Jangan Mendua Pancaran Air Hidup 6 Oktober 2023

6 October 2023

Bacaan: Yeremia 2 : 23 – 37 | Pujian: KJ. 24b : 1
Nats: “Dapatkan seorang dara melupakan perhiasannya, atau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya? Tetapi umat-Ku melupakan Aku, sejak waktu yang tidak terbilang lamanya.” (Ayat 32)

“Air susu dibalas dengan air tuba” adalah sebuah peribahasa yang memiliki arti perbuatan baik  dibalas dengan perbuatan jahat. Peribahasa ini menggambarkan keadaan bangsa Israel yang telah mendua dari Tuhan. Setelah Tuhan mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel melalui nabi Musa, bangsa Israel berjanji akan mengikut Tuhan dengan setia, namun di tengah perjalanan iman mereka setelah mereka merasakan kehidupan yang nyaman dan penuh berkat, mereka mendua dari Tuhan dan menyembah ilah-ilah lain.

Dalam kitab Yeremia digambarkan kondisi bangsa Israel yang sedang mendua dari Tuhan. Mulai dari para imam yang mengabaikan sejumlah ketentuan yang berkaitan dengan perjanjian. Para nabi-nabi palsu yang menyatakan diri bahwa mereka telah menerima pesan dari Baal. Sementara itu umat beribadah kepada ilah-ilah lain dengan menggunakan media sepotong kayu dan batu sakral (Ay. 27) yang melambangkan dewa kesuburan. Mereka beribadah kepada berhala yang ditemukan di setiap kota. Selain itu, bangsa Israel juga meminta pertolongan kepada bangsa asing di saat mereka sedang tertindas. Dari apa yang telah dilakukan ini, Allah murka kepada bangsa Israel. Untuk itu, Allah mengutus nabi Yeremia memberi peringatan kepada bangsa Israel agar mereka bertobat dan berbalik kepada Tuhan serta meninggalkan cara hidup mereka yang sia-sia. Bila tidak maka Tuhan akan menjatuhkan hukuman kepada mereka.

Apa yang dilakukan bangsa Israel bisa menjadi sebuah cerminan dan refleksi bagi diri kita. Apakah kita masih tetap setia beribadah kepada Tuhan atau jangan-jangan kita juga meniru bangsa Israel? Sebab dalam kehidupan ini, ada orang yang mengganggap menyimpan jimat atau benda pusaka, datang kepada orang pintar(dukun, paranormal) sebagai suatu hal yang biasa. Padahal hal-hal demikian sama saja kita menyembah kepada berhala. Untuk itu, waspada dan bijaksanalah dalam segala laku hidup kita, karena belum tentu apa yang kita anggap wajar dan biasa itu berkenan dihadapan Tuhan. Marilah selagi masih ada kesempatan, kita mengintropeksi diri dan bertobat. Amin. [Ry].

“Bersandarlah pada Tuhan dan jangan bersandar pada ilah lain.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak