Kasih Yesus Tak Berkesudahan, Lagi dan Lagi Khotbah Minggu 14 Mei 2023

1 May 2023

Minggu Paskah 6 | Hari Raya Persembahan
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 7 : 22 – 31
Bacaan 2:
1 Petrus 3 : 13 – 22
Bacaan 3:
Yohanes 14 : 15 – 21

Tema Liturgis: Undhuh-undhuh Sebagai Ungkapan Syukur Atas Keterlibatan Allah Dalam Keseharian
Tema Khotbah:
Kasih Yesus Tak Berkesudahan, Lagi dan Lagi

 Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 17 : 22 – 31
Bagian perikop ini adalah sebuah pengajaran dari rasul Paulus yang menggunakan metode agak berbeda ketika ia mengajar kepada orang Yahudi. Di Atena, Paulus bekerja dalam dua sisi: di Sinagoge menghadapi orang Yahudi dan orang kafir yang takut akan Allah dan di pasar berhadapan dengan orang-orang kafir yang kebetulan lewat. Pendekatan Paulus di pasar ini mirip dengan para ahli filsafat populer, yang berbicara kepada siapa pun yang mereka jumpai. Lukas cenderung menyejajarkan orang-orang Epikuros dengan Saduki, Stoa dengan orang Farisi. Orang Epikuros mendesak orang-orang untuk tidak percaya kepada mitos-mitos Yunani mengenai dewa-dewa yang membalas dendam dan siksaan-siksaan sesudah kematian. Sebaliknya, orang Stoa percaya atas penyelenggaraan para dewa dan hukum alam yang harus ditaati manusia.

Khotbah Paulus di Areopagus, tempat pertemuan di Atena, berbeda dengan khotbah-khotbah kepada orang Yahudi yang bertolak dari Alkitab; kepada ahli filsafat Yunani, lebih bersifat filosofis. Memang berdasar Alkitab, tetapi mengambil bagian yang lebih kedengaran filosofis. Ia memulai dengan sangat bersahaja, dengan menyuguhkan kenyataan yang mereka jalani, apa yang mereka sembah. Ia masuk melalui celah keyakinan mereka, yaitu konsep Allah yang tidak dikenal. Dari situlah kemudian ia memperkenalkan kepada mereka sebuah ajaran baru (bagi mereka) tentang Allah yang tidak dikenal itu, Allah Sang Pencipta yang menjadikan semuanya. Bumi dengan segala isinya, alam dengan semua ciptaan, langit dan semua benda-benda yang ada ada di bawah kekuasaan Allah itu.

Paulus meneguhkan ajarannya tentang satu Allah yang hidup dan benar, dengan menunjuk pada karya-karya ciptaan dan pemeliharaan-Nya. Allah yang satu itu adalah Allah yang pemurah terhadap semua ciptaan-Nya, Allah Pemerintah yang berdaulat atas segala perkara anak manusia, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Ia adalah Allah yang tidak jauh dari kita, dan di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada. Dialah Allah Bapa kita, yang menjadikan kita, yang membesarkan dan mengasuh kita seperti anak-anak. Jadi Allah yang berkuasa itu tidak bisa diwujudkan dalam patung-patung.

1 Petrus 3 : 13 – 22
Pada bagian perikop ini, penulis menegaskan kepada jemaat supaya tetap bertekun di dalam iman percaya kepada Kristus. Kesulitan-kesulitan yang dijumpai orang Kristen yang bertobat dibicarakan lagi secara pastoral. Dengan menghayati hidup yang layak dicontoh, hidup yang saleh, orang-orang Kristen tidak akan dianiaya karena mengerjakan kebenaran. Tetapi, karena keutamaan menuntut banyak pengorbanan, nasihatnya dipertajam mengenai bagaimana menafsirkan penderitaan dan bagaimana melihatnya dalam terang pertobatan yang dilakukan seseorang melalui baptis.

Jelas bahwa orang-orang Kristen akan menjadi pusat kontroversi publik, tetapi hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk takut (Ay. 14). Jika orang-orang Kristen dipersalahkan, hendaknya mereka siap untuk menjadi saksi kebenaran dan mewartakan iman mereka. Tetapi, kesaksian yang terbaik adalah kehidupan yang saleh, yang menolak fitnah dan cercaan dengan kebaikan yang nyata. Penderitaan orang yang bertobat adalah nyata, tetapi penulis berulang kali meminta orang-orang Kristen untuk bertahan dalam penderitaan, karena perbuatan baik mereka, seperti Yesus, dan bukan bertahan dalam penderitaan sebagai akibat dari dosa mereka.

Yang perlu menjadi perhatian adalah adanya ungkapan penguatan “sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita.” Frasa ini digunakan dalam Septuaginta untuk “suatu korban penghapus dosa.” Frasa ini berbicara tentang kematian perwakilan, penggantian dari Yesus. Ini menekankan kehidupan-Nya yang tanpa dosa, yang dikorbankan atas nama orang-orang yang penuh dosa. Kematian Yesus mengembalikan hubungan Allah yang telah hilang dalam kejatuhan. Gambar Allah dalam manusia dipulihkan melalui Kristus. Orang-orang percaya memiliki kemungkinan keintiman dengan Tuhan sebagaimana dialami oleh Adam dan Hawa di Eden sebelum kejatuhan.

Yohanes 14 : 15 – 21
Pada perikop ini Yesus bukan saja mengemukakan penghiburan bagi para murid-Nya, tetapi Ia juga berjanji untuk mengirimkan Roh yang bertugas sebagai Penolong bagi mereka. Ketika Yesus sedang menghibur mereka, Ia menyuruh mereka menuruti segala perintah-Nya. Yesus telah dinantikan sebagai penghiburan bagi umat Israel. Salah satu nama Mesias yang dikenal di antara orang-orang Yahudi adalah Menahem – Sang Penghibur. Kitab Targum menyebut masa Sang Mesias itu sebagai tahun-tahun penghiburan. Yesus menghibur murid-murid-Nya ketika Ia masih berada bersama mereka, dan sekarang, ketika Ia hendak meninggalkan mereka, Ia menjanjikan penghibur lain.

Murid-murid pada saat itu diingatkan tentang kesatuan Yesus dengan Bapa. Kasih Bapa kepada Anak juga akan dinyatakan kepada mereka, sehingga ketika secara lahiriah Yesus meninggalkan mereka, namun tidak dengan kasih-Nya, Ia menyatakan itu kepada mereka. Mereka yang mengasihi Yesus dan melakukan perintah-Nya, sama dengan melakukan perintah Bapa-Nya. Kewajiban orang-orang yang mengaku sebagai murid Kristus, setelah menerima perintah-perintah-Nya adalah melakukannya. Sebagai orang yang dipanggil dan mengaku Kristen, kita telah menerima perintah-perintah Kristus, yang kita dengar dan baca. Kita memiliki pengetahuan tentang perintah-perintah itu. Namun, ini belumlah cukup. Jika kita memang ingin membuktikan diri sebagai orang Kristen, kita harus menuruti perintah-perintah-Nya. Setelah menyimpannya dalam kepala, kita harus menyimpannya juga di dalam hati dan hidup kita.

Panggilan untuk murid-murid Yesus masa kini adalah mengasihi dan menuruti perintah-perintah-Nya. Janji Yesus adalah Ia akan menyatakan diri-Nya kepada semua orang percaya. Artinya perwujudan Kristus dan kasih-Nya secara rohani terjadi pada semua orang percaya.  Ia membuka pikiran semua orang percaya, supaya mereka bisa mengenal kasih-Nya, menghidupkan anugerah, dan menarik orang percaya untuk menggunakannya, sehingga dengan demikian Ia menambah penghiburan bagi orang percaya. Ia sungguh memperhatikan kita, dan karena itu Ia memberi kita tanda-tanda kasih-Nya, pengalaman akan kelembutan hati-Nya, dan jaminan akan kerajaan dan kemuliaan-Nya. Saat ini Ia menyatakan diri-Nya kepada kita. Kristus hanya menyatakan diri kepada orang-orang yang berkenan kepada-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Sebagai umat kepunyaan Tuhan, orang Kristen terus menghadapi pergumulan dan tantangan, penderitaan yang seringkali datang. Namun jemaat mula-mula dalam surat Petrus diajak untuk bertekun dalam penderitaan karena kebenaran. Orang percaya pasti akan menerima anugerah keselamatan sejati yang telah dinyatakan melalui pengorbanan Yesus satu kali untuk semua orang. Sama seperti yang diajarkan oleh rasul Paulus kepada orang-orang di Atena, Tuhan Allah Sang Pencipta yang satu dan Maha kuasa itu, sudah dan selalu memberkati dalam keseharian. Ia memberkati melalui alam, Ia dekat dan mengasihi kita. Oleh sebab itu, pertolongan-Nya pasti dinyatakan, hanya bagaimana kita menanggapi kasih-Nya dengan sikap yang layak. Melengkapi pemaknaan akan kasih Tuhan, Yohanes menuliskan, bahwa dalam segala penderitaan yang ada, Roh Penghibur yang akan memampukan orang percaya untuk bertahan. Maka, marilah kita terus bertekun di dalam Tuhan. Salah satu bentuk bertekun adalah tetap mengerjakan perintah Tuhan, melakukan sabda-Nya. Percaya bahwa Tuhan akan menyatakan kuasa dan kasih-Nya kepada kita dengan berbagai cara, lagi dan lagi.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Banyak di antara kita yang mungkin tidak asing dengan lagu rohani populer berjudul Mujizat itu Nyata ciptaan Jonathan Prawira yang dipopulerkan oleh berbagai penyanyi rohani seperti Maria Sandi, Nikita, Delon dan sebagainya. Lirik pada bagian baitnya demikian:

Tak terbatas kuasa-Mu Tuhan
Semua dapat Kau lakukan
Apa yang kelihatan mustahil bagiku
Itu sangat mungkin bagi-Mu

Lagu ini adalah sebuah penguatan iman, di saat menghadapi berbagai tantangan hidup, pergumulan yang berat, bahkan penderitaan, pertolongan Tuhan pasti ada. Mujizat Tuhan dinyatakan dengan cara-Nya yang terkadang bagi kita terasa mustahil, namun kalau Tuhan sudah berkehendak, yang mustahil itu menjadi nyata.

Itulah mengapa lagu Mujizat itu Nyata sangat populer sampai sekarang, baik di kalangan muda maupun dewasa, di kalangan orang Kristen maupun non Kristen. Lagu ini bisa dikatakan sesuai dengan pengalaman sehari-hari banyak orang yang merasakan mujizat Tuhan dalam hidup mereka. Orang-orang yang merasakan bahwa kuasa dan kasih Tuhan begitu tak terbatas, selalu dinyatakan dengan cara Tuhan yang luar biasa. Bagaimana tidak, dalam situasi di mana segala sesuatu serba mahal, pekerjaan sulit, namun kebutuhan masih bisa terpenuhi. Bagi para petani misalnya, kalau dipikir, bertani sekarang susah, pupuk dan obat semakin mahal, cuaca tidak menentu, hama masih saja ada, namun masih diberi panen oleh Tuhan. Dan tentunya masih banyak kenyataan-kenyataan lainnya tentang pertolongan Tuhan.

Ini menunjukkan bahwa memang kasih Tuhan kepada umat-Nya adalah kasih yang sejati, tak berkesudahan dan selalu indah pada waktunya. Yang dibutuhkan adalah bertahan dan bertekun dengan segala yang sedang dialami, sama seperti umat Tuhan mula-mula yang harus bertahan dengan penderitaan yang mereka hadapi.

Isi
Jemaat mula-mula dalam surat Petrus, mereka para pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitania adalah orang-orang percaya baru yang memberi diri dibaptis. Akan tetapi keberadaan mereka sebagai orang percaya ternyata tidaklah mudah. Ada berbagai penderitaan yang mereka alami dalam melakukan kebenaran. Mereka juga mengalami penolakan dari berbagai kalangan. Pada saat seperti inilah mereka diingatkan untuk bertekun, tetap mengerjakan kebenaran. Hidup mereka sudah diselamatkan oleh Tuhan melalui pengorbanan Yesus satu kali untuk selama-lamanya, maka Tuhan pasti akan menyatakan janji keselamatan itu kepada mereka dengan segera. Asalkan mereka terus bertekun, pasti Tuhan akan segera menyatakan kasih dengan cara-Nya.

Kita semua tahu bahwa kasih Tuhan kepada umat-Nya adalah kasih yang tak berkesudahan, kasih yang bahkan tidak bisa dibendung oleh kekuatan manusia. Kasih yang dalam khotbah rasul Paulus kepada orang-orang di Atena digambarkan seperti kasih Bapa kepada anak-anaknya. Ia tidak jauh, Ia mengayomi, menjaga anak-anak-Nya setiap hari, bahkan mengijinkan diri-Nya untuk dikenal. Bagi mereka yang tidak atau belum mengenal-Nya, Tuhan memberi diri untuk dikenal. Pengenalan akan Tuhan tentu saja dapat terjadi melalui kasih-Nya yang besar. Kasih-Nya atas dunia dengan segala isi yang telah diciptakan-Nya. Kasih-Nya yang memelihara dan menjaga alam semesta untuk terus ada dengan baik, termasuk manusia. Karena kasih-Nya itulah, melalui rasul Paulus, banyak orang di Atena pun menjadi percaya dan beriman kepada-Nya.

Itulah cinta kasih Tuhan yang tak terbatas, tak berkesudahan bagi kita semua. Cinta kasih ini sudah dijanjikan Tuhan Yesus sebelumnya melalui janji kepada para murid-Nya saat itu. Injil Yohanes menegaskan, karena kasih-Nya kepada para murid, Tuhan Yesus selalu menguatkan mereka supaya mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Ketika Ia mengungkapkan perihal kepergian-Nya yang tinggal sebentar lagi, Yesus pun menjanjikan Roh Kudus, Roh Penghibur yang akan menuntun dan menguatkan para murid dan semua orang percaya. Pada akhirnya pun kita mengetahui bagaimana para murid terus mengabarkan berita injil dengan semangat dan kesungguhan hati. Dari sini kita percaya bahwa Roh Penghibur inilah Roh yang sama yang memampukan Stefanus untuk terus bertekun penderitaannya, memampukan umat mula-mula dalam surat Petrus untuk bertahan dan terus mengerjakan kebenaran.

Penutup
Menghayati Firman Tuhan saat ini, kita semua diajak untuk meneladani iman dari orang-orang percaya pada saat itu. Mereka yang terus mengerjakan kebenaran dengan setia. Mereka yang walaupun dalam hidupnya penuh dengan penderitaan dan cobaan, tetap kuat bertekun karena percaya bahwa Roh Kudus akan memampukan dan menolong mereka. Bagi kita saat ini, bertekun seperti apa yang dapat kita tunjukkan sebagai wujud iman percaya kita kepada Tuhan? Salah satu hal yang sangat bisa kita lakukan adalah tetap bersyukur kepada Tuhan dalam setiap keadaan hidup kita. Bersyukur atas segala yang dijadikan dan dinyatakan di dunia ini demi kebaikan kita. Alam dengan berbagai isinya yang dapat menjadi sarana berkat Tuhan untuk kita semua.

Dalam minggu-minggu ini, kita semua jemaat di Greja Kristen Jawi Wetan sedang menghayati Hari Raya Persembahan (Undhuh-undhuh). Perayaan ini adalah sebagai bentuk ucapan syukur kita atas pemeliharaan Tuhan yang kita rasakan setiap hari, secara khusus sawah ladang, pekerjaan yang diberkati oleh Tuhan. Pertanyaannya, apakah dengan kita merayakan Undhuh-undhuh artinya kita tidak pernah gagal panen? Atau kita menerima gaji yang hanya lewat saja, karena untuk membayar cicilan dan kebutuhan keluarga? Atau kita tidak pernah kuatir akan akhir bulan dan bulan depan? Tidak juga. Pengalaman-pengalaman itu pasti pernah ada, bahkan seringkali ada. Namun Undhuh-undhuh tetap kita rayakan, karena di tengah berbagai kesulitan, penderitaan, dan pergumulan itu, ada mujizat Tuhan yang tetap dinyatakan. Ada cara Tuhan yang mencukupkan kita, bahkan dengan hal-hal yang terasa mustahil dan tidak memungkinkan. Kasih Tuhan sungguh tak berkesudahan, lagi dan lagi, tak pernah berhenti. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk terus bertekun dalam segala hal, mengucap syukur atas cinta kasih-Nya.  Amin. [DP].

 

Pujian: KJ.  434 : 1, 4   Allah Adalah Kasih

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kathah ing antawisipun kita sedaya ingkang mangertos salah satunggaling pepujian pop rohani kanthi irah-irahan “Mujizat itu Nyata”. Pepujian saking Jonathan Prawira ingkang asring kapujekaken dening para penyanyi rohani kados Nikita, Maria Sandi, Delon lsp. Tembungipun mekaten:

Tak terbatas kuasa-Mu Tuhan
Semua dapat Kau lakukan
Apa yang kelihatan mustahil bagiku
Itu sangat mungkin bagi-Mu

Pepujian punika wujud kakiyatan iman, ing salebeting gesang padintenan kita. Nalika kita ngalami kathah pacoben ugi prekawising gesang, pitulunganipun Gusti Allah tansah kababar. Mukjizat saking Gusti tansah nyata lumantar maneka warni sarana ingkang asring katingal mokal, nanging saestu nyata. Menawi punika karsanipun Gusti, ingkang mokal punika saged dados kasunyatan.

