Yesus yang diutus Allah. Namun kenyataannya mereka justru yang menyalibkan Yesus. Selain itu, maksud dari perumpamaan ini hendak menunjukkan bahwa Allah akan mengalihkan anugerah-Nya kepada mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus,  menyambut Injil Kristus, dan hidup seturut Kristus. Injil keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Yesus membawa dua dampak: bagi mereka yang menolak akan binasa, sedangkan bagi mereka yang menerima akan mendapatkan keselamatan.

Perumpamaan ini juga menjadi sebuah peringatan bagi kita. Kita diajak untuk mau menerima kebenaran, melakukan hal yang benar, dan hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Marilah kita menerima anak Allah yang dikirimkan Allah ke tengah dunia untuk meluruskan hidup kita. Mari kita menyadari betapa berdosanya kita dan betapa besarnya anugerah Allah yang memampukan kita hidup. Amin. [SWS].

“Jangan kau tolak Dia, sadarlah diri!”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak