Minggu Pentakosta | Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Merah
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21
Bacaan 2: 1 Korintus 12 : 3b – 13
Bacaan 3: Yohanes 20 : 19 – 23
Tema Liturgis: GKJW Menjadi Saksi Dan Pelayan Kristus Di Tengah Perubahan
Tema Khotbah: Kesaksian Yang Melampaui Prasangka
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21
Narasi mengenai turunnya Roh Kudus di Kisah Para Rasul ini sangat penting bagi keseluruhan teologi Lukas.[1] Injil Lukas ditutup dengan janji tentang datangnya kuasa dari tempat tinggi (Luk. 24:47-49) dan digenapi dalam peristiwa Pentakosta ini. Kita juga bisa melihat bagaimana Lukas menempatkan kesimpulan akhir Injilnya (Luk. 24:53) untuk dilanjutkan di akhir peristiwa Pentakosta (Kis. 2: 46-47). Peristiwa turunnya Roh Kudus dalam timeline Lukas terjadi di hari Pentakosta. Hari Pentakosta (Yun. Pentekostos : kelimapuluh) adalah hari kelimapuluh setelah Passover (Paskah Yahudi), orang Yahudi di abad pertama merayakannya sebagai hari raya panen dimana mereka menyabit bulir gandum dan dipersembahkan untuk TUHAN (lih. Kel. 34:22). Oleh sebab itu, para peziarah Yahudi yang tinggal di luar Palestina, berdatangan ke Yerusalem untuk merayakan Pentakosta (lih. Ay. 5). Di waktu-waktu ini, Yerusalem semarak dengan berbagai perayaan, festival, dan pesta selama beberapa minggu.
Di tengah hiruk pikuk perayaan itulah, semua orang percaya berkumpul di suatu tempat (Ay. 1) dan terjadilah peristiwa ajaib. Tiba-tiba terdengar bunyi tiupan angin keras yang memenuhi rumah (Ay. 2), lidah-lidah api hinggap pada setiap orang (Ay. 3) dan mereka mulai “berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain” seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka (Ay. 4). Tanda-tanda seperti “angin” dan “api” ini kemungkinan besar merupakan simbol Theophany, dimana yang Ilahi memanifestasikan/menyatakan Diri pada manusia. Namun dalam narasi ini, Lukas memberikan perhatian lebih pada tanda “berkata-kata dalam Bahasa-bahasa lain” (Ay. 4), dimana secara tiba-tiba para murid dapat berbahasa asing yang dapat dipahami oleh orang-orang yang menggunakan Bahasa tersebut (Ay. 6). Jadi jelas, bahwa “Bahasa lain” (Yun. glossai) di sini adalah Bahasa yang dapat dipahami oleh penutur Bahasa tertentu, dan bukannya bunyi-bunyian ngawur tanpa makna. Melalui kemampuan berbahasa lain inilah, orang-orang yang berasal dari Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, dan banyak daerah lain mendengar kesaksian tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Ay. 11), membuat semua orang tercengang (Ay. 12), dan akhirnya ada “kira-kira tiga ribu jiwa” yang percaya pada Yesus Kristus di hari itu (Ay. 41).
Demikianlah bagi Lukas, turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta memberi daya bagi para murid untuk memberitakan Injil Kristus melampaui batasan budaya atau bahasa. Dalam tradisi biblis, batasan Bahasa terjadi sejak peristiwa Menara Babel (lih. Kej. 11) yang menyerak-nyerakkan manusia ke seluruh penjuru bumi. Namun turunnya Roh Kudus justru melampaui batasan Bahasa dan mempersatukan manusia dalam karya penyelamatan Allah dalam diri Kristus.
1 Korintus 12 : 3b – 13
Meski sama-sama mengakui bahwa “bahasa roh” adalah karunia Roh Kudus dalam bentuk fenomena linguistik (glossai), penekanan teologis Lukas dan Paulus mengenainya berbeda. Jika Lukas menekankan bahasa roh sebagai daya yang menggerakkan komunitas percaya untuk bersaksi pada dunia dengan melampaui batas-batas bahasa, bagi Paulus, bahasa roh adalah karunia yang bersifat pribadi dan hanya salah satu dari berbagai karunia Roh lainnya (Ay. 7-10). Setelah menghimbau Jemaat Korintus mengenai kesatuan tubuh Kristus di pasal 11, Paulus melanjutkan nasihatnya di bacaan kedua kita. Paulus berpendapat bahwa kesatuan tubuh Kristus harus diwujudkan dengan cara saling melayani dan saling menghargai meskipun karunia yang diberikan Roh kepada mereka berbeda-beda. Masalahnya, ada orang-orang tertentu di dalam Jemaat yang merasa karunia yang dimilikinya lebih penting daripada yang lain. Mereka menyombongkan dirinya dan kemudian menjadi salah satu sumber perpecahan di Jemaat. Oleh sebab itu, Paulus menegaskan bahwa karunia-karunia Roh itu harus digunakan untuk kepentingan bersama (Ay. 7). Lalu ia mendaftar rupa-rupa karunia di Jemaat Korintus, yaitu: berkata-kata dengan hikmat, berkata dengan pengetahuan (Ay. 8), iman, menyembuhkan (Ay. 9), melakukan mujizat, bernubuat, membedakan macam-macam roh, berkata-kata dalam bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh itu (Ay. 10).
Melalui surat Paulus kepada Jemaat di Korintus ini, kita juga bisa menyimpulkan bahwa bahasa roh adalah bahasa yang bisa ditafsirkan dan diartikan. Yang menarik dari daftar karunia roh ini adalah saat Paulus menempatkan karunia berbahasa roh dan menafsirkannya sebagai urutan terakhir. Nampaknya, Paulus tidak sedang merendahkan karunia yang berkaitan dengan bahasa roh, namun ia sengaja menyebutkannya di urutan terakhir, karena Korintus seringkali membesar-besarkan bahasa roh dan menganggapnya sebagai karunia utama (lih. psl. 14). Oleh sebab itu, sekali lagi Paulus memperingatkan bahwa karunia Roh harus digunakan untuk membangun jemaat, bukan untuk kemegahan diri sendiri (Ay. 12).
Yohanes 20 : 19 – 23
Bacaan Injil kita hari ini menceritakan peristiwa pasca kebangkitan, dimana Yesus menampakkan diri pada sepuluh orang murid-Nya (minus Yudas Iskariot dan Tomas). Meski mereka sudah mendengar kesaksian Maria Magdalena mengenai pertemuannya dengan Sang Guru yang telah bangkit (Ay. 18), para murid ternyata masih belum percaya. Mereka masih dikuasai ketakutan dan kekuatiran, karena itu mereka berkumpul di sebuah ruangan dan mengunci semua pintu dengan rapat (Ay. 19). Para murid takut Sanhedrin menangkap dan menghukum mereka. Di tengah kesunyian akibat ketakutan itu, tiba-tiba Yesus berdiri di tengah mereka dan menyampaikan salam: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Ay. 19). Tentu ini menunjukkan bahwa Yesus masuk ke ruangan itu tanpa melalui pintu, bagaimana detil cara Ia masuk ke ruangan itu memang tidak dijelaskan oleh Yohanes. Namun, Injil ini ingin menunjukkan bahwa Yesus yang sudah bangkit, tidak lagi bisa dibatasi dengan pintu yang terkunci. Lalu, apakah Yesus yang ada di ruangan itu semacam setan? Ah tidak, ayat selanjutnya menggambarkan bagaimana Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya. Yesus yang telah bangkit itu, sama dengan Yesus yang disalibkan. Jadi, Yesus itu benar-benar mati dan benar-benar bangkit. Demi melihat luka di tangan dan lambung-Nya, ketakutan para murid berubah menjadi sukacita luar biasa (Ay. 20).
Narasi kemudian berlanjut, sekali lagi Yesus mengulangi salam yang diikuti dengan pengutusan: “…sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Ay. 21). Pengutusan ini menyiratkan adanya relasi paralel antara Bapa dengan Yesus dan Yesus dengan para murid-Nya (gereja). Sebagaimana Yesus menerima pengutusan dari Bapa-Nya dengan penuh kasih dan ketaatan, demikian pula para murid (gereja) harus menerima pengutusan ini dalam kasih dan ketaatan. Namun Yesus tidak hanya mengutus, Ia juga memperlengkapi para murid dengan hembusan Roh Kudus (Ay. 22). Peristiwa ini sebenarnya adalah penggenapan dari janji yang pernah disampaikan Yesus di pasal 14, dimana Ia menjanjikan datangnya Penghibur (Ay. 26) dan damai sejahtera (Ay. 27).
Jadi makin jelas, bahwa dalam teologi Yohanin, turunnya Roh Kudus bagi para murid saat itu berkaitan erat dengan penugasan dan pengutusan mereka ke dunia untuk mengabarkan Injil Kristus. Keberadaan Roh Kudus ini menunjukkan keberlanjutan karya penyelamatan Allah yang sudah dimulai dalam hidup Yesus dan kemudian harus dilanjutkan oleh para murid-Nya saat itu dan juga kita sekarang ini. Roh Ilahi itu aktif dan kreatif dalam karya-Nya, dan melalui Roh-Nya, Allah memelihara dunia dan umat pilihan-Nya.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Roh Kudus adalah karunia yang diberikan pada para rasul, gereja mula-mula, dan juga kita sekarang sebagai umat percaya. Karunia Roh dapat berwujud dalam berbagai rupa. Cara mengujinya sederhana: jika karunia itu untuk membangun jemaat dan bukan kepentingan diri, itulah karunia sejati. Turunnya Roh Kudus adalah tanda keberlanjutan karya penyelamatan Allah yang sudah dimulai dalam pelayanan Yesus, dan yang kini harus kita lanjutkan dalam kasih dan ketaatan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan kotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
“The Sea Beast” adalah film animasi yang diproduksi oleh Netflix di pertengahan tahun 2022 lalu. Film ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Maissie yang hidup di dunia imajinatif, dimana manusia sangat membenci para monster laut dan menghabiskan waktu berabad-abad untuk membunuh mereka. Maissie menjadi yatim piatu, karena orang tuanya yang bekerja sebagai pemburu monster terbunuh saat perang. Oleh sebab itu, ia terobsesi dengan buku-buku tentang keberanian para pemburu monster. Sampai pada suatu hari, datanglah kapal pemburu legendaris ke kotanya. Ia berusaha bergabung dengan tim pemburu, namun tentu saja ditolak karena masih anak-anak. Akhirnya Maissie diam-diam naik ke kapal dan bersembunyi, sehingga ia terbawa sampai ke tengah lautan. Sejak itulah, petualangan besarnya dimulai. Namun dalam perjalanannya, Maissie menemukan fakta, ternyata para monster tidak pernah menyerang manusia. Mereka hanya membela diri, karena terus diburu dan dibunuh. Ternyata, perang berabad-abad itu hanya berdasarkan prasangka. Sejak itulah Maissie berjuang untuk menyadarkan manusia untuk mengakhiri perang dengan mengubah prasangka. Demikianlah, prasangka yang terus dipelihara bisa membuat manusia berperilaku lebih buruk daripada monster laut.
Isi
Narasi kitab suci kita juga memuat berbagai cerita mengenai prasangka. Prasangka antara para ulama dan pendosa, orang Samaria dan Yahudi, dan juga antara orang Kristen Yahudi dan orang Kristen Yunani. Prasangka ini muncul dan dipelihara, sehingga merusak relasi antar sesama manusia. Prasangka terhadap orang lain yang berbeda hanya akan memperuncing dikotomi antara “kita” dan “mereka”. Prasangka, serupa tembok pembatas yang memisahkan dan menjauhkan. Namun karya pelayanan dan penyelamatan yang dilakukan Kristus tidak berdasarkan prasangka. Ia justru memberikan pengetahuan tentang air hidup pada seorang perempuan Samaria. Yesus duduk makan bersama pemungut cukai yang dicap sebagai pendosa dan karena kasih-Nya, bahkan orang-orang Yunani-pun mendapatkan keselamatan. Kasih dan pengorbanan Kristus telah melampaui batas-batas prasangka. Inilah karya yang dilanjutkan dalam turunnya Roh Kudus yang kita hayati kembali hari ini. Oleh sebab itu, kita akan belajar dari tiga teks dalam Perjanjian Baru yang menarasikan mengenai Roh Kudus.
Dalam Kisah Para Rasul, hari Raya Panen Yahudi atau Pentakosta adalah hari dimana para murid dipenuhi dengan Roh. Secara tiba-tiba, mereka diberi daya melampaui batas budaya, bahasa, dan terutama prasangka. Roh Kudus memampukan para murid untuk dapat berbahasa yang dapat dipahami oleh orang-orang yang berbahasa asing (Kis. 2:6). Memang ada dua kemungkinan dalam peristiwa ini: pertama, Roh Kudus membuat para murid yang adalah orang Galilea yang biasanya berbicara Bahasa Aram ini, tiba-tiba bisa berbahasa asing yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya. Kemungkinan kedua, para murid sebenarnya tetap bicara dengan Bahasa Aram, namun Roh Kudus membuat orang-orang asing yang berbahasa Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia,dll itu memahami perkataan para murid dalam bahasa mereka masing-masing. Memang Kisah Para Rasul tidak menjelaskan secara detil soal ini, namun yang jelas kesaksian para murid tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kis. 2:11), membuat semua orang tercengang (Ay. 12) dan akhirnya ada “kira-kira tiga ribu jiwa” yang percaya pada Yesus Kristus di hari itu (Ay. 41). Sebab itulah, Pentakosta juga disebut sebagai hari kelahiran gereja. Roh Kudus adalah roh yang menyatukan dan menjembatani perbedaan.
Meskipun gereja memang lahir dari prakarsa Roh Kudus, tidak berarti gereja otomatis steril dari masalah. Gereja di Korintus sedang mengalami perpecahan, justru karena ada oknum-oknum yang merasa punya “jatah” Roh Kudus lebih dari pada yang lain. Kemungkinan besar, mereka yang dianugerahi bahasa roh dan menafsirkannya merasa lebih suci dari yang lain, sehingga memegahkan dirinya sendiri dan menganggap saudaranya tidak setara. Karena itulah, Paulus mengingatkan Korintus dengan mendaftar berupa-rupa karunia Roh Kudus dan bahwa karunia yang berkaitan dengan bahasa roh hanyalah satu dari banyak karunia lainnya. Paulus menekankan bahwa karunia Roh tak ada gunanya jika tidak digunakan untuk membangun jemaat. Di 1 Kor. 13:1 bahkan Paulus menyatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih , aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
Jelas bahwa Roh Kudus sudah dikaruniakan pada tiap kita yang percaya, namun ingat Roh Kudus bukan untuk kita kuasai dan monopoli sendiri. Dalam Injil Yohanes, kita diingatkan bahwa hembusan Roh Kudus yang diberikan Tuhan Yesus yang sudah bangkit itu adalah dalam kerangka pengutusan. Dia berfirman, “… sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh. 20:21). Pengutusan ini menyiratkan adanya relasi paralel antara Bapa dengan Yesus dan Yesus dengan para murid-Nya (gereja). Sebagaimana Yesus sudah menerima pengutusan dari Bapa-Nya dengan penuh kasih dan ketaatan, demikian pula para murid (gereja) harus menerima pengutusan ini dalam kasih dan ketaatan. Turunnya Roh Kudus ini menunjukkan keberlanjutan karya penyelamatan Allah yang sudah dimulai dalam hidup Yesus dan kemudian harus dilanjutkan oleh para murid-Nya saat itu dan juga kita sekarang ini. Roh Ilahi itu aktif dan kreatif, dan melalui Sang Roh, Allah memelihara dunia dan umat pilihan-Nya. Demikianlah tiga teks Perjanjian Baru yang kita baca hari ini melengkapi dan memperkaya cara pandang kita mengenai Roh Kudus.
Penutup
Rancangan Khotbah ini disiapkan di tengah-tengah kontroversi soal Buku Pegangan PPKN untuk SMP kelas VII yang menggambarkan iman Kristen secara keliru. Dituliskan di sana bahwa Trinitas terdiri dari Allah, Bunda Maria, dan Yesus Kristus. Tentulah tidak ada aliran Kristen apapun di dunia ini yang mengimani demikian, karenanya banyak reaksi yang bermunculan. Kita tidak tahu apa intensi penulis buku menuliskannya dengan cara begitu, tentu ada yang berspekulasi bahwa tujuannya memang ingin mendiskreditkan iman Kristen, dan lain sebagainya. Namun di hari Pentakosta ini, mari belajar kembali untuk melampaui prasangka. Memang tidak mudah, namun mari bersama mencoba.
Saudara-saudara yang terkasih, sadarkah kita, sebagai orang-orang percaya sebenarnya kita ini sudah dikaruniai Roh Kudus. Jadi Roh Kudus sudah ada dalam diri kita secara default (bawaan). Masalahnya, Roh Kudus yang sudah ada dalam diri ini, kita set dalam mode off, karena seringkali kita lebih senang menggunakan kekuatan diri sendiri, kita merasa cukup dengan kebenaran dan pengetahuan kita. Akhirnya kita lelah dan menyerah. Oleh sebab itu, mari kita mode on-kan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan kita sehari-hari. Agar apapun yang kita kerjakan, kita bisa membawa kesaksian yang melampaui prasangka. Selamat menjadi saksi Kristus! Amin. [Rhe].
Pujian: Roh Kudus, Tetap Teguh (KJ. 237: 1 – 3)
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
“The Sea Beast” punika salah setunggaling film animasi ingkang dipun damel kaliyan Netflix ing tengah taun 2022 kepengker. Film punika nyariosaken lare estri ingkang naminipun Maissie. Maissie punika gesang ing alam donya imajinatif, ing pundi manungsa boten remen sanget kaliyan para monster laut. Awit saking bencinipun, para manungsa sami mburu lan numpes kawontenan monster laut punika ngantos pinten-pinten abad. Maissie piyambak dados lare lola karana tiyang sepuhipun sami seda nalika perang. Tiyang sepuhipun Maissie punika ugi dados pemburu monster laut nalika gesangipun.
Ing sawijining dinten, dumugi kapal pemburu legendaris ing kuthanipun Maissie. Maissie ngupaya supados piyambakipun saged gabung kaliyan kelompok pemburu punika, nanging dipun tolak karana piyambakipun taksih anak-anak. Lajeng Maissie mlebet ing kapal punika ngangge cara singitan. Maissie kabetha kapal punika ngantos ing satengah-tengahing seganten. Wiwit wekdal punika, Maissie miwiti petualanganipun. Ing salebeting petualanganipun punika, Maissie manggihi kasunyatan bilih monster laut punika boten nate nyerang dhateng manungsa. Para monster laut punika namung bela diri awit terus dipun buru lan dipun pejahi. Sejatosipun perang ingkang lami punika namung alandesan prasangka. Wiwit wekdal punika, Maissie ngupaya kangge nyadaraken manungsa, supados mungkasi perang lan ewahi prasangkanipun. Mekaten prasangka ingkang terus dipun rimati saged dadosaken manungsa tumindak langkung awon tinimbang monster laut punika.
Isi
Narasi kitab suci kita ugi nyariosaken carita bab prasangka. Prasangka para ulama lan tiyang dosa, tiyang Samaria lan tiyang Yahudi, lan ugi antawisipun tiyang Kristen Yahudi kaliyan tiyang Kristen Yunani. Prasangka punika dipun rimati terus, saengga ngrusak hubungan ing antawispun manungsa. Prasangka dhateng tiyang sanes ingkang benten pemanggih saged dados “pemisah” antawis “kita” kaliyan “tiyang sanes”. Prasangka punika kados tembok wates ingkang misahaken lan nebihaken kita lan tiyang sanes. Bab punika benten kaliyan pakaryan lan kawilujengan saking Gusti Yesus, punika sanes prasangka. Gusti Yesus ngaturi pangertosan bab toya panguripan dhateng tiyang estri Samaria, dhahar sareng kaliyan Juru mupu bea ingkang dipun pandeng tiyang dosa. Awit saking sih katresnanipun, Gusti Yesus maringi kawilujengan kalebet tiyang Yunani. Sih Katresnan lan Pangorbananipun Gusti Yesus nglangkungi wates prasangka. Ing selajengipun pakaryanipun Gusti Yesus punika kalajengaken dening Sang Roh Suci, ing pundi dinten tedhakipun Sang Roh Suci saged kita pengeti ing dinten punika, dinten Pentakosta. Karana punika, kita saged sinau saking tiga teks ing Prajanjian Enggal ingkang nyariosaken Sang Roh Suci punika.
Ing Para Rasul, dinten Riyadin Panen Yahudi utawi Pentakosta punika, dinten ing pundi para sakabatipun Gusti nampi Roh Suci. Para sakabat punika kaparingan daya ingkang nglangkungi wates budaya, basa, lan prasangka. Roh Suci paring kasagedan dhateng para sakabat wicanten ngangge mawerni-werni basa asing ingkang dipun mangertosi kaliyan tiyang-tiyang saking manca negari. Wonten kalih kemungkinan ingkang kedadosan ing prastawa punika. Sepisan, Roh Suci dadosaken para sakabat saged wicantenan ngangge basa asing, sanajan sejatosipun para sakabat punika wicanten ngangge basa Aram. Kaping kalihipun, para sakabat nyatanipun tetep wicanten ngangge basa Aram, nanging Sang Roh Suci dadosaken tiyang ingkang saking Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, punika saged mangertos pitembunganipun para sakabat ing basanipun piyambak-piyambak. Pancen Juru Tulis Kitab Para Rasul punika boten jelasaken sacara detail prekawis punika. Nanging ingkang jelas kesaksianipun para sakabat bab pakaryanipun Gusti Allah ingkang agung, sami dadosaken tiyang sanes sami gumun. Pungkasanipun wonten kirang langkung 3.000 tiyang pitados dhateng Gusti Yesus lan dipun baptis. Karana punika, Pentakosta saged dipun wastani dinten wiyosipun greja. Roh Suci inggih punika Roh ingkang nunggilaken lan jembatani sedaya prekawis.
Sanajan wiyosipun Greja saking Sang Roh Suci, nanging boten ateges greja punika tebih saking masalah. Contonipun greja ing Korintus ingkang pecah karana wonten tiyang ingkang rumaos pinaringan “Roh Suci” punika langkung penting tinimbang sanesipun. Tiyang ingkang dipun paring basa Roh lan saged nafsiraken rumaos langkung suci tinimbang tiyang sanesipun. Piyambakipun lajeng gumunggung lan nganggep sederek sanesipun boten satara. Awit saking punika, Rasul Paulus ngengetaken pasamuwan Korinta bilih warni-warni peparing Roh Suci khususipun basa Roh punika, namung satunggal peparing saking peparing sanesipun. Paulus ngengetaken bilih peparing Roh Suci punika boten wonten ginanipun bilih boten dipun damel mbangun pasamuwan. Ing 1 Korinta 13:1, Paulus ngendikan, ”Sanadyan aku bisa ngucapake sarupaning basane manungsa lan malaekat, nanging yen sepi ing katresnan, aku padha bae kaya gong kang ngumandhang utawa bendhe kang ngangkang.”