Pramila pepujian Mujizat itu Nyata punika kondang sanget ing antawisipun tiyang pitados, kangge lare nem-neman, ugi warga dewasa sanesipun. Wonten ugi tiyang ingkang mboten tunggil kapitadosan, ananging remen mirengaken pepujian punika. Pepujian punika saged dipun wastani cocok kaliyan punapa dipun alami dening tiyang kathah saben dintenipun.  Sedaya ngraosaken bilih Gusti Yesus tansah nresnani kanthi saestu lan asring paring mukjizat ingkang nyata. Katresnanipun Gusti ingkang tanpa wates punika asring kababar lumantar bab-bab ingkang linangkung endah. Tuladhanipun: ing kawontenan zaman samangke, bilih kabetahanipun gesang tansaya awis, pandamelan awrat, ananging kita taksih dipun paringi kacekapaken dening Gusti. Kangge para tiyang tani, sak punika awrat, rabuk lan obat tansaya awis, mangsa ingkang mboten tamtu, dereng malih hama ingkang nguwatosaken, ananging para tani punika tetep taksih dipun paringi panen. Lan tamtunipun kathah bab-bab lintunipun ingkang ngatingalaken kados pundi pitulunganipun Gusti dhateng umat-Ipun.

Saking kawontenan punika, kita saged mangertos bilih saestu katresnanipun Gusti dhateng umat-Ipun punika katresnan ingkang sejati lan tanpa wates. Ingkang dipun betahaken inggih punika manah ingkang purun kanthi tekun nresnani Gusti, nindhakaken kabecikan sinaosa kedhah ngadepi pacoben lan prekawising gesang kados pasamuwan-pasamuwan wiwitan.

Isi
Pasamuwan-pasamuwan wiwitan, ingkang kaserat ing layangipun rasul Petrus sumebar dados para panekha ing tanah Pontus, Galati, Kapadhokia, Asia-Alit lan Bitinia. Para tiyang pitados punika nembe kemawon nampi tandha baptis. Ananging kawontenan gesangipun dhateng ngrika mboten gampil. Kathah tiyang ingkang nampik kawontenipun para tiyang pitados. Para tiyang pitados punika kedhah ngadepi prekawis-prekawis ingkang awrat, asring ugi ingkang nggegirisi. Ing kawontenan ingkang kados mekaten, para tiyang pitados dipun engetaken supados tumemen nindhakaken kabecikan. Awit gesangipun para tiyang pitados sampun kaslametaken dening Gusti lumantar pangurbananipun Sang Kristus, sapisan kangge salami-laminipun. Pramila para tiyang pitados mboten perlu kuwatos awit Gusti bakal ngganepi janjinipun kanthi saestu. Ingkang utami, sedaya umatipun kanthi tekun nindhakaken sabdanipun Gusti, Gusti mesthi enggal tansah ngatingalaken katresnanipun.

Kita sedaya tamtu mangertos kados pundi katresnanipun Gusti dhateng umatipun ingkang tanpa wates, katresnan ingkang mboten saged kabendung dening kakiyatanipun manungsa. Katresnan ingkang kagambaraken lumantar khotbahipun rasul Paulus dhateng para tiyang ing Atena punika kados katresnanipun Bapa tumrap para putranipun. Gusti Allah punika mboten tebih saking gesang kita, Gusti punika ngayomi, ugi saben dinten njagi para putranipun kanthi tulus, langkung-langkung kersa nyelak dhateng para umat-Ipun.

Kangge tiyang ingkang mboten utawi dereng wanuh, Gusti Allah punika kersa dipun wanuhi. Wanuh kaliyan Gusti punika saged kelampahan menawi tiyang mangertos utawi saged ngraos-raosaken katresnanipun ingkang ageng. Katresnan ingkang kados pundi? Katresnan ingkang sampun kababar tumrap alam donya punika. Katresnan ingkang saged dipun raosaken dening sedaya tiyang ing gesang saben dinten. Karana katresnanipun Gusti punika, rasul Paulus saged martosaken bab karahayon tumrap para tiyang ing Atena lan kathah ingkang pitados dhumateng Gusti.