Sang Roh Suci sampun kaparingaken dhateng kita para pitados, nanging kita kedah enget bilih Sang Roh Suci punika boten saged kita kuwasani piyambak. Lumantar Injil Yokanan punika, kita dipun engetaken bilih Gusti Yesus maringi para sakabatipun Roh Suci kangge jangkepi tugas pangutusanipun. Gusti Yesus ngendikan,”… Kaya anggonKu kautus dening Sang Rama, kowe saiki iya padha Dakkongkon.” (Yok. 20:21). Tugas pangutusan punika nedahaken hubungan pararel antawisipun Gusti Allah Sang Rama kaliyan Gusti Yesus, lan Gusti Yesus kaliyan para sakabatipun (greja). Greja kedah nampi tugas pangutusan punika kanthi katresnan lan kasetyan. Tedhakipun Sang Roh Suci punika nedahaken bilih pakaryan kawilujenganipun Gusti Yesus kedah kalajengaken kaliyan para sakabat lan greja ugi kita ing wekdal punika. Sang Roh Suci punika aktif lan kreatif, lumantar Sang Roh Sucinipun, Gusti Allah ngrimati jagad lan umat-Ipun. Mekaten kalawau tiga teks Prajanjian Enggal, jangkepi cara pandeng kita bab Sang Roh Suci.
Panutup
Rancangan Khotbah punika kacawisaken ing satengah-tengahing pawartos kontroversial bab Buku Pegangan Siswa pelajaran PPKN kangge Siswa SMP kelas VII, ingkang gambaraken iman Kristen sacara keliru. Kaserat ing buku punika bilih Trinitas punika Gusti Allah, Bunda Maria, lan Gusti Yesus Kristus. Tamtunipun boten wonten aliran Kristen ing donya punika ingkang ngimani piwucal ingkang mekaten punika. Karana punika kathah reaksi ingkang medal. Kita boten sumerep punapa tujuan juru tulis buku punika nulis mekaten punika, mila wonten spekulasi bilih tujuan nulis bab punika pancen kangge dawahaken iman Kristen. Ing dinten Pentakosta punika, sumangga kita sami sinau malih nglangkungi prasangka, sanajan boten gampil, nanging sumangga kita cobi sesarengan.
Para sederek ingkang kinasih, punapa panjenengan sadar minangka tiyang pitados, kita punika kaparingan Roh Suci? Sang Roh Suci punika sampun wonten salebeting dhiri kita. Masalahipun, Roh Suci ingkang wonten ing salebeting diri kita punika boten kita ijinaken makarya ing salebeting gesang kita. Kita asring langkung ngandelaken kakiyatan kita piyambak, kita rumaos cekap kaliyan kabeneran lan pangertosan kita piyambak. Pungkasanipun kita rumaos sayah lan nyerah. Awit saking punika, mangga kita nyumanggaaken Sang Roh Suci makarya ing salebeting gesang kita padintenan, supados punapa kemawon ingkang kita tindakaken saged dados kesaksian gesang ingkang nglangkungi prasangka. Sugeng dados saksinipun Sang Kristus!Amin. [Terj. AR].
Pamuji: Roh Suci Roh Sejati (KPJ. 287 : 1, 2)
Keterangan:
[1] Kisah Para Rasul adalah Volume Kedua (kelanjutan) dari Injil Lukas, yang ditulis oleh penulis yang sama dan juga ditujukan pada alamat yang sama: Teofilus. Oleh sebab itu, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul memiliki benang merah teologis yang sama. Pada dasarnya, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul memang dirancang agar dibaca dalam sebuah kesatuan. Di awal kemunculannya, 2 Volume ini diterima dan dibaca sebagai sebuah kesatuan yang mandiri. Namun, sejalan dengan proses Kanonisasi yang berlangsung di gereja mula-mula saat itu, Injil Lukas mulai dipisahkan dari Kisah Para Rasul, dan kemudian digabung dengan tiga Injil lainnya.