Inggih punika wujud katresnanipun Gusti ingkang tanpa wates kangge kita sedaya. Katresnanipun Gusti punika sampun kaparingaken dhateng para siswanipun Gusti Yesus lumantar janji ingkang sampun kaaturaken dening Gusti Yesus piyambak. Injil Yokanan negesaken bilih karana katresnanipun Gusti dhateng para siswanipun, Gusti Yesus tansah ngiyataken supados para sakabat punika saged nindhakaken sedaya tanggel-jawabipun. Nalika Gusti Yesus martosaken bab wekdalipun ingkang sampun celak, Gusti Yesus janji badhe paring Roh Suci, Roh Panglipur ingkang tansah nuntun lan ngiyataken para sakabat lan sedaya tiyang pitados. Saklajengipun kita sedaya mangertos kados pundi para sakabat, inggih punika rasul-rasul ingkang kanthi saestu anggenipun nindhakaken paladosan ing pundi-pundi papan. Saking kawontenan punika, kita pitados bilih Roh Suci, Roh Panglipur punika Roh ingkang sami, ingkang ngiyataken Stefanus ngantos dumugi ing pungkasan gesangipun, ugi Roh ingkang ngiyataken pasamuwan ing Asia Alit tansah mbudidaya gesang lan nindakaken kabecikan.

Panutup
Ngraos-raosaken Sabdanipun Gusti wekdal punika, kita sedaya kaajak saged nuladhani iman kapitadosan para tiyang pitados wekdal semanten. Para tiyang ingkang kanthi setya nindhakaken kabecikan. Para tiyang ingkang tetep kiyat kanthi tekun ndherek Gusti, sinaosa kathah pacoben lan prekawising gesang ingkang awrat. Para tiyang punika tekun, awit pitados bilih Roh Suci mesthi badhe tansah ngiyataken lan mitulungi. Kangge kita umatipun Gusti ing zaman samangke, tekun ingkang kados pundi ingkang saged katingalaken dados wujuding iman kapitadosan kita dhumateng Gusti? Salah satunggaling bab ingkang saged kita lampahi inggih punika gesang ingkang tetep saos sokur dhumateng Gusti ing sedaya kawontenan gesang kita. Saos sokur tumrap sedaya ingkang katitahaken dening Panjenenganipun. Alam donya lan sedaya ingkang sampun kacipta, ingkang saged dados sarana berkahipun Gusti tumrap sedaya manungsa.

Ing minggu-minggu punika, kita sedaya umatipun Gusti ing Greja Kristen Jawi Wetan ngraos-raosaken riyadi Undhuh-undhuh. Pahargyan punika tamtunipun dados wujuding saos sokur kita dhumateng Gusti, awit kita sedaya sampun ngraosaken pangrimatanipun Gusti, sacara khusus lumantar saben, tegal, ugi pandamelan kita ingkang dipun berkahi dening Gusti. Pitakenan kangge kita sedaya, punapa lumantar pahargyan Undhuh-undhuh punika, lajeng kita mboten nate ngraosaken gagal panen? Punapa lumantar undhuh-undhuh punika, kita mboten nate ngraosaken nampi gaji ingkang namung liwat kemawon, saksampunipun nampi, benjing sampun telas kangge cicilan, kangge kabetahipun gesang? Utawi punapa kita mboten nate nggadahi raos kuwatos ing manah kita? Tamtunipun mboten ngaten. Raos kados mekaten kalawau tamtunipun nate kita alami, kita raosaken, ananging undhuh-undhuh tetep kita tindakaken karana ing sadhengah kahanan, pacoben, lan prekawising gesang punika, wonten mujizatipun Gusti ingkang tetep kababar. Gusti tansah nyekapi kabetahan kita lumantar cara/sarana ingkang asring katingal mokal. Katresnanipun Gusti ingkang tanpa wates punika mboten nate mandeg ing gesang kita. Mugi Gusti tansah paring kasagedan kangge kita. Mekatena kita kanthi tekun ndherek Panjenenganipun lan nindhakaken Sabdanipun, tansah saos sokur saben wayah awit sih katresnan-Ipun ingkang luber. Amin. [DP]

 

Pamuji: KPJ. 140: 1, 3   Sihe Allah Gung Sanyata

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak